FIQH

BERZAKAT KEPADA IBU
Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Ibnu Baz ditanya : Bolehkah seseorang mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada ibunya ?

Jawaban
Seorang muslim tidak boleh mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada kedua orang tuanya, juga tidak boleh mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada anak-anaknya, akan tetapi hendaknya seseorang memberi nafkah kepada kedua orang tua dan kepada anak-anaknya dari hartanya jika mereka membutuhkannya, demikian ini jika ia memang mampu memberi infaq kepada mereka.

[Fatawa Al-Mar’ah, Syaikh Ibnu Baaz, 2/44]


 



BERZAKAT KEPADA ANAK PEREMPUAN YANG FAKIR
Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah mengeluarkan zakat kepada anak perempuan yang sudah menikah dan dalam keadaan membutuhkan ?

Jawaban
Setiap orang mempunyai ciri-ciri golongan yang berhak mendapatkan zakat pada dasarnya boleh memberikan zakat kepadanya, berdasarkan ini, jika seseorang tidak mampu memberi infak kepada anak perempuannya dan kepada anak laki-lakinya, maka hendaknya zakat tersebut diberikan kepada anak perempuannya, dan yang lebih baik dan lebih selamat adalah memberikan zakat tersebut kepada suami anaknya itu.
[Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/397]


 



ZAKAT KEPADA SAUDARA DEKAT
Oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta

Pertanyaan
Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta ditanya : Jika ada wanita-wanita yang telah bersuami yang mana mereka itu adalah kerabat seorang pria, misalnya sebagai keponakannya, sementara suami-suami mereka adalah orang-orang yang tidak kaya sehingga mereka kurang tercukupi kebutuhannya, apakah boleh bagi pria itu untuk mengeluarkan zakat
kepada mereka ?

Jawaban
Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang menerima zakat adalah fakir miskin. Tentang boleh atau tidaknya memberikan zakat kepada mereka sebagaimana yang ditanyakan yang dianggap sebagai termasuk fakir miskin, harus dikaji terlebih dahulu tentang kefakiran mereka, jika kefakiran itu berupa kebutuhan nafkah dan pakaian, sementara para suami mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka tidak ada alasan untuk mencegah pemberian zakat kepada mereka, namun jika kefakiran itu berupa kebutuhan nafkah perlengkapan, seperti emas atau lainnya, maka tidak boleh memberikan zakat kepada mereka.
[Majalah Al-Buhut Al-Islamiyah, 3/174]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita 1, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, hal 220-221, penejemah Amir Hamzah Fakhruddin]
sumber : http://www.almanhaj.or.id



Bising ketika orang sedang shalat


Sering kita temui, melihat dan mendengar orang bersuara keras, berteriak, tertawa, berdzikir dengan suara nyaring, membaca al Qur’an dengan suara nyaring padahal disekitar mereka ada saudara nya yang sedang mendirikan shalat. dan jarang sekali kita temui orang yang mau marah karena ALLAH Subhanahu wa Ta’ala dan mencegah perbuatan ini yang jelas-jelas menyimpang dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Al Ustadz Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqih Sunnah bab Masjid, berkata ” Mengeraskan suara itu sehingga mengganggu orang-orang yang sedang shalat, adalah hukumnya haram, meskipun yang dibaca itu al Qur’an”.


Berikut dalil-dalil pengharamannya:


Dari Abu Said, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah i’tikaf di masjid, lalu beliau mendengar (sebagian Shahabat) mengeraskan bacaan (mereka), lalu beliau membuka tabir (khemahnya) dan beliau bersabda, “Ketahuilah, Sesungguhnya tiap-tiap kamu itu bermunajah (berbisik) kepada Tuhannya, oleh karena itu janganlah sebagian kamu mengganggu kepada sebagian yang lain, dan janganlah sebahagian kamu mengeraskan bacaannya kapada sebagian yang lain.” (Hadits Shahih riwayat Abu Dawud no. 1332)


“Berdo’alah / serulah Tuhan kamu dengan rasa tunduk merendahkan diri dan tersembunyi. karena sesungguhnya Ia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas” (Qur’an surat Al A’raf 55)


“Dan sebutlah nama Tuhanmu didalam dirimu dengan merendahkan diri dengan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah engkau menjadi orang-orang yang lalai” (Qur’an surat al A’raf 205)


Di dalam sebuah hadits diterangkan:


Dari Abu Musa, ia berkata, ” Kami pernah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam didalam satu perjalanan, lalu orang banyak mengucapkan takbir dengan keras, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hai manusia, berlaku lemah lembutlah terhadap diri-diri kamu, karena sesungguhnya kamu tidak menyeru kepada yang tuli dan jauh. Sesungguhnya kamu menyeru kepada Tuhan yang maha mendengar lagi dekat” (Hadits Shahih riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)


Dengan demikian jelaslah bawa mengeraskan takbir, berdzikir dengan suara nyaring, dan membaca Al Qur’an dengan suara nyaring sehingga mengganggu orang yang sedang shalat adalah menyalahi firman ALLAH Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Sedangkan untuk takbir pada dua hari raya kaum muslimin (Idul Fitri dan Idul Adha) adalah merupakan pengecualian, karena ada dalil khusus untuk mengumandangkan takbir yaitu untuk syiar islam (dapat dibaca keterangan dan tatacara takbir dua hari raya ini pada kitab shahih bukhari juz 2 halaman 7).


Semoga kita termasuk kepada orang-orang yang mau menghidupkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membersihkan diri kita dari perbuatan-perbuatan bid’ah yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.


 


 


Fatwa Islam


            Oleh : -Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ,


                      – Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz,


                      -Syaikh Al Munajid


            Fatwa pekan 4 Rabiul Awal 1421


 


Pergaulan seorang muslim dengan non-muslim dalam keadaan perang dan damai


 


Pertanyaan : Apakah kandungan dari ayat : 22 dari surat Al-Mujaadilah ( Wanita yang mengajukan gugatan ) : ( Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhiraat,saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alla dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudra-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Alla telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka  ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun mersa puas terhadap ( limpahan rahmat )-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. ). Sebagian orang mengkafirkan sebagian yang lain sampai bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara mereka walaupun mereka itu shalat, dan mengkafirkan orang lain,oleh karena itu berilah keterangan yang jelas bagi kami tentang  ma’na ayat di atas !


 


 


Jawab :


 


Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia ( Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ) tidak  akan mendapatkan dari orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, ikhlas karena Allah, menyerahkan diri mereka kepada-Nya dan  taat-patuh melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, suatu kaum-pun dari mereka yang mencintai orang yang memusihi Allah dan Rasul-Nya dan berpaling dari apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari Allah yang berupa  petunjuk dan cahaya. Walaupun waktu terus berjalan dan kamu membalik-balikan penglihatanmu dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh, niscaya kamu tidak akan mendaptakan dari  orang-orang yang beriman, ikhlas dan jujur dalam keimanannya seorangpun dari mereka yang hatinya mencintai orang-orang kafir walaupun mereka dari orang-orang yang terdekat keturunannya,  bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat terdekat mereka,dan ayat ini mengandung pujian yang baik dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada mereka yang benar imannya kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari petunjuk dan cahanya, dan ayat ini juga mengandung dorongan bagi mereka agar tetap pada jalan tersebut dan berusaha untuk menambahnya, dan juga mengandung perintah bagi seluruh manusia untuk mencontoh mereka dalam keikhlasan dan dalam beriman yang  sungguh-sungguh, dan ayat ini juga mengandung peringatan kepada mereka agar menjauhkan diri mereka dari perbuatan orang munafiq yang mencintai kaum yang Allah murka terhadap mereka dari orang-orang  yahudi dan bersumpah bohong kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam           agar mereka dapat menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam redha kepada mereka dan mereka berkata : kami sungguh bersaksi bahwa  Engkau adalah benar-benar utusan Allah sedang Allah mengetahui       bahwa Engakau adalah utusan-Nya dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafiq adalah sungguh-sungguh berdusta.


 


Maka ayat ini mengandung pujian bagi orang-orang yang benar-benar  beriman atas bara’ah mereka ( sikap tidak mencintai dan membebaskan diri ) dari orang-orang kafir dan peringatan agar tidak mencintai dan berkasih-sayang kepada mereka dan larangan untuk berbuat yang sedemikian kepada mereka, sebagaimana Allah berfirman : (  Janganlah orang-orang yang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi wali { teman yang akrab atau pemimpin atau pelindung atau penolong } dengan meninggalkan orang-orang mu’min. barangsiapa berbuat demikian,niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena ( siasat ) memelihara diri sesuatu yang ditakuti dari mereka. Q.S. 3 : 28. dan  dalam ayat lain ( Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pimimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pimimpinmu, maka mereka itulah orang yang zalim .


 


Katakanlah : Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik0 . Q.S.9 : 23-24. dan dalam ayat lain Allah  berfirman : ( Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu  pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia, ketiak mereka berkata  kepada kaum mereka : sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu dan  telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataaan Ibarahim kepada bapaknya : sesungguhnya aku akan  memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu siksaan Allah. Ibrahim berkata : Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami   bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Q.S.60 : 4.


 


Dan ayat-ayat lainnya dan hadits yang melarang untuk menjadikan orang-orang yahudi dan nashrani dan orang kafir lainnya ( selain  Islam.  pent) sebagai pemimpin, teman akrab, dan penolong, dan mengingatkan mereka yang menjadikan orang-orang yang Allah murkai dan orang-orang yang mengolok-olok agama Allah dari ahli kitab dan  orang-orang kafir. Dan ini adalah penjelasan dari Allalh tentang hukum amalan hati yang       berupa kecintaan, kasih-sayang dan berlepas diri dari orang-orang kafir, dan membenci mereka dan membenci apa yang mereka perbuat dari kesesatan, adapun tentang mu’amalah duniawi ( hubungan antara     manusia yang berkenaan dengan urusan keduniaan )   seperti jual-beli dan semua tukar manfaat, maka hal ini mengikuti siasah syar’iyyah  dan segi ekonomi, maka barangsiapa di antara kita dan mereka ( kaum  kuffar ) ada perjanjian, maka kita boleh melakukan transaksi hal-hal yang bermanfaat seperti jual-beli, sewa-menyewa, menerima hadiah, dan pemberian serta membalas hadiah dan pemberian tersebut dengan            baik sebagai penegakkan rasa keadilan dan melaksanak akhlaq karimah dengan syarat tidak menyimpang hukum syari’at dan tidak keluar dari hukum mu’amalah yang dihalalkan oleh Allah Ta’ala. Allah berfirman :         ( Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tada memerangimu karena agama dan tidak  pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai           orang-orang yang berlaku adil.) Q.S. 60 : 8.


 


Dan siapa saja yang di antara kita dan mereka ada peperangan atau mereka melampaui batas atas kita,maka tidak boleh kita bermu’amalah duniawi dengan mereka bahkan haram hukumnya sebagaimana haramnya kita mencintai dan menjadikan mereka sebagai saudara, sebagaimana Allah firmankan : (Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena  agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu orang lain untuk  mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.) Q.S. 60 : 9.


 


Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menerangkan hal yang demikian itu  dengan perbuatannya baik dalam keadaan damai dan peperangan dengan orang yahudi di Madinah dan Khaibar dan dengan orang nashrani dan kafir lainnyak kemudian Allah menerangkan sebab kebencian orang yang benar imannya terhadap orang-orang kafir, dengan firman-Nya  ( mereka itulah orang-orang yang Alla telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya.) Mujadilah : 22.


 


Sesungguhnya mereka yang benar imannya kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mereka yang Allah tetapkan          dalam hati mereka keimanan itu dan memantapkannya dalam diri mereka  dan menguatkan mereka dengan bukti dari-Nya, cahaya dan petunjuk, oleh karena itu mereka selalu mencintai, menolong dan menjadikan         orang-orang yang menolong dan cinta kepada Allah sebagai pemimpin mereka serta memumusi musuh-musuh-Nya,dan mereka selalu berjalan diatas syari’at yang telah diridhai oleh Allah sebagai agama, kemudian  Allah menerangkan balasan yang diberikan kepada mereka (Dan dimasukkan-Nya mereka  ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun mersa puas terhadap ( limpahan rahmat )-Nya. maksudnya Allah mengaruniai mereka dengan sifat pemberi dan kekariman-Nya oleh karena itu Dia memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalamnya terdapat kenikmatan abadi yang tidak pernah dilihat mata( di dunia ), dan tidak pernah terdengar  oleh telinga dan tidak juga terdetik di hati seseorang, dengan       demikian mereka orang-orang yang ikhlas dan suci ( mensucikan diri mereka dari segala perbuatan syirik dan maksiat. Pent. ) menikmati  kenikmatan abadi tersebut sedang mereka akan kekal selama-lamanya      dan kenikmatan surga itu tidak akan hancur, dan hilang dan mereka tidak akan dikeluarkan selama-lamanya dari tempat itu, yang sedemikian itu karena mereka telah merealisasikan keimanan yang benar dan amal shalih, dan mereka rela terhadap keputusan ( qadha ) Allah, syari’at dan balasan-Nya dan mereka memuji Allah, karena hanya Dia-lah Pemilik segala pujian, kemudian Allah menutup surat tersebut dengan firman-Nya (Mereka itulah golongan Allah. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang   beruntung. ) Allah memberitahukan bahwa mereka itulah tentara Allah  yang selalu ta’at kepada-Nya, maka Allah selalu memberikan kepada mereka pertolongan, karunia dan kemurahan-Nya di dunia dan akhirat dan hanya merekalah yang beruntung bukan orang-orang yang menipu Allah dan Rasul-Nya ( tidaklah mereka menipu kecuali diri mereka sendiri dan hanya kepada merekalah akibat penipuan itu akan kembali. Pent.) dan menolong orang-orang kafir. Dari keterangan di atas,  jelaslah bagi kita hal-hal dibawah ini :  bahwa barangsiapa yang mencintai orang kafir dan berkasih-sayang dengan mereka dalam urusan agama, maka dia telah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari Agama Islam. bahwa orang yang membenci mereka ( orang-orang kafir dari yahudi, nashrani dan lainnya ) dan mereka bertukar manfaat seperti  jual-beli, sewa-menyewa dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah, maka hal yang sedemikian itu tidak apa-apa. bahwa barang siapa membenci mereka di jalan Allah, akan tetapi dia bergaul dengan mereka dan hidup ditengah-tengah mereka untuk mendapatkan kepentingan dunia, dan dia mengutamakan yang demikian itu dari hidup bersama kaum muslimin di kampung-kampung mereka,    maka dia telah berdosa, karena perbuatan itu termasuk memperbanyak jumlah orang-orang kafir, dan termasuk tolong-menolong dengan  mereka dengan meninggalkan kaum muslimin, dan karena dia menjatuhkan dirinya untuk fitnah ( perbuatan kekufuran dan kesyirikan. Pent. ), dan menghalangi dirinya untuk tolong-menolong dengan kaum muslimin untuk melaksanakan syi’ar agama, menghadiri jama’ah, aling-menasehati, dan bermusyawarah dengan kaum muslimin dalam hal-hal yang akan mendatangkan kekuatan bagi umat Islam, dan mengangkat mereka untuk bahagia di dunia dan akhirat, kecuali jika       perbuatan itu dikerjakan oleh orang ‘alim yang aman bagi dirinya dari fitnah ( perbuatan kekufuran dan kesyirikan. Pent. ) dan  diharapkan dari tinggalnya dia di antara mereka kelangsungan da’wah dan penyebarannya.


   


Diterjemahkan dari kitab Fatawa Lajnah Da’imah lilbuhuts wali ifta’ Jld.IV hlm.260


 


 


Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah


Dzulhijjah Tamu Kita Setelah Ramadhan

Ramadhan, beberapa saat yang lalu telah meninggalkan kita. Tentunya kita merasa kehilangan sesuatu yang nilainya sangat utama dan mulia  di sisi Allah Ta’ala. Tapi ketahuilah, kita tidak boleh berkecil hati dengan berlalunya bulan mulia tersebut. Ternyata Allah Ta’ala melalui utusanNya shalallahu ‘alaihi wassalam, telah menjanjikan bulan lain yang tidak kalah utamanya dibanding dengan keutamaan bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda:


“Dua bulan untuk berhari raya tidak berkurang keduanya, Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR Muslim 1089).


Sesungguhnya merupakan karunia Allah subhanahu wata’ala yang menjadikan bagi hamba-hamba-Nya yang shalih musim-musim untuk memperbanyak amal shaleh. Diantara musim-musim tersebut adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah yang keutamaannya dinyatakan  oleh dalil-dalil dalam al-Kitab dan as-Sunnah.

Dalil-dalil tentang keutamaan bulan Dzulhijjah

1. Firman Allah subhanahu wata’ala:

“Demi fajar dan malam yang sepuluh” (QS. Al Fajr :1-2)

Sebahagian besar ahli tafsir menafsirkan bahwa makna “malam yang  epuluh” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dan sumpah  Allah subhanahu wata’ala atas waktu tersebut menunjukkan keagungan dan keutamaannya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4:535 dan Zaadul Maad
1:56)

2. Diriwayatkan dari shahabat Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh  Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari (dari bulan Dzulhijjah).”


Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak pula jihad fi sabilillah?”


Beliau bersabda: “Dan tidak pula jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya,  kemudian tidak kembali dengan sesuatupun.” (HR Jama’ah kecuali Muslim
dan an-Nasa’i).

3. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurath radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Hari yang paling utama (afdhal) adalah hari raya qurban (10 Dzulhijjah)” (HSR. Ibnu Hibban)

4. Jika seseorang bertanya: “Yang manakah yang lebih afdhal sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ataukah sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah?” Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Jika dilihat pada waktu malamnya, maka sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama
dan jika dilihat waktu siangnya, maka sepuluh awal bulan Dzulhijjah lebih utama.” (Lihat Zaadul Ma’ad 1:57)

5. Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diistimewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya semua ibadah-ibadah yang utama yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu”.

Amal-amal yang Disyariatkan pada Hari-hari Tersebut

1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah. Kedua ibadah inilah yang paling utama dilaksanakan pada hari-hari tersebut, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Umrah yang satu ke umrah yang lainnya merupakan kaffarat
(penghapus dosa-dosa) diantara keduanya, sedang haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Berpuasa pada hari-hari tersebut atau beberapa hari diantaranya (sesuai kesanggupan) terutama pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Tidak diragukan lagi bahwa ibadah puasa merupakan salah satu amalan yang paling afdhal dan salah satu amalan yang dilebihkan oleh Allah subhanahu wata’ala dari amalan-amalan shalih lainnya. Sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi:

“Semua amalan manusia untuk dirinya kecuali puasa, maka dia adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.” (HR Muslim, Ahmad dan An Nasa’i).

Dalam riwayat lain: “Sungguh dia telah meninggalkan makanan dan minumannya, serta nafsu syahwatnya demi untuk-Ku. Puasa itu adalah untuk-Ku. Akulah yang akan membalasnya, sedang kebajikan akan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat.” (HR Bukhari dan Abu Dawud).

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seseorang berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka (karena puasanya) sejauh 70 tahun perjalanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, dia berkata: “Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, 10 Muharram dan tiga hari dalam setiap bulan.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).

Imam Nawawi berkata tentang puasa selama sepuluh hari dalam bulan DzulHijjah: “Sangat disunnahkan”.

Khusus tentang puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berpuasa di hari Arafah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan dosa setahun yang akan datang.”

3. Memperbanyak takbir dan dzikir pada hari-hari tersebut. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:



“Supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang tertentu” (QS. Al Hajj: 28)

Tafsiran dari “hari-hari yang tertentu” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu para ulama kita menyunnahkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut. Dan penafsiran itu dikuatkan pula dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada hari-hari yang lebih agung dan amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah padanya, melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil , takbir dan tahmid.”

4. Bertaubat dan menjauhi kemaksiatan serta seluruh dosa agar mendapatkan maghfirah dan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala. Hal ini penting dilakukan karena kemaksiatan merupakan penyebab ditolaknya dan jauhnya seseorang dari rahmat Allah subhanahu wata’ala, sebaliknya ketaatan merupakan sebab kedekatan dan kecintaan Allah subhanahu wata’ala kepada seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Sungguh Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah apabila seseorang melakukan apa yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


5. Memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah-ibadah sunnat seperti shalat, membaca Al Qur’an, bersedekah, amar ma’ruf nahi munkar dan yang semacamnya. Karena amalan tersebut akan dilipat gandakan pahalanya jika dilakukan pada hari-hari tersebut. Ibadah  yang kecil pun jika dilakukan pada hari-hari tersebut akan lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala daripada ibadah yang besar yang dilakukan pada waktu yang lain. Contohnya
jihad, yang merupakan seutama-utama amal, namun akan dikalahkan oleh amal-amal shalih lain yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulah Dzulhijjah, kecuali orang yang mendapat syahid.



Sa’id Ibn Zubair radliyallahu ‘anhu kalau sudah tiba sepuluh hari tersebut, ia benar-benar giat beramal sehingga hampir-hampir ia tidak kuasa untuk melakukannya.

6. Disyariatkan pada hari-hari tersebut bertakbir di setiap waktu, baik itu siang maupun malam, terutama ketika selesai shalat berjama’ah di masjid. Takbir ini dimulai sejak Shubuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, sedang bagi jama’ah haji sejak Zhuhur hari penyembelihan (10 Dzulhijjah). Adapun akhir hari bertakbir adalah pada hari Tasyrik yang terakhir (13 Dzulhijjah).

Dan Ishaq bin Rahawaih rahimahullah dari kalangan Tabi’ut Tabi’in,meriwayatkan dari salah seorang gurunya bahwa pada hari-hari tersebut dituntunkan mengucapkan:

Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, Allahu Maha Besar, Allah Maha Besar dan untuk Allah-lah segala pujian. (HR Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas’ud  2/168, Shohih, Al Albani dalam Tamamul Minnah).

Disunnahkan menyaringkan suara saat bertakbir, baik ketika di pasar, rumah, jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya. Namun perlu diperhatikan bahwa takbir tidak boleh dilakukan secara berjama’ah yaitu berkumpul lalu bertakbir secara serempak (koor), karena hal tersebut tidak pernah dikerjakan oleh para ulama salaf; namun hendaknya setiap orang bertakbir, bertahmid dan bertasbih dengan apa saja yang mudah baginya secara sendiri-sendiri. Dan cara seperti ini secara umum berlaku pula pada seluruh jenis dzikir dan do’a.

Imam Bukhori berkata: “Adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah radiallahuanhuma keluar ke pasar pada hari sepuluh bulan Dzul Hijjah, mereka berdua bertakbir dan orang-orangpun ikut bertakbir karenanya.”

Dia juga berkata: “Adalah Umar bin Khottob bertakbir di kemahnya di Mina dan didengar oleh mereka yang ada dalam masjid, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang di pasar hingga Mina bergetar dengan gemuruh takbir”.

Dan Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, setelah shalat dan di atas pembaringannya, di atas kudanya, di majlisnya dan saat berjalan pada semua hari-hari tersebut. Maka hendaknya kita kaum muslimin menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan pada masa ini, bahkan hampir saja terlupakan hingga oleh mereka orang-orang shalih, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh salafussalih terdahulu.

7. Memotong hewan qurban (udlhiyah) bagi yang mampu pada hari raya Qurban (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah). Hal ini merupakan sunnah bapak kita Ibrahim ‘alaihissalam ketika Allah subhanahu wata’ala mengganti anak beliau dengan seekor sembelihan yang besar.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir.


8. Bagi orang yang berniat untuk berqurban hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia berqurban. Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jika kalian telah melihat awal bulan Dzulhijjah dan salah seorang diantara kalian berniat untuk menyembelih hewan qurban maka hendaknya dia menahan rambut dan kukunya.” Di riwayat lain disebutkan: “Maka janganlah dia (memotong) rambut dan kuku-kukunya sehingga dia berqurban.”

Kemungkinan hikmah larangan tersebut agar menyerupai orang yang menggiring (membawa) qurban sembelihan saat melakukan ibadah haji, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

” Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum qurban sampai di tempat penyembelihannya…” (QS. Al Baqarah :196).

Namun demikian tidak mengapa bagi orang yang akan berqurban untuk mencuci atau menggosok rambutnya meskipun terjatuh sehelai atau beberapa helai dari rambutnya.

9. Keutamaan hari raya kurban (tanggal 10 Dzulhijjah).Banyak orang yang melalaikan hari yang besar ini, padahal para ulama berpendapat bahwa dia lebih utama daripada hari-hari lain dalam
setahun secara mutlak, bahkan termasuk pada hari Arafah. Ibnu Qoyyim  rahimahullah berkata: “Sebaik-baik hari di sisi Allah adalah hari Nahr (hari raya qurban), dia adalah hari haji Akbar”.
Dalam Sunan Abu Daud, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguh-nya hari-hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari Qar.”
Hari Qar adalah hari menetap di Mina, yaitu tanggal 11 Dzulhijjah. Ada juga yang mengatakan bahwa hari Arafah (10 Dzulhijjah) lebih mulia daripada hari Nahr, karena puasa pada hari itu menghapus dosa dua tahun, dan tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan orang dari neraka kecuali hari Arafah, dan karena pada hari tersebut Allah mendekat kepada hamba-Nya, kemudian Dia membanggakan kepada para malaikat-Nya terhadap orang-orang yang sedang wukuf.

Hendaklah setiap muslim, baik yang melaksanakan haji atau tidak berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan hari-hari tersebut dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.



10. Melaksanakan shalat ‘Ied berjama’ah sekaligus mendengarkan khutbah dan mengambil manfaat darinya, sebagai hari kesyukuran dan mengamalkan kebaikan. Karenanya janganlah seseorang menjadikan hari ‘Ied untuk berbuat kejahatan dan kesombongan. Serta jangan pula
menjadikannya sebagai kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah subhanahu wata’ala dengan mendengarkan nyanyian-nyanyian dan musik-musik yang melalaikan, minuman keras dan yang semacamnya. Karena  perbuatan-perbuatan seperti itu bisa menjadi penyebab terhapusnya
amal-amal shalih yang telah dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan tersebut.

Dari seluruh yang telah dipaparkan dan dijelaskan di atas maka sudah sepantasnya bagi setiap muslim dan muslimat untuk memanfaatkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini dengan penuh ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala, memperbanyak dzikir dan syukur kepadaNya, melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan serta memanfaatkan musim-musim ini untuk menyambut segala pemberian Allah subhanahu wata’ala yang dengannya kita meraih keridhaan-Nya.



Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menunjuki kita kepada jalan yang lurus dan memberikan taufiq agar kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan kesempatan emas seperti ini dengan baik. Amin yaa Rabbal ‘Alamin.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 















 


Sender: Muslimah_Sholihah@yahoogroups.com


Subject: [Muslimah Sholihah] RE: Tentang membaca Al Qur’an secara berjama’ah


Date: Wed, 7 Dec 2005 03:40:01 +0100


To: islam_dot_net@yahoogroups.com, Muslimah_Sholihah@yahoogroups.com


MEMBACA AL QUR’AN SECARA BERJAMAAN (BERAMAI-RAMAI DAN DIKOMANDOI OLEH SATU ORANG)


Membaca al Qur’an secara beramai-ramai dengan dikomandoi oleh seseorang sehingga merupakan suatu “Koor” suara, dan atau membaca al Qur’an berjamaah secara bergiliran per beberapa ayat, adalah bid’ah karena tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para Shahabat Radhiyallahu anhum ajmain.


Berikut kerusakan – kerusakan yang terdapat didalam membaca Al Qur’an secara berjama’ah:


– Tidak terpeliharanya tartil


Padahal membaca Al Qur’an dengan tartil adalah wajib hukumnya sebagaimana firman ALLAH, ” Dan bacalah Qur’an itu dengan betul-betul tartil” (Al Muzammil 4). Sedangkan tartil artinya adalah membaca Al Qur’an dengan bagus, tertib, baik, rapi, betul, faham, teratur, lambat (tidak terlalu cepat). 


Dapatkah kita memelihara tartil kalau kita membaca Al Qur’an dengan berjama’ah secara satu suara?


Bertentangan denga firman ALLAH dalam Surat Al ‘Araaf 204)


“Dan Apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah dia dan diamlah sambil memperhatikan, agar supaya kamu diberi rahmat”.(Al ‘Araaf 204).


– Memutus-mutuskan ayat


Seseorang tertinggal di dalam bacaan – yang mungkin disebabkan tidak kuat nafasnya atau tersalah dalam membaca sehingga ia didahului oleh kawan-kawannya, lalu ia memutuskan ayat dan langsung mengikuti bacaan kawan-kawannya.


– Kesalahan tidak dibetulkan


Diantara mereka ada yang sudah lancar membacanya, ada yang sedang-sedang saja, ada yang belum lancar, bahkan ada yang membacanya terbata-bata. Jika terjadi kesalahan dalam membaca, maka tidak sempat lagi dibetulkan karena mereka beramai-ramai membacanya dan begitulah kesalahan demi kesalahan terjadi berturut-turut. Dengan demikian “bercampurlah” bacaan al Qur’an yang mulia itu dengan “yang salah dan yang benar”


– Percampur-bauran suara


Diantara mereka ada yang suaranya bagus, ada yang sedang, adan yang biasa-biasa saja, ada yang jelek, ada yang parau ada yang tinggi, ada yang rendah, dan ada yang dalam atau berat. Semua mereka jadikan satu suara sehingga tercampur aduk.


Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:


“Barang siapa yang tidak membaguskan suaranya dalam (membaca) al Qur’an, maka bukanlah ia dari golongan kami ” (Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan lain-lain).


“Membaguskan suaranya” dalam hadits diatas maksudnya adalah membaguskan suara dan bacaannya, dan makna “bukan dari golongan kami” adalah bukan dari golongan orang yang mengikuti Sunnah kami didalam masalah membaca al Qur’an


– Kadang-kadang tercampur ayat rahmat dengan ayat azab, ayat perintah dengan ayat larangan, ayat neraka dengan ayat surga, dan begitulah berlangsung seterusnya dengan cara yang tidak hormat terhadap ayat-ayat ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.


Hal-hal semacam ini sering kita temui di pengajian-pengajian, baik itu dimasjid-masjid maupun tempat-tempat lainnya, yaitu mereka membaca al Qur’an secara berjama’ah secara satu suara dengan dikomandoi.


Hal demikian tidak pernah sekali-kali dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pernah juga terjadi di jaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pernah dikerjakan oleh para Shahabat, demikian juga oleh para tabi’in. Bahkan para ulama baik itu ahli hadits, ahli fiqih, ahli tajwid, mengatakan bahwa perbuatan itu adalah bid’ah, dengan dalil:


1. Al Quran surat al ‘Araaf 204 dan al Muzammil 4 seperti yang telah disebutkan diatas


2. Hadits yang disebutkan diatas


3. Berdasarkan perbuatan para Shahabat. Sebagaimana diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di kitabnya al Furqan Baina Aulia Ir Rahman wa Auliaa isy Syaithan, halaman 164, beliau berkata: ” Dan adalah para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adabila mereka berkumpul, mereka memerintahkan satu orang diantara mereka untuk membaca (al Qur’an), sedangkan yang lainnya mendengar.”


Syeikh Ali Mahfudz didalam kitabnya al Ibda fi Mudharil Ibtida, menerangkan juga tentang bid’ahnya membaca al Qur’an secara berjama’ah dan beliau menukil perkatan Adh Dhahak (seorang Tabi’in) yang telah mengatakan, ” Aku tidak pernah melihat dan tidak juga mendengar dan juga menjumpai seorangpun diantara para Shahabat yang melakukannya (yaitu membaca al Qur’an berjama’ah).”


Imam Malik sewaktu ditanya tentang orang-orang yang berkumpul membaca (al Qur’an) bersama-sama, beliau mengingkari dan mencelanya, lalu beliau berkata,“Bukan seperti itu yang harus dikerjakan oleh orang -orang (kaum muslimin), akan tetapi seharusnya seseorang membacanya kepada yang lain sedangkan yang lainnya tidak membacanya (yang berarti mendengar bacaan kawannya)”.


Dengan demikian teranglah bagi kita tentang bid’ahnya membaca al Qur’an secara berjamaah dengan satu suara dengan dikomandoi dan secara bergiliran, yaitu seorang membaca beberapa ayat dan kemudian dilanjutkan oleh orang kedua dan seterusnya secara bergantian satu persatu. Mudah-mudahan kita mau meninggalkan bid’ah ini yang tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga tidak pernah dikerjakan oleh para Shahabat radhiyallahu anhum ajma’in. Wallahu a’lam


 


 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: