AQIDAH

BERIMAN KEPADA YANG GHOIB

” ( Orang- orang bertaqwa itu ) yang beriman kepada yang ghoib dan mendirikan sholat serta menginfakkan rezki yang Kami berikan kepada mereka” (Q.S Al Baqoroh:3)

 

Penjelasan:
Beriman adalah ungkapan keyakinan dan kepercayaan terhadap sesuatu. Ghoib adalah segala sesuatu yang tidak tampak oleh panca indra manusia. Beriman kepada yang ghoib menurut seorang ulama bernama Abul Aliyah, “Beriman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab dan Rasul-rasul, surga dan perjumpaan dengan Allah SWT diakhirat serta hidup sesudah mati, semua itu ghoib.” Sedangkan ulama lain bernama Atho` berkata, “Orang yang beriman kepada Allah SWT berarti dia beriman kepada yang Ghoib.”

Kehidupan kita memang untuk ujian, banyak hal yang Allah SWT berikan kepada kita melalui kitab suci Al Qur`an dan informasi-informasi Rasulullah SAW dan kita hanya diminta, sebagai orang yang beriman, untuk meyakininya sedangkan kita tidak pernah melihatnya dan tidak bisa membuktikannya secara empiris sampai kita mengalaminya nanti. Karena informasi itu dari Allah SWT melalui Rasul-rasul-Nya, maka kita beriman dan meyakini kebenarannya. Berbeda dengan orang atheis yang menolak hal seperti itu. Diantara yang harus kita yakini terhadap hal-hal ghoib ini adalah;

·        Beriman kepada akan terjadinya hari kiamat ( lihat Q.S Al Qiyamah )

·        Beriman kepada hari Akhirat. Termasuk beriman kepada hari akhirat adalah ;

Ø Beriman kepada kebangkitan sesudah mati ( lihat Q.S Al Anbiya: 104, dan Al Mukminun: 15-16 ). Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat tanpa alas kaki dan telanjang.” ( H.R. Bukhori dan Muslim )

Ø Beriman kepada perhitungan dan pembalasan sesuai dengan perbuatannya ( lihat Q.S Al Ghosiyah: 25-26, Al An`am: 160 dan Al Anbiya : 47 )

Ø Beriman kepada syurga dan neraka. Syurga sebagai tempat yang menyenangkan bagi orang-orang yang bertaqwa ( lihat Q.S.Al Bayyinah: 7-8 dan Al Ahzab:17 ).Sedangkan neraka sebagai tempat penyiksaan bagi orang-orang kafir dan dzalim yang ingkar kepada Allah SWT dan tidak mentaati rasul-rasul-Nya ( lihat Q.S Al Imran:131, Al Kahfi:29 dan Al Ahzab:64-66 ).

Termasuk beriman kepada hari kemudian adalah beriman kepada fitnah dan pertanyaan di kuburan ( H.R Bukhori dan Muslim ). Dan beriman terhadap adanya siksa kubur atau kenikmatan di dalamnya ( lihat Q.S Al An`am:93 dan Ghofir:46 ). Dan Rasulullah SAW memperingnatkan kita agar selalu berlindung dari adzab kubur (H.R Muslim ).
Paling tidak ada 3 keuntungan bagi orang yang beriman kepada yang Ghoib, yaitu;

·        Mendorong untuk beramal sholeh dengan harapan pahala dihari kemudian.

·        Merasa takut untuk bermaksiat karena pedihnya siksaan dihari itu.

·        Hiburan bagi orang beriman kalau tidak memperoleh kenikmatan dunia karena akan mendapatkannya yang jauh lebih baik dari dunia dan seisinya.

 

 

MEMBONGKAR PEMURTADAN DENGAN BERKEDOK ISLAM
PRAKTEK KRISTENISASI & GLOBALISASI 666
6OLD 6LORY 6OSPELISASI

 

KataPengantar

 

QS 2. Al-Baqarah 120 : Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu  mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

 

Misi Kristenisasi ini memanfaatkan ayat ayat kitab suci Al Quran. Umat Wajib Waspada

Kristenisasi, istilah tersebut mungkin klise bagi kita. Bahkan banyak sekali tokoh tokoh umat Islam, yang kelihatan enggan menanggapi hal tersebut. Tapi tahukah kita bahwa yang namanya Krsitenisasi itu memang benar benar ada, dan kini telah sampai pada tahap yang (seharusnya)  amat sangat mengkhawatirkan eksistensi umat Islam ??

·         Tahukah kita bahwa Doulos World Mission punya punya program besar meng Kristenkan sekitar 125 suku terasing di Indonesia sampai tahun 2000 dimana suku Sunda jadi sasaran utamanya lewat Proyek Jericho 2000 ?? Untuk melihat Situsnya silahkan klik :

      http://www.doulos.or.id/index.html
 

·         Sadarkah kita, beberapa pekan lalu telah diselenggarakan kebaktian massal di Istora Senayan, dimana semua orang suku Sunda yang berhasil di Kristenkan hadir dan jumlahnya menurut protokol acara mencapai ribuan orang ??

·         Sadarkah kita, bahwa ratusan ribu eksemplar, brosur, pamflet, maupun buku yang sarat mengutip ayat Al Quran telah dicetak dan disebarkan lewat sekolah-sekolah Alkitab dan lembaga lembaga sejenis untuk merusak aqidah kaum Muslimin ?

·         Pahamkah kita bahwa bahwa sekarang ini, orang yang memakai nama “Muhammad”, ternyata tidak selalu Muslim ??  Dibekasi ada pendeta Muhammad Solihin,, ada juga pendeta Hagai Ahmad Maulana.

Abu Deedad Shihab – Sekretaris FAKTA ( Forum Antisipasi Kesalah Pahaman Terhadap Aqidah ) mengatakan : “Sekarang ini, ada satu pola Kristenisasi dengan tidak lagi diambil dari Injil itu sendiri. Salah seorang tokoh Kristen yang aktif dalam kegiatan ini pernah berkata bahwa kini Kristenisasi harus ganti pola, pendekatan terhadap umat Islam disini harus pakai pola pola Al Quran dan Hadists itu sendiri sebagai pangkal ajaran Islam.

Itu yang mereka lakukan kini, dengan pertimbangan diatas akhir akhir ini tanpa banyak diketahui orang misi Kristenisasi sangat gencar dilakukan dengan mempergunakan kemasan Islam.
KH. Abdullah Wasi’an, pakar Kristologi berusia lanjut ini berkomentar, “Adanya Kristenisasi dengan mengutip ayat Al Quran dan menerjemahkannya secara serampangan bisa dikata ada sejak Hamran Ambrie ( http://www.the-good-way.com/index.htm )

Hamran Ambrie itulah gurunya Strategi Pemurtadan pakai ayat ayat Al Quran. Dialah yang memulai itu.

Hal senada dikatakan oleh evangelis Mulyadi Samuel. Pemuda Muslim kelahiran tahun 1974 yang punya title “Penginjil” ini menuturkan, “Strategi pemurtadan demikian itu ada sejak zamannya Hamran Ambrie. Waktu itu yayasannya bernama Sinar Kasih dimana kegiatannya sama dengan apa yang dikerjakan Christian Centre Nehemia Jakarta pimpinan Pendeta dr. Suradi Ben Abraham Kini.

Drs. Willibrodus Romanus Lasiman – mantan aktivis Ordo Serikat Jesuit yang sekarang telah memeluk Islam menguatkan hal diatas. Mantan biarawati Irena Handono juga sepakat. Bahkan Muhammad Zulkarnain alias Eddy Crain Hendrik anak tunggal seorang pendeta yang dibuang keluarganya lantaran mengucapkan Lailaha illallah, ditahun 1967 dan kini memimpin The Institute of Researches & Studies on the history of world religion terang terangan menyebutkan Nehemia itu sesungguhnya didalangi Yahudi.

Permasalahan seputar penerbitan aneka brosur, buku maupun pamflet yang sarat kutipan ayat Al Quran, namun isinya menyerang Islam memang tidak bisa dipisahkan dari al :

  Christian Centre Nehemia yang berlokasi di jalan Prokalmasi no.47 Jakarta Pusat.

  Disisi lain walau tidak segencar Nehemia, lembaga Kristen lainnya bernama jalan Al Rahmat yang beralamat di jalan Kemang no.9 lantai III Kebayoran baru Jakarta Selatan, juga melakukan hal serupa.

 Demikian pula dengan dengan Yayasan Diaspora yang berada dibawah kendali murtadin Yusuf Rony.

Abu Deedad Shihab maupun beberapa mantan pastor yang enggan disebutkan namanya sama sama menuturkan bahwa lembaga lembaga tersebutlah yang sesungguhnya bertanggung jawab terhadap hal hal tersebut diatas.

Awalnya krnologisnya adalah Hamran Ambrie dan Pdt. dr. Suradi dan istrinya mendririkan Christian Centre Nehemia di Jakarta. Ketika Hamran mati, kepemimpinan dilanjutkan Suradi. Ini tertera dalam akte pendirian yayasan tersebut. tutur Abu Deedad. Ia menambahkan, “Kami mendapat data dari sdr. Daniel orang keduanya kala itu, bahwa Suradi ini termasuk kelompok yang sangat akrab dengan kelompok Zionis-Israel. Bahkan copy ada bukti foto foto pendeta Suradi kala berada di Israel. “Saya punya foto aslinya ujar Kristolog muda itu.( Red: dalam foto terlihat Suradi tengah mengapit mesra dua serdadu zionis-israel dengan latar belakang pagar perbatasan negeri zionis tersebut.

Evangelis Mulyadi Samuel yang pernah sangat dipercaya Pendeta Suradi menuturkan, “Suradi pernah secara khusus belajar bahasa Hibrani ke Israel pada sekitar tahun 1980an. Mungkin disebabkan terlalu sering bersinggungan dengan orang Yahudi, yang ada dikepalanya itu bukan saja semangat Kristenisasi tapi sudah bercampur baur dengan semangat Zionis Israel Raya
Mulyadi lulusan Pusat Latihan Penginjilan Nehemia Centre angkatan 12 itu menambahkan, “Semua yang yang berbau Arab sangat ditentang Suradi”.  Dia itu satu satunya oran Kristen yang berani bilang bahwa orang Arab itu tidak layak hidup dihadapan Tuhan. Seking cintanya pada Israel, semua yang diajarkan di Nehemia Centre harus pakai bahasa Hibrani. Misalkan dalam kebaktian, maka lagu lagunya berbahasa Hibrani. Nama Yesuspun dia sebut Yesua, Allah disebut Eloim, dan sebagainya

Namun Nehemia ternyata sangat aktif mengadakan pertemuan demi pertemuan mengkaji ayat ayat Al Qur’an yang notabene berbahasa Arab. “Dalam satu minggu disana ada beberapa kali pengkajian. (bukan pengajian, red). Misal, usai pertemuan hari pertama kita pasti diberi tugas menghapal beberapa ayat AL Qu’ran – yang dianggap Suradi ayat ayat Gacoan, yang bisa dipakai buat menyerang Islam. Dalam pertemuan selanjutnya, kita wajib menghapal ayat ayat tersebut dalam bahasa Arab meupun terjemahannya, secara lancar. Kita dilarang ikut pertemuan kedua sebelum hapal ayat ayat tersebut. Itu dilakukan secara ketat. Bila mereka sulit menghapalkan, mereka dibimbing secara intensif oleh para Murtadin. Jadi ada pelajaran Al Qur’an itu tapi dipakai Suradi untuk menyerang Islam. Saya pernah punya kaset kaset pengkajiannya, tutur Mulyadi.

Strategi Pemurtadan dengan memperalat ayat ayat Al Quran lewat media brosur, buku, maupun pamflet, ternyata memang cukup effective. Banyak umat Islam yang terkecoh dibuatnya. Abu Deedad Shihab punya pengalaman unik, “Pernah ada pengurus Mesjid dari Padang, Sumatera Barat, yang melayangkan ke PO Box Penerbit brosur Dakhwah Ukhuwah berisi permintaan bantuan, karena dianggapnya ini lembaga Islam. Ini bukti bahwa strategi mereka ini benar benar termakan. Saat saya ceramah di Hotel Horison, jamaah disana malah menganggap brosur itu dikeluarkan oleh DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia). Apa Tidak Bahaya Coba ?? Maka saya sering menyampaikan bahwa ini harus secepatnya ditangani.

Terbitan Nehemia tidak sendirian menggarap hal tersebut. Walau tidak berhubungan secara struktural organisasi, Nehemia yang merupakan salah satu lembaga Protestan ini memiliki jaringan kerja yang cukup kuat dengan Yayasan Doulos dan beberapa Yayasan sejenis. Pendeta Suradi adalah salah satu staff pengajar bagi kader kader penginjil di Doulos yang beralamat di Jalan Tugu no.3 Cipayung, Jakarta Timur. Yayasan Doulos ini konon merupakan Yayasan Kristen terbesar diseluruh Asia Tenggara

Pendeta Suradi sendiri saat dikonfirmasi, tidak bersedia diwawancarai sebab tidak mau memperuncing kondisi yang sudah ada, kilahnya. Entah apa maksudnya dengan perkataan “memperuncing kondisi yang sudah ada”, Suradi sendiri enggan berkomentar. Yang jelas hak jawab yang sudah diberikan kepadanya tidak dipergunakannya.

Awal Kronologis Berdirinya Praktek Pemurtadan dengan Berkedok Islam

Awalnya krnologisnya adalah Hamran Ambrie dan Pdt. dr. Suradi dan istrinya mendririkan Christian Centre Nehemia di Jakarta. Ketika Hamran mati, kepemimpinan dilanjutkan Suradi. Ini tertera dalam akte pendirian yayasan tersebut. tutur Abu Deedad. Ia menambahkan, “Kami mendapat data dari sdr. Daniel orang keduanya kala itu, bahwa Suradi ini termasuk kelompok yang sangat akrab dengan kelompok Zionis-Israel. Bahkan copy ada bukti foto foto pendeta Suradi kala berada di Israel. “Saya punya foto aslinya ujar Kristolog muda itu.( Red: dalam foto terlihat Suradi tengah mengapit mesra dua serdadu zionis-israel dengan latar belakang pagar perbatasan negeri zionis tersebut.

Evangelis Mulyadi Samuel yang pernah sangat dipercaya Pendeta Suradi menuturkan, “Suradi pernah secara khusus belajar bahasa Hibrani ke Israel pada sekitar tahun 1980an. Mungkin disebabkan terlalu sering bersinggungan dengan orang Yahudi, yang ada dikepalanya itu bukan saja semangat Kristenisasi tapi sudah bercampur baur dengan semangat Zionis Israel Raya
Mulyadi lulusan Pusat Latihan Penginjilan Nehemia Centre angkatan 12 itu menambahkan, “Semua yang yang berbau Arab sangat ditentang Suradi”.  Dia itu satu satunya oran Kristen yang berani bilang bahwa orang Arab itu tidak layak hidup dihadapan Tuhan. Seking cintanya pada Israel, semua yang diajarkan di Nehemia Centre harus pakai bahasa Hibrani. Misalkan dalam kebaktian, maka lagu lagunya berbahasa Hibrani. Nama Yesuspun dia sebut Yesua, Allah disebut Eloim, dan sebagainya

Namun Nehemia ternyata sangat aktif mengadakan pertemuan demi pertemuan mengkaji ayat ayat Al Qur’an yang notabene berbahasa Arab. “Dalam satu minggu disana ada beberapa kali pengkajian. (bukan pengajian, red). Misal, usai pertemuan hari pertama kita pasti diberi tugas menghapal beberapa ayat AL Qu’ran – yang dianggap Suradi ayat ayat Gacoan, yang bisa dipakai buat menyerang Islam. Dalam pertemuan selanjutnya, kita wajib menghapal ayat ayat tersebut dalam bahasa Arab meupun terjemahannya, secara lancar. Kita dilarang ikut pertemuan kedua sebelum hapal ayat ayat tersebut. Itu dilakukan secara ketat. Bila mereka sulit menghapalkan, mereka dibimbing secara intensif oleh para Murtadin. Jadi ada pelajaran Al Qur’an itu tapi dipakai Suradi untuk menyerang Islam. Saya pernah punya kaset kaset pengkajiannya, tutur Mulyadi.

Strategi Pemurtadan dengan memperalat ayat ayat Al Quran lewat media brosur, buku, maupun pamflet, ternyata memang cukup effective. Banyak umat Islam yang terkecoh dibuatnya. Abu Deedad Shihab punya pengalaman unik, “Pernah ada pengurus Mesjid dari Padang, Sumatera Barat, yang melayangkan ke PO Box Penerbit brosur Dakhwah Ukhuwah berisi permintaan bantuan, karena dianggapnya ini lembaga Islam. Ini bukti bahwa strategi mereka ini benar benar termakan. Saat saya ceramah di Hotel Horison, jamaah disana malah menganggap brosur itu dikeluarkan oleh DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia). Apa Tidak Bahaya Coba ?? Maka saya sering menyampaikan bahwa ini harus secepatnya ditangani.

Terbitan Nehemia tidak sendirian menggarap hal tersebut. Walau tidak berhubungan secara struktural organisasi, Nehemia yang merupakan salah satu lembaga Protestan ini memiliki jaringan kerja yang cukup kuat dengan Yayasan Doulos dan beberapa Yayasan sejenis. Pendeta SUradi adalah salah satu staff pengajar bagi kader kader penginjil di Doulos yang beralamat di Jalan Tugu no.3 Cipayung, Jakarta Timur. Yayasan Doulos ini konon merupakan Yayasan Kristen terbesar diseluruh Asia Tenggara

Pendeta Suradi sendiri saat dikonfirmasi, tidak bersedia diwawancarai sebab tidak mau emperuncing kondisi yang sudah ada, kilahnya. Entah apa maksudnya dengan perkataan “memperuncing kondisi yang sudah ada”, Suradi sendiri enggan berkomentar. Yang jelas hak jawab yang sudah diberikan kepadanya tidak dipergunakannya.

 

Kristenisasi berawal dengan modus Penyerangan secara Ghozwul Fikri (Pemikiran) Umat wajib waspada atas kemungkinan Penyerangansecara Phisik Sebagaimana halnya terjadi di Bosnia, Kosovo, Ambon dll

Walau setumpuk fakta dan data sudah ada didepan mata, namun tanggapan para tokoh umat Islam, ternyata dingin dingin saja. Mereka sudah saya beritahu, tapi sepertinya belum ada suatu tindakan atau tanggapan yang berarti, padahal ini cukup berbahaya, ujar Abu Deedad Shihab prihatin.

KH Abdullah Wasi’an juga menyayangkan sikap sebagian besar tokoh umat Islam, “Kita sudah kasih peringatan pada mereka. Kita sudah beritahu mereka akan bahayanya serangan ini. Tapi sayangnya mereka semua seakan tidak mau peduli. Agaknya, kalau bahaya yang tidak kelihatan mereka tak mau ambil pusing. Tanggapan serta perhatian dari tokoh tokoh umat sangat minim. Mungkin mereka menganggap kita mengada ada, atau mungkin dalam penglihatan mereka hal ini belum dirasa membahayakan umat. Jika nyata nyata diserang barulah mata mereka terbuka, dan itu biasanya sudah terlambat, tuturnya sedih.

Peringatan yang disampaikan KH Abdullah Wasi’an tersebut mengingatkan kita tentang apa yang telah terjadi di Ambon beberapa waktu yang lalu. Dinegara yang konon jumlah moslemnya terbesar didunia ini, orang orang Kafir di Ambon dengan biadab dan keji berani-beraninya menyerang, membantai, memperkosa dan mengusir orang orang Islam dari tanah Ambon. Sangat mirip dengan apa yang terjadi di Bosnia maupun di Kosovo.

Pola pola yang terjadi di Bosnia, Kosovo maupun di Ambon ternyata memiliki kemiripan. Sebelum pihak Kafirin menyerang secara terbuka, mereka menggelar dulu apa yang disebut sebagai Serangan Pemikiran atau Ghoswul Fikri. Tujuannya, menjauhkan pemahaman umat Islam dari nilai nilai Islam itu sendiri. Pengalaman Yuniar Nazir SE, patut dijadikan bahan renungan bagi kita bersama.

Ibu beranak empat yang pernah tinggal di daerah Batu Gong, Ambon, sejak tahun 1991 hingga 1995, menuturkan sebagian pengalamannya, “Saat pertama tiba di Ambon, tampak sekali Ghozwul Fikri sudah sedemikian hebat mencengkeram umat Islam disana. Menjawab salam saja mereka tak bisa. Jangankan menemui wanita yang menutup rapat auratnya, minuman keras dan pergaulan bebas sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Namun ketika umat Islam disana diserang oleh orang orang Kafir yang selama ini disangkanya baik baik saja, mata dan kesadaran mereka akan indentitas Islam baru terbuka.

Bagaimanapun pedih dan perihnya, tragedi kemanusiaan yang menimpa umat Islam di Ambon baru  baru ini memiliki Hikmah tersendiri, suatu pelajaran berharga yang amat mahal harganya.
( Lihat situs tragedi Ambon : http://members.tripod.com/sabiluna/ambon/ambon.html ) atau di http://listen.to/ambon

Sama sekali tidak tertutup kemungkinan apa yang terjadi di Bosnia, Kosovo, Ambon, akan terjadi juga pula di tempat tempat lainnya. Jika saat ini baru berupa Serangan Pemikiran lewat penerbitan brosur, buletin, pamflet, media masa dan bahkan media Internet baik secara terang terangan ataupun dengan berkedok HAM & KEMANUSIAAN, khususnya dikenal Yellow Ribbon Campaign yang dipropagandakan oleh Hueren int’l yang berpusat di Hongkong, Indo Chaos, Muzi dll dari situs yang menginsult / menghasut Indonesia sekaligus Islam sampai penyebaran foto foto dan Cerita Vivian fake/palsu yang diambil dari gambar gambar situs porno Asiandragons, ( lihat sitenya )

1.    http://www.huaren.org/atro/main.shtml

2.    http://www.huaren.org/body.shtml

3.    http://www.geocities.com/Pentagon/3233/

4.    http://www.fica.org/

5.    http://www.huaren.com/

6.    http://www.asiadragons.com/indonesia/news/special/riot_rapes/

7.    http://www.asiadragons.com/indonesia/news/special/riot_rapes/doc/chinesevictim.jpg

8.    http://www.samsloan.com/indofake.htm

9.    http://www.samsloan.com/indorape.htm   dan masih banyak lainnya.

Oleh karenanya sama sekali tidak tertutup, jika dirasa sudah cukup kuat maka mereka akan menyerang kita secara Phisik. “Sejarah Kristenisasi memang tidak terlepas dari bau darah”. ungkap Theo Sjafei dalam pidatonya yang menghebohkan itu

(lihat sitenya di http:// member.webs88.com/~zulfank/Riot/pidato_theo.htm )

Semuga umat Islam tetap menjaga kewaspadaannya. Musuh musuh dakwah senantiasa mencari kesempatan guna menjauhkan umat Tauhid ini dari ajaran NYA.

Mari Rapatkan Barisan

 

BERPACU MELAWAN MISSIONARIS

Menjelajah pedalaman Kalimantan, membentengi ummat dari Kristenisasi. Hasilnya, ummat Islam tertinggal jauh.

Gadis muda itu seperti tidak punya rasa lelah, keluar masuk hutan pedalaman Kalimantan Timur. Bukan berburu binatang, tetapi ia adalah seorang missionaris yang sedang menjalankan missinya. Mina (23), begitu mahasiswi Sekolah Tinggi Teologia (STT) Tenggarong, Kalimantan Timur ini biasa dipanggil, mendapat tugas “dakwah” di suku Blusuk, Bulungan.

Untuk menjalankan tugasnya, Mina harus menelusuri jalan setapak dan menembus hutan belantara. “Di sana memang belum ada pendeta,” katanya kepada Sahid. Karena itulah, ia merasa bertanggung jawab untuk “menggembala” orang-orang Dayak yang masih terasing itu.

“Berdakwah” sendirian, Mina ternyata cepat menyatu dengan masyarakat setempat. Meski seumur-umur belum pernah makan sagu, ia pun ikut manyantap makanan pokok orang-orang Blusuk itu. Bersama-sama masyarakat setempat, ia juga turut menanam singkong, sebagai makanan tambahan. “Dengan cara itu,” kata Mina, “kami membimbing penduduk yang kebanyakan masih menyembah burung dan animisme-dinamisme kepada ajaran Kristus.” Setiap bulan Mina mendapat subsidi Rp 100 sampai Rp 200 ribu dari kampusnya ini.

Missionaris muda seperti Mina itu tidak hanya dua atau tiga orang bilangannya, ada ratusan. Seperti dituturkan Mina,teman seangkatannya ratusan jumlahnya dan mereka disebar di berbagai pedalaman Kalimantan.

Kegigihan para missionaris seperti Mina itulah yang mengundang rasa “iri” KH Mastur Anwar Diniy (65). Tokoh yang cukup berpengaruh di Balikpapan ini diam-diam “mengimpikan” da’i-da’i seperti para missionaris itu. Militan dan siap ditugaskan di manapun. Kapan dan bagaimana caranya agar “mimpi’ itu bisa terwujud?

Sembilan tahun lalu, bersama-sama dr. Ali Zaini, Dahlan dan Muslim Arsyad, Mastur mendirikan Yayasan Ar-Rahman. Yayasan yang berada di Balikpapan ini, salah satu aktivitasnya adalah menggembleng calon-calon da’i. Mereka inilah yang nantinya ditempatkan di berbagai daerah di Kalimantan Timur, mengembangkan dakwah di sana.

Pengalaman di pedalaman

Kiai Mastur sendiri sudah kenyang makan asam garam berdakwah di pelbagai daerah pedalaman. Lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 27 Desember l934, sejak kecil Mastur memang tekun dan aktif memperdalam Islam. Waktu bermainnya seakan habis untuk mendatangi pengajian yang satu ke pengajian yang lain bersama neneknya.

Tamat dari tsanawiyah, semangat belajarnya justru semakin besar. Tapi Mastur nampaknya bukan termasuk anak yang beruntung. Kedua orang tuanya tergolong tidak mampu. Terpaksa keinginannya melanjutkan studi kandas.

Namun Mastur tidak menyerah. Bagaimana agar tetap memperoleh ilmu? Uang jajan yang diterima dari orang tua dikumpulkan dan dibelikan buku-buku. “Itu memang pesan orang tua,” ujar anak dari ayah bernama Badar dan ibu Jannah itu.

Dari buku-buku itulah ia menyerap berbagai ilmu.Rupanya ia memang berbakat menjadi da’i. Pada usia masih belasan tahun, Mastur sudah sering diundang mengisi ceramah di pelbagai pengajian di kampungnya dan di sekitarnya. Seiring bertambahnya umur, kegiatan dakwah nya kian melebar ke daerah lain, yakni ke Pulau Laut, sebuah pulau yang terletak arah Timur Tenggara kota Banjarmasin.

Tahun 1966, ia memutuskan hijrah ke Kalimantan Timur. Daerah yang menjadi tujuannya ialah Samarinda. Di kota yang dihuni oleh banyak pendatang dari Banjarmasin ini, Mastur melanjutkan aktivitas dakwahnya. Sebagai ibu kota propinsi, Samarinda menjadi pintu gerbang para pendatang. Dari sanalah informasi tentang masyarakat pedalaman diperolehnya. Termasuk informasi para missionaris  yang mulai gencar menggarap daerah-daerah pedalaman Kalimantan.

Nah rupanya, kegiatan para missionaris itu membangkitkan ghirah Mastur. Sebagai da’i muda ia merasa tertantang. Dengan semangat mudanya, ia kemudian menjelajah ke pelbagai pedalaman menebarkan dakwah. Antara lain ia pernah bertugas di Loa Kulu, Tenggarong, Muara Pahu, Kampung Damai Selatan, Muara Kaman, Kota Bangun, Danau Jempang dan sebagainya.

Masalah paling berat adalah tranportasi. Berbeda dengan di Jawa yang hampir semua jalannya lewat darat, di Kalimantan jalan utamanya lewat air. Terkadang, jika medan sungainya berat, misalnya banyak bebatuan, ia harus turun dan menyeret perahunya.

Di Danau Jempang, ia pernah punya pengalaman unik. Suatu ketika ia mendapat undangan dakwah dari Desa Muara Uhung, sebuah desa di tepi danau. Karena kemarau panjang, danau pun kering. Mastur yang berangkat bersama 6 orang dari Departemen Agama harus nyemplung ke dalam danau. Bukannya menaiki perahu, mendorong beramai-ramai. “Kaki kami begitu banyak menginjak ikan, tapi kami tak menghiraukan,” kata Mastur mengenang. Danau Jempang selama ini memang menjadi pusat mata pencaharian para nelayan desa seputar danau ini.

Eh, sampai di tempat, peserta pengajiannya cuma 7 orang. “Alhamdulillah, kendati melelahkan, kami sangat berbahagia karena mereka nampak sangat membutuhkan siraman-siraman ruhani seperti itu,” katanya.

Masih di Danau Jempang, mendengar kedatangan Mastur dan rombongan, sekelompok ummat Islam yang berpaham ‘Tuhan itu Hijau’ datang ke mushala. Jumlah mereka ada 20 orang. Mereka ingin berdebat sekaligus menguji kefasihan Mastur. Dalam faham mereka, Tuhan itu harus bisa dilihat dan warna Tuhan sendiri adalah hijau. Mereka memakai sandaran hadits Rasulullah saw yang berbunyi Awwaluddin ma’rifatullah, awal dari agama adalah mengenal Allah. Kenal, kata mereka, kan mesti harus melihat langsung. Debat yang berlangsung dari dari pukul 21.00 berakhir hingga subuh dinihari. “Kami bersyukur, 20 orang beserta dua pimpinan dari Bugis dan Banjar menyadari kekeliruannya,” tandas Mastur yang kini memiliki 6 anak dan 8 cucu ini.

Berbeda dengan berdakwah di kota-kota, sudah biasa da’inya dijemput panitia pengajian dan pulangnya mendapat “amplop”. Berdakwah di pedalaman tidak begitu. Saat bertugas, ongkos transport dipikul sendiri. Ini juga berbeda dengan para missionaris itu. Sumber dana yang begitu kuat dan dukungan organisasi yang baik, membuat para missionaris dengan leluasa menelusuri ke manapun daerah pedalaman yang diinginkan.

Bahkan untuk menjangkau daerah-daerah terpencil, mereka naik pesawat terbang.Apalagi di pedalaman Kalimantan tersebar tidak kurang 7 lapangan terbang perintis dan 57 lapangan kecil milik mereka. Berlawan dengan Mastur, ketika akan tabligh tak jarang ia mesti mencari tumpangan kapal dulu. “Ya karena tidak ada ongkos,” ujarnya mengenang.

Sudah tantangan alamnya berat, lalu ditambah tidak ada dana dan dukungan dari organisasi dakwah yang lain. Akhirnya Mastur cuma bertahan satu tahun. Bukan berarti niat menjadi mujahid dakwah kemudian surut. Ia kemudian berpikir perlu adanya lembaga pendidikan. Lembaga inilah yang nantinya melahirkan mujahid-mujahid yang siap meneruskan tongkat dakwah, di mana pun ummat membutuhkan.

Mastur pun hijrah ke kota Palu, Sulawesi Tengah. Di sini dia mendirikan Pondok Pesantren Darul Istiqamah di desa Telawan Kecamatan Parigi. Sebanyak 40 orang santri mondok di pondoknya.

Mengajar santri sendirian, ternyata membuat dirinya kewalahan. Upaya menarik orang untuk membantunya mengajar, sebenarnya sudah diupayakan. Akan tetapi, siapa yang mau mengajar dengan tidak dibayar? “Pesantren tidak memiliki dukungan finansial yang cukup untuk menggaji mereka,” kata Mastur menjelaskan.

Sebagain besar santri memang dibebaskan dari uang SPP, meskipun secara insidentil ada orang tua yang menyumbang. Akhirnya, pesantren yang dibanggakannya itupun harus tutup setelah menelurkan satu lulusan. “Saya cukup prihatin, apalagi Darul Istiqamah merupakan pesantren pertama di Sulteng,” katanya kepada Sahid.

Atas rekomendasi Mohammad Natsir (alm), Mastur lantas berangkat ke Arab Saudi, memperdalam Islam. Sayang, umurnya sudah kelewat 35 tahun, sehingga ia gagal masuk ke perguruan tinggi. Tapi ia tidak putus asa, toh mencari ilmu kan tidak harus di perguruan tinggi. Saat itu, di Masjidil Haram dibuka perkuliahan terbuka, yang diasuh para syeikh terkenal. Mastur tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Masuk pada kelompok belajar Kulliyatul Tafsir Qur’an Halaqah, bersama teman-temannya dari Malaysia dan Mesir, Mastur diajar oleh Syeikh Yahya.Pelbagai kitab ditelaah, di antaranya kitab tafsir Jalalain dan At-Tobari. Setelah satu tahun menimba ilmu di Arab Saudi, Mastur kembali ke Tanah Air, berkumpul dengan istri dan tiga orang anaknya di Palu.

Akan tetapi, sejauh-jauh burung terbang, akan kembali ke kandangnya juga. Demikianlah yang terjadi. Delapan tahun Mastur tinggal di Palu, agaknya ia tidak bisa melupakan kegigihan para missionaris itu. Maka Mastur memutuskan kembali ke kampung halamannya, melanjutkan dakwahnya yang belum selesai.

 

Surat Rahasia Rencana Kristenisasi di Indonesia

Sejak tulisan saya mengenai kasus Theo Syafei muncul di Republika akhir Desember lalu, saya berulangkali dihubungi berbagai pihak yang umumnya mengutarakan keprihatinan mengenai hubungan antarumat beragama (khususnya umat Islam dan Kristen) di Indonesia. Berbagai masukan tersebut memperkuat dugaan bahwa, kalau kita sebagai bangsa tidak melakukan sesuatu bersama-sama, keretakan antarumat akan makin menganga — sesuatu yang juga terus diprovokasi oleh kelompok-kelompok yang sampai sekarang tak juga dapat diidentifikasi secara jelas siapa.

Salah satu surat yang menarik dikirim seorang anak muda yang mengutarakan kecemasannya yang mendalam atas upaya pemecahbelahan bangsa ini, seraya menyertakan sebuah fotokopian dari sebuah dokumen yang berstatus — sebagaimana tertera di situ — SANGAT RAHASIA. Di awal dokumen bertanggalkan 21 Mei 1998 itu tercantum catatan: ‘Perihal: Rencana Kristenisasi di Indonesia’.

Seperti dikatakan si pengirim surat, dokumen tersebut kini menyebar di tengah masyarakat. Saya percaya itu, sebagaimana saya percaya bahwa dokumen tersebut adalah salah satu bentuk ‘disinformasi’ — penyebaran informasi yang sesat dan menyesatkan.

Di bagian bawah dokumen, tertera bahwa penulisnya adalah Dewan Pengurus SGT (Sinar Garuda Timur) dan CSIS yang terdiri atas sejumlah nama terkemuka: Benny Moerdani, Frans Seda, Sabam Sirait, SAE Nababan, YB Mangunwijaya, TB Silalahi, Ratna Sarumpaet, Mochtar Pakpahan, dan Budiman Sudjatmiko.

Alamat yang dituju sama terkenalnya: Para pendeta PGI, para pimpinan Wali Gereja, para penginjil, Ketua Umum GMKI, PMKRI, para Ketua Dewan Mahasiswa UKI, Atma Jaya, Sekolah Teologia Kristen Indonesia, para jemaat PGI dan Wali Gereja yang terkasih, Pimpinan Redaksi KOMPAS, Suara Pembaruan, dan media elektronika radio/televisi/afiliasi Kristen.

Jadi, kesan yang hendak dibangun adalah bahwa ini adalah semacam surat rahasia yang beredar di jaringan tertutup (yakni ‘jaringan kekuatan-kekuatan strategis kelompok Kristen/Katolik’) tentang langkah-langkah Kristenisasi di Indonesia.

Hanya saja ada terlalu banyak cacat dalam surat tersebut yang membuat kita sebaiknya percaya bahwa itu — dari awal hingga akhir — adalah surat palsu yang dibuat terutama untuk membangkitkan kemarahan umat Islam.

Dari waktu ke waktu, saya berulangkali menemukan surat serupa di banyak tempat. Sayangnya, selama ini saya tak merasa perlu untuk mendokumentasikannya karena saya pikir itu hanyalah ‘sampah’ yang tak punya arti apa-apa. Kini, saya rasa saya salah. Pengalaman bentrok antarumat beragama — terutama — setahun terakhir ini menunjukkan kita tak boleh anggap sepi kekuatan-kekuatan terorganisasi yang terus menyebarkan kebencian di berbagai tempat, dan surat-surat palsu tersebut nampaknya adalah bagian dari ‘peperangan’ tersebut.

Kalau saya tak salah, bentuk surat — baik secara fisik maupun isi — yang baru saya terima ini tak jauh berbeda dengan surat semacam yang saya temukan beberapa tahun lalu. Memang ada updating di sana-sini, tapi intinya kurang lebih sama. Bahkan gaya bahasa, logika, dan tipe huruf yang dipakaipun — kalau tidak salah — juga kurang lebih sama.

Saya pun rupanya keliru mengira kritisisme masyarakat menyeleksi surat-surat provokatif semacam itu. Dalam berbagai kesempatan, saya terkejut melihat bagaimana banyak orang menanggapi dengan serius citra yang hendak dibangun upaya disinformasi semacam itu, kendati keotentikan sumber-sumber informasi tersebut jelas-jelas bisa diragukan.

Marilah kita bicara tentang dokumen surat yang saya terima itu. Ada banyak hal yang bisa membuat kita meragukannya. Misalnya saja, bila surat itu memang surat rahasia, bagaimana mungkin semua alamat yang dituju dicantumkan di bagian awal surat?

Bila saya membuat surat rahasia, saya akan upayakan bahwa surat itu sampai hanya di tangan yang betul-betul saya tuju. Saya tak akan mengirimkannya pada, misalnya, ‘para jemaat PGI’ yang jumlahnya jutaan orang. Saya tak akan mengirimkannya pada ‘pimpinan redaksi KOMPAS’, melainkan akan menyebut nama spesifik siapa yang saya maksud. Begitu juga, apa yang dimaksud dengan ‘media elektronika radio/tv swasta/afiliasi Kristen’? Dan apa pula yang dimaksud dengan ‘para Ketua DEMA UKI’, karena bukankah istilah Dewan Mahasiswa sekarang tak lagi digunakan?

Bagaimana mungkin pula dalam sebuah surat yang dikirim oleh dan ditujukan pada kaum intelektual, termuat pernyataan doktrinal yang sangat verbal seperti ini:

‘Program Kristenisasi secara umum diadakan di seluruh dunia, di negara-negara Islam dan negara-negara mayoritas Islam, untuk mewujudkan misi mulia sang gembala dalam mendamaikan dunia dalam kasih Tuhan Jesus Kristus Juru Selamat.

Bila Kristen telah menjadi agama mayoritas di seluruh dunia, dunia akan aman dan damai. Untuk itu kita harus bersatu dalam OIKUMENE NASIONAL dalam mengkristenkan orang-orang Islam di Indonesia, terutama generasi muda (siswa dan mahasiswa). Misi kita akan dipantau dan dibantu oleh Amerika dalam bentuk dana dan tenaga (CIA)’.

Contoh-contoh semacam itu bertebaran di sepanjang surat. Misal yang lain: ” .. . kalau perlu menghalangi dengan cara apapun untuk memecah belah antara Islam sehingga perkembangan Islam terhenti dan menjadikan mereka golongan minoritas seperti di Filipina, Bosnia, Kosovo, dll.”

Atau ini: ”Untuk itu kaum intelektual, pengusaha, dan kaum muda kita, utamanya mahasiswa, . . . teruslah berjuang dan kalau perlu pakai jilbab dan pakai kopiah, berikan salam untuk mengibuli mereka.”

Atau yang paling hebat adalah penutup surat yang berbunyi: ”Kami percaya bahwa Yesus Kristus selalu bersama kita di dalam menegakkan keadilan dan kedamaian di dunia sesuai ajarannya Vini…Vidi…Vici ….” (Saya bukan penganut Kristen, tapi saya yakin ucapan ‘Vini, Vidi, Vici’ tidak datang dari Jesus).

Demikianlah, surat penuh cacat memalukan itu menyebar di tengah masyarakat. Inti dokumen itu sederhana: bahwa saat ini kaum Kristen bersatu untuk menghancurkan kekuatan Islam yang tengah berada di atas angin sejak kenaikan Habibie dan ICMI, dan akan melakukan apapun untuk mencapai tujuan tersebut.

Kita mungkin saja bisa mentertawakan kualitas dokumen semacam itu, namun kita tak bisa mengabaikan begitu saja kemungkinan bahwa itu dipercaya oleh masyarakat dan membentuk persepsi mengenai umat Kristen dan nama-nama yang secara eksplisit dicantumkan di sana.

Saya termasuk orang percaya bahwa memang ada masalah dengan Kristenisasi di Indonesia. Namun masalah itu harus ditempatkan secara proporsional dan dibicarakan secara dingin dan bijaksana di antara mereka yang benar-benar tulus peduli pada kelangsungan bangsa dan keharmonisan antarumat di negara ini. Yang kita harus lakukan adalah mencari titik temu, bukan perbedaan; membangun kerukunan, bukan permusuhan; memperjuangkan persatuan, bukan perpecahan. Dan untuk itu kita harus selalu mengungkapkan kebenaran, bukan fitnah.

Republika Online edisi: 07 Feb 1999

 

Berkas Surat Rahasia

Jakarta, 21 Mei 1998

Nomor  : 013/SGT – CSIS/V/98

Lamp.   : 1 ( satu ) berkas

Sifat      : SANGAT RAHASIA

Perihal   : Rencana Kristenisasi di Indonesia

Kepada Yth :


1. Para pendeta PGI.

2. Para Pimpinan Wali Gereja.

3. Para Penginjil.

4. Ketua Umum G.M.K.I.

5. Ketua Umum P.M.K.R.I.

 6. Para Ketua DEMA UKI.

 7. Para Ketua DEMA Atma Jaya.

 8. Para Ketua DEMA Sekolah Teologia Kristen Indonesia.

  9. Para Jemaat PGI dan Wali Gereja yang terkasih.

  10. Pimpinan Redaksi KOMPAS.

11. Pimpinan Redaksi SUARA PEMBAHARUAN.

12. Media Elektronika Radio / TV Swasta Afiliasi Kristen.

 di Seluruh Indonesia

Salam sejahtera dalam Kasih Tuhan, Jesus Kristus. Sebagai pernyataan rasa solidaritas Oikumene dan konsistensi serta eksistensi kita sebagai Ummat Kristiani di Indonesia, yang bergabung dalam wadah yang bernama ” C.S.I.S. ” dan ” SINAR GARUDA TIMUR “, maka kami pemimpin kedua wadah tersebut bergandengan tangan dalam Oikumene menyerukan kepada  segenap Ummat Kristiani di seluruh penjuru Indonesia dalam menghadapi tantangan berat dalam masa Reformasi dari “Orang-orang   Islam” yang nota bene menggangap kita minoritas.

Setelah memperhatikan sikap dan tindakan-tindakan orang-orang Islam di Indonesia baik yang menjadi Pejabat Tinggi Negara  maupun pengusaha dan para ulamanya secara terus menerus ingin menghentikan perkembangan Kristen di Indonesia, apalagi mereka  orang-orang Islam sudah mendominasi politik Golkar dan sudah mengendalikan Soeharto sehingga kegiatan mereka makin  menjadi-jadi. Soeharto dan antek- anteknya sudah memilih pejabat-pejabat Islam lebih banyak daripada Kristen. Lebih-lebih dengan munculnya tokoh radikal Islam seperti Zainuddin MZ, Amin Rais, Nurcholis Madjid yang tergabung dalam ICMI. Hal tersebut  rasanya menyulitkan kita untuk berkembang sebagaimana rencana kita 25 tahun silam. Namun demikian, nuansa baru telah tiba dengan adanya tuntutan REFORMASI dari para mahasiswa yang nota bene sangat menguntungkan kita dalam memperjuangkan  kembali misi mulia kita yang sempat terhenti oleh antek-anteknya Soeharto. Dalam era ini, kita harus manfaatkan dengan  sebaik-baiknya tiap momentum sehingga reformasi tetap disuarakan oleh mahasiswa sampai tumbangnya Habibie dengan ICMI-nya.

Saudara-saudara para gembala yang tergabung dalam Forum Reformasi Mahasiswa Kristen Indonesia (FRMKI), kita harus tetap  berjuang dengan memboncengi unjuk rasa mahasiswa untuk agar tujuan kitra tercapai, “Kristen Jaya di Republik Indonesia” seperti  periode awal era Soeharto. Sehubungan dengan momentum reformasi yang mulus ini, maka kami telah berkunjung ke Amerika  Serikat untuk mendapatkan petunjuk tentang misi kita dalam menjadikan agama Kristen sebagai agama mayoritas penduduk  Indonesia  dan kalau perlu menghalangi dengan cara apapun untuk memecah belah antara Islam sehingga perkembangan Islam di  Indonesia terhenti dan menjadikan mereka golongan minoritas seperti di Filipina, Bosnia, Kosovo, dll.

Dari hasil wawancara kami dengan pemuka agama Kristen Amerika yang duduk diKongres Amerika dan pengusaha-pengusaha   Kristen Amerika, mereka siap membantu kita dengan DANA dan TENAGA untuk menekan pemerintah Habibie sehingga rakyat  makin menderita dan terus mengadakan reformasi, kalau perlu kita tiupkan nuansa REVOLUSI, yang nantinya akan  imanfaatkan  oleh tokoh-tokoh kita yang pernah menjabat dalam pemerintahan Soeharto, seperti Jendral Benny Moerdani, Mayjen TB Silalahi, Pak  Soemarlin, Pak Radius, Pak Moey. Pak Sudrajat, Pak Frans Seda, Pak SAE Nababan, Pak Romo Sandyawan, Pak Mochtar  Pakpahan, Pak YB Mangunwijaya, dan tokoh muda kita sdr.Budiman Sudjatmiko, dan sdr. Pius. Misi mulia kita tetap satu.

Kristenisasi Indonesia dalam waktu 25 tahun dengan cara apapun. CIA dalam hal ini turut ini membantu kita, seperti bantuan mereka pada negara-negara lain untuk mengucilkan negara-negara Islam di seluruh Indonesia dan memecah belah persatuan dan  kesatuan Islam.

Program Kristenisasi secara umum diadakan di seluruh dunia di negara-negara Islam dan negara-negara mayoritas Islam, untuk  mewujudkan misi mulia sang gembala dalam mendamaikan dunia dalam Kasih Tuhan Jesus Kristus Juru Selamat. Bila Kristen telah  menjadi agama mayoritas di seluruh dunia, dunia akan aman dan damai,. Untuk itu, kita harus bersatu dalam OIKUMENE NASIONAL. Dalam mengkristenkan orang-orang Islam di Indonesia. Terutama generasi muda (siswa dan mahasiswa). Misi kita  akan dipantau dan dibantu oleh Amerika dalam bentuk dana dan tenaga (CIA). Harus di upayakan agar misi kita tidak akan terbaca  oleh mereka. Seakan-akan tuntutan reformasi murni dari orang-orang (mahasiswa dan pemuda) Islam. Insiden 12 Novemer 1991 di  Dili dan peristiwa berdarah di Masjid Tanjung Priok merupakan bukti nyata kekuatan kita. Saudara seiman kita ” Xanana Goesmau ”  harus segera dibebaskan agar dapat melanjutkan misinya dalam mengucilkan orang Islam di Dili. Jadi misi kita saat ini bermotifkan

Reformasi Mahasiswa ” yang kita tumpangi secara tersamar dan ambil manfaat sebaik-baiknya agar tokoh-tokoh Islam tidak lagi  mendapat simpati di hati rakyat Indonesia. Kita tonjolkan kedermawanan tokoh-tokoh Kristen untuk mendapatkan simpati rakyat. ”   Daftar Hitam ” yang harus diperhatikan amtara lain: Prof. Habibie dengan ICMI-nya, Amin Rais dengan  uhammadiyah-nya, Gus  Dur dengan NU-nya, Nurcholis Madjid dengan Islam radikalnya, Emha Ainun Nadjib dengan Budaya Islamnya, Faisal Tanjung,  Wiranto, Syarwan Hamid, Yunus Josfiah, dan rekan-rekannya. Tugas Utama kita yaitu mendukung Jendral Tri Sutrisno sebagai Presiden Priode mendatang, karena Pak Tri mudah dipengaruhi dan mudah dikendalikan. Juga orang-orang seperti Moerdiyono, Rudini, Emil Salim, Ali Sadikin, Sarwono, dan rekan-rekannya yang ambisi kekuasaan kita pegang mereka dan selanjutnya lakukan  politik memecah belah mereka. Untuk itu tugas kita yang utama ialah menciptakan perselisihan dan pertengkaran antara orang-orang  Islam fanatik dan Islam abangan sehingga terjadi perang saudara antara mereka, dengan  memberikan sandang-pangan cuma-cuma, besiswa, anak asuh, pekerjaan yang dikelola oleh pengusaha Kristen Pribumi dan keturunan, seperti Sofyan Wanandi, dan Pak Yusuf Wanandi, Pak Salim Sudono, Pak Ciputra, Pak Usman Wibisono, Pak Eka Cipta, yang membantu misi mulia ini.

Saudara-saudara seiman dalam kasih Tuhan Jesus Kristus, saudara-saudara harus ingat bahwa tugas kita ummat Kristiani adalah  tugas mulia, dan harus dilaksanakan oleh setiap ummat Kristiani sejati sebagai wujud nyata kecintaan kita kepada sang Penebus kita,  Yesus Kristus, pemberi terang dan tenteram bagi seluruh dunia.

 
Kasih Jesus Kristus Juru selamat kita pasti diberikan kepada  kita yang berada di garis terdepan dalam melanjutkan perjuangan Sang Gembala selama hayat kita. Sarana informasi sangat dominan  dalam mempercepat upaya kita untuk mewujudlkan peselisihan diantara orang Islam dan menimbulkan kekacauan di masyarakat, sehingga bantuan MF tidak dapat digunakan. Kita manfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya, membonceng reformasi yang  lebih keras dan lebih revolusioner sampai pemerintahan Habibie jatuh. Dalam hal ini, media cetak dan elektronika seperti Kompas, Suara Pembaharuan, dan media cetak Kristen lainnya sangat membantu, demikian juga TV swasta yang berafiliasi kepada kita. Lemparkan isue-isue yang sifatnya menghilangkan kepercayaan masyarakat kepada Habibie cs.

Rencana selanjutnya yaitu media cetak dan elektronika harus dikuasai oramg-orang kita sehingga dengan leluasa dapat memutarbalikan fakta di masyarakat. Tujuan utama kita menjatuhkan pemerintah Habibie dan ICMI selama-lamanya dari bumi  Indonesia. Untuk itu kaum intelektual, pengusaha, dan kaum muda kita, utamanya mahasiswa yang pegang peranan aktif dalam hal  ini, teruslah berjuang dan kalau perlu pakai jilbab dan pakai kopiah, berikan salam untuk mengibuli mereka. Budayawan Kristen  seperti  Pak Chris Pattikawa dan teman-temannya, Ibu Ratna Sarumpaet dengan kawan-kawannya mengikut sertakan artis Islam  dalam segala kegiatan untuk melunturkan fanatisme mereka terhadap Islam. Kawini orang Islam dengan tujuan merobah mereka  menjadi kristen taat, contohnya Rina Hasyim. Ini tugas mulia kita . Kita harus kuasai pemerintah pusat maupun daerah dan  ABRI, jabatan-jabatan penting harus dikendalikan oleh tokoh-tokoh Kristen agar memberikan fasilitas dan segala kemudahan bagi  orang Kristen untuk bekerja, sekolah, masuk ABRI, masuk universitas, kenaikan pangkat dan lain sebagainya sehingga suatu saat kita  yang dominan di dalam pemerintah di pusat daerah ABRI contoh nyata yaitu Timor Timur, NTT/Kupang, Sulawesi Utara/Menado,  dan Maluku/Ambon sudah dikuasi sehingga orang-orang Kristen dapat berkembang leluasa mendominasi orang Islam. Yang masih  harus kita bantu yaitu Sulawesi Selatan, disana orang Kristen (Tanah Toraja) sangat berani dan taat. Agar segera berkembang dan  mendominasi orang Islam. Sementara itu, Jakarta, Surabaya, Yogya, Semarang, dan Medan harus segera dikuasai. Proses nepotisme  kita utamakan bagi orang-orang kita, bukan bagi orang Islam. Kita tiupkan nepotisme dan toleransi agama kepada pejabat Islam,  sehingga tidak dipercayai dan diganti orang kita, Islam abangan, atau golongan nasionalis. Adalah mulia bila saudara-saudara kedepankan misi suci Kristus Penebus Dosa daripada kepentingan pribadi.

Angkatan Bersenjata mutlak harus dikuasi karena ABRI merupakan tulang punggung negara. Momentum ini sangat baik bagi kita  untuk memecah belah kalangan ABRI sehingga ABRI yang fanatik Kristen dapat mendominasi Angkatan Bersenjata.

Kita upayakan KB di kalangan orang Islam dengan berbagai cara, terutama informasi KB kepada ulama, kyai, santri, tokoh Islam,  sehingga masyarakat Islam ber-KB. Kita sebagai orang Kristen dilarang untuk ber-KB karena itu menyalahi tugas mulia ya ng diemban oleh Yesus Kristus, Sang Penebus. Untuk menjalankan kebijaksanaan ini, maka sebagian besar dokter bidan, perawat, dan  pegawai BKKBN haruslah orang-orang Kristen agar memudahkan KB mantap bagi pasangan- pasangan Islam. Selain Itu ummat  kristiani harus mendirikan lebih banyak lagi Rumah Sakit di seluruh Indonesia untuk mencapai sasaran kita.

Kita haus membantu perekonomian rakyat kecil dalam hal memberikan lahan kerja memberikan makanan cuma-cuma mengangkat  anak asuh agar orang Islam abangan dapat mengikuti ajaran Kristus,membuat tempat ibadah di masyarakat Islam, menghidupkan  judi, tempat pelacuran, bar-bar, memasok pil ektasi, bir, putaw, dll. agar digunakan oleh generasi muda Islam sehingga lambat laun  akan mengganggu moral mereka dan menghilangkan fanatisme mereka terhadap Islam.

Posisi agama Kristen di bidang pendidikan sangat menetukan generasi mendatang Sarana pendidikan harus dikuasai oleh kita.  Perbanyak SD, SMP SMU Universitas Kristen di seluruh Indonesia, dengan memasukkan ajaran Kristen penuh dalam Kurikulum  pendidikan di sekolah penting dalam jajaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan harus dijabat oleh orang Kristen  fanatik dan memberikan fasilitas kepada siswa dan mahasiswa Kristen karena mereka adalah asset utama Agama Kristen di masa mendatang.

Demikianlah secara singkat rencana Kristenisasi kita yang pernah tertunda di zaman rezim Soeharto, dan pada era baru ini, kita  harus cepat dan tanggap dalam membaca situasi dan tetap berusaha mendeskriditkan Pemerintahan Habiibie dan tetap menuntut SI  MPR dilaksanakan agar Pak Tri dapat menduduki jabatan Presiden RI demi kemajuan Kristen di Indonesia. Pemimpin-peminpin dari  media cetak kita telah siap memberikan informasi dantanggapan yang mendeskreditkan Habibie agar rakyat tidak mempercayainya  lagi,. Untuk itu saudara-saudara harus turut membantu terutama kalangan intelektual budayawan, artis, tokoh muda , mahasiswa,  siswa, dan semua gembala-gembala Yesus Kristus harus bersatu padu dalam OIKUMENE untuk mencapai cita-cita mulia kita. Mahasiswa harus tetap menjalankan unjuk rasa dan mengacaukan masyarakat. Daam hal ini pak Frans Seda, Pak Benny, Pak Romo  Sadyawan, Pak Yacob Utama, Pak YB Mangunwijaya, Pak Mochtar Pakpahan, Ibu Ratna Sarumpaet, Pak Saban Sirait, Pak SAE  Nababan, Sdr. Budiman Sudjatmiko, dan Sdr. Pius, serta reformis-reformis Kristen lainnya. Sebagai pelopor utama reformasi  akan mengacaukan dan mengambil alih kekuasaan orang-orang Islam dalam pemerintahan. Saudara-Saudara harus ingat pesan kami :  JANGAN PERCAYA setiap orang sebelum yakin bahwa dia adalah KRISTEN sejati pengemban misi Yesus Kristus Sang Penebus  Dosa. Upayakanlah agar informasi ini tidak sampai ke tangan yang TIDAK BERTANGGUNG JAWAB yang pada akhirnya akan mengacaukan misi mulia kita. Kami percaya bahwa ” Yesus Kristus ” selalu bersama kita dalam menegakkan keadilan dan kedamaian  di dunia sesuai ajarannya Vini…….Vidi……..Vici

 

Salam Oikumene !

a.n. Dewan Pengurus SGT & CSIS

ttd,

Jend. Benny Moerdani, Drs. rans Drs. Sabam Sirait, Pdt. SAE Nababan, YB Mangunwijaya, Mayjend. TB Silalahi, Ratna Sarumpaet, Mochtar Pakpahan, Budiman Sudjatmiko.

Catatan :


Surat ini benar dan aktual! Berasal dari seorang teman di Menado (Sulawesi Utara), lalu dikirim ke UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta), lalu disebarkan lagi kebeberapa kampus. Lembaran yang ditangan anda ini adalah salinan dari Sdr. M. Sohir (Mahasiswa Institut Agama Islam Al Ghurabaa’ Rawamangun Jakarata Timur ).

Disalin sesuai Aslinya. Lembaran ini agar diperbanyak dan dibagikan kepada MAHASISWA ISLAM ! Jika Saudara masih meragukan kebenaran surat ini, silahkan hubungi:

 1. Abba Taher Lamatapo ( Universitas Muhammadiyah Jakarta ) Telp.7470.9328 2. Mohammad Sohir (Fak. Tarbiyah Institut Agama Islam Al Ghurabaa’) telp= 489.0055 Setelah membaca surat ini, marilah kita tingkatkan kewaspadaan kita terhadap makar para musuh-musuh Allah mari kita galang persatuan dan kesatuan DALAM ISLAM Ingat tanpa ISLAM cita-cita reformasi mustahil tercapai.

 

TTD
( Mohammad Sohir ) mahmud mustain Research Student Dept. of Geology University of Leicester
Tel. 0116 252 5282 (Geophysic Lab.) Fax. 0116 252 3918 (Department)

 

 

MENCERMATI GERAKAN KRISTENISASI DIBALIK GERAKAN SEKULERISME & SINKRETISME

(Pidato Ketua Pelaksana Harian KISDI, dalam acara Pengajian Bulanan Asy Syafiiyah—KISDI, di Masdjid Agung Al Azhar, tanggal 6 Juni 1999)

Sekarang masih hari tenang, kita tidak boleh kampanye. Karena majelis ini merupakan majelis rutin pengajian bulanan, maka kita hanya akan melakukan evaluasi terhadap langkah dakwah kita sambil mencermati gerakan musuh yang kita lihat dan rasakan semakin canggih.

Sudah lama kita mendengar jargon-jargon politik yang disebarluaskan ke tengah umat Islam, bahwa agama tidak boleh campur tangan ke dalam urusan politik. Menurut mereka, agama harus dipisahkan dari urusan politik. Sebab, kata mereka, kalau agama campur tangan ke dalam urusan politik, maka akan terbuka peluang untuk melakukan politisasi agama.

Paham inilah yang kita kenal sebagai sekularisme, yakni paham pemisahan agama dari kehidupan. Menurut penganut paham ini, agama adalah urusan pribadi, agama hanya boleh dibicarakan di masjid-masjid. Kita menjadi maklum, mengapa Abdurrahman Wahid, marah-marah karena MUI mengeluarkan fatwa, agar Muslim memilih caleg yang Muslim. Kata Abdurrahman Wahid, MUI sudah terlalu jauh mencampuri urusan politik.

Kita tahu, paham sekular yang disebut Pak Natsir sebagai “La Diniyah” (netral agama), adalah paham yang berasal dari tradisi Kristen Barat. Agama Kristen yang dulu menyatu dengan kekuasaan, melakukan penindasan terhadap rakyat, sehingga rakyat marah dan akhirnya – setelah era reformasi – agama dicampakkan dari kehidupan. Pada sisi ekstrim, agama dianggap sebagai candu yang harus dimusnahkan, karena menjadi musuh masyarakat. Pada sisi yang lebih moderat, agama diasingkan dari kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Agama hanya  dijadikan urusan pribadi.

Diantara umat Islam dan sejumlah tokoh, paham sekular ini sudah menjadi keyakinan mereka. Orang-orang ini tak henti-hentinya melakukan propaganda, agar agama dijauhkan dari politik. Mereka menolak berdirinya partai agama, karena dianggap mempolitisasi agama, menyelewengkan agama, dan sebagainya. Padahal, kalau bicara penyelewengan, maka paham apa saja bisa diselewengkan. Bukan hanya agama. Demokrasi pun sering diselewengkan. Atas nama demokrasi, Soekarno dulu menindas umat Islam. Atas nama demokrasi pula, Soeharto memberlakukan kepemimpinan otoriter. Atas nama demokrasi, AS menindas dunia.

Yang lebih berbahaya, orang-orang sekular ini rajin mempropagandakan suatu paham yang sangat aneh, yaitu paham “penyamaan agama” atau “sinkretisme agama”, yaitu menganggap bahwa semua agama, pada dasarnya (substansinya) adalah sama. Kata mereka, inti sari dari semua agama adalah “perdamaian”, “keadilan”, “persamaan”, “demokrasi”, dan “HAM”.

Jadi, kata mereka, kalau ada orang yang memperjuangkan hal-hal seperti itu, apa pun agamanya, maka mereka telah berbuat baik, dan dapat masuk sorga. Karena itu, ada kyai yang menyatakan, bahwa Yahudi dan Kristen bukan kafir. Ada juga kyai yang menulis artikel di Harian Duta Masyarakat, bahwa Romo Mangun adalah Saudara Seiman umat Islam.

Di zaman Orde Lama, Soekarno termasuk yang sangat rajin mempropagandakan paham sinkretisme agama ini. Ia berulang kali menceritakan hikayat tentang lima orang buta dan gajah. Kelima orang buta itu (sebagai tamsil dari agama-agama) hanya dapat memegang sebagian dari tubuh gajah. Yang memegang ekornya, mengatakan, bahwa gajah seperti cambuk. Yang memegang kakinya, mengatakan, bahwa gajah itu laksana batang pohon. Walhasil, masing-masing agama sama hanya dapat menjangkau sebagian saja dari hakekat kebenaran. Karena itu, semua agama, sama saja.

Orang-orang yang berpikiran seperti ini, mengatakan, bahwa untuk menjadi orang baik, anda tidak perlu menjadi Islam. Bahkan, ada calon legislatif dari suatu partai yang beragama Islam, menyatakan, bahwa yang penting bukan agama formalnya, tetapi substansinya, apakah seseorang memperjuangkan keadilan, demokrasi, HAM, atau tidak. Kata mereka, itulah substansi dari Islam. Maka, tidak penting, apakah si A beragama Islam atau Kristen.

Kita mengimbau agar orang-orang tersebut tidak mempermainkan Islam, dan agar konsisten dengan ucapannya. Jika memang tokoh-tokoh non Muslim disamakan dengan orang Islam, karena mereka adalah pejuang demokrasi dan HAM, mengapa mereka tidak sekalian saja diberi hak-hak sebagai orang Islam, seperti berhak disalatkan jenazahnya, boleh kawin dengan muslimah, boleh menerima warisan, boleh masuk masjid, boleh menerima zakat, boleh menjadi pemimpin organisasi Islam, dan sebagainya.

Dan kita juga mengimbau kepada orang-orang yang mengatakan, bahwa semua agama sama saja, hendaknya mereka memberikan contoh dan suri tauladan. Gantilah agama Anda sekarang juga. Umumkan hari ini, bahwa Anda adalah Islam, besok menjadi Kristen, besoknya lagi Hindu, minggu depan Darmo Gandul, dan sebagainya. Jika Anda mengatakan, agama formal tidak penting, maka berilah contoh kepada masyarakat.

Kita yakin, orang-orang itu tidak akan berani melakukan hal seperti itu. Karena itulah, kita yakin, bahwa seringkali ucapan kaum sinkretis ini adalah ucapan omong kosong yang lebih sering bertendensi politis. Diantara tanda-tanda maraknya paham sinkretis saat ini adalah mulai ngetrend-nya tindakan parade doa bersama antar pemeluk agama. Yang satu berdoa kepada Tuhan Yesus, yang satu berdoa kepada Allah SWT, satunya lagi berdoa kepada Dewa.

Pada tahun 1970 dan 1980-an, paham sekularisme dan sinkretisme disosialisasikan secara luas oleh penguasa Orde Baru, dengan CSIS sebagai thinktank-nya. Tahun 1981, Ali Moertopo, dalam bukunya Strategi Pembangunan Nasional terbitan CSIS, membuat tujuh penafsiran atas Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang isinya sangat sekularistik.

 

 

 

 

Ketujuh penafsiran itu adalah:


(a) Negara Republik Indonesia menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu (pasal 29 ayat 2 UUD 1945);

(b) dalam Negara Republik Indonesia diakui kebebasan agama-agama dan diakui kebebasan beragama bagi setiap individu;

(c) agama dalam Negara Republik Indonesia adalah lembaga swasta dan bukan lembaga negara, maka dari itu tidak diatur, diurus, atau diselanggarakan oleh negara,

(d) Negara Republik Indonesia menghargai dan menghormati agama-agama tanpa mengadakan deskriminasi atau perbedaan.Pada poin

(e) disebutkan, Negara Republik Indonesia memberi hak, fasilitas, jaminan, perlindungan, dan kesempatan yang sama kepada setiap agama dan kepada setiap pemeluk agama; (f) bagi para warga negara, hak untuk memilih, memeluk, atau ibadah agama adalah hak yang paling asasi, dan hak ini tidak diberikan oleh negara, maka dari itu Negara Republik Indonesia tidak mewajibkan, atau memaksakan, atau melarang siapa saja untuk memilih, memeluk, atau pindah agama apa saja;
(g) Negara RI menjunjung tinggi dan mewajibkan toleransi agama, maka tidak mengizinkan, bahkan harus melarang langsung segala macam propaganda antiagama pada umumnya; dan setiap propaganda antiagama tertentu pada khususnya, lebih-lebih di muka umum.

Di tahun 1973, Komisi Daryatmo juga menyiapkan draft GBHN yang menghapus pelajaran gama dari sekolah. Pendidikan agama akan diganti dengan pendidikan budi pekerti. Tahun 1978, selain disahkannya aliran kebatinan, juga direncanakan pendidikan Panca Agama di Indonesia. Setelah ini gagal, misi sekularisme dan sinkretisme, dimasukkan melalui program Pendidikan Moral Pancasila. Kita ingat, di tahun 1973, RUU Perkawinan Sekular juga diajukan oleh pemerintah. Di tahun-tahun itu, jilbab dilarang, murid sekolah dipaksa mengikuti kegiatan Natal Bersama, atas nama toleransi dan kerukunan umat beragama. Para dai dan mubaligh ditekan, ditangkapi, disiksa, dan diharuskan memiliki SIM (Surat Ijin Mubaligh).

Apa yang terjadi dibalik semua gerakan sekularisasi dan sinkretisasi itu? Ternyata, dibalik semua itu, adalah program Kristenisasi besar-besaran. Masyarakat Muslim Indonesia hendak dikristenkan habis-habisan. ABRI didominasi oleh Kristen. Birokrat dikuasai Kristen. Belum lagi, sektor ekonomi. Begitu pintarnya gerakan kristenisasi, sehingga mereka selalu bersembunyi di balik tokoh-tokoh Islam atau birokrat tertentu. Karena itulah, kalangan Kristen senantiasa menolak seluruh peraturan atau Kode Etik penyiaran agama di Indonesia, yang tidak menjadikan umat beragama sebagai sasaran penyebaran agama.

Laporan-laporan rahasia tentang strategi Pengkristenan Indonesia beberapa kali terungkap, tetapi selalu dibantah oleh kalangan Kristen. Salah satunya adalah Konferensi Umat Kristen Katolik di Malang tahun 1963, yang menyebutkan, bahwa Pulau Jawa akan dikristenkan dalam waktu 20 tahun, dan Indonesia dalam waktu 50 tahun. Meskipun dibantah oleh pihak Kristen, tetapi mereka juga mengungkapkan suksesnya misi mereka ke luar negeri.

Pada edisi 7 September 1973, Harian Washington Post menulis laporan tentang suksesnya Kristenisasi di Indonesia yang ditulis oleh Barbara Howeel. Disebutkan di situ, bahwa sejak tahun 1965, telah berjuta-juta orang Islam di Pulau Jawa memeluk agama Kristen, sehingga jumlah penduduk Nasrani adalah 10 persen dari 125 juta jiwa, dan yang menjadi anggota Dewan Gereja saja sudah 5 juta orang. Tahun 1978, Rabithah Alam Islami menerbitkan data bahwa 10 juta orang Islam telah dikristenkan.

Jika orang Islam punya semangat dakwah untuk menyebarkan Islam, begitu juga orang Kristen. Mereka juga merasa memiliki kewajiban untuk mengkristenkan dunia dan “menyelamatkan” umat manusia dengan Injil.

Dalam Musyawarah Kerja Instansi Departemen Agama dan Alim Ulama/Pemuka Agama di Banjarmasin, 19-21 April 1969, seorang pemuka Kristen, Domine J. Saloh, mengatakan, “Sasaran penyebaran agama menurut pengertian kami ialah umat manusia pada umumnya. Sasaran kami bukan golongan tertentu, Tidak. Tetapi, umat manusia pada umumnya, atau pribadi manusia itu sendiri, di segala tempat dan dimana pun. Prinsip ini bukan prinsip golongan Kristen, tetapi prinsip Al Kitab, prinsip Kitab Suci yang tidak boleh kami ubah-ubah lagi.”

Pola strategi Kristenisasi sebenarnya tidak berubah. Ketika mereka merasa minoritas dan lemah, mereka akan menyusup atau melakukan infiltrasi, dan membonceng kekuatan-kekuatan dominan di masyarakat. Di zaman kolonial, mereka membonceng kaum kolonial Belanda. Di zaman awal Orde Baru, mereka membonceng kekuatan politik dominan, yaitu Golkar dan ABRI. Karena itu, kita bisa mengerti, mengapa tokoh Katolik Liem Bian Koen dan Liem Bian Kie dan kawan-kawan, memanfaatkan Ali Moertopo dan Soedjono Humardani untuk mempengaruhi kebijakan ABRI dan Golkar.

Sekarang, ketika mereka melihat Golkar sudah tidak bisa diharapkan sebagai tunggangan politik dan misi Kristennya, maka mereka mencari tunggangan yang lain. Karena itulah, tokoh-tokoh Kristen radikal seperti Theo Sjafei dan kawan-kawan, segera bergabung dengan kekuatan politik yang sedang naik daun, dan benar-benar mendominasi. Kekuatan-kekuatan politik dominan – seperti media elektronik— juga mereka dominasi untuk memuluskan misi mereka. Sehingga ada satu TV swasta ada yang secara tegas menolak iklan “pilihlah pemimpin yang benar-benar Muslim” yang disuarakan oleh Kyai Zainuddin MZ, dengan alasan TV-nya sudah penuh iklan.

Apakah mereka mengkampanyekan Kristenisasi? Tentu saja tidak. Strategi yang mereka lakukan sama saja, yaitu mengembangkan sekularisasi dan sinkretisasi agama. Dengan kedua gerakan itu, umat Islam menjadi lemah komitmen terhadap agamanya. Setelah kita menyimak komposisi caleg satu parpol yang 42 persennya adalah non-Muslim, kita bisa memahami makna ucapan Theo Sjafei yang ada di kaset yang beredar beberapa bulan lalu. Di dalam kaset itu, Theo Sjafei mengatakan, “PDI Mega saja pilih. Kalau tidak, partainya NU saja, Gus Dur saja, juga tidak apa-apa… Tetapi, jangan bikin partai Kristen, seperti partai Katolik Demokrat. Saya pikir, ini langkah yang salah. Sebab, kalau nanti pemilihannya dengan sistem distrik, kalau kita semuanya kompak, Kristen dan Katolik menjadi satu, kita hanya memilih partai yang satu, kita cuma akan merebut paling banyak itu 38 kabupaten dari 330 kabupaten.”

Ketika mengucapkan itu, PDI Mega belum melakukan Kongres di Bali, dan Theo belum menjadi pengurus PDI Mega. Berarti,ketika itu,Theo dan kawan-kawan sudah menyusun strategi yang jitu untuk memasuki PDI Mega.Juga, kita bisa mengerti, mengapa PDI Mega mati-matian menolak sistem distrik.

Dengan strategi penyusupan (infiltrasi) itulah, maka golongan Kristen nanti akan dapat “menduduki DPR” jauh melebihi proporsinya. Mereka akan dapat muncul dari PDI-P, Golkar, PAN, Krisna, PKD, PND,PDI,dan sebagainya. Kita tidak usah heran,jika caleg non-Muslim kini mendominasi PDI Perjuangan.

Selain melakukan sekularisasi dan sinkretisasi, cara klasik yang selalu digunakan adalah politik pecah belah dan du domba (devide et impera) dan politik belah bambu. Satu kelompok Islam diangkat dan satunya lagi diinjak. Sejak zaman Kolonial Belanda, umat Islam diadudomba dan dipecah belah. Di zaman Orde Lama ada kekuatan Islam yang dirangkul dalam Nasakom ada juga yang ditindas dan tokoh-tokohnya dijebloskan ke penjara.

Di zaman Orde Baru, juga begitu. Ketika umat Islam dibantai di Tanjung Priok, ada tokoh-tokoh Islam yang membela LB Moerdani dan menemaninya keliling pesantren. Ketika RUU Perkawinan sekular diajukan ke DPR, maka yang dijadikan sebagai juru bicara Golkar adalah seorang kyai. Karena itu, kita tidak usah kaget, jika sekarang ada tokoh Islam yang menjadi juru bicara kelompok Kristen. Itu sudah pola lama, sejak zaman kolonial. Untuk memuluskan misi zionis Israel di Indonesia misalnya, tidak perlu Netanyahu atau Ehud Barak berkeliaran di sini. Karena di sini sudah ada juru bicaranya. Yang mati-matian menghantam fatwa MUI juga bukan pastur Xaverius, atau pendeta Albert, tetapi orang Islam juga.

Saya tidak ingin kita terlalu risau dengan kondisi kita sekarang. Kita juga tidak perlu cemas yang berlebihan. Justru sekarang, kita dibukakan oleh Allah SWT, bagaimana kondisi dan kelemahan kita. Kita tidak perlu menyalahkan orang lain, tetapi kita yang harus memperbaiki diri dan kondisi kita. Kita tidak perlu memaki-maki hak teman-teman kita orang Kristen untuk melakukan Kristenisasi di Indonesia, karena itulah perintah ajaran agama mereka. Yang perlu kita lakukan adalah memperkuat iman, aqidah, dan pemahaman kita tentang Ad Dienul Islam, dan melakukan pencerdasan kepada umat kita, agar mereka dapat mewaspadai gerakan-gerakan yang dilakukan oleh setan-setan untuk menyesatkan umat kita. Kita harus tahu, bahwa setan tak pernah berhenti bekerja.

 

Para misionaris makin berani melancarkan aksi.

Ada proyek Yeriko 2000 yang difokuskan untuk Kristenisasi Jawa Barat.

Padang geger. Seorang gadis manis berjilbab, Khairiyah Enniswati (Wawah), diculik, dibaptis, dan diperkosa. Kasus Wawah yang akan memasuki persidangan ke sepuluh itu menyayat hati umat Islam. Lia, gadis berjilbab yang dikenal Wawah di atas angkutan kota, ternyata musang berbulu ayam. Suatu ketika, ia mengaku beragama Kristen Protestan dan mengajak Wawah untuk mengikuti jejaknya. Wawah diajak berkeliling kota, hingga akhirnya dibawa ke gereja. Di sana dia dibaptis oleh pendeta Willy. Selanjutnya, Wawah dititipkan ke salah seorang jamaat bernama Salmon. (Lihat boks: Pemurtadan di Ranah Minang)

          Salmon, yang memperkosa Wawah, dan istrinya kini ditahan sebagai tersangka. Sementara Lia, tokoh penjerumus Wawah dalam kasus ini, raib entah kemana. Pendeta Willy pun lenyap bagai ditelan bumi. Pihak gereja menyatakan, di sana tidak ada pendeta bernama Willy. Namun menurut saksi, Yanuardi Koto, Willy sudah berada di Amerika. Belakangan, beredar isu bahwa pendeta Willy adalah adik tiri Buya Hamka, ulama terkenal asal Sumatera Barat. (Lihat: Siapakah Pendeta Willy?)

          Di tengah heboh pemurtadan di Padang, terjadi pula peristiwa serupa di Jakarta. Kali ini menimpa Darma, istri Ridwan. Pria asal Ujungpandang yang belum satu tahun berkeluarga ini mengajak istrinya tinggal di Jakarta. Maret lalu, keduanya menunaikan sholat Idul Adha di Masjid Istiqlal. Usai sholat, sambil menunggu suami, Darma melihat-lihat pedagang kaki lima di halaman masjid. Ketika itulah ia dicolek oleh seorang perempuan paruh baya. “Kamu ada masalah, ya?” kata perempuan itu. Aneh, Darma yang saat itu sedang hamil enam bulan tiba-tiba seperti mengenal perempuan itu. Dan bagai kerbau dicocok hidungnya, ia mau saja ketika perempuan itu mengajaknya pergi.

          Sementara Ridwan, sang suami, menunggu hingga masjid hampir sepi. Akhirnya Ridwan pulang dengan penuh rasa khawatir. Menjelang sore hari, alhamdulillah, istrinya ternyata kembali ke rumah. Ia lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Bu De yang kemudian pergi bersamanya ke Gereja K yang terletak di Jakarta Timur. Mendengar cerita istrinya, Ridwan sudah curiga. Tapi ia masih mencoba berbaik sangka. Ia berpikir, mungkin saat itu istrinya merasa kasihan dan berani mengantar perempuan bernama Bu De itu.

          Namun, ternyata masalahnya tidak selesai sampai di situ. Sepekan berikutnya, Darma pergi lagi tanpa pamit. Ridwan kembali kelimpungan. Ia mencari istrinya ke mana-mana. Lewat empat hari, tiba-tiba istrinya muncul. Ridwan merasakan ketidakwajaran dalam sikap istrinya. Apalagi ia melihat istrinya tampak mengalami tekanan batin yang amat hebat. Ridwan sangat terkejut ketika istrinya mengatakan sedang berobat dengan cara Kristen. Lebih terperanjat lagi ketika Darma kemudian menyatakan keinginannya untuk masuk Kristen. Ridwan curiga istrinya kena guna-guna.

          Menyadari istrinya sedang mengalami krisis aqidah, Ridwan lebih hati-hati mengawasi istrinya. Sayangnya, Ridwan memang tidak mungkin terus menerus mendampingi istrinya. Ia cukup menggembok pagar, tanpa mengunci pintu rumah, sebelum pergi.   Ketika itulah, Darma pergi lagi tanpa sepengetahuan Ridwan. Kali ini lebih lama, enam hari. Ridwan hampir putus asa menghadapi kasus yang menimpa istrinya. Berpedoman pada informasi pertama yang ia terima, Ridwan beberapa hari memantau Gereja K. Hari Selasa, menjelang jam satu siang, Ridwan melihat istrinya keluar dari gereja tersebut.

          Ridwan diam-diam mengikuti istrinya. Ketika Darma ingin menyeberang, seorang satpam berlari keluar dari gereja. Ia menarik tangan perempuan itu dan mengajaknya masuk ke gereja kembali. Ridwan, yang saat itu sudah naik emosinya, segera datang menghampiri. Ia sempat mendengar satpam itu berkata pada istrinya, “Dik, dik, dipanggil lagi sama Bapak.” Ridwan segera menarik tangan istrinya. Melihat suaminya tiba-tiba muncul, Darma langsung berkata pada satpam itu, “Ini suami saya, Pak!” Satpam itu pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

          Ridwan segera membawa istrinya pulang. Sampai di rumah, istrinya tetap menjelaskan bahwa ia melakukan pengobatan dengan cara Kristen. Ia juga bercerita, metode pengobatan itu dilakukan melalui cerita-cerita tentang kasih sayang, pergi ke tempat-tempat tertentu yang menyenangkan, ke tempat orang-orang miskin untuk memberi sumbangan dan sebagainya. Sayangnya, seperti terhipnotis, Darma tidak tahu persis tempat apa saja yang ia datangi.

Menurut Darma, kelompok pengobatannya terdiri dari sekitar dua puluh orang. Umumnya mereka memiliki masalah dan kebanyakan wanita. Masih menurut Darma, bila digabung, seluruh kelompok itu bisa mencapai seratusan orang. Dalam acara pengobatan itu, Darma dan kelompok pengobatannya sering dipindah-pindah dari satu gereja ke gereja lainnya.

          Setelah kejadian ini, Ridwan lebih berhati-hati menjaga istrinya. Untuk menyembuhkan istrinya, Ridwan berinisiatif membawa istrinya ke “orang pintar” di Tanjung Priok. Mereka ke sana naik bis. Sampai di terminal Senen, waktu Dzuhur tiba. Ridwan memutuskan untuk sholat dulu. Mereka berdua masuk ke musholla. Tapi usai shalat, Darma kembali menghilang. Ridwan segera melapor ke kantor polisi resort Jakarta Pusat soal istrinya yang hilang. (Surat bukti pelaporan meski sudah agak lusuh ditunjukkan pada SABILI).

Peristiwa yang menimpa Ridwan mencapai klimaksnya. Sejak berpisah di terminal Senen, Ridwan tidak bertemu lagi dengan istrinya selama tujuh minggu. Ia sempat melaporkan kasus ini ke sejumlah ormas Islam. Sayangnya, laporan Ridwan kurang mendapat respons.

          Sampai akhirnya, setelah tujuh minggu, sang istri kembali dalam kondisi sangat lemah. Saat ditanya, Darma mengaku selama tujuh minggu berada di Surabaya untuk berobat. Namun berdasarkan sejumlah nota yang ada di tasnya, Ridwan berkesimpulan bahwa istrinya hanya dua hari di Surabaya.

          Ridwan memang mengakui bila ia tidak memiliki bukti kongkret agar kasus ini dapat ditindak lanjuti secara hukum. Namun, kepada SABILI, ia berjanji. Kelak jika istrinya yang saat ini dibawa ke Ujung Pandang, sudah normal, ia berniat akan membongkar kasus ini. “Ini masalahnya bukan urusan istri saya pribadi, tapi urusan umat,” ujar Ridwan. Bila benar informasi adanya ratusan orang yang ikut dalam proses cuci otak itu, kasus ini jelas merupakan indikasi yang sangat berbahaya.

          Kasus Wawah dan istri Ridwan, bila benar, kian memperpanjang daftar aksi Kristenisasi di Indonesia. Kecenderungan belakangan, kasus Kristenisasi malah lebih berani. Insan Mokoginta, mantan pendeta yang kini aktif mengkonter gerakan Kristenisasi berkedok Islam, beberapa waktu lalu nyaris tertembus peluru.

          “Sebelum kejadian penembakan tersebut, kita mengadakan tabligh akbar tentang Kristenisasi di Bekasi yang diselenggarakan Majelis Ta’lim al-Furqon, yang dipimpin Pak Sulaiman,” tutur Insan. Saat itu, ia menjadi salah satu dari empat pembicara dari Tim FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan). Dalam acara itu, Insan mengupas proyek Kristenisasi berwajah Islam.

          Beberapa hari kemudian, usai berobat ke dokter, Insan pulang melalui tol. Sebelum pintu tol Taman Mini, tiba-tiba ia mendengar suara benturan keras. Kaca depan BMW-nya retak. “Saya lihat dari depan maupun samping tidak ada satu pun mobil. Kalau ada mobil, analisa saya mungkin ada batu yang terjepit ban mobil, kemudian mental kena kaca mobil saya,” ujar Insan. Pentalan batu pun, menurut Insan, biasanya tidak sampai membuat kaca mobil retak. Apalagi, kaca mobilnya adalah kaca tripleks (dua lapis). “Saya menduga, kaca mobil saya kena tembakan pistol dari arah samping,” ujarnya.

          Insan penasaran dengan peristiwa itu. Sampai di rumah, ia mengambil senapan angin jenis DSA. “Saya taruh kaca lima mili dengan jarak lima meter, dalam posisi tegak lurus. Kemudian saya tembak. Ternyata tidak pecah. Bila tembakan tadi bisa meretakkan kaca mobil saya, berarti bukan senapan angin biasa, tapi senjata beneran. Padahal senapan angin DSA sudah cukup keras,” urai Insan.

          Musibah yang menimpa kristolog Insan Mokoginta juga dialami Ibu Hindun Mubarak, pembicara kedua dalam majelis ta’lim yang sama. Ibu Hindun yang menjabat ketua Yayasan Muhtadin itu digebuki oleh orang tak dikenal pada malam hari. Ketika Bu Hindun membuka pintu rumah, tiba-tiba seseorang memukulinya. Pelakunya kemudian langsung lari. Sayang, Bu Hindun tidak sempat mengenali orang itu. Sebelum kejadian ini, baik Insan Mokoginta maupun Ibu Hindun mengaku sering menerima teror, antara lain berbentuk surat kaleng.

          Menurut Insan Mokoginta, merebaknya cara-cara kasar, pemaksaan, serta pengelabuan dalam Kristenisasi bisa jadi karena misi Kristen mengalami kesulitan memurtadkan umat Islam secara logika. “Mereka berpendapat bahwa orang Islam sulit diinjili. Maka dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur`an yang dipotong-potong, mereka berusaha meyakinkan kebenaran agama mereka,” tutur Insan.

          Cara-cara lain yang sangat halus juga ditempuh untuk mempengaruhi kejiwaan umat Islam. “Mereka memberi sumbangan, sembako, makanan gratis, istilahnya makanan dari Tuhan. Mereka Juga sering memberi makanan pada pemulung atau pengemis. Mereka kumpul, lalu dikasih makan. Nah, saat itulah mereka diinjili,” urai Insan.

          Sayangnya, karena menganggap ini peristiwa klasik, bisa dikatakan hanya segelintir tokoh Islam yang mau peduli. Sementara sebagian lagi merasa khawatir kasus-kasus seperti ini kan mengganggu kerukunan antarumat beragama. Padahal, sudah banyak korban jatuh. Satu contoh, ketika SABILI menulis ihwal Kristenisasi Berwajah Islam, tidak satupun surat atau tanggapan yang muncul dari tokoh-tokoh Islam. Kebanyakan tanggapan justru datang dari kalangan muslim biasa yang tergugah kepeduliannya untuk menindak lanjuti masalah ini lebih jauh. Kurangnya kepedulian ini juga pernah dikeluhkan seorang Kristolog pada SABILI.

          Kristenisasi memang bukan fenomena baru. Bahkan misi Kristen sudah beraksi sejak bangsa Portugis dan Belanda menginjakkan kakinya di bumi Nusantara. Dan mungkin, akan berlangsung terus. Sebab utamanya, agama Kristen memang agama missi. Upaya Kristenisasi saat ini bahkan berlangsung dengan cara lebih kreatif. Ambil contoh, acara Ahad siang, lepas pukul 12.00, di layar ANteve. Sejumlah anak usia SD dan SMP tampil sopan, mengenakan pakaian koko putih, peci hitam, lengkap dengan sarung di pundak. Bagi yang tidak jeli, pasti menyangka mereka adalah anak-anak muslim, asal TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), atau para santri dari sebuah pondok pesantren. Tapi dugaan itu meleset. Dilihat dari program acaranya, “Gema Rohani,” mereka jelas bukan Islam. Mereka memang anak-anak umat Kristiani yang tampil mirip dengan umumnya masyarakat muslim. Dan memang, mereka membacakan Injil dan menyenandungkan ajaran Kristen.

          Umat Islam jelas tidak diajarkan untuk membenci umat lain. Apalagi Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Tapi kita pun harus waspada. Karena pendekatan budaya dalam acara “Gema Rohani” itu, bagi umat Islam yang awam, apalagi anak-anak, akan menumbuhan kesan adanya persamaan antara agama Islam dengan Kristen.

          Untuk saat ini, misi Kristen yang sangat berbahaya, menurut Insan Mokoginta, adalah Yayasan Doulos. Yayasan ini merupakan pusat Kristenisasi terbesar di Indonesia, yang nantinya berpusat di Cipayung, Jakarta Timur. “Tempatnya luas sekali, kurang lebih lima hektaran dan saya sudah pernah ke sana,” aku Insan. Masih menurut Insan, proyek Doulos ini adalah untuk melakukan Kristenisasi besar besaran khusus untuk orang Sunda. Jadi kurang lebih dalam waktu lima puluh tahun orang Sunda sebagian besar sudah bisa mereka Kristenkan. Pada tahun 2000 nanti, mereka merencanakan membuat pos-pos penginjilan, kurang lebih 2000 pos di Jawa Barat. Itulah sebabnya proyek itu disebut Yeriko 2000.

          Kristenisasi, menurut Insan, juga dilakukan melalui proyek hamilisasi. Pemuda-pemuda Kristen sengaja memacari gadis-gadis Muslim, lalu menghamilinya. Mereka yang sudah dinodai ototmatis akan mengejar sang pacar. Sampai kapan pun, upaya Kristenisasi tidak akan pernah berhenti. Karena Kristenisasi adalah bagian dari misi mereka. Kita (umat Islam), kata Insan, adalah domba-domba sesat yang harus mereka Injili.

          Yayasan Kristen Doulos, baru-baru ini nyaris memicu kerusuhan massal di Lembang, Bandung. April 1999, yayasan yang didirikan tanpa izin itu akhirnya disegel. Menurut Pak Ayi, salah satu tokoh pemuda Desa Langensari, Lembang, Bandung, Sekolah Tinggi Teologi Doulos (STTD) sudah berdiri sejak 1994. Mahasiswa mereka awalnya hanya 21 orang. Namun pada 1999, jumlahnya mencapai 283 orang. STTD ini didirikan tanpa izin. Sejak awal mereka menggunakan Hotel Sukamanah sebagai tempat gerakan.

Menurut Pak Ayi, setelah mengecek pada sembilan instansi terkait, di antaranya Dinas Kesehatan, Depdikbud, PU, Depag, dan lain-lain, STTD ini memang tidak punya izin. “Kegiatan mereka itu menyebarkan agama. Praktik-praktiknya memang tidak terlalu kelihatan. Misalnya dengan membagi-bagi sembako, brosur, majalah, atau langsung dialog dengan masyarakat, misalnya petani,” jelas Pak Ayi.
          Masih menurut Ayi, mereka juga memanfaatkan karakter masyarakat sunda yang kental dengan kebudayaan. Misalnya, komik-komik sangkuriang (legenda Tangkuban Perahu), tetapi ceritanya mengandung unsur kerohanian.

          Menurut Drs Toto, tokoh Pemuda Lembang, fase dakwah pasca pengusiran Doulos sangat berat. Seperti di sini, masyarakat yang selama ini diurus oleh Doulos harus kita santuni. Namun Toto menyayangkan masih minimnya perhatian saudara-saudara muslim terhadap masalah tersebut.

          Ada kisah menarik saat sejumlah mahasiswa Doulos buru-buru meninggalkan kost mereka. Penduduk menemukan beberapa dokumen Kristenisasi yang tertinggal. Diantaranya buku berjudul “Garuda dari Timur” yang berisi tahapan-tahapan Kristenisasi di Indonesia.

          Melihat maraknya fenomena Kristenisasi, Kiai Didin Hafidhuddin mengingatkan umat Islam harus menyadari betul peringatan Al-Qur‘an, bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah akan senang dengan kemajuan Islam. “Itu suatu warning,” ujar Pak Didin. Tentu kita meyakini, peringatan Al-Qur‘an jauh lebih meyakinkan daripada kita utak atik pernyataan yang mengatakan bahwa Kristen di Indonesia tidak mungkin akan melakukan proses upaya menjauhkan muslim dari agamanya.”

KHASANAH ORTODOKS SYRIA KOS: Serupa Tapi Tak Sama

Sebuah sekte dalam agama Kristen, praktik peribadatannya nyaris sama dengan Islam. Orang awam sulit membedakan. Kristenisasi gaya baru?

Saat Maghrib telah tiba. Belasan orang di Hotel Sahid Surabaya itu bergegas shalat. Semuanya berkopiah dan dipimpin seorang imam. Jangan keliru, mereka bukan kaum Muslimin yang sedang menunaikan kewajiban shalat Mahgrib. Mereka adalah jamaah Kanisah Ortodok Syiria (KOS), sebuah sekte dalam agama Kristen.

Bisa jadi, orang awam akan terkecoh. Sebab, sekte ini memang sangat mirip Islam. Bukan saja asalnya serumpun, Timur Tengah, tapi juga ritual dan tatacara peribadatannya nyaris sama.

Tengoklah saat mereka shalat. Selain berkopiah dan dipimpin seorang imam, bila berjamaah, juga memakai bahasa Arab. Rukun shalatnya pun nyaris sama. Ada ruku’ dan sujud.

Bedanya, bila kaum Muslimin diwajibkan shalat 5 kali sehari, penganut KOS lebih banyak lagi, 7 kali sehari &emdash;setiap 3 jam&emdash; masing-masing dua rakaat. Mereka menyebutnya: sa’atul awwal (fajar/shubuh), sa’atuts tsalis (dhuha), sa’atus sadis (dhuhur), sa’atut tis’ah (ashar), sa’atul ghurub (maghrib), sa’atun naum (Isya’), dan sa’atul layl (tengah malam).

Hal yang sama juga pada praktik puasa. Puasa wajib bagi pemeluk Islam dilakukan selama sebulan dalam setahun, dikenal dengan shaumu ramadhan. Sedang pada KOS disebut shaumil kabir (puasa 40 hari berturut-turut) yang dilakukan sekitar bulan April. Jika dalam Islam ada puasa sunah Senin-Kamis, pada KOS dilakukan pada Rabo-Jum’at, dalam rangka mengenang kesengsaraan Kristus.

Selain shalat dan puasa, jamaah KOS juga mengenal ajaran zakat. Zakat, dalam ajaran KOS, adalah sepersepuluh dari pendapatan bruto.

Tidak sebatas itu saja. Kalangan perempuan pemeluk KOS, juga mengenakan jilbab plus pakaian panjang ke bawah hingga di bawah mata-kaki. Pemeluk KOS mempertahankan Kitab Injil berbahasa asli Arab-Ibrani: Aram, sebagai kitab sucinya. Model pengajian yang dilakukan pemeluk KOS juga tidak berbeda jauh dengan ala pesantren di Indonesia. Mereka melakukan dengan cara lesehan di atas tikar atau karpet. Ini tidak pernah didapati pada ‘pengajian’ pemeluk Kristiani di Indonesia yang lazim duduk di atas kursi atau balkon.

Efram Bar Nabba Bambang Soorsena, SH (36), seorang Syekhul Injil (penginjil) KOS yang pertama kali memperkenalkan ajaran KOS di Indonesia, kepada Sahid mengatakan, di antara kedua agama (Islam dan KOS) memang mempunyai kesamaan sejarah, etnis serumpun, dan kultur (budaya). Adanya Pan-Arabisme di Timur Tengah, misalnya, ternyata bukan ansich milik kalangan Muslim. Pemeluk KOS pun, turut memiliki Pan-Arabisme itu. Salah satunya, kalangan KOS turut menyesalkan sikap Israel yang hingga sekarang ngotot menduduki jalur Ghaza milik penduduk Palestina.

Menurut Prof Dr Nurcholis Madjid, agama Nasrani itu makin klasik makin banyak kemiripannya dengan Islam. “Aliran KOS itu justru lebih murni ketimbang Kristen yang berkembang di Barat,” ujar Ketua Yayasan Paramadina asal Jombang yang akrab dipanggil Cak Nur itu.

Sementara Jalaluddin Rahmat, tidak merasa kaget terhadap adanya banyak kesamaan antara Islam dengan KOS. Pada zaman dulu, kata cendekiawan dari Bandung ini, orang-orang Islam di Yordania, Syria, dan Lebanon hidup berdampingan dengan orang-orang Kristen, yang dikenal dengan Kristen Monorit. Mereka melakukan tatacara peribadatan hampir mirip dengan cara beribadah umat Islam.

Dengan banyaknya kemiripan itu, tak heran bila KOS lebih bisa diterima di kalangan Muslim di Indonesia. Setidaknya, setiap bulan KOS diberikan kesempatan tampil dalam ‘Forum Dialog Teologis’ yang diselenggarakan Yayasan Paramadina, Jakarta. “Kami sangat berterima kasih dan menaruh hormat kepada orang-orang Islam yang bersedia menerima kehadiran KOS dengan lapang hati dan terbuka,” ujar Bambang.

Anehnya, di kalangan Kristen sendiri KOS malah kurang bisa diterima, bahkan dicurigai. Tengoklah pernyataan Direktur Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Protestan Departemen Agama RI, Jan Kawatu. Menurut Jan, aliran tersebut belum tercatat dalam komunitas Kristen di Indonesia.

Jan juga mengatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan surat edaran yang disampaikan kepada para notaris. Isinya, agar mereka tidak mengesahkan berdirinya sebuah yayasan atau lembaga Kristen sebelum mendapatkan izin resmi dari Direktur Bimas Kristen. “Izin itu diperlukan untuk mengetahui siapa mereka, apa tujuannya, dan macam apa alirannya,” kata Jan Kawatu seperti dikutip Gatra (14/3/98). Dan, masih menurut Jan, bahwa Bimas Kristen-Protestan sudah menutup pintu bagi aliran baru.

Tetapi, kalangan KOS sendiri agaknya tak mau ambil pusing dengan surat edaran Dirjen Bimas Kristen-Protestan itu. Mereka menilai, pelarangan itu lebih bersifat politis. “Karena di Indonesia telah ada terlebih dahulu Kristen Ortodoks Yunani. Hanya saja, selama bertahun-tahun tidak menunjukkan perkembangan berarti. Sedang KOS, kendati baru beberapa tahun, tapi cukup bisa diterima masyarakat dan terus berkembang,” papar Henney Sumali, SH (37), Ketua Yayasan KOS Surabaya.

Sementara Bambang menambahkan, saling curiga di antara sekte di Kristen itu merupakan penyakit lama. Kristen Timur &emdash;KOS termasuk di dalamnya&emdash; juga menaruh curiga kepada Kristen Barat (umumnya dianut Kristen di Indonesia). Menurut Bambang, Kristen Barat telah mengalami helenisasi (pembaratan), untuk kepentingan imperialisme. Terjadinya Perang Salib, misalnya, tetap dicurigai kalangan Kristen Timur hanya semata sebagai kedok Barat yang memakai agama untuk kepentingan imperialisme mereka.

Meskipun Dirjen Bimas Kristen telah menyebarkan surat larangan kepada para notaris, nyatanya KOS tetap bisa mengantongi akte pendirian. Yakni melalui notaris Gufron Hamal, SH, di Jakarta pada 17 September l997. Melalui yayasan inilah, Bambang yang kelahiran Ponorogo ini terus mensosialisasikan KOS ke khalayak ramai. Yang kerap mereka lakukan adalah lewat kajian-kajian, misalnya melalui ‘Pusat Studi Agama dan Kebudayaan’ (Pustaka) di Malang (1990-1992). Kini, kajian itu sudah merambah Jakarta dan Surabaya.

Tetapi soal pengikut, diakui Bambang, memang belum cukup banyak, baru sekitar 100 orang. Tapi kalau simpatisan, sudah mencapai ribuan. Untuk menjadi pengikut resmi KOS di Indonesia belum bisa dilakukan, karena KOS di Indonesia belum mempunyai imam dan gereja. Padahal untuk bisa menjadi pengikut resmi KOS harus melewati prosedur pembaptisan seorang Imam. Di Indonesia, kata Bambang, yang kini tinggal di Malang, baru bersifat ‘studi atau kajian KOS’. Sebab itu, untuk sementara ini bagi jamaah KOS yang ingin menjadi pengikut resmi KOS harus melalui prosedur pembaptisan Abuna Abraham Oo Men di Singapura.

Perbedaan prinsip

Yang disebut simpatisan tadi, sebagian besar berasal dari kalangan Islam. Ini diakui Joko, staf Yayasan Studia Syriaca Ortodoxia Jakarta yang rutin menggelar kajian KOS. “Setiap bulan pengajian KOS di Hotel Sahid Jakarta yang diikuti sekitar 400 orang, sekitar 60% pesertanya dari kalangan pemeluk Islam,” kata Joko.

Seorang kristolog muda bernama Mashud SM, menilai menyambut baik metode menyebaran sekte KOS. Mereka, kata penulis ‘Dialog Santri Pendeta’ ini, lebih berani tampil terbuka dalam wacana intelektual dengan kalangan Islam dan agama lain. Bukannya dengan cara licik seperti memberi supermie atau beras untuk menggaet pengikut baru.

Namun ia mengingatkan, selain banyak kemiripan, antara Islam dan KOS tetap ada perbedaan prinsipil. Kitab suci mereka tetap Injil, meski berbahasa Arab. Nada yang hampir sama diungkapkan oleh seorang mantan pendeta yang kini masuk Islam. “Mereka tetap Kristen, bukan Islam. Kalau kemudian banyak kemiripan dengan Islam, itu soal metodologi ‘dakwah’ yang disesuaikan dengan kultur masyarakat setempat. Karena di Syiria mayoritas Islam, agar bisa diterima, mereka pun menyesuaikan dengan kultur Islam,” katanya.

Yang tidak habis dimengerti Mashud adalah, kalau memang KOS murni membawa ajaran Nabi Isa as, mestinya mereka percaya kepada Nabi Muhammad saw sebagai penyempurna semua ajaran agama Samawi. “Karena dalam Injil mereka yang asli menyebutkan begitu,” katanya. Nyatanya, mereka memang tidak mengakui peran Nabi Muhammad itu. Kalau mengakui, tentu mereka sudah Islam.

KHASANAH ORTODOKS SYRIA Lahirnya Paham Ortodoks

Sejarah menyebutkan, paham ortodoks lahir dari perselisihan antara Gereja Alexandria, Gereja Roma, dan Kaisar Konstantin. Puncaknya, pada masa Kaisar Bizantium Marqilanus (450-458 M) seabad lebih sebelum Nabi Muhammad lahir di Mekkah (571). Kala itu, tepatnya pada tahun 451, diadakan Majma Khalkaduniyah (Konsili Kalkedonia) dalam hal ketuhanan. Buntut dari konsili ini menimbulkan perpecahan di antara gereja-gereja yang sulit disatukan kembali.

Nah, rupanya, sejak inilah umat Kristen terpecah menjadi dua. Di satu pihak berpusat di Roma dan Bizantium, dipimpin Bapa Laon (440-461). Kelompok ini mengakui, al-Masih mempunyai dua sifat: Tuhan dan manusia. Kelompok ini kemudian lebih dikenal dengan Kristen dan Katholik.

Di pihak lain, berpusat di Alexandria dan Antakia di bawah pimpinan Bapa Disqures (444-454 Masehi). Kelompok ini berpegang kuat pada sifat tunggal bagi al-Masih. Mereka tidak setuju dengan aliran Kristen yang mengakui sifat Tuhan sekaligus manusia. Kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan kelompok ortodoks. Nama ‘ortodoks’ dipakai karena berarti: menganut ajaran agama yang dianggap benar, yang asli. Karena itu, penganut ortodoks mencoba untuk hidup secara lurus, sesuai dengan tuntutan awal dari kelahiran agamanya.

Penganut ortodoks sendiri terdiri atas beberapa toifah (komunitas berdasarkan kesamaan kultur, tradisi, bahasa, dan bangsa). Karenanya ada toifah Koptik, Syrian, Armenian, dan Habasah. Sedang ‘aqidahnya’ sama.

Kanisah Ortodoks Syria (KOS) mengklaim punya bukti sejarah, bahwa Injil yang pertama berbahasa Arab Syria. Menurut mereka, bahwa al-Masih &emdash;kalangan penganut KOS pantang menyebut Nabi Isa as dengan Yesus seperti lazimnya digunakan penganut Kristen Katholik/Protestan, tetapi lebih suka menyebutnya dengan al-Masih atau Sayyidina Isa al-Masih&emdash; berbicara dengan menggunakan bahasa Syria. Injil diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada tahun 643. Hingga sekarang, Injil yang digunakan penganut paham Ortodoks Syria, Irak, Lebanon, dan Mesir, adalah berbahasa Arab. Memang, antara bahasa Syria dan bahasa Arab terdapat kemiripan dan persamaannya.

Di Indonesia, KOS mulai diperkenalkan secara resmi oleh Bambang Noorsena, SH. Berdasarkan akte notaris tertanggal 17 September 1997, Bambang mulai memperkenalkan KOS. Sebelumnya, selama 2 tahun (1995-1997), alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Cipta Wacana Malang ini, keliling ke Timur Tengah &emdash;di antaranya Suriah, Damaskus, Mesir, Yordan, Libanon, Palestina, dan Israel&emdash; untuk mempelajari pola-pola ajaran KOS. Karena di Indonesia belum mempunyai gereja, kerapkali pengajian-pengajian jamaah KOS ini dilakukan di hotel: di Jakarta, Surabaya, maupun Malang. Sebab itu pula keberadaan KOS di Indonesia masih berbentuk lembaga studi dengan nama ‘Studia Syriaca Ortodoxia’ berpusat di Malang, Jawa Timur.

Pemimpin tertinggi KOS adalah Patriakh, yang sekarang dipegang oleh Patriakh Mar Ignatius Zakka I Iwas di Suriah. Berdasarkan Konstitusi 1991, KOS terdiri atas 20 keuskupan yang tersebar di seluruh dunia. Di bawah uskup ada abuna (pemimpin). KOS di Indonesia belum sampai ke tingkat abuna, karena belum mempunyai gereja. Yang ada, kata Bambang, baru sebatas Syekhul Injil (penginjil). Itu sebabnya, untuk menjadi penganut KOS di Indonesia terlebih dulu dilakukan proses pembaptisan oleh Abuna Abraham Oo Men di Singapura.

KHASANAH ORTODOKS SYRIA KOS di Mata Pengikutnya

Henney Sumali, SH (37)

Alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya (1988) ini Ketua KOS Surabaya. pria dibesarkan dari lingkungan keluarga Kristen-Protestan ini mengaku,tertarik dengan KOS baru setahun lalu (1998). Berikut kisahnya:

Sejak kecil saya hidup dalam keluarga penganut Kristen-Protestan yang taat. Namun, saya masih ingin mengembarakan naluri beragama saya itu. Hanya satu yang saya tuju, mencari kepastian dalam menuju keselamatan hidup dunia-akhirat.Bertahun-tahun lamanya, tapi belum juga ditemukan kecocokan. Hingga kuliah, belum juga ketemu.

Pada suatu ketika dalam suatu pertemuan di Surabaya, tepatnya Mei 1998, saya bertemu dengan Mas Bambang Noorsena, SH. Dari perbincangan dengan Mas Bambang itu, kemudian berlanjut dengan saya datang ke rumahnya, di kawasan Jalan Supriadi di Malang. Dari situlah terjadi dialog teologi. Mas Bambang banyak cerita tentang Kanisah Ortodoks Syria (KOS) dan pengalaman spiritualnya sebelum (Bambang sebelumnya penganut Kristen-Protestan) dan sesudah mempelajari KOS di Timur Tengah.

Dari situ, saya menjadi tertarik. Karena menurut saya, sekalipun Kristen-Protestan yang selama ini saya peluk merupakan rumpun agama samawi, namun belum saya temukan kepastian iman. Tapi, di KOS saya seakan menjadi terbuka dan menemukan ikhwal kepastian dalam menuju kehidupan dunia akhirat. Saya juga menemukan hakikat iman yang selama ini saya cari. Bahwa Isa al-Masih &emdash;yang menurut pemeluk Kristen-Protestan disebut Yesus adalah anak Tuhan&emdash; dihadirkan ke dunia, menurut KOS dipahami sebagai Nuzul Tuhan (penyampai firman Tuhan). Tuhan itu Esa. Tidak sama atau tidak bisa disamakan dengan makhluk. Karena kalau Tuhan sama dengan makhluk. Berarti bisa fana (binasa). Saya memahami Isa al-Masih itu, tidak berbeda halnya dengan Nabi Muhammad dalam Islam. Muhammad dihadirkan ke dunia sebagai penyampai firman Tuhan.

Saya tidak beragama Islam. Tapi, saya menemukan “islam” dalam KOS. Bahwa, apa yang saya yakini dan lakukan sehari-hari sebetulnya sudah inheren dengan “islam” (KOS memakai nama islam dengan huruf “i” kecil, sebab kalau “I” besar itu identik dengan “Dienul Islam” yang dibawa Nabi Muhammad saw). Karena hakikat “islam,” dalam KOS, artinya: berserah diri pada Allah. Jadi, apa yang saya jalani ini tidak lepas dari tuntutan.

Joko, peserta pengajian KOS Jakarta

Lelaki yang dulunya hidup dalam keluarga beragama Islam ini sempat tiga kali pindah agama, terakhir tertarik dengan KOS. Berikut kisahnya:

Pada awalnya, saya seringkali mengikuti pengajian Mas Bambang Noorsena secara rutin sebulan sekali di Hotel Sahid, Jakarta. Saya bersama sekitar 400-an orang ikut pengajian Mas Bambang. Menurut perkiraan saya, jamaah pengajian itu sekitar 60% pesertanya dari kalangan Islam. Seperti biasa, setiapkali pengajian terlebih dulu diawali dengan shalat naum (mirip shalat maghrib, karena dilakukan selepas maghrib). Usai shalat, dilanjutkan dengan Tilawatil Injil dan disambung dengan ceramah yang disampaikan Mas Bambang. Sebelum berakhir, juga diselingi tanya-jawab.

Sebelum menjadi peserta kajian KOS ini, saya sudah tiga kali pindah agama. Sewaktu saya masih kecil, kedua orangtua saya beragama Islam. Tapi, ketika saya berusia 7 tahun, ibu saya pindah ke agama Katholik. Bapak masih bertahan dengan agama Islam. Jadi ketika itu, saya juga sering diajak ibu pergi ke gereja, juga sering diajak bapak ke musalla/langgar. Saya juga diajari shalat dan puasa oleh bapak. Kehidupan beragama di lingkungan keluarga memang tampak demokratis. Tapi, dari situ, saya kemudian agnostik,percaya pada Tuhan tapi untuk sementara waktu menunda kepercayaannya. Hal itu berjalan sampai saya kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Kehidupan agnostic ini berangsur berkurang setelah saya aktif mengikuti mengikuti dialog theologi yang diselenggarakan Yayasan Paramadina di Hotel Regent, Jakarta. Dari situ pula, saya kemudian berkenalan dengan pengajian KOS yang diasuh Mas Bambang. Hingga kemudian tertarik.

 
Tito, peserta pengajian KOS di Jakarta

Lelaki alumni Universitas Krisna Dwipayana Jakarta ini mengaku, lahir dari keluarga yang bermacam-macam agama. Tapi, pihak keluarganya, katanya, cukup memberikan toleransi pada keluarga lainnya yang berbeda agama. Berikut kisahnya:

Sebelum tertarik dengan KOS, saya pemeluk Kristen-Protestan yang taat. Karena lingkungan keluarga yang cukup memberi toleransi pada keluarga yang berbeda agama itu, saya juga berusaha belajar lain-lain agama. Nah, kemudian saya menjadi tertarik dengan KOS. Karena missi dan tujuannya, setelah saya pelajari ternyata baik sekali.

Bagi saya, KOS merupakan jembatan bagi pemeluk Islam dan Kristen di Indonesia yang selama ini acapkali tegang dan disalahpahami di antara keduanya. Berbagai kegiatan KOS yang saya ketahui, ia melakukan dialog terbuka, duduk sebangku dan semeja antara pemeluk Kristen dan Islam. Dari situ, saya menilai KOS cukup positif.

Hal lain yang membuat saya tertarik dengan KOS, menurut saya, KOS ini seperti tasawuf dalam Islam, kurang lebih begitu. Karena disini ‘kan ada mistik-mistiknya. Sedang di Protestan murni logika. KOS selain logis, juga membiarkan unsur-unsur tasawufnya hilang begitu saja. Dari situlah saya menjadi tertarik dengan KOS.

 

 

 

 

 

SUDAH TERJADI SEJAK JAMAN PENJAJAHAN BELANDA

Christiaan Snouck Hurgronje Alias Abdoel Gaffar

Ia orientalis kesohor. Keberhasilan Belanda mencengkeram Indonesia selama tiga setengah abad, tak lepas dari perannya. Benarkah ia Muslim?

Lahir di Oosterhout, Belanda (8/2/1857), Snouck Hurgronje (SH) tumbuh-berkembang di lingkungan religius. Sang ayah, JJ Snouck Hurgronje, adalah pendeta Kristen gereja Herformd Tholen, Zeeland. Ibunya, Anna Maria, putri pendeta Christiaan de Visser.

Hubungan JJ-Anna didahului skandal hubungan gelap. JJ masih terikat perkawinan istri pertama. Karena aib ini, JJ dipecat gereja (3/5/1849). Waktu itu, ayah Snouck telah punya enam anak. Perkawinan resmi baru dilakukan 31 Januari 1855.

Masa kecil hingga remaja SH dihabiskan di kota kelahirannya. Ia baru beranjak dari Oosterhout usia 18 th, ketika kuliah di Fakultas Teologi Universitas Kerajaan Leiden. Ternyata di situ tak betah. Keakraban dengan literatur agama menyebabkan ia tertarik mendalami Islam. SH segera pindah ke Fak Sastra Jurusan Sastra Arab, masih di Leiden, sampai meraih doktor Sastra Arab/Semit dengan disertasi berjudul Het Mekkaansche Feest (Perayaan di Mekah), 1880. Usia yang relatif muda (23) bagi seorang ilmuwan, sekaligus tanda bahwa otaknya cukup cemerlang.

Dunia Timur, terutama Islam, begitu memikat SH. Karena itulah, begitu lulus ia langsung mengajar di Leiden & Delf Akademie, sekolah pendidikan khusus calon pegawai di Hindia Belanda. Lima tahun kemudian menjadi dosen di almamaternya. Ternyata jiwa petualangan yang tertanam sejak remaja terus saja bicara. SH lebih memilih profesi ilmuwan-peneliti daripada sekadar pengajar. Surat cuti dosen segera ia layangkan, lantas pergi dari Leiden.

Pertama, ia mengembara ke Jedah (Oktober 1884). Di sini ia bertemu Aboebakar Djajadiningrat (yang membimbingnya berbahasa Melayu) dan Hasan Moestapha. Keduanya orang Priangan. Begitu akrabnya sehingga SH tinggal serumah dengan Aboebakar (4/1/1885).

Merasa belum mendapat data cukup tentang Islam (di Hindia Belanda), lima bulan kemudian ‘hijrah’ ke Mekah. Di sini ia diterima Wali hejaz, ulama tertinggi di Mekah, serta tinggal bersebelahan dengan pemukiman orang Aceh. Setengah tahun SH mengaduk-aduk koleksi buku berbagai perpustakaan. Dialog dengan ulama Mekah pun intensif dilakukan. Ia memang memilih waktu di luar musim haji, agar leluasa menggelindingkan roda penelitiannya. Namanya pun diubah, Abdoel Gaffar.

Di mata Gaffar, Mekah adalah pemompa darah segar Islam di Hindia. Dia pun tercengang melihat orang Arab sering memperbincangkan Perang Aceh. “Solidaritas Islam begitu kuat,” pikirnya. Orang Aceh cukup banyak dan begitu fanatik dalam melawan ‘kafir’ Belanda.Ia ingin sekali menyumbangkan usulan ilmiah kepada pemerintah guna menundukkan Islam dan Aceh.

Setelah kembali ke Leiden selama 2 th, SH menawarkan diri untuk ditugaskan ke Aceh. Dia pun masih terus berkorespondensi dengan ulama-ulama Serambi Mekah. Jabatan lektornya dilepas (pertengahan Oktober 1887). Proposal penelitian kepada Gubernur Jenderal (Gubjen) segera diajukan (9/2/1888). Niatnya didukung penuh oleh Direktur Pendidikan Agama dan Perindustrian (PAP), juga Menteri Urusan Negeri Jajahan. Proposal pun berjalan tanpa penghalang.

SH segera berangkat. Tempat yang dituju adalah Tanah Rencong Aceh. Sayang, begitu sampai di pelabuhan Penang (Malaya), Gubernur Van Tijn melarangnya masuk Aceh (1/4/1889). Alasannya, SH bergaul dengan kaum pelarian dan berusaha masuk ke Aceh secara gelap. Akhirnya SH meluncur ke Batavia (Jakarta) dan tiba tgl 11 Mei 1889.

Di Batavia SH bekerja sebagai pegawai pemerintah. SH langsung akrab dengan pribumi Batavia, termasuk ulama. Ini membuat Direktur PAP terkesan dan mendesak Gubjen C Pijnacker Hordijk agar mengabulkan permohonan penelitian itu. Keluarlah beslit yang mengizinkan SH melakukan penelitian selama 2 tahun (16/5/1889), disusul beslit Raja Belanda (22/7/1889). Bahkan ia diangkat menjadi Penasihat urusan Bahasa-Bahasa Timur dan Hukum Islam (15/3/1891).

Sejak menjadi penasihat itu, naluri politik SH mulai mempengaruhi posisinya sebagai ilmuwan. Meja kerja penasihat terus menggiring pemikirannya untuk selalu menyertakan tendensi politis di setiap analisisnya. Sifat seorang ilmuwan yang mengedepankan objektivitas dalam diri SH mulai luntur. Menurut Schroder,ilmuwan Belanda pula, tangan kotor SH telah jauh terlibat dalam fungsi politik kolonial.

Tgl 9 Juli 1891 SH ke Aceh lagi, bahkan menetap di Kutaraja Aceh. Ia menjadi orang kepercayaan van Heutz, Jenderal Aceh yang kemudian menjabat Gubjen Hindia Belanda (1904-1909). Pengamatannya menghasilkan tulisan Verslag Atjeh, berisi laporan kepada Belanda tentang alasan mengapa Aceh harus diperangi.

Setahun kemudian kembali ke Batavia. Pekerjaannya bertambah menjadi Penasihat urusan Pribumi dan Arab. Lembaga yang didirikan 1899 ini bisa dipandang sebagai cikal bakal Departemen Agama.

SH juga mendirikan The Batavian Grammar School. Muridnya kaum ningrat dan pegawai sipil tinggi. Doktor pertama Indonesia berpredikat cumlaude di Leiden, Hoesein Djajadiningrat, adalah salah satu buah polesan tangannya. Gerakan Jong Islameten Bond dan HMI juga diyakini berawal dari ide Islam akademisnya SH.

Pengembaraannya berakhir 1906. Setelah dikukuhkan sebagai guru besar Univ Leiden (1907), ia menekuni profesi sebagai penasihat Menteri Urusan Koloni. Pekerjaan ini diemban hingga akhir hayatnya, 16 Juli 1936. Hindia Belanda terpaksa ditinggalkan, karena, “Tugas di Hindia terasa semakin pahit, akibat kurangnya penghargaan dan kerjasama atasan. Mungkin juga karena saya sudah demikian lama tugas di sana, hingga membuat saya cepat tersinggung. Tapi bagi saya semua itu terasa keterlaluan.”(Surat Snouck kepada Kol Van de Maaten, 11/10/1907).

Benarkah Dia Muslim?

Penyamaran Abdoel Gaffar begitu sempurna. Bukti dari catatan hariannya menuturkan, 16 Januari 1885 ia menerima kadi (hakim) Jeddah, Ismail Agha, beserta dua orang wakil wali Jeddah. Tgl 18, Ismail datang lagi membawa undangan Gubernur Hejaz. Tgl 31 Agustus 1885 ia juga terima surat A Aziz, orang Aljazair yang dibuang Perancis ke Mekah. Isinya, mengakui keislaman Abdoel Gaffar.

Masyarakat dan ulama Aceh juga menyambut hangat kedatangan SH, seorang Muslim berilmu tinggi dan mahir berbahasa Arab. Habib Abdoerahman Az-Zair, ulama Mekah yang pernah ke Aceh, termasuk salah seorang yang akrab dengan SH. Di Batavia, tokoh-tokoh Islam pun terkecoh. Raden Aboebakar Djajaningrat (Bupati Serang), Hasan Moestafa, dan Sajid Oetsman bin Jahja (teolog kenamaan di Batavia) bahkan aktif membantu SH. Hal yang wajar, mengingat SH seorang ‘Muslim’ yang mempunyai kedudukan. Diharapkan, posisi itu bisa bermanfaat bagi Islam.

Yang lebih istimewa, SH bisa menikah menurut syariah Islam dengan seorang putri penghulu Ciamis (Januari 1890). Dari perkawinan itu lahir empat anak: Salmah, Emah, Oemar, Aminah, dan Ibrahim. Sekitar 1899 menikah lagi dengan Siti Saadiyah (wafat 1974), putri Kalipah Apo, kepala penghulu di Bandung. Seorang penghulu tentu tak akan menyerahkan putrinya kepada seseorang yang Islamnya tak jelas. R Joesoef (putra tunggal SH-Siti), kepada Von Koenigsveld menuturkan bahwa sampai liang kubur, ibu dan kakeknya begitu yakin SH seorang Muslim taat. Bagaimana tidak yakin, SH telah disunat, rajin shalat, puasa, apalagi pernah tinggal di Mekah dan mahir berbahasa Arab.

Tak heran, Isa Anshary dan BJ Boland menjulukinya ‘mufti imperialis Belanda’. Von Koenigsveld -ilmuwan Belanda yang getol meneliti aktivitas SH- bahkan menemukan beberapa surat dari orang Batavia dan Jawa di perpustakaan Leiden yang memanggil SH dengan sebutan ‘mufti Batavia’, ‘mufti Hindia Belanda’, bahkan ‘Syaikhul Islam Jawa’.

Benarkah ia Muslim? Koenigsveld yang juga adik kelas Snouck sewaktu di Leiden ini, ragu. “Ia hanya pura-pura masuk Islam,” katanya. Kepada teman-teman Belanda, SH tak pernah menyatakan keislamannya. Kepada Theodore Noeldeke, guru SH dan seorang orientalis Jerman yang juga dosen Univ Strassbourgh, ia berterus terang, “Saya hanya melakukan izharul Islam (Islam lahiriah, batinnya tidak percaya), dengan begitu saya bisa diterima kalangan primitif seperti di Indonesia.” Dalam surat kepada Herman Barvinck, teolog Protestan Leiden, ia bahkan menyatakan diri sebagai seorang agnostik (selalu meragukan adanya Tuhan).

Ketika ia pulang ke Belanda (1906), empat tahun kemudian SH menikahi Maria Otter, gadis Belanda beragama Katholik Roma. Perkawinannya dikaruniai anak (1912), diberi nama Christien. Puteri tunggal SH-Otter ini tak pernah dididik secara Islam. Ia tumbuh dan berkembang sebagai gadis Katholik Roma, sampai kelak menikah dengan mantan karyawan De Javaansche Bank, juga secara Katholik. Akhirnya, ketika Snouck wafat dan dimakamkan satu lahat dengan ibunya di Leiden, pun tidak diprosesikan secara Islam.

Orang-orang yang mengakui keislaman Gaffar tampaknya disilaukan kepiawaiannya dalam ilmu Islam. Seperti tertulis di harian Bintang Islam (10/4/1926), taktik SH memang sulit dipahami. Bila dikaji secara mendalam, agama dan politiknya jauh dari Islam. Harian Medan Muslimin (1926) menulis, penyamaran SH memang sempurna hingga mampu memperistri anak penghulu.

Meski demikian, banyak pula pihak yang mempertanyakan kedalaman ilmu Islamnya. Von Koenigsveld menemukan bukti bahwa karya SH Mecca, in the Letter Part of the 19th Century bagian kedua, merupakan jiplakan metah-mentah laporan Aboebakar Djajadiningrat. SH juga mengaku menulis 1500 pepatah Arab. Padahal, itu merupakan salinan pepatah Mesir karya Abdurrahman Effendi.

SH alias Abdoel Gaffar tetaplah seorang orientalis, yang menganggap Alquran bukan wahyu Allah, tetapi karya tulis Muhammad. Keculasan itulah yang menyebabkan segala pendapat dan nasihatnya tentang Islam selalu berbau politis, semata-mata untuk melanggenggkan status quo. Penyamarannya sebagai Muslim sama busuknya dengan garis politik pemerintah kolonial yang penuh tipu muslihat dan adu domba.


Kiatnya Menjinakkan Islam


Snouck Hurgronje (SH) adalah peletak dasar politik Islam pemerintah Hindia Belanda. Nasihat-nasihatnya dimaksudkan untuk menghantam Islam secara halus. Gerakan kristenisasi tak disetujuinya, dinilai terlalu radikal. SH lebih suka menyalurkan semangat kaum Muslimin ke arah yang menjauhi Islam melalui asosiasi kebudayaan.

Keberadaan SH memang vital bagi Belanda. Karena, menurut HJ Benda, konsolidasi Belanda saat itu terus mendapat perlawanan Islam. Penguasa yang masuk Islam, ulama di desa, guru-guru di Aceh, semua mengibarkan ‘perang suci’ terhadap ‘kafir’ Belanda. Kadar keilmuan SH tentang sifat Islam-Indonesia, sangat besar artinya dalam menjalanan politik Islam Belanda.

Kebijakan yang bermula dari nasihat SH antara lain memaksa pribumi berasimilasi dengan kebudayaan Belanda. Ini merupakan upaya merebut kemenangan dalam persaingan dengan Islam. Di majalah Indische Gids, SH tegas mengatakan, “Islam berbahaya bagi Belanda, baik sebagai agama maupun kekuatan politik”.

Islam harus diupayakan hanya menjadi ‘agama masjid’, ibadah kepada Tuhan semata. “Islam yang dihilangkan muatan politisnya akan menjadi jinak”, demikian keyakinannya. Pemerintah bisa memberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sepanjang tidak membahayakan pemerintah. Domestifikasi terhadap Islam dan Muslimin dipandang akan lebih berhasil lewat pendekatan kultural.

Fanatisme Islam juga harus dipadamkan. Pidato guru besarnya di Leiden (23/1/1907) mengatakan, “Bukan orang Arab yang memasukkan Islam di Indonesia, tapi orang India. Pandangan hidup dan ajaran yang diajarkan wali (di Jawa) sifatnya non-Arab.” Menurut LWC van Den Berg, itu dilakukan untuk menipiskan keyakinan pribumi tentang agamanya sehingga fanatisme perlawanan meredup.

Gerakan yang disebut ’emansipasi’ ini berupaya memutus hubungan pribumi dengan keturunan Arab (yang identik dengan Islam). Orang Arab memang turut berperan dalam perlawanan kepada Belanda, seperti saat Demak melawan Portugis. Itu menimbulkan Arab-fobi dan Islam-fobi pada diri Belanda. Emansipasi diharapkan mampu mengasingkan orang Indonesia dari Islam. Dalam advis kepada Gubjen Batavia (28/6/1904), SH memandang bahwa imigrasi orang Arab perlu dilarang dengan pertimbangan politis, bukan ekonomi.

Pemerintah juga harus mengawasi kas masjid agar tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang membahayakan kekuasaan. Pengangkatan penghulu harus lewat penyaringan cermat dan ketat, jangan sampai dipercayakan kepada orang yang ‘membahayakan’ Belanda.

Ide lainnya, gerakan Pan-Islam harus dibendung. Dalam sebuah advis rahasianya, SH mengusulkan agar pemerintah menghalangi, bahkan menghentikan ibadah haji. Lahirlah beberapa peraturan birokratis, ada ujian rukun haji, haji penningen (pemeriksaan uang haji), keharusan membeli tiket pulang-pergi, dan instruksi kepada konsul Belanda di Jedah agar menghambat pelaksanaan haji.

Predikat haji memang menyeramkan Belanda. Perlawanan Aceh selama ini banyak dipimpin oleh seorang haji. Kunjungan ke Mekah ternyata membuat fanatisme orang Islam meningkat pesat. Problem serius bagi Belanda.

Imigran keturunan Arab ke Indonesia juga dipersulit, dari keberangkatan, di perjalanan, turun kapal, sampai keinginan menetap. Di mata SH, cara itu bisa menghambat laju Pan-Islam. Beberapa media sempat memprotes kebijakan ini, seperti koran Maklumat (30/8/1889) dan Moe’ajjad (5/4/1899) dari Turki, dan majalah Tha-maratal-fumun Singapura (21 Rajab 1315).

Ternyata banjir haji tetap tak bisa dihentikan. SH lantas mengalihkan politik anti-Islam dan anti-Pan-Islamnya kepada upaya mencegah ‘akibat-akibat’ haji. Misalnya, orang tak boleh berpakaian haji sebelum mempunyai sertifikat haji. Pakaian haji, surban, dan sejenisnya memang dipandang akan membangkitkan ghirah keislaman. Jelas, ini sangat membahayakan kekuasaan. (pam) 

Pemurtadan Baru Berkedok Islam!

Hampir setiap Sabtu antara Mei hingga Juni 1999, ratusan pelajar dan mahasiswa Muslim di Padang, Sumatra Barat, turun ke jalan. Mereka berdemo dengan tuntutan utama: hentikan gerakan permurtadan dan tertibkan misi Kristenisasi ‘liar’ di Sumbar.

Kantor Pengadilan Negeri Padang pun menjadi target utama lokasi unjuk rasa karena di sinilah kasus pemurtadan dan perkosaan digelar. Salmon dan istrinya Lisa Zuriana, keduanya jemaat sebuah gereja, duduk sebagai tersangka dengan tuduhan terlibat dalam kasus pengkristenan dan perkosaan terhadap Wawah (17), panggilan akrab Khairiah Enniswati, pelajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2, Gunung Pangilun, Padang.

Menurut sumber Republika, Wawah adalah satu dari 500 orang Minang yang mengalami konversi agama, dari Islam ke Kristen. Gadis manis yang berjilbab ini diculik, diperkosa, dan dipaksa keluar dari agamanya lewat misi rahasia yang dijalankan sekelompok orang dari kalangan Kristen.

Peristiwanya berawal dari Maret 1998. Suatu hari [Maret 1998], Wawah berkenalan dengan Lia, seorang gadis berjilbab. Orangnya manis, semanis Wawah. Ramahnya bukan main. Hari-hari berikutnya mereka sering terus bertemu. Keakraban terjalin sudah, maklum sama-sama gadis berjilbab.

Ternyata Lia penganut Kristen Protestan. Kepada Wawah, ia bercerita betapa indahnya berkelana dalam dunia Protestan. Tak hanya itu, ia juga berkisah tentang dunia seks yang bagi Wawah teramat tabu.

Pada kesempatan lain, Lia mengajak Wawah berkeliling kota dan singgah di Gereja Protestan di Jl Bagindo Aziz Chan, Padang. Di sini, keduanya berbaur dengan puluhan jemaah pimpinan Pendeta Willy.

Singkat cerita, Wawah dipaksa membuka jilbab, menuju altar dan dipaksa masuk Kristen, kendati gadis ini menangis dan meronta. Selanjutnya Wawah diserahkan kepada Salmon, seorang jemaat gereja yang bekerja di PDAM Padang. Di rumah keluarga Salmon itulah, Wawah juga diperkosa saat Lisa Zuriana, istri Salmon keluar rumah. Lisa sendiri adalah warga Tangah Sawah, Bukittinggi, asli Minangkabau yang kini memeluk Kristen setelah kawin dengan Salmon. Ia juga bendahara Persatuan Kristen Protestan Sumatera Barat (PKPSB).

Dr Daud Rasyid, dosen IAIN Syarief Hidayatullah, mengaku sangat prihatin dengan peristiwa itu. ”Itu cara-cara biadab yang kelewat batas dan bisa memancing kemarahan umat.” Bayangkan, di Padang saja berani, apalagi daerah lain, tambahnya.

Sementara itu Franz Magnis-Suseno SJ, gurubesar STF Driyarkara, berharap kejadian di Padang itu merupakan satu-satunya kejadian. ”Itu sangat jelek dan tidak mungkin gereja melakukannya.” Seradikal apapun, kata tokoh Katolik ini, tidak mungkin gereja melakukan hal seperti itu.

Menag Malik Fajar mengaku Depag belum mengetahui secara pasti tentang terjadinya Kristenisasi di Sumbar. Menurutnya, kasus ini perlu dilihat dan ditelaah secara cermat oleh semua pihak. ”Depag sedang menunggu hasil kajian Balitbang.”

Masalah Kristenisasi sempat juga disinggung dalam Rakernas MUI, 23-26 Juli. Dalam pernyataan sikapnya, MUI menegaskan akan mendesak pemerintah dan DPR untuk segera membentuk UU tentang Pelaksanaan Kerukunan Hidup Umat Beragama. ”Kehadiran UU ini telah lama dinanti umat Islam,” kata Ketua Umum MUI Prof Ali Yafie.

Tapi, menurut laporan majalah Sabili, kasus serupa juga terjadi di Jakarta. Kali ini menimpa keluarga Ridwan, pria asal Ujungpandang yang belum satu tahun menikahi Darma. Di luar pengawasan suami, Darma terbujuk misi pengkristenan lewat jalur pengobatan.

Kasus wawah dan istri Ridwan itu memperpanjang daftar aksi Kristenisasi di Indonesia. ”Gerakan itu malah kian berani,” kata Insan Mokoginta, mantan pendeta yang kini aktif menangkal gerakan Kristenisasi berkedok Islam, seperti dikutip Sabili. Salah satunya dibidani Yayasan Doulos yang punya misi mengkristenkan orang Sunda [Jawa Barat]. Mereka punya target pada tahun 2000 membuat 2000 posko penginjilan di Jawa Barat. Itulah sebabnya proyek itu disebut Yeriko 2000.

Pemurtadan berkedok Islam juga dilaporkan seorang aktivis dari Bandung. ”Kami bekerja pada suatu instansi pemerintah di Bandung. Pada hari Senin tanggal 26 Juli 1999, salah seorang rekan kerja kami – yang kebetulan seorang mualaf – mendapat surat via pos yang berisi selembar surat tulisan tangan dan selember buletin. Surat tersebut tidak secara jelas menyebutkan identitas pengirimnya.”

Melalui surat dan buletin, misionaris meminta orang Islam bertobat dan mengajak kembali untuk percaya pada Tuhan Yesus. Buletin itu berjudul Rahasia Jalan ke Surga yang diterbitkan oleh ”Dakwah Ukhuwah” PO Box 1272/JAT Jakarta 13012.

 Sepintas buletin tersebut mirip buletin yang diterbitkan oleh kalangan Islam, apalagi di dalamnya dijumpai kutipan-kutipan ayat Alquran serta diawali dan diakhiri dengan tulisan assalaamua’laikum wr. wb. Akan tetapi, setelah dikaji dan dipelajari, ternyata ayat-ayat Alquran tersebut telah disalahartikan dan digunakan untuk kepentingan penyebaran agama mereka. Hampir semua ayat yang dikutip adalah ayat yang berkaitan dengan Nabi Isa As.

Kristenisasi memang bukan fenomena baru. Ia punya akar yang panjang dan terkait dengan kolonialisme, kata Dr Bahtiar Effendy dalam dialog Membedah Politik Kristenisasi dan Islamisasi di Indonesia yang diselenggarakan Madia (Masyarakat Dialog Antar Agama) di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu [24/7]. Keterkaitan antara kolonialisme dan penyebaran Injil ini melahirkan pemberontakan Islam di berbagai daerah seperti Jawa, Aceh, dan Sumatera Barat. Umat Islam memberontak sebagai sikap protes terhadap perlakuan diskriminatif politik keagamaan dan kolonialisme Belanda.

Bahtiar menyebutkan, umat Kristen di Indonesia meski minoritas tapi ‘mayoritas’ dalam kekuasaan politik (negara) di Indonesia. Sebaliknya, umat Islam selalu dicurigai oleh kekuasaan (pemerintah) sejak Orde Lama hingga Orde Baru.

Jan Aritonang, dalam diskusi itu mengakui, hubungan antara Kristen dan Islam pada masa kolonialisme harus diakui bahwa Kristen Barat mewarisi dan membawa pemahaman dan sikap yang negatif, untuk pada gilirannya menularkannya pada masyarakat Kristen pribumi yang mereka Injili dan Kristenkan.

”Semangat triumfalistik dalam rangka penginjilan ini membuat hubungan di antara kedua belah pihak diwarnai ketegangan dan kecurigaan,” katanya.Menurutnya, karena hubungan yang seperti itu sudah berlangsung berabad-abad, tidak mengherankan jika hingga kini beban sejarah itu belum dapat ditanggalkan.

H. Sudarto dalam buku Konflik Islam-Kresten [diterbitkan PT Pustaka Rizki Putra Semarang, April 1999] memaparkan bahwa gerakan Kristenisasi pun terus berlangsung setelah Indonesia merdeka hingga sekarang.

Puncaknya mulai awal Orde Baru. Cara-cara misionaris menyebarkan Kristen sering tak etis dan tak fair dengan mengintervensi keimanan. Mereka datang ke rumah-rumah orang Muslim dan membangun gereja di kawasan Muslim. Sampai-sampai tokoh Islam semacam Prof HM Rasjidi pun pernah terang-terangan dibujuk oleh dua misionaris. Padahal waktu itu dia juga Menteri Agama RI.

Dalam satu Musyawarah Antaragama 1967, gurubesar Hukum Islam UI itu berkata: ”Saya yakin bahwa tak ada seorang propagandist Islam [mubaligh] pernah mendatangi Pak J. Kasimo [mantan Ketua Partai KatolikIndonesia] dan Pak Tambunan [tokoh Kristen dan mantan Menteri Sosial] dan mengajak mereka untuk pindah agama, sebagaimana saudara-saudara yang beragama Kristen telah mencoba melakukan hal itu terhadap diri saya.”

Lewat makanan, bantuan pendidikan dan kesehatan, pacaran dan perkawinan, serta bujuk rayu lewat informasi yang diputarbalikkan memang banyak kalangan awam dan ekonomi lemah ‘terpaksa’ pindah agama. Dengan gerakan misionaris yang agresif tak aneh jika statistik umat Kristiani bergerak cepat. Dari hanya 2,8% pada 1931 menjadi 7,4% pada 1971 dan hampir 10% pada 1990. Dampak lainnya, seperti kita saksikan, adalah munculnya konflik dan kerusuhan seperti terjadi di Dili, Timtim [1994], Maumere, NTT [1995], Surabaya dan Situbondo, Jatim [1996], Tasikmalaya [1997], Ketapang dan Kupang, serta Ambon dan Sambas [1999].

Untuk meredam konflik laten, Islam-Kristen, Dr Alwi Shihab mengajak semua pihak ke inti dari ajaran agama, yakni: mu’amalah atau interaksi sosial. ”Iman itu kan berasal dari kata aman yang berarti damai. Jadi agama itu menciptakan rasa aman,” ujarnya.

 

Dr Daud Rasyid MA: ‘Kristenisasi: Warisan dari Perang Salib!’

Sejak kapan Kristenisasi berkembang di Indonesia?

Kristenisasi itu sudah ada sejak masa penjajahan. Ketika Belanda dan Portugis masuk ke Indonesia, mereka tidak saja sekedar mengambil hasil bumi, tapi lebih dari itu ada misi keagamaan. Para pakar menilai bahwa dagang hanya sekedar cover selanjutnya menjajah ke negara-negara Islam. Tapi sebenarnya hal ini masih rentetan dari sejarah perang Salib. Dimana kaum Salib masih merasakan kekalahannya ketika perang Salib. Sehingga untuk membalas kekalahan itu mereka membuat semacam rencana yang lebih luas yaitu menguasai daerah-daerah Islam, termasuk diantaranya Asian Timur dan Asia Tenggara. Ibaratnya sudah ada pemberian kavling-kavling, Belanda di daerah mana, Portugis di mana, Inggris dimana, demikian juga dengan Perancis di daerah mana. Melalui penjajahan itu mereka menyebarkan idiologinya, Belanda menyebarkan agama Protestan, sedangkan Portugis dengan Katoliknya.

Apa saja pola penyebaran Kristenisasi yang sering dilakukan?

Polanya berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan kultur masyarakat. Pola yang umum adalah rayuan. Mereka berpikir ajakan paksa dan terang-terangan pasti akan dihadapi pula dengan cara yang sama.

Tetapi melalui rayuan atau tipuan halus, banyak yang tidak menyadari. Rayuan dilakukan melalui jalur bantuan sosial dan kepedulian terhadap masyarakat lemah. bentuknya bisa pembangunan panti asuhan untuk menampung anak-anak yatim piatu Muslim. Mereka dibiayai, diberi makan, disekolahkan, selanjutnya menanamkan idiologi kepada mereka. Ada juga yang memberi bantuan sembako. Atau pinjaman secara bertahap harus dibayar di suatu gereja. Cara-cara seperti ini sudah diketahui banyak pihak.

Apakah ada pola baru dari penyebaran Kristenisasi?

Saya pikir pola baru yang kita ketahui dari berbagai media massa yaitu berkaitan dengan moral. Maaf, yaitu dengan cara hamilisasi wanita Muslim oleh pemuda nonmuslim. Mereka pacaran hingga terjadi hubungan tak halal. Setelah itu masing-masing bersikeras, kalau mau nikah maka perempuan harus menurut kepada laki-laki. Ini tak terjadi hanya sekali dua kali, tapi sudah banyak sekali kejadian di beberapa tempat. Pola lainnya, mungkin untuk tahap awal pihak laki yang nonmuslim pura-pura masuk Islam, tapi setelah mempunyai anak dia mulai merayu dengan berbagai alasan meyakinkan si istri untuk pindah ke agamanya. Kalau tidak mau diancam akan diceraikan. Biasanya wanita tidak kuat menghadapi hal seperti itu.

Bagaimana dengan penyebaran melalui buku-buku?

Penyebaran melalui buku-buku juga termasuk pola baru. Seperti yang menyatakan dirinya Nehemia menyebarkan brosur-brosur yang menggunakan terminologi dan istilah Islam. Dia menyebutkan siratal mustakim, padahal isinya tidak lain menyatakan bahwa marilah menganut ajaran mereka. Kemudian dengan cara mengaburkan bahwa Nabi Isa itu ada dalam Alquran. Oleh karenanya orang Muslim juga percaya kepada Nabi Isa. Dan ujung-ujungnya, tidak ada masalah kalau orang Islam pindah ke agama mereka.

Kalau sarana Kristenisasi adalah materi, sebenarnya dana mereka dari mana?

Saya pernah membaca sebuah buku yang diterbitkan oleh salah satu negara Arab bahwa program Kristenisasi sudah dirancang dalam sebuah Konferensi Internasional di Colorado, Amerika Serikat. Jadi Kristenisasi ini merupakan sebuah program mendunia. Buku yang saya baca itu karangan Prof Dr Muhamad Jumaro, pemikir kondang dari Mesir yang isinya menjabarkan secara panjang lebar bagaimana Konferensi Colorado yang diikuti lembaga misionaris di seluruh penjuru dunia. Intinya, bagaimana mengkristenkan umat Islam di berbagai wilayah di dunia ini. Sudah barang tentu termasuk masalah pendanaan.

Apakah program itu punya target tertentu, misalnya, setiap tahun harus sekian orang Muslim yang masuk Kristen?

Dalam buku itu memang dibicarakan secara mendetail, termasuk bukti-buktinya. Sampai kepada gaya dan cara-cara mereka menyampaikan ajarannya ditunjukkan di sana. Makanya, kita tidak heran kalau banyak orang bule yang pandai berbicara Jawa halus. Mereka mempelajari budaya-budaya Indonesia. Umpamanya, seorang Jerman akan terjun di pedalaman Sumatra, dia betul-betul belajar bagaimana budaya setempat.

Jadi mereka memanfaatkan penelitian itu untuk kepentingannya. Sebelum masuk ke daerah itu, mereka tahu persis segala persoalan yang menyangkut daerah itu, baik bahasa, budaya, tradisi, maupun mata pencahariannya. Sehingga mereka paham betul apa yang dibutuhkan penduduk setempat.

Peraturan berdakwah yang dikeluarkan pemerintah tampaknya kurang tegas. Bagaimana menurut Anda?

Dalam sebuah diskusi saya pernah menuntut agar Pemerintah Reformasi membuat UU pengaturan penyebaran beragama. UU itu harus tegas dan kalau sudah lahir harus betul-betul diterapkan. Setiap agama hanya boleh menyampaikan ajaran agama kepada para pengikutnya. Pemerintah, berikut perangkat kekuasaannya, hendaknya betul-betul menjamin pelaksanaan peraturan itu. Praktek-praktek mendakwahi orang beragama masih terjadi di mana-mana.

Orang Kristen seringkali membela diri bahwa selain Kristenisasi ada juga Islamisasi. Menurut Anda apa bedanya?

Dalam kenyataan tidak pernah ada orang Islam yang merayu penganut agama lain untuk masuk Islam. Kalau ada, saya minta buktinya. Orang Islam yang menjalankan ajaran agama untuk keperluan ibadahnya, jadi tidak ada nilai merayunya. Sebaliknya, kalau mereka terhadap kaum Muslimin merayu dengan memberikan bantuan, anak-anaknya diberi beasiswa. Orang-orang Islam tidak pernah melakukan program seperti itu.

Upaya apa yang harus dilakukan umat Islam untuk membendung program Kristenisasi?

Saya kira ormas-ormas Islam harus kembali bekerja keras. Sudah puluhan tahun ormas Islam berusaha membendung, antara lain DDII yang sudah cukup lama mempunyai sejarah untuk membendung program seperti ini. DDII telah mengirimkan kandidatnya sampai ke daerah trasmigrasi dan pedalaman.

Tetapi, jumlah umat Islam sekarang ini begitu banyak sehingga tidak mungkin hanya dilakukan hanya satu ormas Islam saja. Oleh karenanya, kita menghimbau ormas Islam lainnya yang tersebar di berbagai wilayah kembali memikirkan persoalan ini. Apalagi kader mereka (Kristen. Red) semakin lama semakin banyak.

Bagaimana dengan upaya pembenahan dan pemberdayaan umat? Apakah bisa menangkal gerak Kristenisasi?

Iya betul. Saya kira sekedar memberikan pengalaman agama barangkali tidak cukup. Walaupun sangat dibutuhkan. Cara lain harus dilengkapi dengan pemberdayaam ekonomi, karena persoalan mereka adalah perut. Bila ormas-ormas Islam ini mempunyai kemampuan untuk memberdayaan perekonomian umat Islam, maka program Kristenisasi ini akan lumpuh dengan sendirinya. Tapi problem kita di situ, ormas Islam tidak sanggup mencarikan way out.Dan yang sanggup melaksanakan ini semua adalah pemerintah.Maka di sini dituntut peran dari Pemerintah. Kalau pemerintah mempemberdayaan perekonomian rakyat, Insya Allah dengan sendirinya orang-orang lemah (miskin) akan terpelihara.

Agar program Kristenisasi tidak semakin meluas, apakah kita perlu mengajak bicara para pimpinan Nasrani?

Selama ini sudah ada pertemuan antar tokoh agama. Tapi tidak efektif. Yang di atas tetap bertemu, sedangkan yang di bawah jalan terus. Yang perlu dipikirkan sekarang ini bagaimana bisa mengefektifkan pertemuan itu supaya berpengaruh terhadap orang-orang yang berada di lapangan. Pertemuan berskala nasional beberapa kali digelar, nyatanya di lapangan tidak besar pengaruhnya. Namun demikian, pintu pertemuan tetap perlu. Tapi, tidak sekadar masing-masing agama mengungkapkan filosofi kerukunan beragama. Ini bukan zamannya lagi. Pembicaraan harus ke inti persoalan bahwa kita menginginkan ketenangan dan ketenteraman melaksanakan agama. Harus dihindari hubungan yang bisa merusak antar umat beragama, diantaranya mengagamakan orang lain, membangun tempat ibadah di tempat yang bukan mayoritas agamanya.

Kasus di Padang kesannya mereka cuci tangan. Mereka menuduh kasus itu dilakukan oleh kelompok Kristen lain. Bagaimana menurut anda?

Itulah ketidakjujuran dari mereka. Saya kira ini membuka peluang terjadinya konflik. Bagaimanapun kesabaran umat itu ada batasnya. Toleransi ya toleransi, tapi kalau sudah membawa korban? Jangan selalu salahkan reaksi, tapi juga persalahkan siapa yang memulai aksi.  Pemerintah harus menggunakan paradigma: reaksi tidak mungkin muncul kalau tidak ada aksi.

Melihat kondisi saat ini umat Islam yang terpecah-pecah, tampaknya akan sulit memperkuat umat Islam. Bagaimana penyelesaiannya?

Memang persoalannya ada pada lemahnya kualitas keberagamaan. Ini tak lepas dari pengaruh kepemimpinan masa lalu yang menempatkan agama di posisi terendah. Apalagi masa pertengahan Orba ditandai dengan penjauhan umat Islam dari agamanya dan menciptakan Islam sebagai agama yang menakutkan. Walau diujung Orba ada perbaikan, tapi tetap saja tidak mampu menghapus praktek-praktek kesalahan di masa lalu. Maka, kita harus benar-benar kerja keras apalagi partai sekuler kini menang pemilu. Kegiatan pemekaran akan semakin gencar dan galak. Di beberapa tempat ada rumah-rumah yang membuka nasi gratis yang dipasang spanduk, ”Hari ini Nasi Tuhan gratis”. Saya kira hal ini dalam takaran apapun tidak etis dan tidak terpuji. PDI-P belum berkuasa saja indikasi ke arah situ sudah ada. Apalagi kalau nanti berkuasa. Mereka menjadikan PDI-P itu sebagai kendaraan politik mereka. Di sini kaum Muslimin perlu mawas diri.

Umat Nasrani sering mengklaim bahwa agama Kristen yang pertamakali datang ke Indonesia, tapi sekarang menjadi minoritas. Bagaimana menurut Anda?

Oh itu keliru besar. Itu adalah anggapan yang salah besar dan tidak ada dasar argumentasinya. Islam sudah sampai di sini pada abad pertama Hijriyah, tahun 600-an Masehi. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para ahli sejarah dalam Konferensi para ahli sejarah di Medan tahun 1970-an. Perkembangan Islam terus menyebar. Jadi kehadiran Belanda dan Portugis ke wilayah Indonesia sudah ada penduduk Muslim. Daerah pertama yang didatangi umat Islam adalah Barus di Tapanuli Tengah, Sumut. Tapi sangat disesalkan, sekarang ini Barus menjadi incaran Kristenisasi. Sibolga yang tadinya mayoritas Islam, sekarang tinggal 46%. Hal ini perlu menjadi perhatian putra Barus dan Sibolga.

Di mana peran ulama sampai kecolongan banyak umat Islam yang pindah agama, seperti di Sumbar?

Saya kira, itu bukan saja tanggungjawab ulama, tapi semua pihak. Bahkan lebih serius lagi Pemda setempat. Ulama mempunyai kewibawaan informal, tapi yang mempunyai kekuasaan riil adalah pemerintah. Jadi jangandisalahkan ulama, tapi pemerintah setempat, karena ada sub pemerintah yang mengurus keagamaan.

Apa komentar Anda dengan Kristenisasi di Sumbar?

Dari perspektif manapun kita memandangnya kasus di Padang itu sudah pada tingkatan yang biadab, tidak mengenal moral. Secara politik, mereka itu telah memancing kerusuhan. Mereka tahu persis bahwa persoalamn agama itu sangat sensitif. Tetapi mereka tetap melakukan kegiatan itu. Secara moral, dan etika jelas-jelas tidak bisa dibenarkan. Apalagi caranya, seperti kasus Wawah benar-benar biadab.

 

GADIS BERJILBAB BERCIUMAN, BERPELUKAN, DI PANTAI PADANG

Kalau sempat ke Padang, silakan melakukan olahraga jogging sekitar jam 05:00 pagi (wib) di pantai Padang. Setidaknya pada pagi hari, pantai ini merupakan tempat pacaran bagi puluhan muda-mudi. Di pantai ini pula anda bisa menyaksikan sejumlah gadis berjilbab melakukan pergaulan bebas (kissing and hugging) tanpa malu-malu.

Bahkan, jika anda temui gadis berjilbab berpacaran dengan pemuda Kristen, itu merupakan pemandangan yang sudah biasa terjadi di Padang. Alasannya, pemuda Kristen lebih smart dan energetic. Yang tidak berjilbab seperti Ellie, bahkan terlihat lebih revolusioner. Ellie yang Muslimah itu justru berpacaran (dan bergaul sangat bebas) dengan Mitsu Pardede (28 tahun) yang saat ini menjadi anggota legislatif dari PDI-P.

Dengan masuknya seorang Batak Kristen ke dalam PDI Perjuangan dan menjadi anggota legislatif, mulai saat ini (1999) sampai tahun 2004, maka kabupaten Sawahlunto Sijunjung yang mayoritas penduduknya beragama Islam diwakili oleh Mitsu Pardede, si penggemar keperawanan gadis Sumbar itu. Mampukah seorang Batak Kristen mewakili aspirasi orang Minangkabau yang Muslim?

Ketika ramai-ramainya film TITANIC diputar di bioskop, banyak gadis berjilbab di Padang menonton film itu. Semua gadis berjilbab yang saya kenal paling kurang nonton ke bioskop satu sampai tiga kali dalam seminggu. They are so advanced and progressive and know how people distribute motion-picture.

Begitulah profile sebagian gadis berjilbab di Padang. Nampaknya, pergeseran nilai, atau bahkan revolusi, sedang berlangsung di Padang!

Ada contoh lain. Devi Mustika Jaya adalah Muslimah sangat pemalu yang lembut, tidak pernah diajak lelaki untuk berbicara. Karena terlalu tertutup, tidak ada yang berpacaran dengan Devi. Namun sejak masuk SMA I Padang, Devi mempunyai pacar bernama Kusuma Andrianto, seorang pemuda yang luar biasa cerdas, pandai bicara dan kharismatik.

Kusuma Andrianto adalah pemuda keturunan Cina yang beragama Budha. Devi dan Kusuma berpacaran selama tiga tahun. Ketika Kusuma mencampakkan Devi tanpa pamit, Devi langsung kalang-kabut dan memburu Kusuma ke seluruh pelosok kota Padang. Devi tampak merana sejak kehilangan Kusuma. Bukan main!

 

 

 

KASUS WAWAH

Wawah (Khairiyah) sejak lama gemar mengoleksi benda-benda yang berbau kristiani secara diam-diam, seperti salib dan simbol-simbol agama Kristen lainnya. Wawah dibaptis dan disekolahkan ke lembaga orang Kristen setelah diperkosa oleh Salmon. Wawah dijadikan sebagai alat untuk melancarkan gerakan kritenisasi di Sumbar, yang ternyata cukup lancar dan efektif. Terbukti dengan adanya (paling sedikit) lebih dari 100 pemuda dan pemudi Minangkabau pindah ke aagama Kristen.

Selain kasus Wawah ada kasus Yanuari Koto. Ia yang sejak ditelantarkan orangtuanya di Lubuk Basung, masuk agama Kristen dan mengikuti Sekolah Teologi di Jakarta, kini menjadi Pendeta dan Ahli Injil paling brilliant dan paling dihormati di Sumbar.

Sebagai alat dari gerakan kristenisasi, Wawah sudah pasti ditawarkan hidup secara sangat layak. Wawah diminta untuk mencari sebanyak 80 orang Minang yang berminat memasuki agama Kristen. Jika Wawah berhasil mendapatkan satu orang saja, maka jumlah uang yang akan diterima oleh Wawah adalah sebesar Rp 300.000,- Jika berhasil mencapai 80 orang, Wawah akan memperoleh Rp 24.000.000,-

Apabila Wawah mampu mengajak 100 orang untuk masuk agama Kristen, Wawah akan mendapat hak istimewa dari Tuhan Yesus, yaitu langsung masuk sorga saat mati kelak. Jika Wawah tidak mau melaksanakan tugas suci dan mulia tersebut,maka orang-orang Kristen akan mengirimkan pembunuh bayaran untuk mengenyahkan hidupnya dari muka bumi ini. Jika melaporkan ke pihak kepolisian, seluruh orang Kristen akan menyatakan perang besar-besaran terhadap seluruh  masyarakat Islam di Minangkabau!

Sekarang terdapat sebanyak 3.000 eksemplar kitab Injil berbahasa Minang untuk keperluan program ini. Sekitar 1.000 eksemplar telah ditemukan dan disita oleh kepolisian. Yogi Harahap adalah salah satu corong dari program kristenisasi di Sumbar, Melalui siaran radio agama Kristen, Yogi menyiarkan hiburan-hiburan Kristiani yang memikat. Yogi memiliki fasilitas seperti mobil Kijang dan tentu saja penghasilan yang lumayan, sehingga mampu membiayai seluruh hidup dan kuliahnya di Unand sebagai mahasiswa Fakultas Hukum.

Yogi berasal dari SMA Bogor, berhasil punya pacar setia seorang Muslimah dari Fakultas Hukum yang bernama Hanny MD, yang mengambil jurusan Hubungan Internasional dan fasih berbahasa Inggris, serta anak orang kaya. Semua teman dan kerabatnya mencoba menasehati Hanny MD agar tidak bercinta dengan Yogi. Semuanya gagal total, karena Hanny MD kelewat mencintai Yogi Harahap, yang menurut kacamata Hanny begitu agung, tidak selevel atau sederajat dengan lelaki Muslim kebanyakan. Hanny sendiri adalah kembang harum nan jelita yang dicari-cari oleh pemuda Muslim di kampusnya. Sekarang Hanny menjadi pengacara di Bogor, sedangkan Yogi (yang setahun lebih muda dari Hanny) sedang menulis skripsi.

Begitulah gambaran terkini sebagian masyarakat Padang. Nampaknya ‘filosofi’ yang berbunyi “Adat bersendikan Syari’ah dan Syari’ah bersendikan Kitabullah” sebentar lagi akan mati di kandangnya sendiri.

Pemurtadan Gaya Snouck Hourgonje

Suara Hidayatullah : November 1999 / Rajab-Sya’ban 1420

Baru-baru ini, tepatnya di Cibadak, Sukabumi, gerakan kristenisasi dikemas dengan mencampur-adukkan ayat-ayat al-Qur’an dan Injil. Gaya Snouck Hourgonje. Pemurtadan model Belanda ini dilakukan oleh seorang pendatang yang mengaku bernama Rahmat Immanuel Simamora.

Untuk mendapat simpati dari warga Cibadak, ia mengaku beragama Islam bermadzhab Yesus (Isa bin Maryam). Madzhab yang sama sekali tidak ada dalam Islam, baik madzhab fiqh, kalam (teologi), falsafat maupun tasawwuf. Jelas ini merupakan modus baru. Pengakuannya itu sendiri diakui para saksi dan korban missinya. Setiap ia mensosilisasikan ajarannya itu, ia mengatakan, “Saya beragama Islam dengan madzhab Yesus (Isa bin Maryam).”

Keberaniannya pun tak tanggung-tanggung. Laki-laki asal Batak ini dalam menyebarkan madzhabnya dengan membagi-bagikan brosur yang mengandung pelecehan agama Islam. Lembaran-lembaran itu berisi tentang ajaran Kristen yang dicampur-adukkan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi saw, dibagikan ketika orang naik mobil angkot sambil diceramahi. Yang lebih aneh lagi, ketika ia disidang oleh majelis hakim atas ulah itu, ia malah khutbah tentang madzhabnya selama dua jam, hal yang sangat menjengkelkan para pengunjung dan Majlis Hakim. Usai dari persidangan, sang penginjil muda ini juga melakukan aksinya dengan membagi-bagikan brosur-brosur tersebut kepada para hadirin.

Pendekatan yang ia lakukan tidak terbatas pada hal itu saja. Menurut berbagai sumber, saksi dan GPMI (Gerakan Peduli Muslim Indonesia), Immanuel Simamora juga sering membagi-bagikan sembako, uang dan santunan kesehatan kepada warga yang didatangi. Dalam prilaku sehari-harinya, ia mengajak masyarakat untuk berdo’a secara Kristen. Bila ada seorang warga yang sakit maka ia segera mendekatinya sambil membawa dana pengobatan dan diajak untuk masuk madzhabnya itu.

Pendekatan door to door juga sering ia lakukan. Inilah yang membuat orang sering terjebak dengan rayuan dan bujukannya.

Pelecehan dan Penganiayaan

Menurut Rahmat Immanuel Simamora, Nabi Muhammad saw telah menjerumuskan ummat Islam, karena tidak mencari Juru Selamat Yesus Kristus (Isa bin Maryam). Juga dikatakan, pergi Haji ke Baitullah di Makkah hanyalah mencim batu, Surat al-Fatihah, menurutnya hanya ayat ihdinash shirothol mustaqiem,yang ia artikan sebagai jalan lurus yang dimiliki Yesus Kristus, dan dalam selebaran-selebarannya itu memuat ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi saw dengan tafsiran-tarsiran yang menyesatkan, karena di situ dicampurbaurkan dengan teks-teks Injil versinya.

Perbuatan dan sikap gerakan ini sebenarnya sudah keterlaluan, melanggar hak-hak beragama orang lain, bahkan keluarga sendiri. Ini terjadi pada prilaku Endang Yesaya (Endang Yesus), salah seorang murid binaan Immanuel Simamora. Ketika istrinya hendak shalat, justru mukenanya itu dibakar, ibunya yang hendak shalat pun ditendang.

Akibat perbuatan dan tingkahnya itu, Rahmat Immanuel Simamora dan Endang Yesaya (Endang Yesus) dijerat oleh pasal 156a dan 157 KUHP. Berdasarkan Pasal 156a, karena telah menodai suatu agama dan menyebarkan pemusuhan, keduanya diganjar lima tahun penjara. Toh ia tetap mengaku tidak bersalah. Itu dikemukakan kepada Sahid. Berikut ini pengakuannya:

Anda puas dengan putusan hakim?

Sabar dulu lah Pak, sabar dulu. Saya perlu tenang dulu. Secara hukum negara itu nggak adil. Tapi secara hukum Tuhan saya lebih senang menerima itu. Mati pun saya rela.

Tidak adilnya di mana?

Kalau memang saya salah tidak harus lima tahun. Itu sudah hukuman seberat-beratnya. Berarti ada ketikadilan. Tapi saya tidak berharap keadilan dari manusia, tapi keadilan dari Yang Maha Kuasa.

Mengapa tidak minta keringanan hukuman?

Begini Pak, saya mengandalkan kebenaran Yesus Kristus. Yesus sendiri mati di kayu salib. Saya rela menanggung itu semua. Karena Yesus itu Isa yang menjadi hakim. Nabi Muhammad sendiri berkata dalam Hadis di Shahih Muslim, dia (Isa) kan jadi hakim. Dia bakal jadi hakim bagi dirinya dan semua manusia. Jadi Isa ini ‘Tangan Tuhan’ Yang Maha Kuasa. Nabi Muhammad jadi ‘Tangan Kiri’. Karena apa? Ibrahim mempunyai dua anak, anak pertama adalah Ismail dari Siti Hajar.

Ismail ini menurunkan Nabi Muhammad itu menjadi Nabi untuk seluruh dunia. Karena Tuhan berkata: “Aku telah mendengarkan permintaanmu Ibrahim, Ismail akan Aku berkati untuk orang banyak. Ini ada dalam Kitab Kejadian, di Muqaddimah (pendahuluan pada tarjamah) al-Qur’an ada itu.

Lho muqaddimah (pendahuluan pada tarjamah) al-Qur’an itu bikinan manusia, bukan al-Qur’an itu sendiri?

Oh, bukan. Itu kebenaran ilahi. Karena sebelum ada al-Qur’an kan Taurat dulu, Injil dulu. Ini induk. Al Qur’an kan anak. Anak kan enggak boleh lepas dari induk. Ada lagi tertulis Yesus, dia itu Isa. Dan kepada Sarah akan melahirka Ishaq, Aku akan membuat perjanjian yang kekal dengan dia, itulah Yesus Isa As. Dan dia jadi juru selamat dunia. Barang siapa percaya dengan dia akan hidup kekal dengan dia dan sampai ke surga. Karena manusia tidak boleh selamat karena perbuatan, karena sebaik-baik orang adalah berdosa, akibat dosa adalah maut. Dan manusia berdosa karena Adam. Karena satu manusia berdosa maka seluruh manusia berdosa. Nah, makanya sekarang Tuhan datang sendiri melalui Kalimatullah. Nah Tuhan sendiri mengatakan, Maryam mengandung Kalimatullah, Firman Tuhan, itulah Isa As untuk menebus dosa manusia menuju surga.

Dia (Isa) tidak bisa menolong dirinya, bagaimana Dia bisa menoling orang lain?

Dia bisa menolong dirinya, mengalah untuk menang. Di balik mati ada hidup. Nabi Isa hidup di hati saya. Fisiknya mati, tapi ruhnya hidup, semangatnya nggak mati. Saya rela mati ini untuk Yesus, itulah hidup yang kekal. Innaa lillahi wa inna ilahi raji’un, daging kembali ke tanah, ruh kembali ke Yang Punya.

Jadi dialah Islam yang sempurna.

Lalu bagaimana dengan tuduhan bahwa madzhab Anda itu menyesatkan orang?

Itu tuduhan mereka karena tidak tahu kebenaran tauhid. Kebenaran ilahi itu tauhid, bukan aqidah. Agama itu aqidah. Ini tauhid yang menciptakan saya sejak kandungan. Jadi ‘saya Islam’. Orang yang menyerah diri adalah Ibrahim, jadi Islam yang pertama kali adalah Ibrahim.

Kenapa yang jadi sasaran madzhab Anda orang-orang Islam, bukan Kristen?

Itu bukan korban. Saya menghormari Nabi Muhammad, sejak lahir dia yatim, bahkan yatim piatu, orang yang lemah. Tapi dia bisa keluar dari ketidak berdayaannya, dari kelemahannya, tampil perkasa di dunia, itu saya terima. Saya menghormati Nabi Muhammad, karena dia keturunan Nabi Ismail. Tetapi, apakah dengan mengikuti dia (Nabi Muhammad saw), apakah kita akan masuk surga? Tidak.

Kenapa tidak bisa?

Karena saya ke surga dengan amal saya.

Katanya dengan amal perbuatan kita tidak mampu?

Karena dengan amal saya tidak mampu, tapi kalau dengan Isa pasti masuk surga. Kenapa? Karena di mampu menanggung dosa saya di kayu salib.

Dari mana Anda tahu, kalau Nabi Isa menanggung dosa Anda?

Oh itu kan tahun 2000 yang lampau. Sekarang dia turun lewat ruh, melalui Injil, melalui al-Qur’an. Silakan percaya, atau tidak. Jadi sekarang ada dua yang menjadi hakim ini. Yang menjadi hakim adalah Isa Yesus dan Nabi Muhammad untuk seluruh dunia, dan Yesus Juru Selamat untuk seluruh dunia. Jadi tangan ‘Kanan Tuhan’ adalah Yesus Isa ibn Maryam dan ‘Tangan Kiri’ adalah Nabi Muhammmad. Itu adalah kebenaran Ilahi.

Dalam Injil Matius ayat 14 dikatakan bahwa Isa itu diutus hanya untuk Bani Israil?

Oh itu salah tafsir. Saya mengerti, itu benar cara al-Qur’an. Saya terima itu untuk nubuwat Yang Maha Kuasa bahwa Ismail akan diberkati orang banyak. Sehingga dikatakan Isa ini hanya untuk Bani Israil. Padahal Isa itu untuk seluruh dunia sebagai Juru Selamat.

Mengapa Anda melakukan penyebaran selebaran-selebaran yang berkedok Islam dengan madzhab Yesus?

Ini Islam tauhid. Saya terima Nabi Muhammad adalah Nabi Besar, saya hormati dia. Dia berjasa untuk saya. Buktinya, para pahlawan, pejuang Indonesia adalah pengikut Nabi Muhammad.Soekarno, dia pengikut Nabi Muhammad, sehingga bangsa yang berbudi tahu balas budi. Makanya saya mendukung Megawati jadi presiden. Karena apa? Karena saya telah menerima budi baik dari Soekarno. Tapi, kenapa Israil (gelar Nabi Ya’qub yang menurunkan Bani Israil), Nabi Musa, Nabi Yunus yang terkait dengan bangsa Israil kita tidak mengadakan hubungan diplomatik dengannya? Padahal kita telah menerima budi baik dari mereka (bangsa Israil). Kenapa kita membenci Israil, tidak ada hubungan diplomatik? Itu kesalahan skenario tertulis. Barang siapa memberkati Israil maka akan diberkati, dan barang siapa mengutuknya akan dikutuk.

Bukankah bangsa Israil sangat kejam terhadap bangsa lain?

Memang bangsa Israil melakukan pembunuhan. Tapi, bangsa Israil juga berjasa kepada Indonesia dan dunia. Nabi-nabi berasal dari mana? Kan dari Israil

Gerakan madzhab Anda berpusat di mana?

Kami berpusat di gunung Salak.

Apa target dari gerakan ini?

Agar orang mengetahui bahwasanya di al-Qur’an itu terdapat kebenaran Ilahi, Isa As adalah jalan yang lurus. Musuh kita adalah setan dan iblis. Barang siapa membenci sesama berati membunuh manusia sesama.

Berapa jumlah pengikut anda?

Kalau soal itu, maaf itu rahasia.

Gerakan pemurtadan (Kristenisasi) oleh kaum missionaris semakin merebak ke mana-mana. Tidak hanya di derah-daerh terpencil saja, tapi ia telah merambah ke daerah-daerah yang justru banyak berdiri pondok pesantren.

Baru tiga bulan yang lalu kita dikgetkan dengan kasus Ranah Minang, kasus Khairiyah Enniswati (Wawah), seorang siswi Madrasah Aliyah di Padang, dengan modus penculikan dan penggelapan identitas secara sembunyi-sembunyi.

Dengan peristiwa ini toh tidak membuat mereka para missionaris takut akan reaksi ummat Islam dan jerat hukum Pidana pasal 156a dan pasal 157 KUHP. Apalagi Trilogi Kerukunan Ummat Beragama. Justru mereka saat ini semakin genjar menyebarkan missinya itu dengan pelbagai modus dan gaya.

JOSHUA PROJECT 2000

Joshua Project 2000 ditenggarai sebagai induk dari Doulos Project 2000, umat Islam wajib mewaspadainya

DAOLOS 2000 PROJECT

= 10 Missionary Project =

1.    The Jericho 2000 Project – West Java

2.    The Karapan 2000 (Race 2000) Project – East Java

3.    The Mandau 2000 Project – West Borneo

4.    The Bajau-Bungku 2000 Project – South East Celebes

5.    The Cendrawasih 200 (Bird of Paradise) Project – West New Guinea

6.    The Andalas 2000 Project – North Sumatra

7.    The Sriwijaya 2000 Project – Riau, Sumatera

8.    The Construction Project for House of Worship in the rural areas

9.    The Provision pf Bibles Project – in the tribal language

10. The Charity Activities Project

Persekutuan Suku Dan Injil Bahasa Daerah

Persekutuan Suku

·         Adanya gerakan kristenisasi yang dilakukan oleh pelbagai kelompok memang kian marak. Mungkin ada di antara kita yang merasa cemas, tetapi mungkin juga ada juga yang justeru tidak bergeming sama sekali. Tak peduli. Biasanya kita baru kaget ketika cerita pemurtadan itu terjadi dekat dan tentu saja, satu lagi Persekutuan Kristen untuk masyarakat Minang yang dipimpin oleh Pendeta Akmal Sani. Konon berpusat di sebuah restoran Padang di Jakarta Pusat.

Dari fenomena ini, agaknya kita boleh saling bercermat bahwa daerah dan etnis yang selama ini
lekat dengan simbol keislaman, pelan-pelan tapi pasti, sudah mulai luntur, jika Anda punya calon
menantu, dari mana pun dia berasal agaknya untuk konteks kekinian malah jadi wajib ditanya : “Saudara/Ananda menganut agama apa?” Jangan terlalu yakin dengan daerah asal ataupun kesukuan meski berangkali yang bersangkutan satu kampung halaman dengan kita. Hati-hati.

 

Injil Bahasa Daerah

Menyoal Injil dalam bahasa Minang yang tengah bermasalah di ranah Minang sana. Ternyata adalah hanya salah satu kasus saja, lantaran sebenarnya Injil-injil itu juga diterjemah dalam bahasa daerah lainnya. Mang Muh. Solihin misalnya, pernah memberi terjemahan Injil dalam bahasa sunda kepada BIDIK. Pria yang katanya putra Banten itu memang seorang pendeta.

Teringatlah kita kepada agresivitas Yayasan Dolous yang bertekad menyerbu tanah Pasundan melalui megaproyek Yerkho-2000. Bahwa bumi Parahiyangan yang terkenal kuat adat dan benteng keislamannya itu harus ditembus dan diruntuhkan agar penduduknya mau ‘mendengar kabar kesukaan’. Ini memang sebuah program ‘yahudi’ yang seakan menapaktilasi kesejarahan seorang
Yoshua tempo dulu, yan ketika itu sang gagah perkasa Yoshua itu berhasil menembus benteng
kota Yerikho guna membawa ‘terang’. Sedang pencantuman angka 2000 pada konteks megaproyek yang tengah bergulir di sini adalah menunjuk pada target tahun 2000 di muka ini.

Benarlah kiranya apa yang ditulis Tabloid Abadi bahwa sebenarnya kristenisasi bila dilakukan
tanpa paksaan sah-sah saja menurut hukum negara kita. Tetapi bila sebaliknya dan mengabaikan
kode etik penyiaran agama (SKB 3 menteri) serta tidak mengindahkan perasaan ummat Islam
sekitar, yang harus dilawan!

Dinukil dari : BIDIK pada lembar risalah An-Natijah. Edisi no. 36 dan 39/th. IV, 3 dan 24 September 1999.

 

Tantangan Bagi Umat Islam Atas Bahaya Kristenisasi

 Selama puluhan tahun kaum musiimin Indonesia boleh berbangga hati dengan julukan “komunitas muslim terbesar di dunia” yang disandangnya. Berdasarkan Survey Antar Sensus (Supas) yang diiakukan oleh Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 1990, tercatat bahwa dari 200 juta jiwa, prosentase umat Islam mencapai 87,3 persen (dibulatkan menjadi 90 persen). Sementara umat Kristen Protestan hanya 6 persen, umat Katolik 3,6 persen, Hindu 1,8 persen, Budha 1 persen dan agama lain 0,3 persen.

Sebagai dai, kita tidak boleh silau mata dengan besarnya angka-angka mayoritas di atas. Apalagi, data-data terkini, mencatat bahwa jumlah umat Islam anjlok drastis dari 90 persen menjadi 75 persen (tabloid SIAR edisi No. 43, 18-24 Nopember 1999 hal. 14).

Terllepas dari validitas dan akurasi data di atas, perlu dicermati pula hasil temuan Litbang Departemen Agama, bahwa panyebab penurunan populasi umat Islam nusantara itu ada dua hal:

Pertama, Keberhasilan program KB yang dilakukan dengan gencar kepada kaum muslimin, sementara kepada umat non Islam, program KB tidak pernah didengungkan, nyaris tak terdengar. Dengan demikian, program KB mengakibatkan pertumbuhan populasi umat Kristen jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan populasi umat Islam.

Kedua, Keberhasilan program Kristenisasi yang dilakukan dangan gencar, semakin hari semakin canggih dan tidak mengindahkan kode efik penyiaran agama.

Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa penyimpangan-penyimpangan penyiaran agama sering kali dipakai para missionaris untuk menyebarkan Injil dan kekristenan di nusantara, antara lain:

  1. Pembangunan Gereja di lingkungan masyarakat mayoritas muslim.

Di tengah-tengah warga mayoritas muslim, pihak Salib melanggar SKB menteri dengan membangun gereja yang megah. Untuk mengisi dan meramaikan gereja pada saat kebaktian, didatangkanlah jemaat Kristen dari tempat lain yang berjauhan. Dengan demikian, syiar mereka berlahan-lahan menarik simpati warga yang lemah iman.

Kasus yang terbaru adalah terusiknya ketenangan warga Depok dengan kehadiran GPIB Shalom, akhirnya membuahkan penanganan ilegal. Sebagai kado pada ulang tahunnya yang ke-31, CPIB Depok yang agresif itu dibakar warga.

Sejak awalnya, pendirian gereja itu selalu ditentang warga sekita dengan alasan karena lokasi itu mayoritas Islam. Sedangkan keluarga Kristen hanya beberapa gelintir orang saja.  Dengan sikap nekadnya, maka pihak Kristen mendirikan GPIB Shalom, tepatnya di Jl. Kembang Lio Boji, Depok, Bogor, Jawa Barat. Cara pendiriannya pun ditempuh melalui lobi-lobi licik.

Setelah gareja itu berdiri megah, maka untuk mengisinya didatangkan orang-orang Kristen dari tempat lain yang berjauhan. Setiap Minggu, kegiatan gereja tidak pernah sepi oleh orang-orang Kristen impor. Dengan syiar Kristen ini, maka beberapa keluarga muslim yang amblas iman Islamnya, murtad menjadi Kristen, mempertuhankan Yesus.

Namun, umat Kristen yang cuma segelintir itu semakin berani. Dengan semboyan maju tak gentar, ultimatum serius itu dianggapnya sebagai gertak sambal yang tidak menakutkan. Akhirnya, ultimatum warga menjadi kenyataan. Setelah sekian lama memberikan toleransi sambil menahan emosi, maka pada hari Selasa, 2 Nopember 1999 dini hari, GPIB Shalom Depok diamuk masa, dirusak dan dibakar habis. Kesabaran manusia ada batasnya.
 

  1. Kristenisasi kepada pasien muslim. 

Di beberapa rumah sakit, misalnya di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, kepada pasien muslim dibagi-bagikan leaflet (brosur) tentang penghiburan dan penyembuhan Yesus Kristus kepada orang-orang sakit. Di rumah sakit Advent Bandung, pasien muslim diajak berdoa berdama oleh rohaniawan rumah sakit dengan tata cara peribadatan Kristen.
 

  1. Kristenisasi melalui jalur pemerkosaan gadis-gadis muslimah.
  • Khairiyah Anniswah alias Wawah, siswi MAN Padang, setelah diculik dan dijebak oleh aktivis Kristen, diberi minuman perangsang lalu diperkosa. Setelah tidak berdaya, dia dibaptis dan dikristenkan. 
  • Kasus serupa menimpa Linda, siswi SPK Aisyah Padang. Setelah diculik dan disekap oleh komplotan aktivis Kristen, dia diperlakukan secara tidak manusiawi dengan teror kejiwaan supaya murtad ke Kristen dan menyembah Yesus Kristus. 
  • Di Bekasi, modus pemerkosaan dilakukan lebih jahat lagi. Seorang pemuda Kristen berpura-pura masuk Islam lalu menikahi seorang gadis muslimah yang salehah. Setelah menikah, mereka mengadakan hubungan suami isteri. Adegan ranjang yang telah direncanakan, itu foto oleh kawan pemuda Kristen tersebut. Setelah foto dicetak, kepada muslimah tersebut disodorkan dua pilihan: “Tetap Islam atau Pindah ke Kristen?”. Ka!au tidak pindah ke Kristen, maka foto-foto talanjang muslimah tersebut akan disebarluaskan. Karena tidak kuat mental, maka dengan hati berontak muslimah tersebut dibaptis dongan sangat-sangat terpaksa sekali, untuk menghindari aib. 
  • Di Cipayung Jakarta Tirnur, seorang gadis muslimah yang taat dan shalehahterpaksa kabur dari rumahnya. Masuk Kristen mengikuti pemuda gereja yang berhasil menjebaknya dengan tindakan pemerkosaan dan obat-obat terlarang.
  • Kristenisasi melalui penyebaran Narkoba.

Di desa Langensari, Lembang, Bandung, Yayasan Sekolah Tinggi Theologi (STT) Doulos meyebarkan Kristen dengan cara merusak moral terlebih dahulu. Di sana, para pemuda usia 15 tahunan dicekoki minuman keras dan obat-obat terlarang sampai kecanduan berat. Setelah kecanduan, para pemuda harapan bangsa itu dimasukkan ke panti rehabilitasi Doulos untuk disembuhkan sambil dicekoki Injil supaya murtad dari Islam. (Republik, 10 dan 12 April 1999).

 

  1. Kristenisasi melalui kesaksian-kesaksian Palsu via mantan muslim (murtadin)
  • Tahun 1974, GPIB Maranatha Surabaya digegerkan oleh kasus pelecehan agama oleh Pendeta Kernas Abubakar Masyhur Yusuf Roni. Dalam ceramahnya, sang pendeta itu mengaku ngaku sebagai mantan kiyai, alumnus Universitas Islarn Badung dan pernah menjadi juri MTQ Internasional. Dia tafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara sangat ngawur. Kaset rekaman ceramah tersebut kemudian diedarkan secara luas kepada umat Islam.

  Setelah diusut tuntas, ternyata pengakuan pendeta itu hanyalah bohong belaka Yusuf Roni teryata tidak bisa baca Al-Qur’an. Dengan kebohongannya itu, Pendeta Pembohong Yusuf Roni diganjar penjara 7 tahun di Kalisosok, Surabaya.

  • Ketika orang sudah banyak melupakan kasus pelecehan Yusuf Roni, di Jakarta muncul pelecehan plus seribu dusta yang baru. Seseorang yang menamakan dirinya  Pendeta Hagai Ahmad Maulana mengaku sebagai putra kandung kesayangan KH. Kosim Nurzeha. Ceramahnya di gereja pun beredar luas di kalangan masyarakat. Setelah diselidiki, terkuaklah kebohongan besar pendeta Hagai Ahmad Maulana. Sebab belum pernah istri KH. Kosim Nurzeha melahirkan Ahmad Maulana. 
  • Di Padang, trik yang sama dipakai untuk menggoyang akidah umat. Seseorang yang menamakan dirinya Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah, namanya menjadi naik daun di dunia pemurtadan Kristenisasi, setelah mangaku adik kandung ulama besar pakar tafsir, Yang Mulia Almarhum Buya Hamka.Orang awam banyak yang percaya tanpa cek dan ricek. Langsung yakin begitu saja dengan pengakuan bahwa adik kandung Buya Hamka itu sudah murtad ke Kristen.

Setelah diselidiki, ternyata pengakuan itu adalah kebohongan yang sangat besar. Salah seorang putra Buya Hamka menyatakan bahwa sepanjang hayatnya, dia tidak pernah punya paman yang namanya Willy Abdul Wadud Karim Amarullah. 

  • Di Cirebon, murtadin Danu Kholil Dinata Ev. Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alis Amin Al Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi pemeluk Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon. Setelah dilacak, ternyata ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian adalah PALSU. 
  • Para murtadin pembohong lainnya adalah Drs. H. A. Poernomo Winangun alias Drs. H. Amos, Ev Hj. Christina Fatimah alias Tin Rustini (nama asli dikampung Sutini alias Bu Nonot, Pdt. Rudy Muhammad Nurdin, Pdt. M. Mathius, Pdt. Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F. Intan Duana Paken Nata Sastranagara (Ev. Ivone Felicia IDp.). Mengaku telah mengkristenkan 60 kiyai Banden, dll.
  1. Kristenisasi berkedok sosial di desa-desa turpencil.

Kristenisasi dilancarkan kepada orang-orang miskin sambil menawarkan makanan (berisi, mie, gula, dll.) secara gratis, obat-obatan, pakaian bekas, alat-alat pertanian (bibit, pupuk, obat pembunuh serangga), dll.

Setelah orang desa merasakan manfaatnya, maka barulah para misi menyatakan maksud yang sebenarnya, bahwa mereka itu sebagai pelayan dari Yesus Kristus. Dan bantuan yang mereka nikmati itu adalah dari Yesus. Maka, mana yang lebih baik, Islam atau Kristen? Selanjutnya, masyarakat desa dibaptis. Bagi yang tidak mau masuk Kristen maka dimulailah misi untuk menggoda iman untuk melemahkan ajaran Islam. 

  1. Kristenisasi berkedok Islam, yaitu memurtadkan akidah umat dengan strategi ‘Srigala Berbulu Domba’.

Dengan memakai idiom-idiom keislaman dalam tata cara peribadatan serta menerbitkan buku-buku dan brosur (leaflet) berwajah Islam, tapi isinya memutarbalikan ayat-ayat Al Our’an dan Hadits, untuk mendangkalkan akidah. Dipermainkannya ayat-ayat ilahi untuk meleceh Islam demi untuk menjunjung tinggi kekristenan. Tujuan akhirnya, agar kaum muslimin meragukan ajaran Islam lalu pindah ke Kristen

Dengan Gerakan pemurtadan kristiani yang dikemas dalam wajah Islam, persoalan dakwah Islamiyah semakin berat. Agresivitas misi Kristen sudah memasuki tingkat berbahaya. Kaum awam sulit membedakan keislaman dan kekristenan, sehingga mudah dikaburkan akidahnya.

Bentuk-bentut Kristenisasi yang dikemas dalam wajah Islam, antara lain:

a.   

Dengan meniru kebiasaan umat Islam dalam bangunan dan tata cara ritual.

GPIB Padang memakai lambang-lambang Minang dalam bangunan Gereja untuk merayu orang Minang agar tertarik kepada Kristen.

Di beberapa desa di Yogyakarta, misi Kristen meniru adat kebiasaan umat Islam, seperti tahlilan, pakai kopiah yang biasa dipakai oleh umat Islam, mengucapkan salam `Assalamu’alaikum’, dll.

Shalat 7 waktu dengan pakai peci, sajadah, tiwalul Injil dan qasidah versi Kristen yang dilakukan oleh Kristen sekte Ortodox Syria. Buku-buku yang diterbitkan antara lain. Kitabus Sholawat as Sab’u, Almasih Juru Selamatku, Muslim Sahabatku, La ilaha illallahu, Tauhid dalam perspektif Gereja Ortodox Syiria, dll. 

  1. Melalui berbagai penerbitan kristenisasi berkedok Islam.

Ada dua target yang ingin dicapai oleh missi dengan penerbitan buku-buku berwajah Islam.

Pertama, target ke dalam, untuk memantapkan ajaran Kristen. Seoiah-olah ajaran Kristenlah yang paling benar.

Kedua, target ke luar, untuk mengelabuhi umat Islam yang masih dangkal pemahamannya, agar mau membaca lalu meyakini doktrin agama Kristan. Ini sangat ditekankan mereka, sebab mereka melihat bahwa umat Islam awam tidak sudi membaca buku-buku yang berwajah Kristen.

 

 

 

 

Daftar berbagai penerbitan kristenisasi berkedok Islam yang ketahuan, antara lain:

1.  Buku karya Drs. A. Poernarna Winangun: Upacara lbadah Haji, Ayat-ayat Al Qur’an Yang Menyelamatkan, Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam, dan Riwayat Singkat Putaka Peninggalan Nabi Muhammad saw. 

2.  Buku Kristus dan Kristen di Dalam Al-Qur’an (Al Masih Wal Masihiyun Fil Quur’an) karya Drs. Amin Al Barokah alias Danu Kholil Dinata. 

3.  Buku Karya mendiang Hamran Ambrie: Allah Sudah Pilihkan Saya Kasih Buat Hidup Baru Dalam Yesus Kristus, Keilahian Yesus Kristus dan Allah tritunggal Yang Esa, Dengan Kasih Kita Jawab, Jawaban Atas Buku Bible Qur’an dan Science, Dialog Tertulis Islam-Kristen, Surat bari Mesir, Siap Sedia Menjawab Tantangan Benteng Islam, Sebuah Memori Yang Tak Terlupakan, dll. 

4.  Terbitan Yayasan Jalan Al Rachrnat: Sejarah Naskah Al Qur’an dan Alkitab, oleh John Gilchrist; Sulitkah Menjadi Orang Kristen, oleh Abdul Masih; Siapakah Kristus Selayaknya Menurut Anda, oleh Abdul Masih; Sudah Kutemukan, oleh Iskandar Jadeed; Benarkah Alkitab Dipalsukan, oleh Iskandar Jadeed; Injil Barnabas Suatu Kesaksian Palsu, oleh Iskandar Jadeed; Kesempurnaan Taurat dan Injil, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Supaya Dosa Diampuni, oleh Iskandar Jadeed; Bagaimana Kita Berdoa, oleh Iskandar Jadeed; Kristus Menurut Islam dan Kristen, oleh John Gilchrist, Benarkah Nabi Isa Disalib, oleh John Gilchrist; Allah Itu Esa di Dalam Tritungga! Yang Kudus, oleh Zachariah Butrus; Selidikilah, Anda Pasti Selamat, oleh Sultan Muhammad Paul. 

5.  Terbitan Yayasan Christian Centre Nehemia: Kerudung Yang Dikoyak, oleh Gulshan Ester; Seorang Gadis Kristen mempertanggungjawabkan Imannya, oleh Nita; Apakah Al Qur’an Benar-benar Wahyu Allah, oleh Ev. J. Litik; Kebenaran Firman Allah, oleh Pdt. M. Matheus; Lima Alasan Pokok Tentang Isi Al Qur’an Yang Menyebabkan Saya Beralih Dari Islam ke Kristen, oleh Ev. J. Litik; dll. 

6.  Karya Pdt. R. Muhammad Nurdin: Ayat-Ayat Penting Di Dalam Al-Qur’an, Keselamatan Di Dalam Islam, Selamat Natal Menurut Al Qur’an, Kebenaran Yang Benar (As Shodiqul Mashduuq), Rahasia Allah Yang Paling Besar (As Sirrullahil Akbar), Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya Allah Ya Ruhul Qudus Aku Selamat Dunia dan Akhirat, Wahyu Tentang Neraka, Wahyu Keselamatan Allah, dan lain-lain. 

7.  Kaligrafi dan kalender tulisan Arab yang berisikan ayat-ayat Injil tentang ketuhanan Yesus. 

8.  Brosur-brosur: Brosur Dakwah Ukhuwah, Brosur Shirathal Mustaqim, Brosur Jalan Al Rachmat, dll. 

9.  Kaset: Kaset tilawatul Injil, Dzat dan Sirat Allah (ceramah Pendeta Kemas Abubakar Mashur Yusuf Roni), Kesaksian murtadin Muhammad Imran, Kesaksian murtadin Ikhwan Luqman, Kesaksian murtadin Pdt. Akmaal Sani, Kesaksian murtadin Lies Saodah, Kesaksian murtadin Hagai Ahmad Maulana yang mengaku-ngaku putera KH. Kosim Nurzeha, dan lain-lain.

 

 

 

Prof. Dr. Mohammed Arkoun: Kejayaan Islam Melalui Pluralisme Pemikiran

  

   

   Pemikir Islam Prof Dr Mohammed Arkoun menyatakan, Islam akan meraih

   kejayaannya jika umat Islam membuka diri terhadap pluralisme

   pemikiran, seperti pada masa awal Islam hingga abad pertengahan.

   Pluralisme bisa dicapai bila pemahaman agama dilandasi paham

   kemanusiaan, sehingga umat Islam bisa bergaul dengan siapa pun.

   

   “Kolonialisme secara fisik memang telah berakhir. Namun, paling tidak,

   pemikiran kita masih terjajah, tidak ikut modern yang ditandai oleh

   kebebasan berpikir. Ini yang harus dilepaskan oleh umat Islam,” ujar

   guru besar Universitas Sorbonne, Paris, itu dalam pembukaan seminar

   “Konsep Islam dan Modern tentang Pemerintahan dan Demokrasi” di

   Jakarta, Senin (10/4), yang disesaki pengunjung yang sebagian besar

   kalangan muda.

   

   Seminar ini diselenggarakan oleh Yayasan 2020 bekerja sama dengan

   Goethe Institute, Friedrich Naumann Stiftung, British Council, dan

   Departemen Agama.

   

   Arkoun mengungkapkan, humanisme di Arab muncul pada abad ke-10 di Irak

   dan Iran, pada saat munculnya gerakan yang kuat untuk membuka diri

   terhadap seluruh kebudayaan di Timur Tengah yang didasarkan pada

   pendekatan humanis terhadap manusia. Para ahli teologi, hukum,

   ilmuwan, dan ahli-ahli filsafat berkumpul dalam Majelis Malam. Ketika

   berbicara dan bertukar pikiran, mereka saling berhadapan muka, yang

   dikenal dengan istilah munadharah.

   

   Namun, memasuki abad ke-13, umat Islam mulai melupakan filsafat maupun

   debat teologi. Selama ini, umat Islam diajar bahwa Islam tidak

   memisahkan agama dan politik, bahwa Islam adalah daulah (kerajaan).

   “Sebagai seorang ahli sejarah pemikiran Islam, bukan sebagai seorang

   politisi, saya katakan bahwa itu keliru,” kata Arkoun.

   

   Dalam Islam klasik, kata Arkoun, ketika debat didasarkan pada

   pendekatan keragaman budaya, keragaman pemikiran, dan keragaman

   teologi, terjadi perdebatan yang seru bagaimana menginterpretasikan

   Alquran dan mengelaborasi dengan hukum yang didasarkan pada teks suci.

   

   Dengan tetap mempertahankan pluralisme, seseorang akan tetap menjadi

   kritis, baik dalam filsafat maupun teologi. Pluralisme inilah yang

   hilang dalam Islam, kata Arkoun. Islam dalam teologi harus

   mempertahankan kebebasan bagi setiap muslim untuk berpartisipasi dalam

   ijtihad. Pemahaman ini penting untuk membangun demokrasi di

   negara-negara Islam dan untuk memulihkan kembali kebebasan berpikir

   dalam Islam.

   

   Menurut Arkoun, umat Islam bisa membandingkan dengan agama Kristen

   secara teologis dan agama Katolik secara politik. Sampai revolusi

   Perancis, tidak ada legitimasi politik yang tidak dikontrol oleh

   Gereja Katolik. Teologi Protestan merupakan teologi modern, karena

   setiap orang mempunyai hak untuk mempelajari kitab suci.

   

   Sebenarnya, umat Islam menemukan periode yang bisa memberikan harapan

   besar akan munculnya kembali keragaman dalam berpikir pada saat

   munculnya negara-negara baru pascakolonial. Namun, sayang, kesempatan

   itu hilang. Islam kemudian dipergunakan lebih sebagai alat politik,

   bukan untuk berpikir dengan pendekatan humanis dan dalam keragaman.

   

   Arkoun berpendapat, pemulihan pengajaran sejarah akan memungkinkan

   Eropa dan Islam membangun dan bekerja sama atas dasar filsafat dan

   nilai-nilai yang sama, di mana membangun demokrasi tidak hanya

   berlandaskan pada negara-bangsa, tetapi pada manusia. Menurut dia,

   munculnya Uni Eropa merupakan sebuah lompatan sejarah. Ada sebuah

   ruang baru kewarganegaraan dengan membuka kesempatan manusia dari

   seluruh belahan bumi untuk mendapatkan kewarganegaraan. Ada sebuah

   gaya baru pemerintahan yang berdiri di atas bangsa.

   

   “Ini revolusi dalam level politik,” kata Arkoun seraya menambahkan

   bahwa model ini bisa diadopsi oleh negara-negara muslim dan bertemu

   dengan pengalaman Eropa dalam perspektif humanisme.

   

   Arkoun juga menekankan pentingnya pendidikan yang didasarkan pada

   humanisme. Dalam kaitan itu, di sekolah-sekolah menengah perlu

   diajarkan multibahasa asing, sejarah ,dan antropologi, serta

   perbandingan sejarah dan antropologi agama-agama. “Marilah kita

   terbuka pada semua kebudayaan dan terbuka pada semua pemikiran,”

   ujarnya.

   

   Menjawab pertanyaan tentang keinginan Presiden Abdurrahman Wahid

   menghapuskan Ketetapan (Tap) No 25/MPRS/ 1966 tentang pembubaran PKI

   dan larangan menyebarkan ajaran marxisme/komunisme, Arkoun mengatakan,

   komunis merupakan model politik yang digunakan Uni Soviet untuk

   mengalahkan demokrasi modern yang berkembang di Eropa. “Jika Anda

   membaca filsafat Karl Marx dan Hegel, Anda akan berhenti mengutuk

   filsafat yang dijadikan dasar paham komunis. Ini yang mungkin

   diperkenalkan Presiden Indonesia sebagai langkah awal menuju demokrasi

   yang modern,” ujarnya.

   

   Arkoun mencontohkan keinginan pemerintah Maroko meningkatkan status

   perempuan. Partai Islam menolak rencana pemerintah, tetapi sebagian

   yang lain menerimanya. “Hukum modern didasarkan pada kedaulatan

   individu. Apakah kita mau meninggalkan Sariat Islam dengan menghargai

   kedaulatan individu itu?” ujarnya.

   

   Dalam Islam, tegas Arkoun, ada yang disebut munadharah (tukar

   pikiran). “Munadharah adalah jantung demokrasi. Tidak ada demokrasi

   tanpa munadharah, karena dalam munadharah setiap orang bebas

   mengeluarkan pendapatnya,” tegasnya. (wis/mba)

 

 

Jesus Tidak Mati

(menurut pemahaman Islam Sunni, Ahmadiyah & Kristen)

 

Ketika Allah berkata: “Hai ‘Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu serta akan membersihkan kamu dari mereka yang kafir…”

(QS. 3:55)

 

Para mufassir berbeda pendapat mengenai ayat diatas.

Perbedaan tersebut berawal dari penterjemahan ayat “Tawaffa” (mewafatkanmu)

Makna dari “Tawaffa” adalah “Imatah” (mematikan), dan kematian itu telah terjadi sebelum Isa diangkat.

 

Kata “Tawaffa” tidak menunjukkan waktu tertentu dan juga tidak menunjukkan bahwa kematian itu telah berlalu, namun Allah Swt mewafatkannya kapan saja. Yang jelas tidak ada dalil bahwa waktunya telah berlalu.

 

Mengenai bersambungnya kata “Mutawafika” dengan kata “Warofi’uka” tetap tidak menunjukkan satu hubungan yang sifatnya berurutan. Para ahli bahasa berpendapat bahwa kata sambung /wau/ itu tidak memberi faedah urutan waktu dan tidak pula Jama’ (mengumpulkan) akan tetapi memberi faedah Tasyrik (keikutsertaan).

 

Hal ini bisa kita lihat dalam firman Allah yang menyatakan penciptaan langit dan bumi, terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi lebih dahulu seperti dalam Surah Al Baqarah 29 dan surah Thaha 4. Akan tetapi terdapat lebih banyak ayat2 dimana langit-langit disebutkan sebelum bumi (Surah Al A’raaf 54, Surah Yunus 3, Surah Hud 7, Surah Al Furqaan 59, Surah As-sajadah 4, Surah Qaf 38, Surah Al Hadied 4, Surah An-Naazi’aat 27 dan Surah As Syams 5 s/d 10).

 

Jika kita tinggalkan surah An-Naazi’aat, tak ada suatu paragrafpun dalam Al Quran yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal.

 

Ditinjau secara langsung kedalam bahasa arab yang terdapat hanya huruf /Wa/ yang artinya “dan” serta fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata “tsumma” yang berarti “disamping itu” atau “kemudian dari pada itu”. Maka kata tersebut dapat mengandung arti urut-urutan. Yaitu urutan kejadian atau urutan dalam pemikiran manusia tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi kata tersebut dapat juga berarti menyebutkan beberapa kejadian-kejadian tetapi tidak memerlukan arti urutan-urutan.

 

Bagaimanapun periode penciptaan langit-langit dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan bumi.

Didalam Al Quran, hanya terdapat satu paragraf yang menyebutkan urutan antara kejadian-kejadian penciptaan secara jelas, yaitu antara ayat 27 s/d ayat 33 Surah An-Naazi’aat.

 

Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit itu ? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap, dan menjadikan siangnya terang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya air, dan tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”

(QS. 79:27-33)

 

Perincian nikmat-nikmat dunia yang Allah berikan kepada manusia, yang diterangkan dalam bahasa yang cocok bagi petani atau pengembara (nomad) didahului dengan ajakan untuk memikirkan tentang penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan menggelar bumi dan menjadikannya cocok untuk tanaman, dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah terlaksana.

 

Jelas disini bahwa ada dua hal yang dibicarakan: kelompok kejadian samawi dan kelompok kejadian-kejadian dibumi yang diterangkan dengan waktu. Menyebutkan hal-hal tersebut mengandung arti bahwa bumi harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada ketika Tuhan membentuk langit.

 

Dapat kita simpulkan bahwa evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh sebab itu tidak perlu pula kita memberi arti khusus mengenai disebutkannya kata bumi sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan.

 

Bertolak dari sini, maka ayat yang berbunyi :

 

Izqolallahu ya’Isa Inni mutawaffika warofi’uka, Artinya : Ketika Allah berkata: “Hai ‘Isa ! Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkat kamu kepadaKu, bisa juga bermakna demikian :

 

Izqolallahu ya’Isa Inni rofi’uka illa wamutawaffika, yang artinya menjadi : Ketika Allah berkata: “Hai ‘Isa ! Sesungguhnya Akulah yang mengangkatmu kepadaKu dan yang mewafatkanmu.

 

Selain itu dari kalangan Islam Sunni juga ada pendapat yang mengatakan bahwa kata “Mutawafa” adalah mati dalam arti tidur untuk diangkat kelangit, sehingga ayat tersebut bermaknakan “Inni munimuka warofi’uka Illa” (Sesungguhnya Aku menidurkanmu dan mengangkatmu kepadaKu)

 

Hal ini juga berdasarkan dalil bahwa didalam AlQur’an juga terdapat pemutlakan kata wafat untuk makna tidur, seperti dalam firman Allah :

 

Wahualladzi yatawaffakum billayli waya’lamuma jarohtum binnahari

Dan Dialah yang memegang/menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari.

(QS. 6:60)

 

Allah memegang jiwa-jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; lalu ditahanNya jiwa yang telah ditetapkan kematiannya dan dilepaskanNya yang lain sampai satu masa yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

(QS. 39:42)

 

Rasulullah ketika bangun tidur mengucapkan:

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia Mematikan kami (artinya, membangunkan kami setelah menidurkan kami) dan hanya kepada Dia saja tempat kembali.

(HR. Bukhari)

 

Didalam kitab dan sunnah dibenarkan memutlakkan kata wafat untuk tidur. Jika demikian bisa jadi diangkatnya Nabi Isa putra Maryam itu dalam keadaan tidur sebagaimana dikatakan oleh Al Hasan Basri.

 

Penafsiran lainnya lagi dari kalangan Sunni, datang dari Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Qatadah bahwa ia berkata: Ini termasuk masalah muqaddam dan muakhkhor atau mendahulukan kata yang datang belakangan dan mengakhirkan kata yang datang lebih dahulu.

 

Jadi firman Allah tentang wafatnya Isa itu bisa diartikan menjadi :

 

Rofi’uka wamutawaffika

Kami mengangkatmu dan mewafatkanmu

 

Dia mengangkatmu (kelangit) lalu menurunkanmu (kedunia) dan mematikanmu sebelum hari kiamat, agar kamu menjadi salah satu tanda hari kiamat tiba.

 

Itu adalah pendapat Al Farra’ dan Al Zujaj.

Jadi faedah menjadikan Isa putra Maryam sebagai tanda hari kiamat sebagai pemberitahuan bahwasanya diangkatnya Isa kelangit itu tidaklah menghalangi kematiannya.

 

Selanjutnya penafsiran lain, kata “Mutawwafa” adalah isim fail (nomina verbal) dari kata kerja “Tawaffahu”, sehingga dapat diartikan “Jika ia menggenggamnya dan menghimpunnya kepadanya”.

 

Ibnu Qutaibah menafsirkan dalam kitab Gharibil Qur’an bahwa menggenggamnya dari bumi tanpa harus mematikan. Imam Ibnu Jarir Ath Thabari berkata: Kita sudah ketahui bahwa jika Allah mematikannya, maka tidak mungkin ia mematikannya sekali lagi lalu mengumpulkannya menjadi dua mayat

 

Sehingga penafsiran ayat itu menjadi :

 

Wahai Isa, sesungguhnya Akulah yang menggenggammu dari bumi dan yang mengangkatmu kepadaKu serta yang mensucikanmu dari orang-orang kafir yang mengingkari kenabianmu.

 

Syaikh Muhammad Jamil Zainu, seorang ulama Mekkah dan merupakan staff pengajar di Daarul Hadis Al Khairyah Mekkah mengatakan bahwa semua penafsiran tersebut adalah shahih, namun ia sendiri lebih condong kepada penafsiran yang terakhir, yaitu Yang menggenggam diri Isa dalam keadaan hidup didunia, bukan dalam keadaan mati dan juga bukan dalam keadaan tidur.

 

Sementara ayat : Inni mutawaffika warofi’uka Illa merupakan penjelasan tentang cara wafatnya.

 

Berbeda dengan pendapat kaum Islam Sunni, pihak yang mengklaim sebagai “Agama” Ahmadiyah, mereka mempunyai pendapat tersendiri tentang kematian Isa putra maryam ini, yaitu bahwa Isa telah benar-benar mati saat ini dengan kematian yang normal sebagai seorang manusia dan kuburannya diyakini bertempat di Srinagar, India.

 

Selain itu mereka ini juga berpendapat bahwa Isa memang benar telah disalib tetapi ia tidaklah mati pada kayu salib tersebut, dengan alasan hanya telapak tangan dan kakinya saja yang dipaku. Setelah tiga atau empat jam Isa diturunkan dari kayu salib, karenanya pastilah saat itu ia masih hidup dan disembunyikan oleh murid-muridnya dalam suatu tempat rahasia.

 

Ini merupakan suatu kehebatan Allah Taala, bahwa untuk menyelamatkan Nabi Isa telah muncul suasana gelap, timbul gempa, isteri Pilatus melihat mimpi, malam Sabat pun mendekat, yang didalamnya tidak dibenarkan bila orang-orang yang disalibkan tetap dibiarkan ditiang salib. Hati penguasa terpanggil untuk membebaskan Nabi Isa akibat mimpi yang menakutkan dari isteri Pilatus itu. Semua kejadian tersebut sengaja ditimbulkan oleh Tuhan secara serentak agar supaya nyawa Nabi Isa terselamatkan dari penyaliban.

 

Selain itu juga Nabi Isa telah ditampilkan dalam keadaan pingsan, supaya setiap orang menyangkanya mati. Dan dengan memperlihatkan tanda-tanda yang mengerikan pada waktu itu (gempa, kegelapan dsb) orang-orang Yahudi diliputi oleh sikap penakut, gentar dan khawatir akan azab. Sedangkan kegelisahan ini lain lagi, bahwa pada malam Sabat, tidak dibenarkan mayat-mayat tergantung ditiang salib.

 

Kemudian hal inipun terjadi, bahwa orang-orang Yahudi menyaksikan Nabi Isa dalam keadaan pingsan, lalu kemudian menganggap beliau telah mati. Saat itu hari gelap, gempa dan penuh ketakutan.

 

[Orang-orang] merisaukan keluarga mereka [masing-masing], ” Apa yang terjadi pada anak-anak [kami] akibat gempa dan kegelapan ini ?” Dan kecemasan ini pun menyelimuti hati-hati orang, dan jika orang ini (Nabi Isa) seorang pendusta serta kafir, sebagaimana yang kami sangkakan dalam hati, maka mengapa pada saat penyiksaannya telah timbul Tanda-tanda menakutkan ini, yang belum pernah kami saksikan sebelumnya?”

 

Oleh sebab itu hati mereka kacau, sehingga tidak mampu memastikan dengan benar, apakah Nabi Isa telah mati atau belum. Namun pada hakikatnya segenap kejadian itu merupakan “tadbir-tadbir” (upaya) Ilahiyah untuk menyelamatkan Nabi Isa.

 

Semua yang tercerita diatas terdapat dalam Matius 27:51

 

Kearah itulah ayat Al-Qur’an ini memberikan isyarah: “….. walaakin syubbiha lahum” , yakni orang- orang Yahudi tidak [berhasil] membunuh Nabi Isa, akan tetapi mereka dijerumuskan kedalam keraguan, seolah-olah mereka telah membunuh beliau. Melalui hal ini, harapan orang-orang suci terhadap karunia Allah Taala semakin meningkat bahwa dengan cara apapun yang Dia kehendaki Allah pasti menyelamatkan hamba-hambaNya.

 

Malahan ketika tubuh Nabi Isa akan diturunkan dari salib untuk diserahkan kepada Yusuf Arimatea, rusuknya (mungkin sekali pada bagian pleura) ditusuk oleh seorang serdadu Romawi dengan tombaknya , maka darah dan air mengalir keluar -suatu bukti yang pasti dan meyakinkan sekali bahwa jantungnya masih berdenyut dan hayat belum lagi meninggalkan tubuh itu….. (Yohannes 19:34).

 

Hal ini menyebabkan seorang Pujangga kenamaan H. Spencer Lewis berkata tegas dalam bukunya “the Mystical Life of Jesus”, halaman 266: “Ketika Badai sudah reda, maka obor-obor didatangkanlah, dan setelah tubuh diperiksa ternyata bahwa ia masih bernyawa. Darah yang mengalir dari luka-luka membuktikan bahwa tubuh itu masih hidup dan karena itu salib segera diturunkan dan tubuh (dari Yesus) diambil dari padanya.”

 

Oleh karena itu dapatklah diterima tanpa bantahan bahwa Nabi Isa tidak mati diatas salib. Ia sedang pingsan ketika tubuhnya diambil dari salib. Dengan rasa kasih sayang ia dirawat dan dijaga . Salep dan rempah-rempah obat sebanyak 100 kati diletakkan pada luka-lukanya, yang menyebabkan ia sembuh pada hari ketiga dan menyebabkannya mampu meninggalkan gua kuburan itu. Kemudian ia bertemu dengan murid-muridnya pada berbagai kesempatan (tentang hal ini banyak sekali kericuhan dalam cerita Bible), dan selalu berdaya upaya supaya kehadirannya ditengah-tengah mereka dan terhindarnya ia dari kematian jangan sampai diketahui oleh musuh-musuhnya.

 

Selanjutnya pihak Ahmadiyah juga mengungkapkan tentang kesaksian kain kafan Turino…….

Dalam bidang ilmiyah pada akhir-akhir ini telah diperoleh pula penemuan-penemuan yang membuktikan bahwa Nabi Isa tidak mati diatas salib. Penemuan itu diungkapkan oleh suatu Lembaga yang bernama “The International Foundation for the Holy Shroud” yang diketuai oleh seorang sarjana Katolik bernama Kurt Benna yang berkedudukan di Zurich, Swiss.

 

Keseluruhan peristiwa itu bermula pada keterangan yang iberikan Bibel (Yohannes fasal 19). Tubuh Nabi Isa diturunkan dari salib oleh dua orang yang menjadi pengikutnya secara rahasia, Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus. Kedua orang ini adalah anggota dari golongan Esseen, suatu ordo (perkumpulan rahasia) Yahudi yang sejak tahun 1947 menarik perhatian sarjana-sarjana ilmu agama, karena penemuan naskah-naskah tua pada tahun itu dan tahun-tahun berikutnya di gua-gua lembah Qamran, dekat Laut Mati. Setelah melekatkan 100 kati campurtan mur dan gaharu (myrrh and aloes) kedua pengikut Isa al-Masih itu membungkus badan guru mereka dengan suatu kain kafan. Kemudian mereka menaruh tubuh Nabi Isa dalam suatu gua.

 

Pada hari Minggu pagi berikutnya datanglah seorang murid yang lain, Petrus, untuk menengok Nabi Isa. tetapi didapatinya gua itu telah kosong dan yang terlihat hanya kain kafan itu yang tergulung. Sebagai seorang murid yang cinta kepada gurunya tentulah Petrus dan pengikut-pengikut lainnya kemudian menyimpan kain kafan itu dengan hemat dan hormat secara turun temurun.

 

Namun sayang sekali, dimana dan kapan kain kafan itu kemudian ditemukan kembali belum dapat diketahui dengan pasti. Tetapi menurut suatu riwayat kain itu ditemukan di Katakombe (gua-gua tempat persembunyian kaum Kristen dizaman permulaan di Roma).

 

Pada tahun 438 Ratu Endoxia mengirimkannya ke Konstantinopel.

Dalam tahun 1204 seorang ksatria Perancis , Otto de la Roche, melarikan kain kafan itu dari Konstantinopel ketika kota itu terancam oleh serangan tentara asing, dan membawanya ke Perancis. Sejak tahun 1578 benda itu dismpan di katedral Turin, Italia. Pada waktu-waktu tertentu kain itu dikeluarkan dari simpanannya dan dipertunjukkan kepada umum.

 

Pertunjukan yang terakhir dilakukan pada bulan September dan awal Oktober 1978, yang menurut taksiran dikunjungi oleh tidak kurang tiga juta penonton (newsweek, 18 September 1978). Kain yang berukuran panjang 4.36 meter dan lebar 1.10 meter itu terbikin dari kain lenan yang sejenis dengan tenunan Pompei, sebuah kota yang tertutup oleh abu letusan gunungan Vesuvius.

 

Dalam tahun 1898 Secondo Pia memotret kain kafan itu. Hasil potret itu sungguh mencengangkannya. Karena setelah dicuci maka potret memperlihatkan bekas muka dan badan. Setelah foto diperbesar dan diperiksa lebih seksama ternyata bahwa bekas muka dan badan, dan tetesan-tetesan yang terdapat juga pada kain kafan itu , berasal dari Isa al Masih. Terdapatnya bekas-bekas itu dimungkinkan oleh dipakainya gaharu (aloes) yang efeknya sama dengan efek zat kimia fotografis dalam zaman modern ini.

 

Atas perintah Gereja Katolik seorang pemotret lain, Guiseppe Enrie, melakukan pemotretan pula dalam tahun 1933. Hasil potret Enrie membenarkan foto Pia. Keaslian foto-foto Enrie dikuatkan oleh kesaksian lima orang ahli potret dan seorang pengacara Italia, G. Turbulio. Mengenai hasil potret itu sendiri Enrie berkata bahwa “kesan-kesan itu adalah reproduksi tulen dari bekas bagian-bagian badan manusia.”

 

Paus Pius XI sendiri berkata pada tanggal 5 september 1936 tentang keaslian bekas-bekas badan manusia dalam kain kafan itu: “Non e operaumana”….(Ini bukanlah pekerjaan tangan manusia.).

 

Dari hasil-hasil pemotretan itu diketahui beberapa kenyataan yang mempesonakan. pada foto bekas kepala terlihat 12 tetesan darah hidup yang keluar dari luka-luka bekas mahkota duri yang dipakaikan pada kepala Isa al Masih. Dan juga terlihat 16 tetesan darah bekas paku di tangan dan dikaki, dan bekas luka disisi dada yang disebabkan tusukan tombak. Tusukan tombak itu ternyata tidak mengenai jantung dan paru-paru, mesikipun ada tembusan pada sisi kanan sampai kedada kiri. pada foto bekas muka dan kepala terlihat pipi kanan yang bengkak dan rambut keriting yang panjangnya sampai kebahu, suatu mode potongan rambut yang lazim pada kaum yahudi dimasa Isa al Masih.

 

Dengan adanya darah mengalir pada kain kafan dan kenyataan ini menunjukkan bahwa jantung tidak terkena tusukan tombak. Adanya darah mengalir membasahi kain kafan itu merupakan kesimpulan yang tak terbantah bahwa jantung Isa al Masih masih berdenyut setelah ia diturunkan dari salib dan ketika tubuh itu dibungkus dengan kain kafan. Dan kesimpulan logis dari semua itu ialah: Isa al Masih tidak mati diatas Salib !

 

Kesimpulan ini itu disetujui pula oleh sorang mahaguru Univesitas Turin, Prof. Yudicia -Cordiglia, yang berkata tentang noda-noda darah itu bahwa”….. sifat darah itu menarik hati sekali, karena dari luka-luka dikepala yang jelas disebabkan oleh mahkota duri, kita dapat melihat bahwa ia adalah darah dari seorang yang hidup, karena kita melihat daerah (area) disekitar noda-noda darah gelap yang timbul dari serum darah yang hanya terjadi pada orang hidup”.

 

Kesimpulan ini dengan 28 foto bukti disampaikan oleh Lembaga yang dipimpin Kurt Berna itu kepada Pimpinan Katolik di Roma pada tanggal 28 juli 1969. Disamping itu dikirim pula berkas-berkas dokumen tentang penemuan itu kepada pers diseluruh dunia, yang menyiarkannya dengan luas. Kantor berita Pers Luar Negeri juga membuat komentar tentang berita itu.

 

Bagaimana tanggapan pimpinan tertinggi Gereja Katolik tentang kain kafan dan noda-noda darah itu, dapat dilihat dari suatu laporan yang diberikan oleh seorang anggota Komisi Rahasia Vatikan yang memeriksa kain kafan itu pada tanggal 16-18 Juni 1969.

 

“Christiani colleghi, “Komisi setuju dengan bulat bahwa kain kafan Suci betul-betul adalah kain kafan Tuhan Jesus Kristus kita. Persoalan mengenai usianya yang sebenarnya masih belum disepakati, tetapi tak dapat dibantah lagi bahwa kain kafan itu berasal dari masa Kristus. Gambar-gambar foto berwarna yang memperlihatkan reproduksi yang baik sekali tentang noda-noda darah, mengingat jangka waktu yang panjang itu, akan diumumkan dalam waktu dekat dengan persetujuan Sri Paus Paulus VI. ……..”Voglia Gradite, chiarmi colleghi, il mio piu deferente saluto, Sottoscrittore”(bulletin International Foundation for the Holy Shroud, 21 Maret 1970).

 

Itulah merupakan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh pihak Ahmadiyah yang menyangkal kematian Isa sekaligus juga menyangkal bahwa Isa tidak disalib.

 

Kaum Ahmadiyah melakukan penterjemahan surah 4 ayat 157 sebagai berikut :

 

Dan karena ucapan mereka: “Kami telah membunuh Al Masih Isa putera Maryam, utusan Allah”, padahal tidaklah mereka membunuhnya (….sampai mati) dan tidaklah pula mereka menyalibnya (…sampai mati), melainkan disamarkan (…keadaanya itu) kepada mereka, dan mereka yang berselisih tentang itu berada dalam keadaan sangsi tentang itu; mereka tidak punya pengetahuan tentang itu dan hanya mengikuti suatu dugaan, dan (dugaan) itu tidak diobah mereka menjadi kepastian.

(QS: An-Nisaa 157).

 

Menurut pemahaman mereka ada tiga buah kata yang terdapat dalam ayat diatas yang perlu mendapat pembahasan sehubungan dengan penyaliban Isa ini.

 

1.Ma salabuhu (juga tidak meyalibnya). Akar kata “salaba” berarti ia membakar suatu barang, memeras sumsum (dari tulang), ia mematikan seseorang dengan cara yang sudah diketahui betul. Dalam hal ini yang diengkari bukan hanya memakukan seseorang pada salib, tetapi juga pelaksanaan hukuman yang lengkap termasuk mematahkan tulang-tulang dan kematian. 2.Syubbiha lahum (ia dibuat kelihatan serupa dengan seorang yang disalib bagi mereka …. jadi disini penyaliban yang diserupakan… bukan orang lain yang diserupakan bagi mereka).

 

Syabbaha berarti berarti : ia membuat (-nya atau itu) serupa dengan (ia atau itu).

Syubbiha ‘alaihil amr..berarti hal itu dibuat samar, kabur dan meragukan baginya. (Lane dan Aqrab).

 

Alasan yang terutama ialah bahwa selain Isa tidak ada orang yang disebutkan (disini atau ditempat lain) dan bentuk pasif hanya hanya digunakan bila konteks sudah nyata sekali, siapa yang yang dimaksudkan sebagai subyek yang tidak disebutkan.

 

3.Mengenai perkataan raf’ kita jumpai arti berikut ini dalam kamus, rafa’a berarti : ia mengangkat atau menaikkan (barang ataiu orang), ia mengangkat (seseorang) dalm martabat, kehormatan , kedudujkan atau kemuliaan (Aqrab &Mufradat fil Gharib al Qur’an oleh Ar-Raghib).

 

Perbedaan pokok dini adalah dalam memahami kata syubbiha lahum ini….diserupakan bagi mereka… Apa yang diserupakan atau disamarkan bagi mereka ?

 

Karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam , Rasul Allah, pada hal mereka tidak membunuhnya (….ma qataluhu) , dan tidak pula menyalibnya (….wama shalabuhu ), tetapi diserupakan bagi mereka (…. walakin syubiha lahum). Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu……….dst…… sampai ujung ayat……tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya (…arrafa’ahu ) . Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana………..

(QS: An-Nisaa ayat 156, 157 dan 158).

 

Siapa yang dimaksud dengan “syubbiha lahum” disini? Dan inilah jawab mereka. Tentu saja terpulang kepada kepada subjek dari ayat ini yaitu penyaliban atau orang yang disalib. Jadi yang disamarkan itu adalah orang yang disalib itu, bukan orang lain (Yudas….) yang diserupakan dengan Isa kemudian disalib. Jadi pemahaman orang lain yang diserupakan dengan Isa adalah lari dari subjek yang dibicarakan karena subjek yang dibicarakan pada ayat ini adalah Isa.

 

Jadi masih menurut pendapat kaum Ahmadiyah ini adalah tepat untuk dipahamkan sebagai ISA YANG DISALIB ITU YANG DISERUPAKAN. Apanya yang disamarkan bagi mereka? Tentu saja orang yang disalib itu yang disamarkan. Mereka melihat orang yang disalib itu (yakni Isa) serupa mati diatas salib…. pada hal tidak mati… hanya seperti mati disalib. Jadi ketika ia diturunkan dari salib tidaklah mati hanya serupa orang mati saja.

 

Sekarang, mari kita beralih pula pada pendapat umat Kristen, mengenai kisah seputar penyaliban Yesus yang dianggap oleh mereka sebagai Tuhan atau putra Tuhan :

 

Petrus mencatat: ketika Dia (yaitu Yesus) dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam; tetapi Ia menyerahkanNya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. (1 Petrus 2:23-24)

 

Tidak hanya itu, Ia juga diejek, ditampar, Ia diludahi, Ia ditendang, Ia dicambuk dengan cemeti yang ujungnya ada paku yang tajam, sehingga kulit tubuhNya tersayat-sayat. Tubuh Yesus menjadi begitu lemah, dan menurut tradisi pada zaman itu, orang yang disalibkan itu harus lagi membawa salibnya sendiri ke atas gunung; yang biasanya di luar kota.

 

Pada zaman itu telah dikenal ada tiga macam salib yang biasanya dipergunakan untuk menghukum para penjahat, yang pertama Salib yang berbentuk T, yang kedua salib yang berbentu X , dan yang ke tiga salib yang bentuk U. Dan bentuk salib yang dipergunakan untuk menyalibkan Tuhan Yesus adalah berbentuk salib yang seperti kiya kenal hari ini.

 

Tubuh manusia Yesus sudah menjadi begitu lemah, Ia tidak sanggup lagi membawa kayu salib itu; sehingga seseorang yang bernama Simon dari Kirene itu membantu mengangkat salib Yesus. Sesudah berada di atas bukit Golgota atau bukit Tengkorak, salib itu diturunkan dan dibaringkan di atas tanah, orang yang akan disalibkan juga dibaringkan disitu.

 

Lalu kedua tangannya dipaku, juga kaikNya. Kemudian pelan-pelan salib itu diangkat naik dan tegak. Seluruh berat badan manusia itu sesuai dengan gaya gravitasi bumi akan tertarik turun ke bawah. Itu berarti lubang paku di tangan yang itu akan makin lebar, makin lebar, sekarang hanya tinggal tulang yang menyangkut dipaku. Demikian juga lubang paku dikaki, berat tubuh menekan turun memaksa lubang paku di kaki Yesus makin melebar.

 

Darah menetes ke luar, itu juga berarti tekanan darahNya semakin rendah. Peredaran oksigen dalam tubuh juga semakin berkurang, getaran urat nadi semakin cepat dan pernafasan terpacu lebih cepat dan dalam. Sungguh sengsara. Tanpa obat bius (Matius 27:34).

 

Sakit sekali, dan celakanya pada saat-saat demikian orang yang disalib itu tidak akan cepat mati, justru dengan lambatnya mereka mati; itu berarti memperbanyak rasa sakit. Namun di saat-saat demikian, Yesus masih mengucapkan kata-kata yang penuh makna. Kata-kata yang dikenal sebagai tujuh perkataan Agung Yesus yang terakhir di atas kayu salib:

 

1.Ya, Bapa Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

2.Hari ini juga, engkau bersama-sama dengan Aku di taman Firdaus.

3.Lihatlah ibumu, lihatlah anakmu

4.Tuhanku, Tuhanku, Mengapa Engkau meninggalkan Aku.

5.Aku haus

6.Sudah Genap (Tetelestai)

7.Kedalam TanganMu, Ku serahkan nyawaKu

 

Biasanya orang yang disalibkan itu kakinya dipatahkan terlebih dahulu, supaya mempercepat kematiannya, dan ini diperlakukan buat kedua penjahat yang ada di samping kanan kiri Yesus. Sedangkan kaki Yesus tidak perlu sampai dipatahkan, karena Yesus mati lebih dahulu dari kebiasaan waktu yang diperhitungkan. Sehingga membuat para perajurit itu tidak percaya. Maka untuk membuktikan bahwa Yesus benar-benar mati maka, lambung Yesus ditikam dengan tombak. Inilah peristiwa singkat penyaliban Tuhan Yesus.

 

Alkitab mencatat (Matius 27:51) “Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah”. Ini menunjukkan perdamaian. Sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, hubungan Allah dengan manusia terputus, tetapi dengan kematian Yesus Kristus; Allah memperdamaikan umat manusia semua. Tidak ada penggantiNya, hanya Yesus saja yang sanggup menciptakan perdamaian itu.

 

Secara perhitungan dunia Yesus itu kalah. Kenapa, karena ia harus mati. Bagi dunia orang yang mati sudah tidak berguna lagi, tetapi ingat bahwa umat Kristen tidak menyembah pada Tuhan Yesus yang mati saja; tetapi pada hari ke tiga Ia bangkit. Itulah sebabnya salib yang benar adalah salib yang tidak ada Tuhan Yesusnya, karena Yesus sudah bangkit tidak tergantung terus menerus di kayu salib.

 

Orang-orang disekitar boleh mengejek Yesus, karena ketidaktahuan mereka. Kalimat yang diucapkan cukup pedih “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel, baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya. Ia menaruh harapan Nya pada Allah; baik;lah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepadaNya ! Karena Ia telah berkata Aku adalah Anak Allah.” (Matius 27:42-43).

 

Di taman Getsemani, merupakan saat-saat Tuhan Yesus bergumul dengan masalah menuruti perintah Allah atau kemauan sendiri. Ia harus membuang jauh-jauh “kedaginganNya”. Tiga kali berturut-turut Yesus berdoa pada malam itu.

 

Dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhNya, Yesus datan pada Tuhan Allah. Dia mengatakan “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).

 

Untuk kedua kalinya Yesus masuk lagi ke dalam taman Getsemani untuk berdoa “Ya BapaKu, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!” (Matius 26:42).

 

Doa yang ketiga kalinya, percis sama dengan yang kedua. “Ya BapaKu, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila aku meminumnya, jadilah kehendakMu!”, satu doa penyerahan diri Yesus.

 

Benar Yesus mati di atas kayu salib. Dan ini dibuktikan oleh tombak yang menusuk perutNya. Ia benar-benar mati. Ia bukan pingsan. Ia tidak lari turun dari kayu salib. Sekali lagi Yesus mati. seakan-akan ini merupakan kekalahan bukan?.

 

Tetapi bagi umat Kristen, ini justru suatu kemenangan, karena Yesus berhasil taat sepenuhnya kepada Allah. Memang di dunia ini, bagi orang yang sepenuhnya mau menjalani perintah Allah, ia seperti orang yang bodoh. Orang yang dihina. Mengapa? Karena dunia menawarkan keinginan dunia. Seakan-akan lebih nikmat, lebih hebat; tetapi sifatnya semntara.

 

Kematian merupakan maut. Itulah hukuman Tuhan akibat dosa manusia. Namun kematian Tuhan Yesus bukan merupakan dosanya, tetapi justru Ia menanggung segala dosa manusia. Yesus telah dipilih sebelum dunia dijadikan, untuk menggantikan kita dihukum.

 

1 Petrus 1:18-20 “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir”.

 

Yesus yang bangkit pada hari yang ke tiga dan naik kelangit, duduk bertahta dikerajaan bersama-sama Allah. Inilah yang disebut dengan maut menuju keselamatan itu. Yesus mati karena dosa manusia. Memang kebangkitan Tuhan Yesus menjadi perdebatan terus sejak zaman Perjanjian Baru. Pada jaman Paulus juga ada perdebatan tentang masalah kebangkitan ini; ada orang Farisi yang percaya kebangkitan lalu ada orang Saduki yang justru tidak percaya akan kebangkitan.

 

Sampai hari ini kebangkitan Yesus itu diperdebatkan, apalagi ketika sebagai orang awam hendak membuktikannya dihadapan orang-orang yang belum percaya. Ada tiga alasan yang cukup masuk akal, yang membuktikan bahwa Yesus yang dipercayai itu benar-benar bangkit dari kubur.

 

Seorang penulis yang bernama Morrison menemukan bahwa Kristus Yesus terang-terangan dibaringkan dalam kubur pada hari Jumat, tetapi pada hari Minggu pagi jenazahNya telah hilang. Seandainya Ia tidak bagkit dari kubur, maka ada orang yang telah mengambil jenazah itu. Dalam hal ini ada tiga kelompok orang yang pantas dicurigai yang kemungkinan besar telah mengambil jenazah Tuhan Yesus.

 

Orang-orang tersebut adalah :

1.Orang Romawi

2.OrangYahudi dan

3.Murid-murid Yesus sendiri.

 

Namun logikanya dapat dilihat bahwa :

 

1.Orang-orang Romawi tidak mempunyai alasan untuk mencuri jenazah itu, karena mereka ingin menjaga ketenteraman di Palestina. Maksud mereka tidak akan tercapai bila mereka mencuri jenazah Yesus dari kubur. 2.Orang Yahudi juga tidak mungkin mengambil jenazah Yesus, karena hal yang paling mereka tidak inginkan adalah pernyataan tentang kebangkitan Tuhan Yesus. Menurut Matius 27 mereka yang meminta supaya kubur Tuhan Yesus dikawal. 3.Murid-murid Yesus juga tidak mempunyai alasan mencuri jenazah Tuhan Yesus lalu mengatakannya Yesus sudah bangkit. Seandainya mereka melakukannya maka mereka telah mengabarkan hal yang penuh kebohongan, dan sia-sialah mereka yang karena kabar kebohongan ini harus mati.

 

Penjelasan yang paling masuk akal bagi orang Kristen adalah, Yesus Kristus benar-benar telah bangkit dari kubur. Memang murid-murid Tuhan Yesus tidak sepandai para ahli yang ada pada abad 20, tetapi jika hanya untuk membedakan anatara hidup dan mati mereka tentu bisa.

 

(2 Petrus 1:16) “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa-kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya”

 

Kebangkitan inilah kemenangan besar. Sehingga bagi yang percaya kepadaNya juga menikmati suatu kemenangan khususnya keselamatan. Tanpa darah yang dicurahkan di atas kayu salib; tidak ada keselamatan. Demikianlah pendapat dari umat Kristen terhadap kematian Yesus the christos yang akhirnya hidup kembali pada hari ketiga kematiannya.

 

Tapi benarkah pendapat yang demikian itu ?

Benarkah pandangan kaum Islam Mainstream, Ahmadiyah atau Kristen itu ?

 

Mari saya bawa anda pada tahap lebih lanjut dalam artikel : Nubuatan Junus tidak terbukti ! (Kefatalan Ahmadiyah dan Kristen)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nubuatan Yunus tidak terbukti !

(Kefatalan Ahmadiyah dan Kristen)

Oleh : Armansyah

 

Telah kita bahas dengan baik permasalahan yang melingkupi sekitar penyaliban Isa alias Yesus the christos, dari berbagai sudut pandang, baik itu Islam Sunni, Ahmadiyah maupun dari kalangan Kristen sendiri.

 

Semua pihak tampaknya memiliki dasar yang cukup kuat, dalam hal ini tentu saja penilaian saya tidak melingkupi kepercayaan terhadap Yesus yang dianut oleh kaum Kristen.

Bagi saya, mereka tidak memiliki dasar argumen yang cukup kuat untuk dipertahankan dan untuk dinilai.

 

Sekarang saya akan menyoroti terlebih dahulu keyakinan dari kaum sunni yang berpendapat bahwa yang disalib itu adalah orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa as, dan dalam hal ini orang tersebut diyakini sebagai Yudas Iskariot, seorang sahabat yang akhirnya berbalik menjadi musuh setelah dia berkihianat kepada Nabi Isa melalui suatu kerja sama dengan pihak Romawi.

 

Pengalihan rupa itu sendiri masih menurut mereka terjadi pada saat Yudas mencium Nabi Isa, sesuai dengan apa yang termuat didalam Bible sendiri :

 

Matius 26:48

Kini dia, yang mengkhianatinya, memberi tanda pada mereka dengan mengatakan, siapa saja yang nanti saya cium, itulah orangnya, tangkaplah dia.

 

Matius 26:49

Dan dengan begitu ia datang pada Jesus dan mengatakan, “Hail Master !”, lalu menciumnya.”

 

Matius 27:3

Kemudian Judas yang telah mengkhianatinya, ketika dia melihat bahwa dia disiksa, menyesali dirinya dan membawa tiga puluh potong perak tadi kepada pendeta kepala dan pemuka-pemuka.

 

Matius 27:5

Dan dia melemparkan potongan-potongan perak itu dalam kelenteng lalu berangkat dan pergi dan menggantung dirinya.”

 

Dari keterangan Bible diatas ini diduga bahwa perpindahan rupa Jesus dengan Judas Iskariot berlaku sewaktu mereka berciuman. Lalu tentara-tentara itu menangkap Judas yang sudah berupa Jesus.

Sementara Jesus sendiri yang waktu itu berupa Judas datang ke klenteng melemparkan uang perak yang diterima Judas sebagai upah menangkap Jesus, dan kala itu orang berpendapat bahwa Judas telah menyesali perbuatannya sendiri lalu pergi menggantung diri.

 

Padahal Judas sebenarnya adalah yang ditangkap para tentara itu yang kemudian menyalibnya. Itulah sebabnya Judas yang disalib itu menyebut Maryam dengan “Perempuan” saja, bukan menurut kebiasaan seorang anak yang sedang menghadapi kematian dan memohon restu ibunya.

 

Yahya 19:26

Ketika Jesus begitu melihat ibunya dan pengikut-pengikut dekat itu, yaitu yang dia cintai, dia berkata pada ibunya, Perempuan !, lihatlah anakmu !”

 

Pendapat yang demikian ini dibantah dengan amat keras oleh pihak Ahmadiyah, sebagaimana yang telah kita tuturkan panjang lebar dalam artikel Jesus tidak mati !, mereka berpendapat bahwa yang disalib itulah Isa sebenarnya dan apa yang dimaksud dengan kata “Disamarkan” adalah disamarkannya kematian Isa sewaktu berada diatas kayu salib.

 

Alasan mereka ini jika kita tinjau dari sisi ilmu pengetahuan memang cukup ilmiah, apalagi dengan banyaknya bukti-bukti yang akhirnya ditemukan kemudian hari, seperti kain kafan, bercak darah dan lain sebagainya.

 

Cuma sekarang, saya ingin mengajukan pertanyaan sedemikian rupa kepada mereka ini.

Adakah mereka yakin bahwa darah yang ada pada kain kafan tersebut adalah benar-benar darah Yesus ?

Darimana keyakinan mereka bahwa itu adalah darah Yesus ?

Pernahkah Yesus dulunya periksa darah dan menyatakan dirinya mempunyai golongan darah tertentu ?

 

Sekarang begini saja biar lebih simple dan tidak menjelimet, dalam pemahaman umum (sunni), Isa telah diserupakan dengan orang lain, dan jika dia sudah diserupakan seperti itu, maka tentulah semua keadaan dari orang tiruan ini mestilah sama persis, untuk menyatakan bahwa itu merupakan darah Yesus dan kain kafan Yesus masih sangat diragukan, mengingat jika kita ikuti pemandangan kaum sunni, Isa telah dialihkan wajahnya kepada Yudas.

 

Bukankah semua itu berarti kain kafan yang dipakai oleh Yudas dan bukan Yesus !

Juga, semua bukti darah dan lain sebagainya itu adalah kepunyaan Judas, bukan Yesus.

 

Dengan begitu maka batallah pengklaiman yang dilakukan oleh pihak Ahmadiyah dengan segala bukti yang ada itu. Saya sendiri pernah berdebat dengan seorang tokoh misionaris Ahmadiyah yang sangat aktif menyebarkan ajarannya melalui dunia Internet, namun dari berbagai persoalan yang dijawabnya tidak jua mendapatkan jawaban yang memuaskan.

 

Semua jawaban dan argumen yang dikeluarkan olehnya rancu dan terkadang keluar dari pokok permasalahan yang utama dan menjadikannya suatu hal yang berputar-putar dalam setiap perdiskusian.

 

Pihak Ahmadiyah, begitu juga dengan pihak Kristen, mengatakan bahwa Yesus memang tersalib diatas kayu salib itu, dan Yesus pun mengalami apa yang telah dinubuatkan oleh Nabi Yunus sebelumnya, hanya bedanya, umat Kristen meyakini bahwa Yesus mati dan bangkit kembali, umat Ahmadiyah meyakini bahwa Yesus hanya sekedar pingsan saja.

 

Didalam Matius 12:40, ada tertulis bahwa seperti halnya Yunus berada 3 hari, 3 malam di dalam perut ikan, demikian pula Anak Manusia (Yesus) akan berada tiga hari hari, tiga malam dalam perut bumi.

 

Sekarang jelaslah bahwa Yunus tidak mati di dalam perut ikan, dan kalaupun terjadi keadaan yang paling parah, itu hanyalah pingsan dan tidak sadarkan diri.

 

Dan Kitab-Kitab Suci Tuhan memberikan kesaksian bahwa dengan karunia Ilahi, Nabi Yunus a.s. di dalam perut ikan tetap hidup , dan dalam keadaan hidup pula beliau keluar sehingga akhirnya kaum beliau menerima beliau.

 

Maka jika Nabi Isa a.s. atau Yesus telah mati dalam perut bumi, sementara Nabi Yunus masih dalam keadaan hidup dalam perut ikan, maka apa pula kesamaan antara kedua tanda itu? Apakah bisa diambil adanya persamaan antara mati dengan yang hidup dan antara yang hidup dengan yang mati ?

 

Dalam hal ini umat Kristen itu juga meyakini bahwa Nabi Yunus masuk kedalam perut ikan dalam keadaan “hidup”, tinggal disana dalam keadaan “masih hidup” dan keluar dari perut ikan juga dalam keadaan “masih hidup.”

 

“Yunus tinggal dalam perut ikan tiga hari tiga malam lamanya. Berdo’alah Yunus kepada TUHAN Allahnya, dari perut ikan hiu.”

(Yunus 1:17 dan 2:1)

 

Dengan demikian maka tidak diragukan lagi maka Nabi Isa ketika disalib juga dalam keadaan”hidup”, diturunkan dari salib juga “masih hidup” kendatipun tidak sadarkan diri, tinggal dalam gua kuburan dalam keadaan “masih hidup” dan keluar dari gua kuburan juga dalam keadaan “hidup”.

 

“Jawabannya kepada mereka : Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal didalam perut tiga hari tiga malam, demikian juga Anak manusia akan tinggal dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”

(Matius 12:39,40)

 

Sekiranya ia mati diatas salib dan diturunkan dalam keadaan mati, kemudian dimasukkan dalam gua kuburan sudah jadi jenazah, lalu keluar kuburan setelah hidup kembali dan bangkit dari kematian sesungguhnya, betapa mungkin “tanda” ini menyamai tanda yang diberikan kepada Nabi Yunus itu? Apakah orang-orang Kristen bisa menerima kepercayaan bahwa Nabi Yunus itu mati dalam perut ikan dan kemudian “hidup” kembali setelah dimuntahkan oleh ikan itu? Ini adalah suatu teori yang hampir-hampir sama sekali tidak bisa diterima oleh orang-orang Kristen !

 

Kini timbul pertanyaan: Kapankah Almasih disalib ?

Seluruh umat Kristen dalam hal ini akan mengatakan : “Pada hari Jum’at !”

Peristiwa inilah yang menyebabkan timbulnya pesta peringatan yang disebut “Good Friday” (Hari Jumat yang baik). Seluruh umat Kristen didunia mengadakan hari besar resmi pada hari “Jumat” yang mendahului hari raya Paskah.

 

Tapi benarkah Yesus telah dibunuh diatas kayu salib bagi umat Kristen ataupun Yesus disalib namun pingsan sesuai dengan keyakinan kaum Ahmadiyah itu terjadi pada hari Jumat 1950 tahun yang lalu ?

 

Seperti yang kita ketahui, Yesus dikubur sore hari Jumat menjelang matahari terbenam, dan sudah tidak diketemukan lagi mayatnya dalam kubur pada pagi Ahad sebelum matahari terbit.

 

Dengan demikian jelaslah, Yesus tinggal didalam kuburan bukan tiga hari tiga malam sebagaimana keyakinan mereka selama ini, tetapi hanya sehari dua malam ! Silahkan anda lihat pada tabel dibawah ini :

 

Ingat, Maria magdalena pergi kekuburan Yesus menjelang fajar menyingsing pagi hari ahad, dan Yesus sudah tidak ada lagi dikuburannya.

 

Ada sebagian pihak yang mengatakan bahwa Yesus telah memenuhi nubuatan dari Yunus, jika dia disalib pada hari Rabu dan bukan Jum’at, namun dengan begitu ia akan berhadapan dengan kitab sucinya sendiri, The Bible.

 

Nyatanya, kedua belah pihak, baik itu Kristen ataupun Ahmadiyah yang berusaha mengadakan pembenaran terhadap penyaliban diri Yesus alias Isa Almasih Putra Maryam, Nabi dan Rasul Allah berdasarkan data-data yang ada pada Bible, telah terjebak didalam pemahaman mereka sendiri.

 

Telah terbukti sudah, bahwa nubuatan Nabi Yunus didalam Bible adalah Gagal !

Bertambah benarlah firman Allah yang termaktub didalam AlQur’an :

 

Tidak ada kekuasaan bagi seorang Rasul mendatangkan suatu petunjuk melainkan dengan izin Allah.

Bagi tiap-tiap ketentuan itu, ada ketetapannya.

(QS. 13:38)

 

Sebagaimana yang telah saya tuliskan sebelumnya, dalam masalah beragama, saya mencoba untuk tidak akan membeda-bedakan berbagai aliran dan mahdzab yang ada didalam Islam, namun juga bukan berarti saya akan mendiamkan saja apa yang menurut saya hal yang diyakini mereka itu salah dengan berlandaskan kitab suci AlQur’an sebagai sumber utama.

 

Lalu bagaimanakah pendapat saya sendiri dalam hal ini ?

 

Apa yang terjadi atas diri Isa putra Maryam tidak perlu diherankan, selama ini Allah telah melimpahkan Rahmat, Karunia dan Mukjizat kepada beliau, maka apakah sulitnya bagi Allah untuk mengadakan kembali keajaiban-keajaiban ketika peristiwa penyaliban itu ?

 

Saya mengacu kepada keterangan yang diberikan oleh AlQur’an itu sendiri, bahwa Nabi Isa tidaklah mati terbunuh dalam peristiwa dibukit Golgotta seperti paham Kristen dan Nabi Isa juga tidak tersalib dikayu salib sebagaimana keyakinan kaum Ahmadiyah.

 

Saya tetap mengartikan ayat An nisaa’ ayat 157 sesuai dengan apa adanya, tanpa harus menggunakan kata-kata penjelas sebagaimana yang biasa kita jumpai dalam tafsir AlQur’an yang beredar.

 

Dan perkataan mereka:”Kami telah membunuh AlMasih Isa putera Maryam, utusan Allah”, padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi dia disamarkan bagi mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya.

(QS. 4:157)

 

Lalu mengenai pengertian ayat syubbiha lahum dia disamarkan bagi mereka, saya tetap menganggap bahwa Nabi Isa telah disamarkan dengan seseorang lainnya sehingga menyerupai orang tersebut, dalam hal ini saya tidak menunjuk bahwa orang tersebut mesti Judas Iskariot sebagai sahabat yang berkhianat, dia bisa siapa saja yang berada dalam lokasi kejadian pada waktu itu.

 

Ingat, didalam Bible yang ada sekarang dikisahkan bahwa pada waktu kisah penangkapan terjadi, Isa dikepung oleh banyak tentara termasuk oleh Judas Iskariot sendiri, dan dalam Matius 26:49 malah dijelaskan bahwa Judas sempat mencium Nabi Isa, namun cerita yang serupa ini tidak kita jumpai dalam Injil Jahja (Johanes) pasal 18 yang meliputi ayat 1 s.d 12, meskipun mereka mengisahkan kejadian yang sama.

 

Pada Injil Jahja ini malah akan kita jumpai satu kejanggalan cerita, baiklah akan kita mulai saja dari ayat ke-3 sebagai suatu cerita awal penangkapan.

 

Maka Judas membawa suatu pasukan laskar beserta dengan segala hamba kepala-kepala imam dan orang Parisi, lalu datang kesitu dengan tanglung dan suluh serta senjata. Maka Jesus sedang mengetahui segala perkara yang akan berlaku atasnya, keluarlah serta berkata kepada mereka itu: “Siapakah yang kalian cari ?”

 

Maka sahut mereka itu kepadanya: ‘Jesus orang Nazaret.’ Maka kata Jesus kepada mereka itu: ‘Akulah dia!’, Maka Judas yang hendak menyerahkan dia, ada berdiri bersama-sama dengan mereka.

 

Apabila dikatakan oleh Jesus: ‘Akulah dia!’ maka mundurlah mereka itu serta rebah ketanah.

Maka Jesus bertanya pula kepada mereka itu: ‘Siapakah yang kamu cari ?”

Maka jawab mereka itu: “Jesus orang Nazaret itu.”

Maka sahut Jesus: “Aku sudah mengatakan kepadamu, akulah dia!”

(Jahja 18:3-8)

 

Sekarang coba anda bandingkan dengan keterangan dari Matius pasal 26 ayat 47 hingga 50 yang akan saya kutip dibawah ini:

 

Maka tengah ia lagi berkata-kata, datanglah Judas, seorang daripada keduabelas murid itu, dan besertanya itu amat banyak orang berpedang dan berbelantan, yang disuruh oleh kepala imam dan orang tua-tua kaum itu.

 

Kini dia, yang mengkhianatinya, memberi tanda pada mereka dengan mengatakan: “Siapa saja yang nanti saya cium, itulah orangnya, tangkaplah dia !”. Dan dengan begitu ia datang pada Jesus dan mengatakan, “Hail Master !”, lalu menciumnya.”

 

Maka kata Jesus kepadanya: “Hai sahabat, lakukanlah maksud kedatangan engkau ini.” Kemudian mereka itupun menghampirinya sambil mendatangkan tangan keatasnya lalu menangkapnya.

 

Saya persilahkan anda sendiri yang mencari perbedaan diantara kisah yang dimuat oleh kedua Injil tersebut.

Dan jika anda mengatakan bahwa keduanya saling melengkapi, maka silahkan juga coba anda cocok-cocokkan kedua kisah diatas itu.

 

Dimana disatu pihak dikatakan bahwa Judas mencium gurunya dan mengisyaratkan kepada tentara bahwa itulah Jesus, maka disisi yang lainnya dikatakan telah terjadi dialog tanya jawab mengenai keberadaan diri Jesus itu sendiri, sementara Judas sendiri yang nyata-nyata telah lama bergaul dengan Jesus dan berada diantara tentara itu tidak dapat mengenali Jesus yang berada dihadapannya dan berkata bahwa dia adalah Jesus.

 

Yang manakah cerita yang harus dipegang dari kedua Injil diatas ?

Apakah Judas sudah sedemikian tolol dan linglungnya hingga dia sendiri tidak dapat mengenali sosok Jesus yang hendak ditangkapnya, sehingga justru orang yang akan ditangkap itu harus berulang kali mengatakan bahwa dialah yang mereka cari itu ?

 

Ataukah harus mempercayai kisah yang termuat dalam Matius yang mengatakan bahwa Judas dapat mengenali Jesus dan dengan melakukan penciuman adalah sebagai isyarat kepada tentara bahwa orang itulah yang mereka cari ?

 

Injil Markus 14:43 hingga 14:46 redaksi ceritanya hampir sama dengan Matius 26:47-50 namun akan tetap saja berbeda dengan cerita yang termuat dalam Injil Jahja 18:3-8.

 

Memang dalam hal ini pihak Islam yang sering disebut oleh kaum Ahmadiyah sebagai Islam Mainstream terlalu mudah mengatakan bahwa orang yang disalib dan diserupakan terhadap Nabi Isa itu adalah Judas sang pengkhianat. Sementara kisah yang kita dapati dalam Bible itu sendiri masih saling kontradiksi satu dengan yang lainnya.

 

Juga pihak Ahmadiyah yang mengklaim bahwa Jesus itulah yang disalib, mereka tidak kurang cerobohnya dalam berpendapat. Memang mereka banyak melakukan pendekatan terhadap kaum Kristen dengan mengandalkan cerita yang ada pada Bible itu sendiri, tapi mereka rupanya kurang memperhatikan adanya kejanggalan-kejanggalan yang termuat didalam kisah penyaliban itu.

 

Beberapa kejanggalan itu adalah antara lain :

 

1.Pada Matius 27:46, Markus 15:34 dikatakan bahwa Jesus telah berteriak dengan lantangnya kepada Allah Swt atas penyaliban dan siksaan yang telah dilakukan oleh kaum Israel itu.

 

 

 

 

 

Markus 15:34

Maka pada pukul tiga, berserulah Jesus dengan nyaring suaranya (mungkin Tuhan budek -Pent), katanya : Eloi, Eloi, lama sabachtani ? yang diterjemahkan artinya: ‘Ya Tuhanku, ya Tuhanku, apakah sebabnya Engkau meninggalkan aku ?”

 

Matius 27:46

Maka sekira-kira pukul tiga itu berserulah Jesus dengan suara nyaring (idem -Pent), katanya: “Eli, Eli, lama sabachtani!” artinya: ‘Ya Tuhanku, ya Tuhanku, apakah sebabnya Engkau meninggalkan aku ?’

 

2.Pada Jahja 20:13 dikatakan bahwa Maria Magdalena menangis setelah kehilangan mayat Jesus dari dalam kuburan dan pada Jahja 20:14 dikatakan pula ia bertemu dengan Jesus, namun ia sendiri tidak dapat mengenalnya, apakah sebabnya ? Pantaskah Maria Magdalena ini tidak bisa mengenali Jesus yang sudah sekian lama bergaul dengannya ? 3.Kejadian yang menimpa Maria Magdalena pada Jahja 20:13 dan 14 itu terulang kembali pada Jahja 21:4-6, dimana Jesus datang kepada sahabat-sahabatnya ditasik Tiberias. 4.Pada Yahya 19:26 disebutkan bahwa Jesus telah memanggil ibunya dengan kata-kata ketus: “Perempuan ! lihatlah anakmu !”

 

Kelemahan yang saya maksudkan adalah :

Untuk point pertama, sekarang anggap sajalah bahwa yang disalib itu adalah benar Jesus alias Nabi Isa sebagaimana yang diyakini kaum Ahmadiyah, disana disebutkan Jesus telah mengeluarkan teriakan-teriakan lantang dengan kata-kata yang seolah hendak mengajukan protes kepada Tuhan atas apa yang menimpa dirinya.

 

Layakkah semua itu dilakukan oleh seorang Nabi yang hanif seperti Isa Almasih ?

Dimana letak derajat kenabian dan kerasulan beliau yang seharusnya menjadi teladan dan contoh kepada umatnya dengan melakukan perbuatan yang memalukan itu ?

 

Takutkah Jesus terhadap kematian yang bisa menimpa dirinya ?

Tidak kuatkah beliau sebagai Nabi menahan siksaan dari umat Yahudi ?

Dimana letak kedekatan beliau dengan Allah yang seharusnya menjadi penentram hatinya ?

Bukankah beliau juga sudah berdoa sewaktu di Taman Getsemani ?

Juga, bukankah Nabi Isa itu sendiri sudah diperkuat Allah dengan Ruhul Kudus ?

 

Dan Kami telah memberikan kepada ‘Isa putera Maryam beberapa keterangan yang nyata serta Kami perkuat dia dengan Ruhul kudus.

(QS. 2:253)

 

Juga, didalam AlQur’an disebutkan bahwa Nabi ‘Isa sendiri berkata :

 

Dan keselamatan atasku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku akan mati dan pada hari aku akan dibangkitkan dengan keadaan hidup. Itulah dia, Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.

(QS. 19:30-34)

 

Jadi tidak pada tempatnya Nabi ‘Isa berteriak-teriak seolah anjing geladak, wong dia sendiri sudah mengultimatumkan wahyu yang diterimanya dari Allah Swt bahwa dia akan tetap selamat, meski apapun perlakuan umatnya kepada dirinya.

 

Setiap Nabi dan Rasul Allah yang termaktub didalam AlQur’an adalah mereka-mereka yang terkenal tingkat ketakwaan, kesabaran, kepasrahan dan keyakinan yang tinggi kepada Allah Swt selaku Tuhan semesta alam yang telah mengutus mereka kepada umat.

 

Lihat contoh peristiwa Nabi Ibrahim as sebagai bapak Tauhid, yaitu sewaktu hendak dibakar karena perbuatan beliau yang menghancurkan berhala, Nabi Ibrahim tidak berteriak-teriak segala macam, karena ia yakin bahwa Allah akan menyelamatkannya.

 

Nabi Muhammad Saw yang nyaris terbunuh dalam peperangan Uhud, juga bahkan para sahabat terbaik beliau yang tidak pernah mengeluh apalagi sampai berteriak lantang terhadap apa yang telah menimpa diri mereka. Semuanya itu disebabkan tingkat ketakwaan dan kepercayaan mereka yang tinggi terhadap Allah Swt yang melahirkan jiwa-jiwa berani dan tak kenal putus asa.

 

Sesungguhnya kamu akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan sungguh, kamu akan mendengar celaan yang banyak dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, tetapi jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

(QS. 3:186)

 

Dan sesungguhnya perintah sabar itu diberikan dan ditanamkan Allah kepada semua utusanNya, agar dapat memberikan contoh terbaik kepada umat, membimbing umat kejalan yang benar.

 

Tapi dengan tindakan Nabi Isa yang berteriak diatas kayu salib ini, pelajaran apa yang dapat diambil oleh umatnya terhadap sikap Nabi dan Rasul yang mereka percayai ini ?

Apakah tingkat ketakwaan dan derajat Nabi Isa ini juga berada dibawah tingkatan Bilal yang sangat terkenal sifat kehanifannya dalam jajaran sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw ?

 

Apakah Allah itu pekak, tuli alias budeg sehingga Nabi Isa mesti berteriak lantang ?

Ingatkah anda dengan firman Allah sbb :

 

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan pelankanlah suaramu.

Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

(QS. 31:19)

 

Untuk point kedua, Maria Magdalena, yang merupakan salah seorang pengikut Nabi Isa yang bahkan dialah yang mengurapi diri Nabi Isa /Jahja 12:3 dan Lukas 7:38/, Maria Magdalena adalah salah seorang yang menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana Jesus disalib dan dikuburkan /Markus 15:40-41 dan Markus 15:47/ sekaligus juga sebagai wanita yang pernah disembuhkan oleh Jesus dari tujuh setan /Lukas 8:2/ namun secara tiba-tiba dia dinyatakan menjadi tidak dapat mengenali diri Jesus tersebut pada Jahja 20:13 dst.

 

Maka berkatalah malaikat itu kepada Maria: “Hai perempuan, apakah sebabnya engkau menangis?” Maka kata Maria kepadanya: “Sebab orang sudah mengambil Tuhan, dan hamba tiada tahu dimana orang menaruhnya. (Jahja 20:13)

 

Setelah Maria berkata demikian, berpalinglah dia, lalu nampaklah olehnya Jesus berdiri, tetapi tidak dikenalnya bahwa orang tersebut adalah Jesus. (Jahja 20:14)

 

Maka bertanyalah Jesus kepadanya: Hai perempuan, apakah sebabnya engkau menangis ?

Siapa yang engkau cari ? Lalu karena Maria menyangka bahwa orang tersebut adalah penunggu taman, menyahutlah dia kepadanya: “Tuan, jika anda membawa dia dari sini, katakanlah kepadaku, dimana tuan meletakkannya, agar aku dapat pergi mengambil dia. (Jahja 20:15)

 

Lalu berkatalah Jesus kepadanya: “Maria !”, maka berpalinglah Maria sambil menyembahnya dengan bahasa Ibrani: “Rabbuni!” artinya Guru. (Jahja 20:16)

 

Apakah tidak aneh bahwa Maria Magdalena malah menyangkakan Jesus itu sebagai penunggu taman ?

Jika memang Yesus itu sedang melakukan penyamaran agar tidak diketahui oleh musuh-musuhnya, itupun kuranglah tepat, sebab sebagai orang yang telah cukup lama mengenal Jesus, mulai dari cara bicaranya, suaranya, perawakannya, tatapan matanya dan lain sebagainya tentulah tidak akan membuat Maria Magdalena bisa ditipu begitu mudah.

 

Didalam Bible sendiri ternyata Jesus, setelah terjadi peristiwa penyaliban ternyata bisa melakukan mukjizat Menghilang dan semacam Ilmu lari cepat yang dibuktikan pada Lukas 24:36-37, Jahja 20:19, Markus 16:14 pada saat tiba-tiba Jesus berada dihadapan ibu dan sahabat-sahabatnya sehingga mereka menjadi ketakutan karena menyangka Jesus adalah hantu. Wajarkah hal yang demikian terjadi jika ia tetap berada dalam keadaannya sebelum penyaliban alias sebelum disamarkan ?

 

Juga pada saat Jesus dapat mendahului sahabat dan keluarganya berjalan ke Galilea (Matius 26:32)

 

Bahkan didalam Markus 16:12 dinyatakan dengan jelas bahwa Jesus itu kelihatan dengan rupanya yang lain.

Semakin jelaslah sudah bahwa Jesus memang benar-benar telah diserupakan dengan orang lain pada saat peristiwa penyaliban dibukit Golgotta, dan memang bukan beliau yang tersalib serta mengeluarkan teriakan memalukan dari atas kayu terkutuk tersebut.

 

Untuk point ketiga, peristiwa yang terjadi terhadap Maria Magdalena kembali terulang pada Jahja 21:4-6, dimana Jesus datang kepada sahabat-sahabatnya ditasik Tiberias. Dan mereka semuanya sama sekali tidak mengetahui bahwa ia adalah Jesus, guru mereka selama ini.

 

Hal inipun dikisahkan pada Lukas 24:16, Lukas 24:41 serta Lukas 5:4-7.

 

Untuk point keempat, Jahja 19:26 disebutkan bahwa ketika penyaliban atasnya terjadi, Jesus telah memanggil ibunya, Maryam, dengan kata-kata ketus: “Perempuan ! lihatlah anakmu !”, adakah itu mencerminkan adab sopan santun seorang Nabi dan Rasul Allah yang harus menjadi panutan umatnya ?

 

Mari kita baca firman Allah dalam AlQur’an secara teliti berikut ini :

 

Ia berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dia jadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia mewajibkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan keselamatan atasku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku akan mati dan pada hari aku akan dibangkitkan dengan keadaan hidup.

 

Itulah dia, Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.

(QS. 19:30-34)

 

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya engkau tidak menyembah selain Dia dan hendaklah engkau berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu berkata : “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

(QS. 17:23)

 

Dan ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil: “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.

(QS. 2:83)

 

Sudah sejauh ini, pendapat kaum Ahmadiyah tentang diri Jesus alis Nabi Isa itulah yang tersalib telah dapat dimentahkan, baik dengan menggunakan dalil-dalil dalam Bible sendiri apalagi dengan berdasarkan dalil-dalil dari AlQur’an suci.

 

Saya pibadi akan tetap mengartikan ayat An Nisaa’ 157 sebagaimana adanya tanpa mesti diberikan kata tambahan sebagai penjelas atau maksud yang saya ingini.

 

Dan perkataan mereka:”Kami telah membunuh AlMasih Isa putera Maryam, utusan Allah”, padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi dia disamarkan bagi mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya.

(QS. 4:157)

 

Penyamaran itu sendiri tetaplah terjadi atas diri Nabi Isa, dan ia memang telah diserupakan dengan sosok orang lain yang sama sekali tidak dikenali oleh siapapun, bahkan para sahabat terdekatnya sekalipun.

 

Pada Markus pasal 14 mulai dari ayat 32 hingga ayat 43 dikatakan bahwa pada saat tiba ditaman Getsemani, Nabi Isa meninggalkan para sahabatnya untuk melakukan do’a kepada Allah, dengan mengajak serta Jahja, Petrus dan Jakub, yang ketiga-tiganya itu akhirnya pun tertidur.

 

Pada Markus 14 ayat 26 s.d 30 dinyatakan bahwa Nabi Isa juga sudah mengabarkan bahwa para sahabatnya itu kelak akan menyangkal kesaksian mereka terhadap dirinya sendiri, bahkan sahabatnya, Petrus, pada malam itu /sebelum ayam berkokok/ disebutkan akan menyangkal kepadanya sebanyak tiga kali.

 

Adalah sangat mustahil bila sahabat-sahabat terdekat Nabi Isa akan berlaku pengecut dan menjadi pengkhianat semuanya sebagaimana Judas Iskariot. Apa yang telah dilihat oleh Petrus pada malam itu, bukanlah Nabi Isa Almasih, namun orang lain, karenanya dia menyangkal bahwa orang tersebut adalah gurunya.

 

Dengan kata lain, pada saat itu, Petrus telah diberikan penglihatan Kasyaf oleh Allah untuk melihat siapa sesungguhnya orang yang telah ditangkap oleh para tentara itu yang didalam penglihatan orang lain sebagai sosok Nabi Isa Almasih.

 

Dan adapun yang bertemu dengan Maria Magdalena, orang-orang ditasik Tiberias serta ibu dan sahabat-sahabat lainnya adalah benar-benar Nabi Isa Almasih dalam rupa orang lain yang tidak mereka kenali.

 

Dalam dunia kebatinan, ada satu ilmu yang bisa membuat seseorang beralih rupa menjadi orang lain sehingga ia tidak dapat dikenali oleh siapapun. Ilmu ini sampai sekarangpun masih ada dan sering dipergunakan oleh orang-orang jahat didalam melarikan diri dari kejaran para polisi.

 

Pada masanya, Nabi Musa as., pernah dikaruniakan oleh Allah tongkat yang dapat berubah ujud menjadi seekor ular besar ketika berhadapan dengan tukang sihir Fir’aun.

 

Bahkan dalam kasus Nabi Musa ini, tongkatnya itu sebagai satu benda mati, benar-benar berubah menjadi wujud benda lain yang memiliki nyawa dan mampu melawan ular-ular kecil para tukang sihir dari negri Mesir itu. Sementara Nabi Isa Almasih, hanyalah diserupakan wajahnya oleh Allah Swt dengan wajah orang lain namun bukan dirubah wujudnya menjadi ‘benda lain, semuanya merupakan hal yang sangat mudah sekali bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AL-MASIH MASIH HIDUP

Oleh : Armansyah<

 

Dewasa ini lebih dari semilyar umat Kristen beriman pada pernyataan “Jesus” yang berasal dari Nazareth. Mereka mengimaninya tanpa meneliti secara mendalam, mereka mengemukakan seribu satu ramalan dari Perjanjian Lama untuk membuktikan pengakuannya tentang Jesus adalah Almasih yang dijanjikan untuk bangsa Yahudi.

 

Begitupun halnya dengan umat Ahmadiyah, mereka mengimani Mirza Ghulam Ahmad secara membabi buta atas kelancangannya mengakui bahwa dirinya adalah titisan Nabi Muhammad Saw, Ibrahim dan juga Almasih yang ditunggu oleh umat Islam dan telah diberi wahyu oleh Tuhan sebagai seorang Nabi yang datang setelah Muhammad Saw.

 

Sementara mayoritas umat Islam /istilah Ahmadiyah = Mainstream/ mempercayai bahwa Nabi Isa alaihissalam masih tetap hidup dan berada dilangit lengkap dengan jasad kasarnya, hingga menjelang hari kiamat, dimana Nabi Isa akan turun sebagai Almasih atau orang yang ditunggu dan mengalahkan Dajjal.

 

Sekarang marilah kita tinggalkan seribu satu ramalan umat Kristen dan Ahmadiyah itu serta juga pendapat dari kalangan mayoritas Islam itu dan kita teliti satu kebenaran saja, kebenaran yang berdasarkan ilmu pasti, logika dan Qur’an.

 

Selama ini hampir semua orang mengenal akan keturunan Isa Almasih kedunia menjelang hari kiamat nanti hanyalah dari Hadist Nabi Muhammad Saw semata, namun jika kita benar-benar teliti dalam membaca serta menafsirkan ayat, maka akan nyatalah bahwa sesungguhnya AlQur’an pun mewartakan hal yang demikian meskipun memang agak sedikit tersamarkan.

 

Dalam ilmu tafsir, kita mengenal bahwa tafsirul Qur’an bil Qur’an atau menafsirkan ayat AlQur’an dengan ayat AlQur’an merupakan model penafsiran AlQur’an yang paling tinggi kedudukannya dalam ilmu tafsir, tingkatan selanjutnya adalah menafsirkan ayat AlQur’an dengan Hadist yang shahih sebagai sumber hukum kedua Islam guna lebih memperjelas maksud daripada ayat Qur’an.

 

Dan itulah yang akan coba kita terapkan dalam pembahasan kali ini:

 

Dan perkataan mereka:”Bahwa kami telah membunuh Almasih, Isa putera Maryam, utusan Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi disamarkan untuk mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. Tetapi Allah telah mengangkat dia kepada-Nya karena bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(QS. 4:157 & 158)

 

Nash ini merupakan dalil yang qath’i (pasti) bahwa Isa alaihissalam telah diangkat dalam keadaan hidup, kata “Bal” (tetapi) yang jatuh setelah kalimat nafyi (peniadaan) yaitu kalimat “Wama qotaluhu” menyebabkan kata yang datang sesudahnya yaitu “rofa’uhu” mengandung arti penetapan bagi kalimat nafyi yang terletak sebelumnya.

 

Jika kata “Rofa’uhu” (mengangkat) mengandung makna “Rofa’a ruh” (mengangkat ruh) maka ini tidak berlawanan dengan pembunuhan dan penyaliban yang dinafyikan sebelumnya, karena adanya pertemuan makna pembunuhan dengan pengangkatan ruh, sebagaimana ia membatalkan nafyi yang sebelumnya atau yang mendahuluinya.

 

Mengenai perkataan rof’ dalam kamus: rofa’a berarti : ia mengangkat atau menaikkan (barang atau orang), ia mengangkat (seseorang) dalam martabat, kehormatan, kedudukan atau kemuliaan.

 

Jika kita menafsirkan bahwa Nabi Isa itu diangkat oleh Allah kedudukannya, maka sudah sejak lama beliau dimuliakan oleh Allah Swt dengan kedudukannya sebagai Nabi dan Rasul Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh malaikat Jibril sewaktu mendatangkan kabar akan kelahiran Isa Almasih kepada Maryam.

 

Ketika Malaikat berkata:”Hai Maryam, sesungguhnya Allah mengabarkan kepadamu bahwa engkau akan dapat satu kalimah daripadaNya, namanya Almasih, ‘Isa putra Maryam, yang mulia didunia dan akhirat dan seorang dari mereka yang dihampiri. (QS. 3:45)

 

Maka dari itu, tidaklah tepat kita katakan bahwa derajat dan kedudukan Nabi Isa itu baru mulia setelah dia tidak terbunuh diatas kayu salib pada peristiwa dibukit golgotta sebagaimana pendapat yang beredar dalam kalangan Ahmadiyah.

 

Kata yang menerangkan Allah telah mengangkat dia kepada-Nya itu merupakan sambungan dari ayat sebelumnya yang merupakan kata bantahan yang merefer kepada peristiwa penyaliban yang dijelaskan secara pasti dan tidak perlu ditambah atau dikurangi bahwa Isa tidak dibunuh dan tidak disalib melainkan disamarkan kepada mereka, dalam artian bahwa penyamaran itu terjadi dengan pengangkatan Isa kepada-Nya. Dan menggantikan orang lain untuk tersalibkan.

 

Kita perhatikan, ayat tersebut disambung lagi dengan firman Allah : karena bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

Kata terakhir ini sebenarnya merupakan kata kunci dari keterangan sebelumnya, dimana sesungguhnya dengan KeperkasaanNya, KekuatanNya atau KemampuanNya Tuhan telah menyelamatkan dengan mengangkat dan menyamarkan Nabi Isa alaihissalam /mungkin istilah sekarang ini dengan tekhnologi transformasi/ pada kejadian hari itu sehingga dia tidak berhasil dibunuh oleh tentara itu sekaligus juga tidak tersalibkan atau tergantungkan diatas kayu terkutuk (Galatia 3:13). Itulah Kebijaksanaan yang sudah ditetapkan Allah kepada Nabi Isa Almasih seperti yang terdapat pada bagian akhir ayat 4:158.

 

Apakah dengan begitu Allah Swt berarti melakukan penipuan ?

Jawabnya tidak ! Allah hanya membalas perbuatan orang yang telah ingkar dan kufur akan kekuasaanNya serta kenabian yang diutuskanNya kepada Isa Almasih.

 

 

 

karena kesombongan dibumi dan merencanakan tipu daya yang jahat, padahal rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.

(QS. 35:43)

 

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar.

(QS. 2:9)

 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah membalas tipuan mereka.

(QS. 4:142)

 

Dan mereka merencanakan tipu daya dengan sungguh-sungguh dan Kami pun bersungguh-sungguh /akan membalasnya/, sedang mereka tidak menyadari.

(QS. 27:50)

 

Bahkan pada Galatia 3:1, Paulus sendiri sebagai pelaku atau tokoh utama yang menyebarkan ide Trinitas dalam kalangan umat Masehi sempat marah dengan sengit kepada sidang jum’at di Galatia

 

Hai orang Galatia yang bodoh, siapakah yang sudah merasukimu sehingga tergambar dimatamu bahwa Jesus Kristus sudah tersalib ?

(Galatia 3:1)

 

Jika Paulus saja yang dianggap sebagai Rasul dalam kalangan umat Kristen Trinitas telah membantah perihal penyaliban Jesus The Christos alias Isa Almasih, maka semakin nampak kebenaran yang telah dinyatakan oleh Qur’an. Dan jika dilain pasal Paulus menyatakan bahwa Isa Almasih telah tersalibkan untuk menebus dosa manusia, itu sudah menjadi watak dan cirinya tersendiri sebagai seorang yang munafik seperti yang diungkapkannya sendiri dalam Roma 3:7 berikut ini :

 

Tetapi JIKA kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa ?

(Roma. 3:7).

 

Disini Paulus mencoba mencari pembenaran atas sikapnya sebagai seorang pendusta agama, bahwa bila apa yang dilakukannya dengan segala kebohongannya itu kepada umat Kristen adalah untuk dan demi Allah, maka tidaklah layak dia dihakimi sebagai orang yang berdosa, sebab dia menganggap dirinya berjasa kepada Allah.

 

Namun umat Kristen Trinity akan mencoba mendalihkan dengan ayat berikutnya :

 

Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan bahwa kita berkata: “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.

(Roma. 3:8).

 

Sekarang kita ajukan pertanyaan yang di JIKA oleh Paulus pada Roma 3:7 itu apanya ?

Kebenaran Allah yang melimpah atau dustaku ?

Bagaimana kalau kalimat tersebut kita ganti dengan kalimat yang setara jenis dan susunannya seperti :

 

Tetapi JIKA kemakmuran Indonesia oleh bantuan IMF semakin melimpah bagi kemuliaan Indonesia, mengapa IMF masih juga dihakimi sebagai penghancur negara ?

(IMF 3:7)

Kalimat Roma 3:7 akan sama saja bunyinya jika kita alihkan sbb :

Tetapi JIKA DENGAN AKU BERDUSTA maka kebenaran Allah semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa ?

(Roma. 3:7)

 

Lalu juga akan muncul argumen baru dari mereka dengan menggunakan persamaan :

 

JIKA AKU KAYA ——-> Faktanya aku tidaklah kaya

JIKA AKU BERDUSTA ———> Faktanya aku tidaklah berdusta

 

Baiklah, dalam bahasa Inggris kita mengenal adanya If Conditional (kalimat bersyarat) ‘Conditional Type 1, 2 and 3’, yaitu kalimat yang menyatakan bahwa pekerjaan itu dapat dilakukan kalau syaratnya terpenuhi. Dan berikut ini akan kita ketengahkan dalam bahasa Indonesia salah satu contoh kalimat dari ketiga type If conditional tersebut.

 

Jika bacokanku ternyata hanya melukainya saja, mengapakah aku dihakimi sebagai pembunuh ?

 

Menurut anda, orang tersebut membacok atau tidak ?

Kalimat diatas, itu memiliki pola yang sama dengan Roma 3:7, silahkan anda nilai sendiri sampai dimana kebenaran dari ucapan Paulus tukang bual ini.

 

Kita tinggalkan saja pembahasan masalah kebohongan Paulus tersebut dengan segala macam permainan kata-katanya, mari kita teruskan pembahasan kita pada masalah Nabi Isa Almasih yang tidak disalib dan tidak pula dibunuh.

 

Dalam surah yang sama, An Nisaa’ pada ayat berikutnya, yaitu ayat 159 Allah berfirman:

 

Wa Immin ahlil kitabi ‘ilal layu’minannabih; Qobla mauti wayau mal qiyamah yakunu ‘alaihim sahida

Dan tidak ada dari Ahli Kitab yang tidak beriman kepadanya sebelum matinya. Dan pada hari kiamat dia akan menjadi saksi terhadap mereka.

(QS. 4:159)

 

Kata “Qobla Mauti” (sebelum matinya) pada ayat diatas, itu bisa kita terjemahkan juga sebelum kematian Isa Almasih pada akhir jaman nanti.

 

Tentu akan timbul pertanyaan: kenapa demikian ?

Baiklah, bukankah pada pembahasan ayat 157 dan 158 kita sudah sepakat bahwa Nabi Isa tidaklah mati dibunuh dan tidak juga disalib oleh orang-orang Yahudi dan Romawi itu, melainkan diangkat kepada-Nya.

 

Kemanakah Isa Almasih itu diangkat oleh Allah ? Adakah beliau diangkat kesurga dan duduk bersanding dengan Allah seperti pemahaman umat Kristen ? Ataukah keatas langit seperti pemahaman Islam Mainstream ? Atau pula diangkat derajatnya dan diperintahkan Allah kepada Almasih itu mengembara ke Kashmir sebagaimana pendapat umat Ahmadiyah ?

 

Inilah pemahaman saya : Nabi Isa Almasih telah diangkat, dan itu sama halnya dengan dinaikkan.

Jika kita analogikan bahwa Nabi Isa telah dinaikkan lengkap dengan jasmani dan rohaninya, maka beliau tentu akan diturunkan oleh Allah.

 

Dari banyak hadist yang shahih, dinyatakan bahwa Nabi Isa akan kembali turun pada saat dunia menjelang kiamat nanti, dikatakan bahwa pada saat itu beliau akan mematahkan palang salib, membunuh babi serta mengadakan perlawanan terhadap Dajjal yang mengaku-aku dirinya sebagai Tuhan.

 

Banyak sekali pendapat para ulama dan ahli tafsir mengemukakan pendapat mereka berkenaan dengan masalah ini, baik itu mereka yang mengatakan bahwa Isa Almasih akan turun kebumi secara nyata dari pengangkatannya kelangit pada peristiwa Golgotta hingga mereka yang menganggap bahwa peristiwa turunnya Isa Almasih didalam Hadist tersebut tidak terjadi secara kongkret alias kiasan saja bahkan sampai pada pengakuan Mirza Ghulam Ahmad yang mengatakan bahwa Isa Almasih telah menitis pada dirinya secara rohani.

 

Sebelum mengeluarkan kesimpulan ini, saya pernah berpendapat bahwa Isa Almasih itu sudah wafat secara logis sebagaimana Nabi-nabi yang lainnya, dan istilah pengangkatan pada ayat tersebut adalah diangkatnya derajat Isa kepada derajat yang lebih tinggi. Sementara Isa disamarkan oleh Allah dengan orang lain, dan ia sendiri bersama ibunya dipindahkan oleh Allah kesuatu tempat yang dilindungi oleh Allah sebagaimana ayat Qur’an berikut ini :

 

Waja’alna ‘ibna maryama wa’ummahu; ayataw wa awayna huma ila robwatin zati qororiwwama’in

Kami jadikan putra Maryam dan ibunya satu bukti yang nyata dan Kami melindungi keduanya ditempat tinggi yang rata dan bermata air.

(QS. 23:50)

 

Namun semakin saya mencoba mempelajari dari berbagai sudut pandang, baik itu AlQur’an sendiri, Hadist-hadist shahih, pendapat para ulama dan cendikiawan dari berbagai aliran termasuk dari mereka-mereka yang dicap sebagai sesat seperti Nazwar Syamsu dan Mirza Ghulam Ahmad, serta dari Bible dan pandangan umat Kristiani, membawa saya pada satu kesimpulan bahwa adalah satu hal yang tidak menutup kemungkinan bahwa Nabi Isa Almasih beserta ibunya hingga hari ini masih ada dan hidup dengan perlindungan Allah disuatu tempat diluar bumi.

 

Allah tidak pernah menjelaskan lebih lanjut dalam AlQur’an dan juga Nabi Muhammad Saw tidak pernah bersabda apa, dimana dan bagaimana Allah Swt mengangkat Nabi Isa Almasih setelah proses penyaliban yang disamarkan itu, hingga tahu-tahu kita mendapati keterangan bahwa Allah melindungi Nabi Isa dan ibunya pada surah 23:50 disertai banyaknya Hadist Shahih yang menerangkan akan kedatangan beliau lagi untuk yang kedua kalinya.

 

Pada pembahasan mengenai Buraq sebagai kendaraan inter dimensi, kita sudah berbicara perihal kendaraan Buraq itu sendiri, Mi’raj Rasulullah bersama Jibril hingga pada masalah ruang dan waktu yang mereka tempuh dengan perbandingan waktu para malaikat untuk sampai pada TuhanNya dengan waktu manusia bumi dan kecepatannya.

 

Untuk menjelaskan masalah kemungkinan Isa Almasih dan ibunya masih tetap ‘Exist’ disuatu tempat yang tinggi diluar bumi (planet Muntaha sebagai planet terjauh dan tertinggi yang ada Jannah sebagai tempat tinggal yang subur dan berkecukupan ?) kita coba adakan pemahaman dengan postulat-postulat Einstein yang pada akhirnya melahirkan rumusannya yang legendaris :

 

E = MC2

 

Dimana :

E merupakan energi

M adalah massa

C adalah kecepatan cahaya (9 x 108 m/s)

 

Disini terlihat adanya hubungan antara dimensi energi (E) dengan dimensi massa (M).

Postulat diatas tidak merubah atau bertentangan dengan prinsip kesetimbangan massa/materi walaupun mengalami perubahan bentuk – jadi bukan hanya energi saja yang tetap setelah terjadi transformasi.

 

Pada pelajaran Fisika SMA ada bab-bab yang menjelaskan masalah metafisika antara lain tentang dimensi-dimensi yang dikenal manusia beserta tingkatannya. Tingkatan yang tinggi berkuasa atas tingkat yang lebih rendah dan memiliki semua unsur-unsur dimensi dibawahnya. Sebaliknya dimensi yang lebih rendah hanya mampu merasakan apa yang ada di dimensi yang lebih tinggi serta tunduk pada ‘aturan main’ yang diberlakukan oleh dimensi yang lebih tinggi tersebut.

 

Seorang ilmuwan bernama Al Bielek, dalam ‘MUFON CONFERENCE’ January 13, 1990 berkaitan dengan suatu proyek rahasia pemerintah USA yang diberi nama Philadelphia Experiment berpendapat :

 

…..We’re not living in a three dimensional universe. We’re living in a five dimensional universe. The fourth and fifth dimensions are TIME. The fourth time dimension of course has been well alluded to as outlined by Einstein and others. The fifth dimensional concept actaully goes back to 1931, to P.D.

 

Aspinski and his book “Tertium Organum”, a new model of the universe, in English. And he spoke of the five dimensions of our reality. He named the fourth as time; he never really got around to naming the fifth. But von Neumann realized, as it is known today by some physicists, hat thefifth dimension is also time; it is a spinnor, a vector, rotating around the first primary vector which indicates the flow and direction of time. The flow is immaterial.

 

We say that we are moving forward in time, that’s because of our looking at it, and our reference. We don’t sense time but it does flow at a fairly stable rate. And this other vector running around it is of no concern to us… normally.

 

Terlepas dari benar tidaknya pendapat tersebut, kita cuma bisa berteori ria.

Sekarang kita kembali pada urutan tingkatan dari dimensi itu yaitu :

 

1.Dimensi satu yaitu titik

2.Dimensi dua yaitu bidang dan luas serta jarak/ukuran (kumpulan unsur titik)

3.Dimensi tiga yaitu bentuk – dimana manusia berada (kumpulan unsur bidang, luas dan jarak/ukuran)

4.Dimensi empat yaitu ruang dan waktu – manusia bisa merasakan namun tunduk pada aturan penempatan ruang dan peluruhan oleh waktu – dimensi energi – semestinya memiliki seluruh unsur dimensi dibawahnya, termasuk diantaranya memiliki jasad – yang mungkin karena tidak diperlukan bisa saja ditanggalkan sebagaimana kita melepas baju.

 

Misalnya manusia hanya bisa menempati ruang namun tidak berkuasa atas ruang (alam semesta) serta luruh oleh waktu. Sedang dimensi energi tidak terpengaruh waktu (kekal) namun manusia tidak dapat menjangkau dimensi energi karena terhalang oleh dimensi ruang dan waktu sehingga seolah-olah energi yang berubah bentuk mengalami proses ‘menghilang’ tertelan waktu. Seandainya manusia berada di atas dimensi ruang dan waktu niscaya ia akan dapat melihat wujud energi yang sesungguhnya.

 

Namun dimensi yang lebih rendah mampu bertransformasi ke dimensi yang lebih tinggi karena suatu sebab, daya upaya dan campur tangan dimensi yang lebih tinggi. Misalnya : titik dapat berubah menjadi bidang apabila dia berkumpul (daya upaya) dan bidang dapat menjadi bentuk apabila ada manusia yang membuatnya (campur tangan).

 

Sehingga bila manusia mau berupaya maka ia akan mampu memasuki dimensi yang lebih tinggi (QS. 55:33) atau kemungkinan lainnya adalah melibatkan campur tangan dari dimensi yang lebih tinggi baik oleh inisiatif manusia maupun inisiatif penghuni dimensi yang lebih tinggi sendiri yang dalam hal ini Allah Swt sebagaimana peristiwa Mi’raj Rasulullah Muhammad Saw dengan kendaraan Buraqnya dan mungkin pula pada kasus Isa Almasih dan ibunya yang diangkat oleh Allah lengkap dengan jasad mereka dan diberikan perlindungan.

 

Perlindungan Allah pada surah 23:50 ini sudah tentu merupakan perlindungan total dari segala hal yang dapat menimpa diri Isa dan ibunya.

 

Mari kita ulangi lagi ayat 23:50 tadi dengan lebih teliti :

 

Waja’alna ‘ibna maryama wa’ummahu; ayataw wa awayna huma ila robwatin zati qororiwwama’in

Kami jadikan putra Maryam dan ibunya satu bukti yang nyata dan Kami melindungi keduanya ditempat tinggi yang rata dan bermata air.

(QS. 23:50)

 

Tidak mungkinkah yang dimaksud dengan tempat tinggi yang rata itu sebagai suatu dimensi tertinggi yaitu energi dimana semua urusan tempat (ruang – di bumi atau langit – alam semesta raya), jarak dan apalagi waktu tidaklah ada artinya alias datar. Sehingga biarpun Nabi Isa tetap hidup sampai menjelang kiamat tidak ada pengaruhnya terhadap beliau karena waktu hanya berpengaruh bagi kita di dimensi tiga ini sehingga jarak waktu satu jam saja terasa lama sedang mungkin bagi Rasulullah Muhammad Saw, Jibril dan Nabi Isa Almasih perjalanan waktu itu amatlah singkat !

 

Kita pernah membahas secara matematis perihal kecepatan waktu malaikat Jibril yang mengemban amanah wahyu dari Allah untuk diteruskan kepada hambaNya dibumi pada artikel Buraq sebagai kendaraan inter dimensi

 

Masalah kemudian Nabi Isa ‘diturunkan’ kembali ke dimensi manusia adalah ‘campur tangan’ yang sangat mudah bagi Allah yang tentu berada dalam tingkatan diatas semua dimensi ! Semudah manusia ‘campur tangan’ terhadap gambar bidang (dimensi dua) yang kita hapus menjadi titik (dimensi satu). Dan kita (manusia) tidak akan terpengaruh apapun yang terjadi dalam gambar bidang tersebut.

 

Selanjutnya mari kita simak keterangan-keterangan berikut ini :

 

Namun benar yang kukatakan ini kepadamu; Adalah lebih berguna bagi kamu jika aku pergi. Sebab jikalau aku tidak pergi, penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau aku pergi, aku akan mengutus dia untukmu.

(Johanes 16:7)

 

Dan ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat dan pemberi khabar gembira tentang datangnya seorang Rasul sesudahku, bernama Ahmad”.

(QS. 61:6)

 

Demi dzat yang jiwaku dalam genggaman kekuasaanNya, niscayalah sudah amat dekat sekali saat turunnya Isa putera Maryam dikalangan engkau semua ..dst”

(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

 

Dalam keterangan-keterangan diatas akan nyatalah bahwa baik Isa Almasih didalam berkata pada Johanes 16:7 dan AlQur’an 61:6 maupun Rasulullah Saw sendiri pada hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim telah menggunakan perhitungan waktu luar bumi atau waktunya Allah Swt didalam menjelaskan kedatangan masing-masing.

 

Pada Johannes 16:7 serta paralel dengan QS. 61:6 Jesus alias Isa Almasih telah menjelaskan bahwa sang comforter (English), Mu’azzi (Arab), Yamktsu kuzizi (Zulu), Nazuster (Afrika), Paraclete (Yunani) serta sang Altogether lovely (song of Solomon 5:16) alias Ahmad akan datang setelah Isa Almasih pergi.

 

Kita tahu bahwa sang comforter alias Ahmad itu sendiri baru tiba atau dilahirkan sekitar 6 abad setelah kepergian Isa Almasih, yaitu pada 12 Rabi’ul awal tahun gajah bertepatan dengan bulan Agustus 570 Masehi dikota Mekkah Almukarromah dari keturunan Nabi Ismail putra pertama Nabi Ibrahim as.

 

Sebegitu lama jarak mereka berdua tersebut, meskipun Isa berkata bahwa setelah kepergiannya akan dilahirkan sang Rasul, namun kenyataannya tidak terjadi begitu saja, dengan kata lain tidak terjadi dalam jangka pendek hitungan manusia, tetapi mempergunakan hitungan luar bumi atau hitungan perjalanan malaikat, dimana 1 harinya malaikat = 50 ribu tahun manusia (QS. 70:4) atau malah juga mempergunakan waktunya Allah, bahwa 1 hari Allah adalah 1000 tahun manusia (QS. 22:47)

 

Bertolak dari sini pulalah, tentunya nubuatan Nabi Saw akan turunnya kembali Isa Almasih untuk kedua kali sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim belumlah terjadi dalam jangka pendek hitungan manusia, namun akan terjadi nanti, menjelang kiamat yang waktu pastinya hanyalah Allah Swt yang tahu.

 

Adakah ciri-ciri atau nubuat tentang kedatangan Isa Almasih ini nantinya pada akhir jaman termaktub dalam AlQur’an suci ? Mari sama-sama kita perhatikan ayat berikut :

 

Dan sesungguhnya Ia itu /Isa/ merupakan satu tanda bagi kiamat /Sa’ah/. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu padanya ikutilah Aku. Ini satu jalan yang lurus.

(QS. 43:61)

 

Surah 43:61 diatas sering diartikan orang dengan : Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. dst padahal bukanlah itu arti sebenarnya !

Dalam ayat aslinya dinyatakan : Wa innahu la’ilmullisa’ati falatamtarunna biha wattabi’un; Haza shirothum mustaqim yang terjemahannya seperti yang saya tulis diatas.

 

Ia itu merupakan ilmu bagi Sa’ah /Innahu la’ilmullisa’ah/, saya menterjemahkan kata ilmu disana dengan kata ‘Tanda’ bukan mempunyai pengetahuan sebagaimana tafsiran yang ada.

 

Alasan saya adalah jelas sekali dinyatakan didalam AlQur’an bahwa masalah Sa’ah /waktu kehancuran total yang ditentukan/, Yaumul Hasrah /hari penyesalan/, Yaumul Muhasabah /hari perhitungan/, Yaumul Wazn /hari pertimbangan/ dan sejumlah nama lain yang kesemuanya menunjukkan mengenai kiamat yang akan terjadi hanyalah Allah saja yang mengetahuinya, tidak ada satupun makhluk yang tahu, siapapun dia adanya, baik Isa Almasih, Muhammad Saw maupun Jibril sebagai kepala malaikat.

 

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Kapankah datangnya ?”. Katakanlah:”Hanya disisi Tuhankulah pengetahuan /ilmu/ tentangnya; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. ia /Kiamat/ itu amat dahsyat untuk langit dan bumi. Dia tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu /pengetahuan/ tentangnya ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

(QS. 7:187)

 

Adalah akan sangat bertentangan sekali jika kita menafsirkan 43:61 dengan mengatakan bahwa Isa Almasih mempunyai pengetahuan mengenai hari kiamat dengan surah 7:187 diatas.

 

Untuk itu saya himbau kepada semua ahli tafsir semuanya dari berbagai golongan, bahkan termasuk juga kaum Ahmadiyah, marilah kita mencoba menterjemahkan AlQur’an itu sebagaimana adanya, tanpa perlu ditambah atau dikurangi yang hanya akan menimbulkan perselisihan oleh karena ingin mengikuti interpretasi dan hawa nafsu sang penerjemah itu sendiri.

 

Marilah kita melihat ayat lainnya lagi yang menubuatkan perihal kedatangan Isa putra Maryam ini pada akhir jaman nanti :

 

Dan tidak ada dari Ahli Kitab yang tidak beriman kepadanya sebelum matinya.

Dan pada hari kiamat dia akan menjadi saksi terhadap mereka.

(QS. 4:159)

 

Pada ayat diatas nyata sekali dikatakan oleh Allah, bahwa tidak akan ada seorangpun dari Ahli kitab, yaitu orang-orang Kristen, Yahudi dan berbagai umat lainnya yang pernah didatangkan Rasul dan petunjukNya /kitab/ kepada mereka oleh Allah akan berbalik mengimani kenabian Isa Almasih yang turun untuk kedua kalinya tetapi dengan misi universal sebagai pengikut ajaran Muhammad Saw dan meluruskan penyimpangan terhadap ajaran yang dulu dia bawa kepada umatnya, bangsa Yahudi menjelang kiamat kelak sebagai bukti dari janji Allah pada surah 9:33

 

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.

(QS. 9:33)

 

Surah 4:159 diatas itu bagi saya pribadi belumlah terbukti, karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada saat ‘mangkat’ atau kepergian beliau, umatnya sebagai ahli kitab dari jaman Musa hingga pada Injil yang ia emban tidak semuanya mengimaninya bahkan dia sendiri nyaris terbunuh dan disalibkan jika saja tidak datang pertolongan Allah yang Maha Perkasa dan Bijaksana.

 

Hal ini sekaligus membantah akan kenabian Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku-aku sebagai titisan Nabi Isa dan titisan semua Nabi termasuk Rasulullah Muhammad Saw, dengan melihat kenyataan, boro-boro akan beriman kepadanya sebelum dia mati, bahkan setelah kematian Nabi palsu ini semakin banyak saja ahli kitab, padahal menurut ayat 4:159 itu sendiri bahwa sebelum kematian Nabi Isa, semua ahli kitab akan beriman kepadanya yang juga merupakan refleksi dari Hadist Rasul yang mengatakan bahwa pada saat turunnya nanti, Isa Almasih akan menghancurkan palang salib.

 

Disisi lain kata “Almasih” yang selalu menyertai nama Nabi Isa putra Maryam didalam AlQur’an, adalah sebagai gelar, bukan nama beliau. Almasih terjemahan dari kata Ibrani “Mesias” persamaan katanya dalam bahasa Yunani ialah “Christos” yang dalam bahasa Inggris disebut dengan “Christ”, yaitu orang /Nabi agung/ yang ditunggu kedatangannya atau ada juga sebagian orang yang mengartikannya sebagai orang yang diurapi dengan minyak kudus.

 

Dan memanglah begitu adanya, Isa Putra Maryam ini adalah sebagai sosok agung yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh mayoritas terbesar umat agama dunia, Yahudi, Kristen dan Islam.

 

Sekarang timbul lagi pertanyaan yang memang selalu menjadi senjata kaum Ahmadiyah selama ini :

Kalau argumen diatas benar, Isa akan turun lagi ke bumi dan lengkap jasmani rohaninya, berarti Muhammad bukan Nabi terakhir, lantas bagaimana dengan konsep Muhammad sebagai khataman nabiyyin ?

 

Jawabannya adalah : Secara urutan, Muhammad Saw lah Nabi terakhir yang diangkat.

Isa AS adalah Nabi sebelum Muhammad Saw, jadi “surat pengangkatannya” umurnya lebih tua dari Muhammad Saw. Pun pada saat beliau datang kembali, beliau tidak akan membawa ajaran-akidah baru. Sementara ‘khataman nabiyyin’ lebih mengacu kepada Nabi yang terakhir ‘dinobatkan’ dan Nabi paling mulia dari segala Nabi Allah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uraian Penutup Oleh : Armansyah

 

 

Allah, segala puji bagiNya. Dialah yang awal dan yang akhir, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Berkuasa penuh atas langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya.

Allah, Maha pengasih dan Maha penyayang kepada umatNya. Bijaksana terhadap para utusanNya.

 

Shalawat dan salam atas penutup segala Nabi, Rasulullah Muhammad Saw Al-Amin, yang namanya dinubuatkan dalam semua kitab suci dan utusan Allah, imam seluruh Nabi dan Rasul sebelumnya dan merupakan panutan, suri tauladan seluruh umat manusia, satu-satunya Nabi yang bisa memberikan safa’atnya pada pengadilan Ilahi kelak dikemudian hari.

 

Dengan nama Allah dan RasulNya tulisan ini saya mulai dan dengan itu juga tulisan ini saya akhiri. Saya yakin akan timbul kontroversi atas pendapat-pendapat yang saya kemukakan pada pembahasan Studi kritis dalam Memahami AlQur’an ini, apalagi bagi mereka yang memang tidak terlalu percaya dengan hal-hal logis dan berbau modern didalam pemahaman AlQur’an, mereka yang hanya terikat dengan dasar keyakinannya yang lama yang selalu menghubung-hubungkan AlQur’an dengan dunia ghaib, penuh mukjizat dan ilmu magic.

 

Malah, jangan-jangan akan ada pula yang menyebutkan saya sebagai tukang Bid’ah atau tukang pengkhayal, tapi terserah mereka sajalah, bagi saya, mereka tidak punya hak untuk mengecam saya bagaimana-bagaimana, sebab sebagai seorang muslim saya juga mengakui bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Tuhan dan Rasul Muhammad Saw Al-Amin merupakan penutup semua Nabi serta AlQur’an dan Sunnah Rasul pedoman hidup saya, termasuk didalam penyusunan pendapat ini.

 

Perbedaan pendapat dan juga pemahaman terhadap AlQur’an dan AlHadist tidak mesti menyebabkan jurang perpecahan, semuanya kembali kepada diri kita masing-masing, pribadi kita, dan marilah sama-sama mengukur diri sendiri, sudah sejauh mana tingkat pengetahuan yang kita capai selama ini, baik terhadap Kitabullah maupun pengetahuan umum lainnya.

 

Selama beberapa waktu web site ini saya ketengahkan, banyak sekali pertanyaan, saran maupun kritikan telah saya terima. Saya ucapkan terima kasih kepada anda.

 

Beberapa orang menganggap saya beraliran Muktazilah, yang lain mencap saya Ingkar Sunnah dan sebagiannya pula ada yang menyebut saya Syi’ah dan lain sebagainya dan seterusnya.

 

Saya tidak ambil pusing apa kata orang, memang saya pengagum Muktazilah namun saya tidak pernah merasa diri saya sebagai bagian dari Jemaah tersebut. Saya kritis terhadap Sunnah namun bukan berarti saya orang yang sama sekali anti terhadap Sunnah. Saya bela keluarga Nabi Saw karena memang sudah sepantasnya saya membela mereka selama mereka masih dalam batas-batas kebenaran, namun pula bukan alasan untuk menyebut saya sebagai bagian dari kelompok Syi’ah.

 

Didalam penyusunan pendapat ini, selain dari AlQur’an sebagai sumber utama, saya juga banyak membaca buku-buku dan kitab Hadist yang semuanya telah saya paparkan dalam Daftar Referensi Pedoman, yang setidaknya dapat anda jadikan tolak ukur terhadap pendapat yang saya kemukakan disini, sekaligus mencari tahu, kira-kira sosok yang bagaimanakah diri saya ini ?

 

Satu sebab menimbulkan akibat, dan akibat ini jadi sebab untuk hal-hal selanjutnya, demikian pula perbedaan yang ada didalam menafsirkan kitab suci, AlQur’an dan Sunnah Rasul. Dua tahun yang lalu ada pendapat yang dilontarkan oleh A, setahun kemarin B juga telah mengeluarkan pendapatnya pula, begitupun tahun ini C, tahun depan D, dan akan menyusul pendapat-pendapat baru pada tahun-tahun berikutnya yang terkadang bersifat saling koreksi dan melengkapi pendapat-pendapat sebelumnya.

 

Selama ini umat Islam selalu meributkan masalah-masalah yang seperti itu dan hanya menjadikan perpecahan antar umat Islam sendiri sehingga tidak ada lagi yang disebut dengan persatuan dan kesatuan atau Ukhuwah Islamiah. Semuanya merasa dialah yang paling benar dalam bermahdzab, orang lain salah.

 

“Kemudian mereka menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa bagian. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka.”

(QS. 23:53)

 

Umat Islam yang terdahulu, salaf dan khalaf, telah memahami inti ajaran Islam dengan benar, sekalipun kadangkala mereka berbeda pendapat dalam memahami beberapa nash AlQur’an dan Sunnah RasulNya, namun mereka tetap bersatu dalam asas dan tujuan, mereka tidak saling mengkafirkan dan tetap bersatu dalam menghadapi musuh.

 

Akan tetapi seiring dengan perkembangan manusia dan aliran pemikirannya, lahirlah interprestasi terhadap Islam secara beragam dan tidak jarang saling bertentangan secara diametral.

 

Jalan-jalan yang ditempuh oleh banyak tokoh dalam memahami Islam, terutama dalam masalah ritual /fiqih/ dinisbatkan oleh para pengikutnya sebagai mazhab /jalan/ yang dijadikan pedoman beribadah, padahal sang tokoh sendiri tak pernah menamakan dirinya mazhab tertentu, melainkan mereka berpegang teguh dengan sumber asli ajaran Islam, yaitu AlQur’an dan Hadist, hal ini dibuktikan dengan jika pendapat mereka berbeda antara sesamanya, maka diminta agar meninggalkan pendapatnya itu.

 

Setelah abad 3 H, perkembangan mazhab-mazhab fiqih semakin mengkristal dan tidak dapat lagi dihindari munculnya empat mazhab besar fiqih, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hambal. Ternyata para ulama pun banyak terjerat kepada kaidah-kaidah salah satu mazhab tersebut, yang tidak jarang menjadikan umatnya fanatik terhadap mazhab.

 

Dan memang hal ini amat sangat disukai oleh musuh-musuh Islam, mereka tidak repot untuk menjungkir balikkan akidah agama samawi ini, sebab tanpa disadari oleh kita, justru kita sendirilah yang menggerogoti akidah yang kita miliki, dan sementara kita sibuk berpecah didalam, para misionaris agama lain, khususnya Kristen dalam hal ini yang begitu memuakkan mendekati saudara-saudara kita yang imannya lemah dan dangkal serta yang tingkat pemahaman mereka terhadap agamanya tipis untuk dijadikan domba-domba tersesat dengan diiming-imingi segala kata kemunafikan dan kepalsuan.

 

Ingat janji Iblis kepada Tuhan sewaktu dia ingkar terhadap perintah sujud kepada Nabi Adam as, bahwa dia akan menyesatkan Bani Adam dari jalan yang diridhoi oleh Allah :

 

“Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”

(QS. 7:17)

 

Serta ingat juga akan pesan Allah terhadap diri kita sendiri sebagai kaum Muslimin :

 

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada engkau sebelum kamu mengikuti “millah” mereka.”

(QS. 2:120)

 

Menurut saya, kata “Millah” artinya meliputi agama dan kebudayaan hidup dari kaum-kaum yang tersebut.

 

Dan lagi-lagi benarlah semua firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, sekarang semuanya telah kita rasakan sendiri akan sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani, dimana-mana mereka selalu menggerogoti umat Islam, bagaikan anjing-anjing yang liar ditengah padang pasir mencari anak-anak domba tersesat yang bisa dimangsa.

 

Tidak cukup dalam mengerahkan para misionaris, mereka berusaha menggerogoti ke-Islaman dari hati manusia terutama anak-anak muda dengan berbagai tontonan dan acara yang bersifat sensual, eksentrik serta membangkitkan nafsu untuk menirunya, yang berarti merubah nilai-nilai ke-Islaman yang telah dipelajarinya.

 

Saya berusaha berada dalam posisi tengah didalam beragama, saya hormati semua mahdzab dan aliran yang ada didalam Islam, selama aliran dan mahdzab itu tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang benar. Silahkan memakai serta mengamalkan tata cara yang anda yakini, dan sayapun akan menggunakan cara yang saya yakini

 

Saya juga sangat mendukung mereka-mereka yang selalu menyerukan persatuan dan penyingkiran sebab-sebab yang menimbulkan perpecahan diantara penganut satu din /agama/, satu kiblat, dan satu aqidah ini. Marilah kita melakukan pendekatan antar mahzab, untuk diluruskan dan diatur dalam satu barisan, sebagai salah satu upaya menjernihkan aqidah sebagai penopang utama kekuatan umat Islam. Perjalanan kita masih panjang dan musuh kita semakin banyak, baik dari dalam kalangan Islam sendiri seperti Ahmadiyah, Syi’ah dan sebagainya maupun juga dari pihak diluar Islam.

 

Akhirnya, manusia tempat salah dan Allah adalah tempat meminta ampun dari segala dosa dan kesalahan itu, semoga kita semua tetap diberi kekuatan didalam Iman dan Islam, dan semoga apa yang sudah kita coba lakukan untuk kesejahteraan umat akan ada gunanya bagi masa-masa yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Referensi pendukung yang digunakan dalam menyusun Studi Kritis Pemahaman Islam :

A. Kitabullah

 

1.Kitab suci AlQur’an (Asli – Arab) 2.Al-Qur’an dan terjemahannya

Hadiah dari Khadim al Haramin asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn’Abd al’Aziz Al Sa’ud. Edisi khusus, tidak diperjual belikan secara umum 3.Al-Quraan dan Terjemahnya

Departemen agama Republik Indonesia, 1989 4.Tafsir Al-Furqan

A. Hassan 5.Tafsir Al-Qur’anul Madjied ‘An Nur’

Prof. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Bulan Bintang 1965 6.Software “Holy Quran” versi 6.0

Keluaran Kelim 5.2 7.Software “Tarjamah” versi 1.0

Imam Abd Mudjib, 1994 8.Software “WinQur’an” version 1.5a

Pitono, 1995

 

B. Kitab Hadist

 

1.Terdjemah Hadis Shahih Buchari

H. Zainuddin, Fachruddin HS, Nasaruddin Thaha, Djohar Arifin

Penerbit Widjaya Djakarta 1961 2.Terjemah Hadist Shahih Muslim (I-VI)

Fachruddin HS, Bulan Bintang 1981 3.Kelengkapan Hadist-Qudsi

Lembaga AlQur’an dan AlHadist Majlis Tinggi Urusan Agama Islam kementrian Waqaf Mesir, diterjemahkan dan diterbitkan oleh : CV. Toha Putra Semarang 4.301 Hadist pilihan : Imam Bukhari, Imam Muslim

Thoha’Aasyur, Penerbit Pustaka Amani Jakarta 1981

 

Sumber Pendukung Lain (Buku) :

 

1.Asbabun Nuzul

Latar belakang historis turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an

K.H. Qamaruddin Shaleh, H.A.A. Dahlan, Drs. M.D. Dahlan

Penerbit Diponegoro 1975 2.Bagaimana memahami Al-Qur’an

Syaikh Muhammad Jamil Zainu

(Staff pengajar di Daarul Hadis Al Khairyah, Mekkah)

Pustaka Al-Kautsar 1995 3.Tafsir Qur’an Muslim Modern

J.M.S.Baljon, Pustaka Firdaus 1996 4.Sedjarah dan Pengantar Ilmu Tafsir

Prof. Tgk. M. Hasbi Ash Shiddieqy, Bulan Bintang 1965 5.Epistemologi Islam

Pengantar Filsafat Pengetahuan Islam

Miska Muhammad Amien, Universitas Indonesia 1983 6.Sejarah Geografi Qur’an

Sayid Muzaffaruddin Nadvi, Pustaka Firdaus 1997 7.Al Qur’an dasar tanya jawab ilmiah

Nazwar Syamsu, Ghalia Indonesia 1980 8.Pelengkap Al Qur’an dasar tanya jawab ilmiah

Nazwar Syamsu, Ghalia Indonesia 1982 9.Penyimpangan-penyimpangan dalam penafsiran Al-quran

Dr. Muhammad Husein Adz-Dzahabi

Manajemen PT. RajaGrafindo Persada 1996 10.Dari Sains ke Stand AlQur’an

Dr. Imaduddin Khalil, Arista 1993 11.Al-Qur’an sumber segala disiplin ilmu

Drs. Inu Kencana Syafiie, Gema Insani Press 1996 12.Bibel, Qur-an dan Sains Modern

Dr. Maurice Bucaille, Bulan Bintang 1984 13.AlQuran tentang Al Insaan

Nazwar Syamsu, Ghalia Indonesia 1983 14.Al-Qur’an tentang Alam semesta

Dr. Muhammad Jamaludin El-Fandy, Bumi Aksara 1995 15.AlQuran tentang manusia dan masyarakat

Nazwar Syamsu, Ghalia Indonesia 1983 16.AlQuran tentang Shalat, Puasa dan Waktu

Nazwar Syamsu, Ghalia Indonesia 1983 17.Membumikan Al-Qur’an

Dr. M. Quraish Shihab, Penerbit Mizan 1992 18.Bukti-bukti kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah

Drs. Syahminan Zaini & Ir. Ananto Kusuma Seta

Kalam Mulia 1993 19.Makhluk Angkasa Luar & AlQur’an

Su’ud Muliadi SM HK, PT. Garoeda Boeana Indah Pasuruan 1993 20.Islam Aktual

Jalaludin Rakhmat, Mizan 1991 21.Islam tidak bermahzhab

Dr. Mustofa Muhammad Asy Syak’ah

Gema Insani Press 1994 22.Islam dan Pembaharuan

John J. Donohue & John L. Esposito, kata pengantar : Dr. M. Amin Rais

Penerbit CV. Rajawali 1989 23.Islam dan Ahmadiyyah

Sir Muhammad Iqbal, Radar Jaya Offset 1991 24.Dasar-dasar Aqidah Islam

Abul A’la Al-Maududi, Media Da’wah 1986 25.Faham Mahdi Syi’ah dan Ahmadiyah dalam perspektif

Drs. Muslih Fathoni, M.A., Manajemen PT RajaGrafindo Persada 1994 26.Benarkah Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Syekh Hafizh Ahmad Al Hakami, Gema Insani Press 1994 27.Karsa menegakkan Jiwa agama dalam dunia Ilmiah

Versi baru : Ihya Ulumiddin

Dr. Ir. Hidajat Nataatmadja, Iqra 1982 28.Membahas ilmu-ilmu Hadis

Dr. Subhi As-Shalih, Pustaka Firdaus 1993 29.Studi Kritis atas Hadis Nabi Saw

Antara pemahaman tekstual dan kontekstual

Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Penerbit Mizan 1994 30.Bagaimana memahami Hadis Nabi Saw

Dr. Yusuf Qardhawi, Penerbit Mizan 1995 31.Sunnah dan peranannya dalam penetapan hukum Islam

Dr. Musthafa Al-Siba’i, diterjemahkan oleh Dr. Nurcholis Madjid

Pustaka Firdaus 1991 32.Pokok-pokok Ilmu Dirajah Hadiets

M. Hasbi Ash Shiddieqy, Bulan bintang Djakarta 1958 33.Ilmu Mushthalah Hadist

Drs. Moh. Anwar Bc. Hk. Al-Ikhlas Surabaya 1981 34.Silsilah Hadist Dha’if dan Maudhu ( Jilid 1 & 2)

Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Gema Insani Press, 1997 35.Dibalik nama-nama Allah

Muhammad Ibrahim Salim, Gema Insani Press 1987 36.Muhammad Rasulullah

H. Husin Naparin, MA. Kalam Mulia 1994 37.Ditjelah2 kehidupan Nabi

Abbas Hassan, Bakti Pustaka CV, 1966 38.Muhammad dimata tokoh Hindu

Prof. KS. Ramakrishna, H.I Press 1994 39.Rahasia Keummiyan Rasulullah

Abdullah Nashih ‘Ulwan, Studia Press1997 40.Dan Muhammad adalah utusan Allah

Annemarie Schimmel, Penerbit Mizan 1991 41.Sejarah Hidup Muhammad

Muhammad Husain Haekal

Litera AntarNusa, Cetakan ke-22 Juni 1998 42.Kebebasan Berpendapat dalam Islam

Mohammad Hashim Kamali, Penerbit Mizan 1996 43.Anda bertanya Islam menjawab Jilid 1-5

Prof. Dr. M. Mutawalli Asy Sya’rawi, Gema Insani Press 1994 44.Soal Jawab Masalah Agama Bagian 3-4

A. Hasan, Penerbit Persatuan Bangil 45.Khazanah Intelektual Islam

Nurcholish Madjid, Bulan bintang 1984 46.Asal-usul manusia

Dr. Maurice Bucaille, Penerbit Mizan 1996 47.Prana Sakti

Drg. Kiagus H.A.Djauhari Hcs. 1995 48.Menjaring nur Ilahi dengan jurus-jurus Prana Sakti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: