BEKAL PERNIKAHAN ISLAMI

 

 

Di saat harus memilih 

Semalam aku menerima sebuah telepon. Bukan telepon biasa karena sang suara berasal dari masa remajaku yang telah berlalu, dari seorang sahabat yang menghilang untuk masa yang tak terhitung batasnya.


Ada sesuatu dalam suaranya yang mengingatkan aku pada sesuatu. Tentang keraguan lelaki akan ketulusan perempuan. Tentang sebuah tanya yang selalu muncul di saat gundah dan marah melanda: Benarkah ia mencintaiku? Tidakkah ia hanyalah seorang egois yang sekadar ingin memproteksi kepentingannya?
Tidakkah ia dipenuhi cemburu yang bersumber dari prasangka-prasangkanya semata, sehingga hatiku dibuat jengah dan kesal padanya?
Ah sahabatku,
Seandainya kamu sadar seberapa beruntungnya kamu. Aku memang tidak sepenuhnya menyetujui cara-caramu, tetapi ada hal-hal tentang perempuan yang kamu perlu tahu. Bahwa:

 

 

– Perempuan sering bersikap seolah-olah tak peduli, padahal dalam hatinya ia berharap kamu berkenan menyuarakan perasaanmu tanpa diminta.


Pandanganmu, perkataanmu sangat berarti, jauh melebihi apa yang kamu bayangkan.
 

 

– Perempuan bisa cemburu berlebih bukan karena penuh prasangka, tetapi lebih karena ia begitu mencintaimu, takut kehilangan dirimu. Barangkali ia telah menjadi sedemikian kalut karena sifatmu yang cuek dan suka menggoda setiap perempuan manis yang tampak di pelupuk matamu, sehingga habislah akal sehatnya dan berbuatlah ia apa yang tidak kamu inginkan. Andai hatimu masih terbuka untuknya, kenapa tak kamu beri ia kesempatan kedua untuk membuktikan cintanya padamu? Jika kamu memang mencintainya juga, apa salahnya mencoba sekali lagi?

 

 

– “Perempuan tak bisa minta maaf ketika salah karena egoisme yang bergelayut dalam relung jiwanya”.


Yakinkah kamu akan pendapatmu itu? Sama halnya dengan lelaki, perempuan beragam karakternya. Ada yang lembut dan mudah mengaku salah, sementara yang lain lebih memilih bungkam, diam seribu bahasa. Cobalah mengerti bahwa cara perempuan meminta maaf berlainan dan tak selamanya sesuai dengan kehendakmu. Jika ia tak bisa menyatakannya secara lisan, perhatikanlah sikapnya.Bukankah ia telah menghubungimu dan menyatakan penyesalannya akan kegagalan hubunganmu? Tidakkah menurutmu itu satu bentuk permintaan maaf ?
 

 

– Seorang perempuan yang berjalan sendiri dalam tekad dan asanya bukanlah seseorang yang tak memiliki minat akan kehidupan. Dan bukanlah itu berarti bahwa ia tak menginginkan pasangan. Tetapi, saat saja yang belum tepat mempertemukan. Yakinkah ia akan pilihannya?


Barangkali tidak juga. Tetapi, bukankah Allah telah menjanjikan bahwa masing-masing orang diciptakan berpasangan sesuai kepribadiannya? Maka, yang dilakukannya adalah bersabar. Menanti dalam diamnya. Dan jika waktu membuktikan, bahwa yang dinanti tak kunjung tiba, maka ia tetap bersabar karena ia yakin orang yang bersabar dalam cobaan akan diluruhkan dosa-dosanya.
Sahabat,bukan maksudku mendiktemu, apalagi mencacimu.
Dalam diri setiap manusia ada kebaikan dan keburukan; aku tentu bukan perkecualian. Aku menyukaimu sebagaimana adanya, sama halnya aku menyukai semua teman lainnya. Jika perkataanku ada yang menyakitimu, maka maafkan aku. Aku hanya perempuan dengan sekelumit kata yang keluar begitu saja dari bibirnya. Jika aku terlalu banyak berkata: mungkin…aku pikir…, itu lebih karena aku percaya tak ada yang pasti, kecuali eksistensi Tuhan, kematian, dan hari kemudian.

Naifkah aku akan pemikiranku? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Putuskan sendiri bagaimana menurutmu karena relatifitas jawaban sungguh-sungguh ada. Dan aku meyakini bahwa ada hak dan kebebasan bagi siapapun untuk berekspresi dan merasa apapun yang ia rasa. Jika aku memaksamu meyakini sesuatu yang tak sejalan dengan apa yang kamu percayai, bisa jadi di permukaan kamu bersepakat denganku, tetapi jauh dalam lubuk hati, kamu menegasikannya.

Kuharap kamu tak berpikir aku aneh karena mengatakan semua ini, karena inginku hanyalah kamu lebih memahami perempuan, tidak sekadar melihat apa yang kasat mata, tidak juga apa yang serta-merta disimpulkan batinmu.

 


Ada yang pernah bilang, perempuan dari Venus, sementara lelaki dari Mars. Secara harfiah tidak, tetapi dari cara bereaksi aku rasa benar. Saat perempuan berusaha setengah mati menerangkan suatu masalah agar jelas duduk persoalannya, lelaki kelihatannya cenderung berpikir bahwa perempuan terlalu cerewet, mengada-ada, dan menjengkelkan.
Padahal, maksudnya tidak lain untuk menenangkan dan atau membuat lelaki paham. Sama halnya ketika lelaki diam atau pergi untuk beberapa saat tanpa meninggalkan pesan. Perempuan bisa menganggapnya tak peduli dan menangis tersedu-sedu. Padahal, maksud lelaki adalah untuk menata hati dan pikirannya dulu sebelum mengambil sikap.
Perbedaan perempuan dan lelaki yang begitu tajam di satu sisi membawa banyak salah paham, tetapi di sisi lain menghantarkan keindahan. Karena dari perbedaan, perempuan dan lelaki saling melengkapi. Andai perempuan dan lelaki sama, maka layaknya sebuah pelangi yang semula penuh warna, lengkungan garisnya akan datar, hambar, tanpa kejutan berarti.
Sudah kelewatankah ucapanku? Apakah aku melanggar privasimu? Maafkan aku. Takkan kuperpanjang lebih jauh lagi karena aku khawatir kamu kehilangan inti di balik maksudku. Maafkan aku karena bersikap seperti perempuan pada umumnya yang bawel akan persoalan yang mungkin menurutmu biasa saja. Yang perlu kamu tahu, bawelku bukanlah karena aku ingin membenarkan seluruh persepsiku, menjadi pemenang dalam sebuah diskusi kecil yang kita awali malam itu, tetapi lebih karena aku menyayangimu dan menginginkan yang terbaik untukmu.

Saran terakhirku, jika boleh kuutarakan:

 

 

– Ketika terjadi salah paham, jangan ragu-ragu bicarakan dengan perempuan karena sungguh ia akan sangat menghargai keterbukaan dan keterusteranganmu. Menyelesaikan persoalan berdua lebih baik daripada dipendam sendirian.

 

 

– Jika kamu mencintai seseorang, maka jangan lepaskan ia. Karena tidakkah kamu berpikir bahwa di sana egomu yang telah berbicara? Tidakkah kamu pikir kamu bisa bersama-sama mencari solusinya? Lepaskan egomu dan lihat apa yang bisa kamu lakukan.

 

 

– Dan jika kamu merasa tak mungkin kembali lagi, maka maafkanlah ia dan biarkan ia menjadi satu bagian dari kenangan indah yang akan senantiasa


menyertaimu. Tak perlu kamu ulas kesalahannya karena meski kamu ungkit seribu kali, takkan berbeda hasil akhirnya.
 

 

– Dan jika kamu telah bertemu yang baru, maka jagalah perasaannya. Buktikan bahwa kamu sungguh-sungguh menghargainya, ingin berbagi cintamu, kesetiaanmu, harimu dengannya. Ketika kamu menerima seorang perempuan apa adanya dan menunjukkan betapa kuat komitmenmu padanya, aku yakin segala kecemburuan yang menurutmu tak beralasan akan hilang dengan sendirinya, karena cemburu sebetulnya merupakan wujud kekhawatiran yang secara alami melekat dalam diri perempuan,seperti juga laki-laki, ketika cinta melingkupi kalbunya.

Mudah-mudahan apa yang kubagi denganmu bisa memantapkan langkahmu, memudahkanmu dalam mengambil keputusan, dan cepat menghantarkanmu pada satu tujuan, bersanding dengan dia yang sungguh-sungguh kamu inginkan berada di sisimu sepanjang hayatmu,hidup bahagia bersamanya sampai ajal menjemput di haritua.

Aku kan ikut mendoakan, pasti..

 

 

 

 

 

 

 

Apa Yang Lelaki Cari Pada Wanita

                       1.Lelaki mahukan wanita yang bijak dan bekerja tetapi yang lebih
                         penting ialah wanita yang dapat mendorong dan
                         mengurangkan kemungkinan membabitkan lelaki itu ke kancah
                         tekanan yang dihadapi oleh kaum wanita. 

                       2.Lelaki suka memilih wanita yang senantiasa nampak kemas,
                         bersih dan cantik untuk menjadi teman hidup. Wanita yang
                         suka berjenaka dan boleh bergurau, merasa gembira apabila
                         bersama dan menyenangkan, seksi, mementingkan
                         perhubungannya bersama lelaki itu, menyanjung tinggi teman
                         lelakinya, bersikap terbuka dan boleh berbicara mengenai
                         semua perkara, punya sifat keibuan dan lelaki tidak merasa
                         bimbang ketika pergi bekerja, dan menganggap bahawa lelaki
                         itu penting dalam kehidupan di dunia ini. 

                       4.Lelaki mula tidak suka pada wanita yang bebas pergaulannya,
                         lebih mementingkan anak dari suami, tidak berminat dalam hal
                         seks, terlalu dingin atau agresif, mempunyai pekerjaan yang
                         lebih baik dan gaji yang lebih tinggi dari lelaki, suka berleter
                         dan terlalu emosional, tidak memberikan perhatian kepada
                         mereka. 

 

Buat Calon Istri



Buat Calon Istri



Pernikahan atau Perkawinan,
Membuka tabir rahasia,
Suami yang menikahi kamu,
Tidaklah semulia Muhammad,
Tidaklah setaqwa Ibrahim,
Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
Atau pun segagah Musa,
Apalagi setampan Yusuf
Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
Yang punya cita-cita,
Membangun keturunan yang soleh solehah…
Pernikahan atau Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama,
Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya

Pernikahan atau Perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna didalam menjaga
Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah …

 

Buat Calon Suami


Pernikahan atau Perkawinan,
Menyingkap tabir rahasia …
Isteri yang kamu nikahi,
Tidaklah semulia Khadijah,
Tidaklah setaqwa Aisyah,
Pun tidak setabah Fatimah …
Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
Yang punya cita-cita, Menjadi solehah …
Pernikahan atau Perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama …
Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya,
Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya ..
Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
Seandainya Isteri tulang yang bengkok, Berhati2lah meluruskannya …

Pernikahan atau Perkawinan,
Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa …
Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa,
Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As,
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah,
Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh …

 

 

 

 

 

 

Rasulullah SAW bersabda,

” Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya,

hendaknya kamu nikahkan dia. Karena kalau engkau tidak mau menikah

kannya, niscaya akan terjadi  fitnah di muka bumi dan kerusakan yang

luas”. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

 

Hadist diatas merupakan pedoman bagi calon mertua dalam memilih

menantu atau wanita dalam memilih suaminya. yaitu dengan melihat

agama dan akhlaknya.

 

Bagaimana caranya agar kita dapat mengetahui agama dan akhlak

calon suami sebelum kita menjadi istrinya?

 

Islam memberikan tuntunan kepada kita, untuk menganalisa atau

mengamati kehidupan calon suami sehari-hari.

Engga perlu kita sendiri yang melakukan, tapi bisa lewat orang lain

(teman ) yang bisa kita percaya.

 

Selanjutnya, kita juga dianjurkan untuk melakukan shalat istikharah,

yaitu shalat untuk memohon kepada Allah agar ditunjukkan calon

suami yang baik untuk kehidupan dunia dan akhirat kelak.

Tapi perlu diingat, jangan sampai kita menunggu-nunggu datangnya

mimpi ataupun sesuatu keajaiban untuk meyakinkan hati kita.

Timbulnya kemantapan ini waktunya tidaklah pasti, jadi kita tidak

dapat membatasi dengan jangka tertentu.

Jalani aja kehidupan kita seperti biasa, sampai petunjuk itu tiba.

 

Hadist di atas juga menerangkan adanya tanggung jawab bersama

pada masyarakat Islam untuk mengawinkan laki-laki yang sudah

berkeinginan untuk menikah, asalkan agama dan akhlaknya baik.

Misalnya kita membantu mengenalkannya kepada wanita yang ia

senangi atau membantu apa yang diperlukannya agar ia dapat

segera menikah.

Dengan demikian dalam masyarakat Islam tidak banyak laki-laki

membujang sehingga membawa pengaruh jelek bagi masyarakat.

 

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin ‘Ali :

“Saya punya seorang putri. Siapakah yang patut menjadi suaminya

menurut Anda?” Jawabnya :

“Seorang laki-laki yang taqwa kepada Allah. Sebab jika ia senang,

ia akan sudi menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tak

suka berbuat dhalim kepadanya”.

 

 

Apa yang Isteri Harapkan dari Suami

Perasaan wanita sensitif. Dia juga sedar bahawa dia kaum yang lemah,

               menyebabkan dia lebih mudah tersinggung bila lelaki yang dia kasihi tidak berada
               disebelahnya menyokong dan memberi semangat untuk meninggikan martabat
               dirinya. Dia akan marah bila lelaki yang diharapkan akan menyokongnya
               menyalahkan dirinya pula. Itulah bentuk jiwa wanita, yang mendambakan
               kebijaksanaan lelaki untuk memahami dirinya. 

               Apa Yang Wanita Harapkan

                  1.Mahu diiktiraf dan dihormati tapi lelaki selalu buat dirinya terasa tidak diadili
                    dan dibiarkan. 

                  2.Mahu dihormati dan diingati tapi lelaki selalu buat dia rasa dilalaikan dan
                    tidak dipentingkan. 

                  3.Mahu lelaki faham mengapa dia marah dan yakinkan dirinya bahawa dia
                    masih dicintai walaupun dia tidak sempurna tapi lelaki selalu buat dia rasa
                    tidak selamat. 

                  4.Mahu difahami dan dihormati tapi lelaki selalu buat dia merasa tidak
                    didengari dan ditekan. 

                  5.Mahu lelaki ambil berat terhadap perasaannya dan hargai keperluannya
                    untuk dapatkan maklumat tapi lelaki buat dia rasa tidak dihormati dan
                    dihargai. 

                  6.Mahu rasa yakin bahawa lelaki mendengar dan ambil berat tapi lelaki buat
                    dia rasa tidak dipedulikan dan diadili pula. 

                  7.Mahu dianggap betul dan difahami tapi lelaki selalu buat dia merasa tidak
                    disokong, tidak dicintai dan kecewa. 

                  8.Mahu dihormati dan dinilaikan terutama semasa berkongsi perasaannya.
                    Tapi lelaki selalu buat dia rasa tidak selamat dan dikawal

 

 

"KENAPA HARUS MENIKAH?"


Oleh : Chandraleka
hchandraleka(at)telkom.net

Berikut beberapa alasan mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi kaum muslimin untuk memeriahkan dunia dengan nikah.

1. Melengkapi agamanya
"Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR. Thabrani dan Hakim).

2. Menjaga kehormatan diri
"Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

3. Senda guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang." (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 309).

Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh dengan istri termasuk sedekah
Pernah ada beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Beliau bersabda, "Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah; mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri pun sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?" Beliau menjawab, "Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?" (Mereka menjawab, "Ya, tentu." Beliau bersabda,) "Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala." (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, "Semua itu bisa digantikan cukup dengan shalat dua raka'at Dhuha.") (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 125).

5. Adanya saling nasehat-menasehati

6. Bisa mendakwahi orang yang dicintai

7. Pahala memberi contoh yang baik
"Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun." (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali
melakukan kebaikan atau kejahatan.)
Bagaimana menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya? Demikian juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi keluarganya?
8. Seorang suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama.
Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: "Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu." (HR Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah." (HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Seorang suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.

Muawiyah bin Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: `Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap salah seorang di antara kami?" Beliau menjawab dengan bersabda, "Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian. Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka." (Adab Az Zifaf Syaikh Albani hal 249).

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada bab niat, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: "Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)

Dari Abdullah bin Amr bin `Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus diberi belanja." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

Dan akan diganti oleh Allah, ini janji Allah
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya." (Saba': 39).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: "Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, yang satu berdoa: "Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya." Dan yang lain berdoa: "Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir." (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).

9. Seorang pria yang menikahi janda yang mempunyai anak, berarti ikut memelihara anak yatim

 

Janji Allah berupa pertolongan-Nya bagi mereka yang menikah.

 

1. Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160) 

 

 

 

       

 

               |                  |       | 

               ~                ~      ~          

  _o_,_\    _| |   . _o_\   _| | (|_|_|   _o_,_,_,____,

(     ..     /      (_)        /              (               .

                                                               

Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allaah, The Most Gracious, The Most Kind

 

MEMPERBINCANGKAN TENTANG CINTA DAN

PERNIKAHAN  DALAM   PERSPEKTIF   ISLAM

 

 

BAGIAN DELAPAN

 

MENIKAH TANPA CINTA

 

Adakalanya sebuah pernikahan terjadi tanpa dilandasi oleh

cinta.Mereka berpendapat bahwa cinta itu bisa muncul setelah

pernikahan.Islam memandang bahwa faktor ketertarikan

merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu

saja.Islam melarang seorang wali menikahkan

seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya

untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat

dalam Al Qur’an dan al Hadist

 

“Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin

dengan bakal suaminya” ( Al Baqarah ayat 232)

 

“Dari Ibnu Abbas ra , bahwa seorang wanita datang

kepada nabi saw , lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya

telah menikahkannya padahal ia tidak suka , lalu nabi saw

memberikan hak kepadanya untuk memilih (HR Abu Daud)

 

Karena yang menjalani sebuah pernikahan adalah

kedua pasangan itu bukanlah wali mereka.

 

Selain itu seorang yang hendak menikah hendaknyalah

melihat dahulu calon pasangannya seperti termuat

dalam hadis

 

“Apabila salah seorang dari kamu meminang seorang

wanita maka tidaklah dosa atasnya untuk melihatnya ,

jika melihatnya itu untuk meminang , meskipun wanita

itu tidak melihatnya “(HR Ahmad)

 

Memang benar dalam beberapa kasus , pasangan

yang menikah tanpa didasari cinta bisa mempertahankan

pernikahannya.Tapi apakah hal ini selalu terjadi ,

bagaimana bila yang terjadi adalah sebuah neraka

pernikahan , kedua pasangan saling membenci

dan saling mencaci maki satu sama lain.

Sebuah pernikahan dalam islam diharapkan dapat

memayungi pasangan itu untuk menikmati kehidupan

yang penuh cinta dan kasih sayang dengan

mengikat diri dalam sebuah perjanjian suci

yang diberikan Allah SWT.Karena itulah

rasa cinta dan kasih sayang ini sudah sepantasnya

merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum

kedua pasangan mengikat diri dalam pernikahan.

Karena inilah salah satu kunci kebahagian yang

hakiki dalam mensikapi problematika rumah

tangga nantinya.

 

 

“MENGAPA MENUNDA PERNIKAHAN?”

 

Rosulullah pernah berkata kepada Ali ra:

Hai Ali, ada 3 perkara yang jangan kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu

1.Shalat apabila tiba waktunya,

2.Jenazah apabila sudah siap penguburannya, dan

3.wanita bila menemukan pria sepadan yang meminangnya (HR. Ahmad)

 

Kalau kita tanya seseorang pemuda/pemudi, Mengapa belum menikah? Maka

jawabanya antara lain:

 

1.Masih kuliah/menuntut ilmu.

Dikhawatirkan bila menikah akan mempengaruhi prestasi belajar dan

mempengaruhi persiapan masa depan.

Hal ini sesungguhnya tergantung dari manajemen waktu, waktu yang biasanya

dipakai untuk hura-hura setelah waktu kuliah, diganti dengan mencari nafkah

atau bercengkrama dengan keluarga.

Disisi lain, bisa menghemat sewa kamar (kost-kost an), dapat saling membantu

mengerjakan tugas (kalau satu bidang studi) atau dapat memperluas wawasan

diskusi interdisipliner

misalnya suami studi ilmu komputer dan istri akutansi maka diskusi komputasi

akutansi akan nyambung, atau biologi dengan kimia diskusi tentang biokimia.

 

2.Bila menikah akan terkekang tidak bisa bebas lagi, tidak bisa kongkow-

kongkow di mal setelah pulang kuliah atau kerja, bertambah beban tanggung

jawab untuk memberi nafkah istri dan anak.

Sedangkan Rosul bersabda: “Bukan golonganku orang yang merasa khawatir akan

terkungkung hidupnya karena menikah kemudian ia tidak menikah” (HR

Thabrani).

 

3.Belum siap dalam hal materi/rezeki.

Banyak yang beranggapan kalau mau menikah harus siap materi, yang berarti

harus punya jabatan yang mapan, rumah minimal BTN, kendaraan dll, sehingga

bila belum terpenuhi semua itu, takut untuk “maju”.

Sedangkan Allah menjamin akan memberikan rizki bagi yang menikah seperti

dalam firmanNYA:

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang

yang patut (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.

Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah

Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 24:32).

Rasulullah SAW bersabda : “Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan>

(dalam kehidupan berkeluarga)” (HR Imam Dailami dalam musnad Al Firdaus).

 

4.Tidak ada/belum ada jodoh.

Masalah memilih jodoh telah di jelaskan pada tazkiroh 2 pekan yang lalu,

dibawah ini adalah pesan Rosul SAW: Imam Thabrani meriwayatkan dari Anas bin

Malik r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa menikahi wanita karena kehormatannya (jabatan), maka Allah SWT

hanya akan menambah kehinaan; Barang siapa menikah karena hartanya, maka

Allah tidak akan menambah kecuali kefakiran;

Barang siapa menikahi wanita karena hasab (kemuliaannya), maka Allah hanya

akan menambah kerendahan.

Dan barang siapa yang menikahi wanita karena ingin menutupi (kehormatan)

matanya, membentengi farji (kemaluan)nya, dan mempererat silaturahmi, maka

Allah SWT akan memberi barakah-Nya kepada suami-istri tsb”.

Imam Abu Daud & At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita yang

hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (dari pada wanita

kaya & cantik tapi tidak taat beragama)”.

Bukan berarti Rasulullah SAW mengabaikan penampilan fisik dari pasangan

kita, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

“Kawinilah wanita yang subur rahimnya dan pecinta ” (HR Abu Daud, An Nasai &

Al Hakim).

“Tiga kunci kebahagiaan suami adalah: Istri yang solehah: yang jika

dipandang membuat semakin sayang, jika kamu pergi membuat tenang karena bisa

menjaga kehormatannya dan taat pada suami”.

 

5.Mungkin masih ada alasan lainya, yang tidak akan dibahas disini misalnya:

-Karena kakak (apalagi wanita) belum menikah

-Karena orang tua terlalu selektif memilih calon mantu.

 

Manfaat menikah di usia muda:

 

1.Menjaga kesucian fajr (kemaluan) dari perzinaan serta menjaga pandangan

mata. (QS 24: 30-31).

 

2.Dapat melahirkan perasaan tentram (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih

sayang (rahmah) dalam hati.(QS 0:21).

 

3.Segera mendapatkan keturunan, dimana anak akan menjadi Qurrata A’yunin

(penyejuk mata, penyenang hati)

(QS 25:74)

Karena usia yang baik untuk melahirkan bagi wanita antara 20-30 tahun,

diatas umur tsb akan beresiko baik bagi ibu maupun sang baby.

 

4.Memperbanyak ummat Islam.

Seperti yang dipesankan Rosul beliau akan membanggakan jumlah ummatnya yang

banyak nanti di akhirat.

Kemuliaan menikah: “Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka)

seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada

Allah> maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka.

Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah

memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat.

Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka

berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya.” (HR

Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudzri r.a.)

Juga dapat ditambahkan, bahwa Islam memberi nilai yang tinggi bagi siapa

yang telah menikah, dengan menikah berarti seseorang telah melaksanakan

SEPARUH dari agama Islam!, tinggal orang tsb berhati-hati melaksanakan yang

separuhnya lagi agar tidak sesat.

Rosul SAW bersabda: Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh

agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara

yang separuhnya lagi (HR Al Hakim).

Kehinaan melajang/membujang: “Orang yang paling buruk diantara kalian ialah

yang melajang (membujang) dan seburuk-buruk mayat (diantara) kalian ialah

yang melajang (membujang)” (HR Imam, diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dari

Athiyyah bin Yasar).

 

 

Memilih Gadis `Ahlul-Kitab’

Salah seorang sepupu saya kuliah di suatu perguruan tinggi negeri di kota Y. Ketika pulang ia membawa serta temannya yang kemudian dikenalkan sebagai pacarnya. Menurut pengakuannya ia telah menjalin hubungan khusus dengan wanita itu selama dua tahun. Mereka berdua bahkan sudah bersepakat untuk menikah setelah lulus kuliah. Yang menjadi soal, wanita yang hendak dinikahi oleh sepupu saya tersebut non-Muslim.

Orang tuanya tidak setuju atas rencana pernikahannya, bahkan diancam agar tidak membawa wanita itu sekali lagi ke rumahnya. Sepupu tetap bersikukuh dengan rencananya karena sudah saling jatuh cinta. Dia juga beralasan bahwa Islam memperbolehkan seorang Muslim menikahi wanita Nasrani karena termasuk ahli kitab. Saya diminta untuk menjelaskan masalah ini kepada orang tuanya, tetapi saya sendiri masih ragu-ragu terhadap alasannya. Saya mohon agar Ustadz membantu memberikan penjelasan sedetail-detailnya, serta melengkapi dengan dalil-dalilnya.

NS di kota Sd

Jawab:

Dalam dunia yang semakin terbuka seperti sekarang ini, interaksi antar suku, etnik, golongan, dan agama sangat mungkin terjadi. Bahkan di kota-kota besar jarak itu semakin dekat. Seorang mahasiswa berteman tidak saja dengan yang seagama, tapi juga yang lain agama. Jika yang bergaul adalah mahasiswa dengan mahasiswi, bisa jadi berlanjut pada hubungan asmara. Mereka saling jatuh cinta, seperti yang dialami oleh sepupu Anda.

Dalam hal ini bekal agama dari keluarga menjadi sangat utama. Orang tua hendaknya memberi bekal yang cukup kepada putra-putrinya agar dapat memahami rambu-rambu pergaulan dan siap mental untuk mentaatinya. Untuk saat ini, bahkan bekal saja masih kurang memadai tanpa disertai dengan kontrol dan pengawasan secara kontinyu. Orang tua tetap harus memberikan kepercayaan kepada putra putrinya yang telah dewasa dengan memberikan otonomi yang seluas-luasnya, tapi bukan berarti melepaskan sama sekali. Orang tua tetap harus memberikan pengawasan yang memadai.

Andaikata setiap orang tua melakukan kontrol dan pengawasan yang intensif kepada putra-putrinya, terutama yang sudah menginjak usia dewasa, maka kejadian di atas tentu dapat dicegah. Dalam kasus di atas, orang tua hanya tahu ujung-ujungnya saja, sedangkan prosesnya sama sekali tak diketahuinya. Akibatnya, orang tua tidak bisa memecahkan persoalan ini kecuali dengan mengancam saja. Hal itu dapat dipahami karena orang tua tidak mempunyai alternatif lain lagi.

Lepas dari persoalan pengawasan orang tua, sepupu Anda kini telah bertekad melanjutkan rencananya untuk menikah. Masalahnya sekarang, mencarikan jalan terbaik yang sesuai dengan tuntunan Islam. Yang perlu ditekankan di sini bahwa pernikahan itu merupakan urusan syariat, bukan semata-mata urusan keduniaan. Karenanya, semua masalahnya harus diselesaikan dalam koridor syariat.

Dalam syariat Islam, yang disebut ahlul-kitab adalah pengikut Yahudi dan Nasrani. Al-Qur’an menyebut ahlul-kitab sebanyak 30 kali. Sebagian menunjuk Yahudi dengan kata-kata Huud, Yahuud, atau alladziina haaduu. Sebagian lagi menyebut kaum Nasrani dengan panggilan Nasraani atau Nasaara.

Pada masa Rasulullah, ahlul kitab, baik Yahudi maupun Nasrani, telah menyebar di jazirah Arab. Basisnya kaum Yahudi di Yatsrib, sedangkan pusatnya kaum Nasrani di Najran. Masing-masing mengaku benar, dan menjelekkan yang lain. Kondisi tersebut ditegaskan Allah dalam al-Qur’an:

“Kaum Yahudi mengatakan, orang Nashara tidak tahu apa-apa, orang Nasrani mengatakan kaum Yahudi tidak tahu apa-apa. Sedangkan mereka (sama-sama) membaca al-Kitab. Begitulah perkataan kaum yang tidak mengerti seperti apa yang mereka katakan. Maka Allah menghukumi di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan.” (QS al-Baqarah: 113)

Sebagian dari ahli kitab itu ada yang bergembira setelah al-Qur’an diturunkan dan mengimaninya. Mereka mendukung risalah Muhammad, sebagaimana ditegaskan al-Qur’an surat Ali Imran: 119. Tetapi sebagian di antara mereka ada yang menunjukkan sikap permusuhan. Mereka menolak mengimani al-Qur’an, juga mengimani kerasulan Muhammad. Mereka itu disebut dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah: 105.

“Tidaklah senang orang-orang kafir dari ahli kitab dan kaum musyrik bila Tuhanmu menurunkan suatu kebaikan kepadamu.”

Islam bersikap positif terhadap ahlul-kitab. Itulah sebabnya al-Qur’an berseru kepada mereka agar mengikuti jalan Islam, sebagai satu-satunya kebenaran. Tetapi jika mereka menolak ajakan itu, maka juga tidak ada paksaan. Mereka bebas menentukan apakah memilih jalan Islam atau yang lain. Lagi-lagi Allah menegaskan, dalam surat al-Baqarah: 256, “Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas yang benar dari yang salah.”

Selama mereka berbuat baik kepada kita, dan tidak melakukan permusuhan, maka tidak ada halangan baik kaum Muslimin untuk berteman dan menjalin hubungan sosial dengan mereka. Bahkan hak-hak mereka mendapatkan jaminan dan perlindungan. Al-Qur’an menegaskan, “Tidaklah Allah melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap kaum yang tidak memerangimu dalam agama dan tidak mengusirmu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarangmu menjadikan kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka kawan, maka termasuk orang dzalim.” (QS al-Mumtahanah: 8-9)

Nah, apakah dengan begitu berarti Islam menghalalkan hubungan sosial, ekonomi, budaya, termasuk nikah dengan ahlul-kitab? Jawabnya, sebentar dulu.

Pada prinsipnya, yang tegas-tegas diharamkan oleh syariat Islam adalah menikah dengan kaum musyrik. Larangan itu tegas, tak bisa ditawar-tawar. Artinya, laki-laki atau perempuan Muslim tidak boleh menikah dengan laki-laki atau perempuan musyrik. Al-Qur’an menegaskan:

“Pada hari ini Kami halalkan bagimu yang baik-baik. Dan makanan (sembelihan) ahli kitab halal bagimu, sembelihanmu halal bagi mereka. Begitu pula (halal) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara kaum beriman dan di antara kaum yang diberi kitab sebelummu, setelah kamu membayar mas kawin dengan maksud untuk menikahinya, bukan dengan maksud berzina atau menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir setelah beriman, hapuslah amalannya dan di akhirat ia tergolong orang merugi.” (QS al-Maaidah: 5) Bagaimana menikah dengan ahlul-kitab? Sebagian ulama berpendapat bahwa ahlul-kitab itu hanya ada pada zaman Rasulullah. Setelah al-Qur’an turun secara lengkap, maka mereka tidak bisa lagi disebut ahlul-kitab. Alasannya, sudah ada pengganti kitab yang lebih orisinil, dan kitab pegangan mereka sudah tidak asli lagi. Kitab suci mereka sudah ternoda oleh tangan-tangan kotor manusia.

Sebagian lagi menyatakan bahwa kaum Nasrani dan Yahudi saat ini tidak bisa disebut lagi sebagai ahli kitab, karena pada kenyataannya mereka mengakui Tuhan selain Allah, dengan sebutan Tuhan bapa, Tuhan anak, dan Ruhul Kudus. Di samping itu mereka juga menyembah patung, yaitu salib.

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sampai kapanpun orang Yahudi dan Nasrani tetap disebut sebagai ahlul-kitab, sebab pada zaman Nabi pun mereka sudah melakukan penyembahan yang sama sebagaimana yang kita saksikan sekarang. Kitab suci mereka juga telah banyak dikotori tangan-tangan manusia, karenanya tidak semuanya orisinal. Jika pada zaman itu Nabi tetap menghargai mereka sebagai ahlul-kitab, maka sekarangpun mereka tetap digolongkan sebagai ahlul-kitab.

Bagi kami, apapun pendapat kita tentang Yahudi dan Nasrani, apakah termasuk ahli kitab atau bukan, sebaiknya kita memilih sikap hati-hati. Dalam hal ini, menikah dengan sesama Muslim itu lebih afdhal dan disukai Allah, di samping memudahkan dalam menjaga hubungan kerabat maupun mendidik anak-anak. Karenanya, demi untuk menghindari mudharat yang lebih besar, sebaiknya Anda sarankan saja sepupu untuk memilih wanita Muslimah yang shalihah. Mudah-mudahan jawaban ini dapat membantu Anda untuk menjelaskan.

 

 

 

 

 

Assalaamu’alaykum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Raudhah Al Muhibbin wa Al Musytaqin
(Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu)
Pengantin Bidadari
————————-
Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musim
dan dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian…
***

Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat. Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.
“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:
“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”
“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.”
“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.
“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.
 Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan
“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?” Tanya Fulan.
“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A” Jawab Zulebid sedikit gugup.
 “Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku.” Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana pendapatmu wahai putriku?”
Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya.”
Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Adinda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?”
Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang. Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.
“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini.”
Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu”

 

***
Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid…ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama t! eman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya….

Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.
***  
Senja datang
Angin mendesau, sepi…
Pasir-pasir beterbangan…
Berputar-putar…
 
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan…
Tanpa dikafankan…
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.
Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau. Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

Akhirnya keadaan kembali seperti semula.
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?”
Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”
 
“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
“Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid,” Jawab Rasulullah.
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka lagi.
 “Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya….”
***
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

 

Malam menjelang…
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata.
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu…. ”
Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku.

Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah…
Ada sesuatu yang menggenang disana..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..
Ia menggerakkan bibirnya..
“Suamiku, aku mencintaimu…
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..
Aku ikhlas….
***
Somewhere over the rainbow, way up high
There’s a land that I heard of once on a lullaby
Somewhere over the rainbow, skied are blue
And the dreams that you dare to dream
really do come true..

Dan,
Akan kemanakah kumbang terbang
Pada siapa rindu mendendam
Kekasih yang terkasih
Pencinta dan yang dicinta
Semua berurai air mata
Sedih, ataukah bahagia…..?
***
Untuk para pengantin bidadari

 

 

 

 

 

Perkenankanlah aku mencintai-MU semampuku
(
By: RoIs & KlabSantri)

 

 

Tuhanku ….
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu.

Kajian demi kajian tarbiyah kupelajari,

Untai demi untai kata para ustadz kuresapi.
Tentang cinta para nabi, tentang kasih para sahabat,
Tentang muhabbah orang shalih, tentang kerinduan para syuhada.

Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam,


Kutumbuhkan dalam mimpi idealisme yang mengawang di awan.

Tapi Rabbi ….
Berbilang hari demi hari dan kemudian tahun berlalu,
Tapi aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu,

Aku makin merasakan gelisahku

Memadai dalam cita yang mengawang, sedang kakiku mengambang.
Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan.
 
Allahu Rahiim, Illahi Rabbí ….

Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku….
Perkenankanlah aku mencintai-Mu, sebisaku.

Dengan segala kelemahanku.

Ilaahi ….

Aku tak sanggup mencintai-Mu

Dengan kesabaran menanggung derita.

Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al-Mustafa.

 

Karena itu ijinkan aku mencintai-Mu

Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu,

Atas derita batin dan jasadku,

Atas sakit dan ketakutanku.
 
Rabbí ….

Aku tak sanggup mencintai-Mu

Seperti Abu Bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya

Dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarganya.

Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo hartanya demi jihad.

Atau Ustman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan Dien-Mu.

 

Ijinkan aku mencintai-Mu,

Melalui 100-500 perak yang terulur

Pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,

Pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan.

Pada makanan-makanan yang terkirim ke handai taulan.
 

Illahi ….

Aku tak sanggup mencintaiMu

Dengan khusyuknya shalat salah seorang sahabat nabiMu,
Hingga tiada terasa anak panah musuh terhujam di kakinya.

 

Karena itu Ya Allah ….

Perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu,

Dalam shalat yang coba kudirikan dengan terbata-bata,

Meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Rabbi ….

Aku tak dapat beribadah ala orang-orang salíh

Atau bagai para al hafidz dan hafidzah

Yang membaktikan seluruh malamnya

Untuk bercinta denganMu dalam satu putaran malam.

 

Perkenankanlah aku mencintaiMu,

Melalui satu – dua rakaat sholat lailku,

Atau sekedar sunnah nafilahku,

Selembar dua lembar tilawah harianku.

Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.

Yaa Rahiim ….

Aku tak sanggup mencintaiMu

Semisal para syuhada,

Yang menjual dirinya dalam jihad bagiMu.

 

Maka perkenankanlah aku mencintaiMu

Dengan mempersembahkan sedikit bakti

Dan pengorbanan untuk dakwahMu,

Dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.

Allahu Kariim ….

Aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya

 

Ijinkan aku mencintaiMu

Dengan mencintai keluargaku,

Membawa mereka pada nikmatnya hidayah dalam naungan Islam,

Manisnya iman dan ketabahan.
Dengan mencintai sahabat-sahabatku,

Mengajak mereka untuk lebih mengenalMu,

Dengan mencintai manusia dan alam semesta.

Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku, Yaa Allah.
Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.

Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.

 

 

 

TANGGUNGJAWAB ISTERI

                              TAAT

                              Tanggungjawab utama seorang isteri ialah isteri perlulah
                              taat dan patuh kepada suaminya. Kesetiaan isteri kepada
                              suaminya perlu diutamakan terlebih dahulu lebih daripada
                              keluarga terdekatnya sendiri.

                                   Ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah
                                   SAW:

                                   Sekiranya aku ini orang yang
                                   menyuruh mana-mana orang supaya
                                   sujud kepada orang lain tentu sekali
                                   aku akan menyuruh isteri sujud kepada
                                   suaminya.

                                   (Riwayat Abu Daud dan al-Hakim)

  Isteri hendaklah mematuhi perintah si suami asalkan ia tidak bertentangan dengan ajaran
  Islam. Andainya suami menyuruh melakukan dosa maka isteri dibenarkan membantah.

       Sabda Rasulullah SAW:

       Tidak boleh memtaati mahluk dalam perkara menderhaka kepada Allah
       SWT.

       (Riwayat Ahmad)

  Setelah berkahwin, suami mempunyai hak ke atas isteri. Oleh sebab itu, jika isteri ingin keluar
  rumah atau berpuasa sunat, ia hendaklah meminta izin daripada suami.

       Sabda Rasulullah SAW:

       Tidak halal bagi sesorang isteri yang beriman dengan Allah dan hari
       akhirat untuk berpuasa, sedangkan suaminya ada di sampingnya kecuali
       dengan keizinan suaminya itu.

       (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad Ibn Hanbal) 

  Larangan berpuasa tanpa keizinan suami ini diwujudkan kerana dikhuatiri si isteri tidak dapat
  melayan kemahuan si suami dengan baik. Oleh sebab itu, meminta izin adalah sangat penting.

  MELAYAN SUAMI

  Si isteri juga hendaklah melayan kehendak suami dengan baik pada bila-bila masa sahaja.
  Hubungan yang perlu dijaga ialah hubungan kelamin antara kedua-duanya. Oleh sebab itu, si
  isteri hendaklah memastikan bahawa ia melayan kehendak suaminya.

       Sabda Rasulullah SAW:

       Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur, tetapi ia
       enggan melayan ajakan suaminya, maka suami tidur dengan marah pada
       waktu malam itu, nescaya malaikat mengutuknya sampai waktu subuh.

       (Riwayat sebahagian Ahli Sunnah)

  Untuk mengelakkan daripada digolongkan dalam golongan yang ingkar, maka isteri perlulah
  memenuhi kemahuan si suami jika tidak mempunyai alasan yang kukuh untuk menolaknya. 

  MENGURUS RUMAHTANGGA

  Tugas seorang isteri ialah untuk menjadikan tempat tinggalnya sebagai satu tempat untuk berehat
  serta menghasilkan persekitaran yang menyenangkan. Isteri hendaklah menghias rumah itu
  supaya ia kelihatan damai dan rasa senang hati untuk tinggal di situ. Untuk menghias rumah itu, si
  isteri perlulah menghias mengikut kemampuan keperluan keluarga itu. Citarasa hiasan dalaman
  itu bergantung kepada suami isteri asalkan ia tidak melanggar hukum Islam.

  Apabila si suami memberi wang perbelanjaan kepada si isteri, maka si isteri mestilah berbelanja
  dengan bijak serta tidak membazir-bazirkan wang pemberian suaminya. Si isteri hendaklah
  berbelanja mengikut keperluan dan bukannya hawa nafsu. Si isteri mestilah memahami keadaan
  ekonomi suami yang sibuk mencari nafkah yang mencukupi untuk keluarganya. Oleh sebab itu,
  si isteri hendaklah membuat perbelanjaan keluarganya dengan bijak supaya tidak ada
  perbelanjaan melebihi pendapatan. Maka, si isteri hendaklah berjimat- cermat dalam membuat
  pembelian supaya suami isteri itu hidup dalam serba kesederhanaan sahaja. Tanggungjawab
  Bersama.

  Pengurusan rumahtangga adalah tanggungjawab seorang isteri. Walaupun mempunyai pembantu
  rumah, isteri masih bertanggungjawab untuk menyelia segala pengurusan rumah itu. Suami pula
  diharapkan dapat membantu si isteri dalam melakukan kerja-kerja rumah. Dengan adanya
  kerjasama daripada kedua-dua belah pihak, maka akan wujudlah sebuah keluarga bahagia
  serta dapat merapatkan lagi hubungan sesama mereka.

  MENJAGA MARUAH DIRI, SUAMI DAN KELUARGA

  Sebagai seorang isteri, isteri hendaklah menjaga maruah dan akhlak terutamanya apabila keluar
  dari rumah. Apabila si isteri keluar rumah kerana sebab-sebab tertentu seperti bekerja, melawat
  sanak saudara atau keluar membeli-belah, pakaian yang dipakai hendaklah menutup aurat dan
  tidak menjolok mata, berjalan dengan cara yang tidak menarik perhatian ramai serta
  berkelakuan baik. Si isteri perlulah menundukkan pandangan serta menjauhkan dirinya daripada
  segala fitnah yang mungkin akan berlaku.

       Firman Allah:

       Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu
       dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka menghulurkan
       Jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka
       lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu. Dan Allah
       adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

       (Al-Ahzab: 59)

  Seperti juga tanggungjawab si suami terhadap si isteri, segala kecacatan yang ada pada si suami
  hendaklah dirahsiakan. Ini adalah untuk mengelakkan perasaan aib timbul yang boleh menjurus
  kepada perbalahan. Sudah tentu perbalahan seperti ini perlulah dielakkan kerana ia boleh
  mengganggu pembentukan keluarga bahagia.

  MENYENANGKAN HATI SUAMI

  Apabila si suami memberikan pemberian dalam apa sahaja bentuk, adalah menjadi
  tanggungjawab si isteri untuk menghargai pemberian suami itu. Si isteri tidak boleh
  meminta-minta hadiah daripada si suami yang melebihi daripada kemampuannya. Jika mendapat
  hadiah walaupun yang kecil sahaja, isteri hendaklah menghargainya dan tidak mengkritik-kritik
  bentuk hadiah itu.

       Dalam pepatah Arab ada menyebut:

       Accept the little I may give you, my love for you will grow deeper, and
       raise not your voice in my presence, especially when I am in a moody
       crisis.

       (Imam al-Ghazzali)

  Untuk menyenangkan hati si suami melihat si isteri, maka si isteri haruslah menjaga dirinya
  supaya kelihatan ceria dan menarik. Ketika berada di dalam rumah, si isteri perlulah
  mengenakan solekan yang sewajarnya agar suami tertarik hati melihatnya. Si isteri juga
  hendaklah memakai wangi-wangian yang boleh menarik perhatian si suami.

       Seorang perempuan tua Arab ada menasihatkan anaknya pada hari
       perkahwinannya:

       O my daughter! You are leaving the home in which you were brought up for
       a house in which you brought up for a house unknown to you and to a
       companion unfamiliar to you. Be a floor to him, he will be a roof to you; be
       a soft seat to him, he will be a pillar for you; and be like a slave girl to him
       and he will be a slave boy to you. Avoid inopportune behaviour, least he
       should be bored with you; and be not aloof lest he should become
       indifferent to you. If he approaches you, come running to him; and if he
       turns away, do not impose yourself upon him. Take care of his nose, his
       eye and his ear. Let him not smell except a good odour from you; let not
       his eye see you except in an agreeable appearance; and let him hear
       nothing from you except nice, fine words.

       (Imam al-Ghazzali)

  PENDORONG DAN MEMBERI MOTIVASI

  Isteri yang solehah seharusnya menjadi teman berunding bagi suami, menjadi sahabt dalam
  menyelesaikan masalah. Itulah sebabnya hubungan suami isteri itu diertikan orang sebagi “teman
  hidup”. Jika suami menghadapi masalah untuk mencapai cita-citanya dan keluarganya, maka
  berilah motivasi kepada suami disamping menghiburkan hatinya.
 
 

       Dalam sesebuah institusi keluarga, ahli-ahlinya perlulah bersama-sama memikul
       tanggungjawab supaya pembentukan keluarga bahagia akan tercapai. Dalam hal
       yang sedemikian, terdapat beberapa tanggungjawab yang dipikul bersama oleh
       suami isteri. Kedua-duanya perlulah mendalami ilmu fardu ain. Ini adalah perlu
       kerana ilmu ini merupakan panduan untuk mereka dalam menjalani kehidupan
       seharian. Kita juga wajib menuntut ilmu sampai ke liang lahad. Dengan
       mempelajari lebih banyak ilmu fardu ain, suami isteri dapat menghayati kehidupan
       Islam lebih bermakna lagi.
 
 

  Untuk menyelesaikan apa juga masalah keluarga, suami isteri perlulah sentiasa berbincang demi
  kebaikan bersama. Perbincangan adalah lebih baik daripada bersikap autokratik kerana kata
  sepakat dapat dicapai untuk kebaikan bersama dan tidak untuk kepentingan satu pihak sahaja.
  Malah, dengan perbincangan juga suami isteri boleh mendapat ilham baru untuk menyelesaikan
  masalah yang dihadapi bersama. Dalam menunaikan tanggungjawab masing-masing,
  kadang-kadang kita memerlukan pertolongan dalam hal-hal kebajikan.

  Isteri kadang-kadang memerlukan pertolongan si suami untuk membuat kerja-kerja rumah.
  Dalam hal sebegini, adalah perlu bagi pasangannya untuk meringankan beban yang dihadapi
  oleh pasangannya supaya kerja-kerja dapat dilaksanakan dengan cepat dan betul. Apabila
  seorang daripada mereka melakukan perkara yang ditegah, adalah menjadi tanggungjawab
  pasangannya untuk menegur kesilapan yang telah dilakukan. Suami isteri hendaklah saling tegur
  menegur dan menghalang pasangan masing-masing daripada melakukan kemungkaran,
  sebaliknya melakukan lebih banyak hal-hal kebajikan.

  Kedua-duanya perlulah bersikap jujur dan selalu menepati janji antara satu sama lain kerana
  perkahwinan dianggap sebagai satu institusi yang mana ahli-ahlinya perlulah saling percaya
  mempercayai antara satu lama lain tanpa perlu berbohong atau menyimpan rahsia. Oleh sebab
  itulah maka suami isteri hendaklah bersikap terbuka dan berterus terang dalam banyak hal tanpa
  menyembunyikan kebenaran.

  Suami isteri perlulah saling memaafkan dan menasihati kerana sebagai manusia, kita tidak dapat
  lari daripada melakukan kesilapan. Ini adalah penting kerana tanpa sikap pemaaf dan saling
  tegur menegur ini, maka suami isteri itu akan hidup dalam kekacauan kerana sering melakukan
  kesilapan tanpa ada orang yang ingin menegurnya ataupun sering berbalah kerana tidak ada
  sikap pemaaf itu.

  Salah satu hikmah berkahwin ini ialah suami isteri dapat melakukan solat berjemaah. Seperti
  yang diketahui, jika kita solat berjemaah, maka pahala yang diperolehi adalah berganda-ganda
  daripada solat secara sendiri. Dengan melakukan solat berjemaah ini maka perhubungan
  ukhwah antara suami isteri dapat dipereratkan. Yang paling penting dalam kehidupan sebagai
  suami isteri ini ialah bertawakal kepada Allah setelah berusaha sedaya upaya untuk mencapai
  kebahagiaan dalam hidup berumahtangga.

  KESIMPULAN

  Secara kesimpulannya, dapatlah kita lihat bahawa perkahwinan ini adalah penting dalam
  sesebuah masyarakat kerana keluarga merupakan batu asas dalam pembinaan sesebuah
  masyarakat. Untuk melahirkan sesebuah masyarakat yang bahagia, kita perlulah memastikan
  bahawa ahli-ahli masyarakat itu menjalankan tanggungjawab masing-masing. Untuk melahirkan
  masyarakat yang yang kuat, mulia, dan saling bertangungjawab, pembentukan keluarga yang
  bahagia adalah sangat penting. Oleh sebab itu, adalah penting untuk membentuk sesebuah
  keluarga bahagia.

 

 

 

 

Tanggungjawab Suami

             Mukadimah

                              Semua orang inginkan kebahagiaan dalam
                              hidupnya. Salah satu cara untuk mencapai
                              kebahagiaan adalah melalui perkahwinan.
                              Tujuan berumahtangga ialah untuk ” mencari
                              ketenangan dan kedamaian di dalam hidup”
                              [rujuk ayat 80 surah an-Nahl].

                              Rasa bahagia ini wujud kerana adanya perasaan cinta dan
                              kasih sayang yang menjadi asas pembentukan keluarga
                              bahagia. Bagaimanakah caranya untuk membentuk
                              sebuah institusi keluarga yang bahagia ini? Jawapannya
                              ialah ahli-ahlinya perlulah mengetahui dan menjalankan
                              tanggungjawab masing-masing. Tanpa rasa
                              tanggungjawab ini, maka kebahagiaan dalam sesebuah
                              keluarga tidak akan tercapai. Tanpa rasa bahagia, kita
                              akan sentiasa berasa resah dan gelisah kerana ia adalah
                              perasaan semulajadi manusia untuk menikmati
                              kebahagiaan. Esei ini akan menyentuh tentang peranan
                              suami isteri dalam membentuk keluarga bahagia.
 
 

  Tanggungjawab Suami Isteri

  Apabila telah berkahwin, tanggungjawab yang harus dipikul oleh suami isteri menjadi lebih besar
  dan berat. Kedua pihak perlulah menjalankan tanggungjawab masing-masing bagi memastikan
  perkahwinan yang dibina bahagia hingga ke akhirnya. [Tanggungjawab Isteri]

  Adil

  Salah satu tanggungjawab utama seorang suami terhadap isterinya (isteri-isteri) ialah mengawal
  isterinya serta berlaku adil kepadanya kerana isteri itu adalah amanah Allah yang diserahkan
  kepada si suami.

  Ini menunjukkan bahawa suami hendaklah menjaga amanah yang telah diberikan oleh Allah
  kepadanya. Ini merupakan tunggak utama dalam menjalankan tanggungjawab sebagai seorang
  suami. Jika si suami dapat menghayati maksud sabda Rasulullah SAW ini, sudah tentu masalah
  rumahtangga yang banyak berlaku pada zaman ini dapat dielakkan. Suami hendaklah menjaga si
  isteri dan bukannya memperhambakannya walaupun disebutkan di atas sebagai mengawal isteri.
  Di sini, mengawal isteri bukanlah bermaksud mengawalnya sebagai hamba tetapi mengawal
  isteri itu daripada melakukan perkara-perkara yang ditegah oleh Islam.

  Jika sesorang lelaki itu mengahwini lebih daripada seorang isteri, bermakna suami itu perlulah
  bersikap adil terhadap semua isterinya. Suami hendaklah memenuhi keperluan isteri-isterinya
  tanpa melebih-lebihkan salah seorang daripada mereka. Suami perlulah mengaturkan jadual
  bermalam yang adil supaya tidak berlaku perbalahan sesama isteri dan juga dengan si suami
  yang akan menghalang pembentukan keluarga bahagia.

  Pemimpin

  Suami juga bertindak sebagai ketua rumah dalam sesebuah keluarga. Suami bertindak sebagai
  pemerintah yang bertanggungjawab terhadap pemerintahannya iaitu keluarganya. Suamilah yang
  akan membuat keputusan yang membabitkan keluarganya.

  Suami juga hendaklah bertanggungjawab menjaga keselamatan dan kebajikan orang-orang
  dibawahan jagaannya, iaitu isteri serta anak-anaknya. Tanggungjawab yang dipikul ini adalah
  besar, oleh itu si suami hendaklah bersedia untuk memimpin sebuah kerajaan yang dibinanya.

       Firman Allah

       Lelaki itu pemimpin bagi perempuan dengan apa-apa yang Allah telah
       lebihkan sebahagian mereka ke atas sebahagian yang lain, dan lantaran
       lelaki itu telah memberikan nafkah dengan harta mereka.
       Perempuan-perempuan yang baik ialah perempuan yang setia dan
       menjaga diri di belakang suami akan apa-apa yang disuruh Allah
       menjaganya.

       (An-Nisa:34)

  Nafkah

  Si suami juga hendaklah memberi nafkah zahir dan batin kepada isterinya mengikut
  kemampuannya. Menyediakan keperluan asas kepada si isteri iaitu: makanan yang mencukupi,
  pakaian mengikut keperluan dan tempat tinggal.

       Firman Allah

       “Dan kewajipan suami memberi makan dan pakaian kepada isteri dengan
       cara yang baik.”

       (Al-Baqarah:233)

  Suami juga hendaklah memberikan wang yang secukupnya kepada si isteri supaya ia boleh
  membeli keperluan rumahtangga. Untuk pakaian pula, si isteri berhak untuk pakaian yang sesuai
  mengikut keadaan dan kemampuan si suami. Si isteri juga berhak untuk mendapatkan tempat
  tinggal yang selesa, selamat dan sekurang-kurangnya mempunyai keperluan yang minimum.
  Nafkah anak-anak juga adalah tanggungjawab suami. Menurut Rasulullah, memberi nafkah
  kepada anak dan isteri sama hukumnya dengan orang yang berjihad ke jalan Allah. Suami
  haruslah ikhlas, walaupun kepenatan kerana apa yang dilakukan adalah ibadah.

  Untuk keperluan batin pula, si suami hendaklah memenuhi keperluan isteri tanpa mementingkan
  diri sendiri.

  Pendidikan

  Pendidikan agama sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita perlulah sentiasa
  memperbaiki diri kita yang serba kekurangan ini. Dalam sesebuah institusi keluarga, suamilah
  yang bertanggungjawab memberikan nasihat dan pengetahuan serta pengajaran hukum Islam
  dalam hal-hal fardu ain kepada isteri dan anak-anak. Oleh sebab itu, suami perlulah
  melengkapkan dirinya dengan pendidikan agama supaya ia dapat mengajar isterinya.

  Dengan memberi panduan kepada isteri tentang pendidikan agama ini, tentulah ia akan
  mengelakkan keruntuhan sesebuah institusi keluarga yang disebabkan oleh kejahilan tentang
  hukum-hukum agama. Suami hendaklah memastikan bahawa isteri mempunyai pendidikan
  agama yang mencukupi dan menggalakkannya menjalankan ibadat-ibadat sunat dan sebagainya.

  Pelindung

  Si suami juga bertanggungjawab memberi perlindungan, penjagaan dan kegembiraan kepada si
  isteri. Isteri adalah amanah Allah, maka sudah tentu si suami hendaklah menjaganya serta
  menggembirakan hatinya. Hendaklah si suami memastikan bahawa si isteri sentiasa berasa
  senang tanpa rasa susah hati dan sengsara:

       Tempatkanlah mereka (perempuan-perempuan yang idah) di tempat
       kediaman yang sesuai dengan kemampuan kamu, dan janganlah
       menyengsarakan mereka untuk menimpakan kesusahan kepada mereka.

       (at-Talaq :6)

  Menurut ayat di atas juga, suami bertanggungjawab menyediakan kediaman (yakni
  perlindungan) kepada si isteri. Suami hendaklah memastikan bahawa keselamatan si isteri
  adalah terjamin. Perempuan adalah kaum yang lemah, oleh sebab itu, sebagai kaum yang
  berdaya, suami hendaklah menjaga si isteri daripada sebarang bahaya. Untuk mencapai
  kebahagiaan dalam rumahtangga, rasa cinta dan kasih sayang perlulah wujud antara suami isteri.
  Suami hendaklah memberikan kasih sayang kepada si isteri dengan menjaga hatinya dan
  melayannya dengan baik.

  Suami hendaklah memastikan bahawa hati si isteri tidak terluka dengan sikap si suami. Jika si
  isteri melakukan sesuatu perkara yang kurang disenangi oleh suami, maka si suami hendaklah
  bersabar dan beralah dengannya asalkan ia tidak merosakkan peribadi si isteri dan si isteri tidak
  melakukan perkara-perkara yang ditegah dalam Islam.

  Untuk memastikan bahwa si suami dapat bersabar dengan karenah si isteri, si suami hendaklah
  mempunyai sikap memahami dan memaafkan. Ini adalah perlu supaya tidak terjadi perbalahan
  sesama sendiri walaupun punca masalah yang timbul adalah kecil sahaja. Si suami hendaklah
  bersabar dengan keletah si isteri, bertimbang rasa, dan memahami penderitaan yang ditanggung
  oleh si isteri ketika hamil, melahirkan anak dan mengasuhnya. Pada ketika inilah si isteri
  kadang-kadang bertindak mengikut perasaan. Oleh sebab itulah pada ketika ini, si suami
  hendaklah melayan si isteri dengan baik dan lemah lembut. Janganlah kerana perkara yang kecil
  sahaja maka si suami menengking si isteri itu. Akibatnya, rumahtangga akan menjadi goyah.

  Jika terdapat kecacatan secara fizikal atau sebagainya, si suami hendaklah merahsiakannya
  daripada pengetahuan orang ramai. Apa-apa tanda yang terdapat pada tubuh si isteri, adalah
  menjadi amanah kepada si suami merahsiakan segalanya kerana ia boleh mengaibkan si isteri
  jika dihebohkan. Kita perlulah mengasihi semua anggota keluarga kita. Setelah berkahwin,
  semua ahli keluarga pihak si isteri akan menjadi keluarga pihak si suami. Oleh sebab itu, si suami
  hendaklah menyayangi keluarga pihak si isteri seperti keluarganya sendiri.

  Melayan & Menggauli Isteri Dengan Baik

  Gurauan adalah perlu dalam perhubungan suami isteri kerana ia boleh merapatkan lagi
  perhubungan mereka. Ia juga merupakan salah satu cara untuk merehatkan badan dan
  pemikiran. Suami hendaklah menggembirakan hati si isteri apabila berehat dengannya dengan
  berjenaka secara sederhana. Apabila menggauli si isteri, suami hendaklah melakukannya dengan
  lemah lembut, sopan santun dan tidak zalim.

  Suami hendaklah mendekati si isteri dengan cara yang baik dan bersopan, tidak bersikap ganas
  seperti seekor binatang. Isteri hendaklah dilayan sebagai seorang yang setaraf yang boleh
  berkongsi kebahagiaan dengannya. Sepatutnya isteri itu dilayan dengan penuh kasih sayang dan
  kelembutan terutamanya pada malam pertama perkahwinan mereka. Dengan ini, sudah tentu
  akan mengukuhkan lagi rasa kasih sayang antara mereka.

       Suami akan mendapat ganjaran di akhirat jika menggauli si isteri dengan baik:

       Dan bergaullah dengan mereka (perempuan-perempuan) dengan baik, dan
       sekiranya kamu membenci mereka mungkin apa yang kurang kamu sukai
       itu Allah menjadikannya kebaikan yang banyak.

       (An-Nisak :19)

  Seorang suami juga tidak boleh mempunyai prasangka yang buruk dan bukan-bukan terhadap
  isterinya walaupun perasaan cemburu itu adalah perkara biasa. Perasaan cemburu yang timbul
  itu mestilah munasabah dan tidak keterlaluan sehingga boleh menyebabkan perbalahan antara
  suami isteri. Si suami sepatutnya tidak membiarkan perasaan cemburu itu mengatasi akal
  pemikiran yang rasional dalam menyelesaikan masalah.

 

 

Tips mencari jodoh antara lain:
1. Jika kita ingin mendapatkan jodoh maka kita harus berkosentrasi bukan kepada mana yang harus dipilih tapi kosentrasi dengan melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik.
2. Jangan pernah mengharapkan seseorang untuk jadi seperti yang kita harapkan tapi lebih melihat bagaimana kita menempatkan diri kita terhadap orang lain.
3. Jika belum memiliki pasangan hidup kita tetap harus memposisikan untuk siap dan berani menanggung segala resikonya dalam membina rumah tangga.  

 

 

 

 

4. Jangan jadikan traumatik masa lalu sebagai patokan sehingga tidak memberikan solusi ke arah yang lebih baik.
 
 
 

 

5. Carilah soulmate sebanyak-banyaknya agar silaturahmi nya baik.
6. Jangan pernah menilai, memberi label, dan kesimpulan kepada seseorang karena jodoh atas ridlo Yang Di Atas semata, manusia hanya wajib berikhtiar tapi Yang Di Atas yang menentukan segalanya.
7. Tidak perlu mengkhawatirkan usia, di usia berapapun menikah baik jika kita mau mempertanggung jawabkan pernikahan kita terhadap Yang Di Atas dan pasangan.
 

 

 

 

8. Teruslah berdoa karena doa merupakan proposal kita terhadap Yang Di Atas, jangan pernah berprasangka buruk terhadap Yang Di Atas..

Bagaimana konsep jodoh?

 

 
 
 

 

1. Konsep jodoh adalah soulmate atau belahan jiwa.
 
 
 

 

2. Banyak orang sering melupakan konsep jodoh yaitu melakukan perubahan dan saat menerima perubahan.
3. Pada saat mencari jodoh sering melihat secara fisik saja, sehingga tidak mendorong seseorang mencari pasangan hidup sesuai dengan apa yang diidamkan.
4. Orang menikah sebaiknya terkonsep bukan sekedar mencari keturunan semata tapi lebih untuk meningkatkan amal ibadah.  

Ketika Yang Di Atas menentukan jodoh manusia, apakah si A harus berjodoh dengan si B /

apakah kita sendiri yang menentukan pilihannya?
 
 
 

 

1. Perkawinan terjadi bila ada komitmen antara Yang Di Atas, dirinya dan pasangannya.
2. Kalo soulmate belum terjadi komitmen besar.
3. Persoalannya adalah seringkali orang tidak melihat apakah soulmate ini merupakan kehendak Yang Di Atas  atau kehendak sendiri.
 

 

 

 

4. Persoalannya lebih sejauh kepada sejauh mana ikhtiar / berdoa kita dalam berbagi dengan soulmate.
 
 
 

 

5. Jadi penilaiannya adalah jangan ambil keputusan bila belum mendapat ridlo Yang Di Atas.

Apa yang menjadi penyebab wanita terlambat memperoleh jodoh?

 

 
 
 

 

1. Bisa traumatik masa lalu sehingga takut melangkah ke masa depan.
2. Wanita cerdas dan pintar mampu mengambil keputusan untuk menikah bukan karena umur tetapi lebih mewaspadai apa yang harus dilakukan dalam satu komitmen diri.
 
 

 

 

3. Kadang – kadang kemungkinan orang ragu pilihan sendiri bila ada yang lebih baik / ganteng / lebih superior dari dia nya sendiri.

Bagaimana bila jodoh tak kunjung datang?

 

 
 
 

 

1. Kita ambil hak prerogatif Yang Di Atas dari keputusan apa pun.
2. Gagal mungkin jalan yang terbaik untuk diri kita sendiri.
 
 

 

 

3. Banyak orang yang berandai-andai daripada ketimbang memberi keputusan matang terlebih dahulu.
 
 
 

 

4. Seharusnya tetap optimis dan tidak putus asa. 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: