TAFSIR

Surat Ali ‘Imran: 104-105
Kunci keselamatan adalah bergeraknya roda dakwah

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan siksa yang berat.”

 

Sababun-Nuzul

Imam Ahmad meriwatkan hadits dari Abu Mughirah, yang menceritakan bahwa pada suatu hari Abdullah bin Yahya melakukan ibadah haji bersama Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Ketika sampai di kota Makkah menjelang shalat Zhuhur Mu’awiyah menyampaikan bahwa Rasulullah pernah bersabda,

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani berpecah-belah dalam urusan agama mereka menjadi tujuh puluh dua golongan. Sedangkan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan (firqah). Di antara semua firqah itu hanya ada satu yang masuk surga, yaitu para pengikut ahlus-sunnah wal jama’ah.”

Masih menurut keterangan Rasulullah, demikian Abu Sufyan melanjutkan, bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir di tengah-tengah ummat Islam beberapa golongan orang yang suka ikut-ikutan (fanatik) sebagaimana anjing mengikuti tuannya, sehingga keringat dan tenaga mereka terkuras tanpa membawa hasil. “Demi Allah, wahai orang-orang Arab, sekiranya engkau tidak mau mematuhi ajaran yang dibawa oleh Nabimu saw tentu tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan mengikutimu.”

Sehubungan dengan sabda Nabi di atas, Allah swt menurunkan ayat 104 dan 105 yang berisi perintah dakwah, yaitu memerintahkan dan mengajak ummat manusia ke arah kebaikan dengan amar makruf nahi munkar, serta menciptakan persatuan dan kesatuan.

Dakwah individu

Lafadz ‘min’ dalam kalimat ‘waltakun minkum ummatun’ pada ayat 104 di atas mempunyai dua pengertian. Pertama sebagai penjelas, kedua sebagai tab’idh (menunjukkan sebagian). Sebagai penjelas, maka terjemah ayat di atas adalah: “Jadilah kamu wahai kaum mukminin sebagai ummat yang menyeru kepada kebaikan, dst… “

Makna kedua diwakili oleh Ibnu Katsir yang menafsirkannya lebih jelas lagi, ‘jadilah kamu sekelompok orang dari ummat ini yang melaksanakan kewajiban dakwah.’

Dengan demikian, baik dalam pengertian pertama maupun kedua, dakwah merupakan kewajiban individual. Setiap individu wajib melaksanakan dakwah, sesuai dengan

kemampuannya. Sebagai fardhu ‘ain, maka jika dilaksanakan, Allah pasti akan mengganjarnya dengan pahala. Sebaliknya jika ditinggalkan, maka Allah akan menimpakan kepadanya dosa.

Itulah sebabnya bila mengkaji sejarah perjalanan Islam pada masa-masa awal, utamanya pada kurun sahabat Rasulullah, kita tidak menjumpai seorang sahabatpun yang tinggal diam tanpa melakukan dakwah. Jika diurut-urut, beberapa orang yang belakangan masuk Islam ternyata merupakan hasil dakwah dari sahabat yang telah muslim terlebih dahulu. Abu Bakar, Ali, Khadijah, dan beberapa nama lainnya, adalah mereka yang banyak merekrut anggota jama’ah.

Sebagai pedagang, Abu Bakar tentu punya banyak kenalan atau kolega bisnis, termasuk para pekerja dan budak. Salah seorang koleganya adalah Utsman bin Affan, yang diserukan masuk Islam, dan berhasil. Demikian juga kalangan pekerja dan budak. Bukankah yang membebaskan Bilal bin Rabah adalah Abu Bakar?

Keberhasilan yang paling besar dari dakwah Rasulullah adalah ketika beliau berhasil menjadikan orang yang didakwahi menjadi pendakwah. Semua sahabat Rasulullah adalah aktivis dakwah. Inilah rahasianya, kenapa Islam berkembang dalam waktu yang sangat cepat.

Bila kita ingin mengulang sukses beliau, tidak ada alternatif lain, kecuali menjadikan kaum muslimin seluruhnya sebagai aktivis dakwah. Kaum muslimin wajib secara individual menjadikan dirinya aktivis dakwah. Jika tidak, berarti satu kewajiban agama telah ditinggalkannya.

Bukankah Rasulullah telah bersabda, “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR Bukhari dan Muslim). Pada riwayat yang lain ditambahkan, ‘Dan setelah itu tidak ada iman sedikitpun juga.’

Tanggung jawab Dakwah

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa sekiranya tidak ada lagi dakwah, maka perpecahan di kalangan ummat pasti terjadi. Bibit-bibit perpecahan itu sangat banyak, yang suatu saat muncul menjadi perselisihan, pertentangan, bahkan permusuhan di antara kaum muslimin sendiri.

Untuk mencegahnya, jalan yang ditunjukkan Allah adalah dengan berdakwah, mengajak semua orang kembali kepada Allah, da’a ilallah. Masalahnya sekarang, dakwah sering menjadi alat kepentingan. Dakwah tidak lagi mengajak kepada Allah, tapi menyeru orang kepada golongan, organisasi, kelompok atau firqah tertentu.

Dakwah telah berubah fungsinya menjadi sekadar alat kampanye atau promosi firqah tertentu. Akibatnya, bukan persatuan dan kesatuan ummat yang dihasilkan, tapi justru perpecahan. Terjadi tarik-menarik jamaah antara satu da’i dengan da’i yang lain. Dalam tarik-menarik ini tak jarang terjadi saling menjelekkan atau saling menjatuhkan. Fitnah merebak ke mana-mana. Praktek kotor semacam ini sudah lazim terjadi.

Dakwah harus dimurnikan dari semua interes dan kepentingan kelompok dan golongan. Dakwah bukan untuk memperbesar pengaruh, juga bukan sekadar menambah jumlah pengikut. Apalagi jika untuk kepentingan politik sesaat. Dakwah harus diarahkan semata-mata kepada Allah. Tentang apakah orang yang didakwahi nantinya mendaftar menjadi salah satu anggota atau memilih organisasi yang lain, itu bukan urusan dakwah. Allah berfirman: “Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah kepada Allah dengan penuh bashirah. Maha suci Allah, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS Yusuf: 108)

Jika dakwah dirancang untuk memperbesar pengaruh dan menambah pengikut, maka kegiatan itu telah menyimpang dari garis dakwah yang benar. Kegiatan ini tidak bisa disebut dakwah, meskipun dalam penyampaian pesan-pesannya selalu mengutip ayat al-Qur’an dan hadits Nabi.

Membersihkan kegiatan dakwah dari para pemboncengnya ini merupakan tugas dan tanggung jawab kita. Terlalu suci bila dakwah dijadikan alat politik jangka pendek. Kita harus membersihkan tempat-tempat suci dari kegiatan para pembonceng ini. Jangan sampai masjid dijadikan arena promosi dan medan kampanye golongan tertentu. Jika demikian, dikhawatirkan masjid justru menjadi sumber perpecahan ummat. Seharusnya di masjid kita bersatu, dan memancarkan persatuan ke segenap penjuru. Akan tetapi jika tidak hati-hati justru masjid bisa menjadi sumber bencana.

Agar dakwah tetap murni, maka materi dakwahnya harus benar, demikian pula cara-caranya. Tidak kalah pentingnya adalah meluruskan niat dan motivasi. Tiga hal ini harus menjadi acuan dan alat evaluasi bagi setiap da’i. Pertama, niatnya harus dimurnikan, ikhlas semata-mata karena Allah, bukan untuk mencari pengaruh, menambah jumlah pengikut, juga meningkatkan pendapatan.

Kedua, materi dakwahnya harus benar. Katakanlah yang benar sebagai kebenaran, yang salah sebagai kesalahan. Jangan memutar-balikkan ajaran. Jangan menyampaikan sesuatu yang belum ada ilmunya, dan tinggalkan yang masih ragu-ragu.

Ketiga, metode dakwahnya harus benar. Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang salah hasilnya pasti kurang baik. Bahkan bisa jadi berubah menjadi fitnah. Pilihlah waktu, tempat dan cara yang pas untuk menyampaikan suatu dakwah. Allah berfirman:
Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan penuh hikmah dan mau’izhatul-hasanah serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS.An-Nahl: 125)

Buah Dakwah

Jika kita melaksanakan dakwah dengan benar dan sungguh-sungguh, hasilnya tidak kecil. Buah dakwah dapat kita nikmati, baik semasa di dunia ini maupun kelak di akhirat. Adapun buah dakwah itu, antara lain adalah datangnya pertolongan Allah.

Sungguh tenaga, fasilitas, kemampuan, dan sumber daya yang kita miliki masih jauh bila dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh para musuh kebenaran. Akan tetapi dengan izin-Nya, jika kita serius meretas jalan dakwah, maka Allah segera mengulurkan pertolongan-Nya. Tidak perlu dikhawatirkan, sebab Allah sendiri yang memberi jaminan, sesuai firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mau menolong dan membela dienullah, niscaya Allah akan menolongmu dan menguatkan pijakan kakimu.” (QS Muhammad: 7)
Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS al-Hajj: 40)

Buah dakwah yang lain adalah lepasnya siksa dunia dan akhirat dari diri kita. Allah membebaskan kita dari siksa dunia dan akhirat jika kita selalu dalam jalan dakwah. Sebaliknya jika kita tinggalkan jalan ini, maka tersebarlah kejelekan dan kerusakan di muka bumi. Bila kerusakan sudah merata di semua wilayah dan di semua sektor kehidupan, maka itulah sesungguhnya siksa. Meskipun kita tidak melakukan kejelekan, kita akan ditimpa akibatnya. Allah berfirman: “Maka tatkala mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang mencegah dari perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (QS al-A’raaf: 165)

Tentang meluasnya bencana jika kerusakan telah merata di muka bumi ini, dan nasib orang-orang yang tidak termasuk melakukan kejahatan, Rasulullah memberikan perumpamaan yang cocok sekali. Beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang berpegang kepada undang-undang Allah dan orang-orang yang melanggarnya adalah bagaikan melakukan undian untuk menempati kapal. Maka sebagian ada yang di atas dan sebagian ada di bawah. Mereka yang berada di bawah apabila hendak mengambil air harus melewati penumpang yang berada di atas. Mereka berkata, “Kalau kita bisa melobangi kapal, tentu kita tidak perlu naik ke atas dan mengganggu penumpang yang ada di situ!” Kalau penumpang ini dibiarkan tentu kapal akan karam dan akan tenggelam seluruh awak kapal. Namun apabila bisa dicegah, maka mereka akan selamat dan selamat pula seluruh awak kapal.” (HR Bukhari)

Tentu saja masih banyak buah dakwah yang lain, yang kesemuanya pasti menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun orang banyak, di dunia maupun akhirat. Semoga kita termasuk kelompok aktivis dakwah

 

 

AN-NAHL: 44
Pelajari al-Qur’an Sepanjang Hayat


“Kami turunkan kepadamu peringatan (al-Qur’an), supaya kamu terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka, mudah-mudahan mereka memikirkannya
.”

 

Iftitah

 

Berfikir serius termasuk kegiatan yang mulia. Dalam ajaran Islam berfikir ditempatkan pada urutan pertama dari sekian banyak perintah Allah. Itulah sebabnya wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw adalah surat al-‘Alaq, yang diawali dengan perintah membaca.

 

Perintah ini diulang-ulang dalam al-Qur’an dengan variasi tekstualnya. Kadang disampaikan dengan kalimat yang jelas dan lugas, tapi lebih banyak lagi yang disampaikan melalui pemaknaan tersembunyi di balik kalimat yang tersebar dalam berbagai ayat dan suratnya.

 

Ajaran Islam tak bisa dipahami kecuali melalui proses berfikir yang benar. Islam bukanlah kumpulan dogma, yang harus dipatuhi tanpa proses berfikir. Itulah sebabnya Allah tidak memaksakan kehendak-Nya upaya semua manusia memilih Islam. Bagi mereka yang mau, dipersilahkan memilih Islam dengan penuh kesadarannya. Bagi yang tidak, juga diberi hak hidup setelah disampaikan risiko yang harus ditanggung atas pilihannya.

 

Tidak ada paksaan dalam beragama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah: 256)

 

Di dunia ini terbentang dua jalan, dan bagi manusia diberi hak penuh untuk memilih di antara dua jalan tersebut. Informasi tentang kedua jalan ini telah dijelaskan Allah secara detil, termasuk segala risiko yang menyangkut pilihan tersebut. Bagi mereka yang mau menggunakan akal sehatnya, tentu akan memilih jalan yang menuju kepada keselamatan. Akan tetapi bagi mereka yang sudah buta mata, telinga, dan hatinya, maka pilihan itu dijatuhkan pada jalan kesesatan. Jalan menuju kepada kehancuran dan kebinasaan.

 

Karena memilih ini memberi peran yang besar kepada akal fikiran, maka kaum muslimin dianjurkan untuk menggunakan pikirannya secara baik dan benar agar tidak salah jalan. Jalan kehancuran, sekalipun sekilas nampak menjanjikan yang serba nikmat, sebenarnya bisa dinalar, bagi yang masih menggunakan akal sehat.

 

Penalaran, diberi kesempatan sangat luas oleh al-Qur’an. Kitab istimewa ini membuka lebar-lebar interpretasi oleh manusia dalam segala hal, bukan hanya pada urusan tugas manusia sebagai khalifah. Manusia dipersilakan memikirkan segala perintah maupun larangan Allah, juga patokan-patokan aqidah, syariat, maupun moral.

 

Bahkan Allah swt memerintahkan kita agar bersikap kritis terhadap al-Qur’an itu sendiri. Buktinya, sejak awal al-Qur’an dinyatakan sebagai kitab yang tidak mengandung sedikitpun keraguan. Allah secara terang-terangan ‘menantang’ manusia untuk membuat tandingan, bila manusia masih ragu terhadap al-Qur’an.

 

Jika sudah tidak ada lagi keraguan di dalamnya, kenapa justru ada perintah untuk memikirkannya? Bukankah proses berfikir itu harus didahului dengan adanya berbagai pertanyaan?

 

Memang proses pembuktian tentang kebenaran al-Qur’an sudah berjalan, dan sekarang ini sebenarnya sudah tidak terbantahkan. Terhadap kebenaran itu, kita tinggal melaksanakan. Karena itu akal fikiran kita justru akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk menyingkap berbagai misteri keagungan Allah di balik berbagai kebenaran yang telah ditunjukkan melalui perintah dan larangan-Nya. Akan ditemukan di sana berbagai ilmu di balik keindahan susunan bahasa dan kandungan maknanya. Tidak akan pernah ada habis-habisnya kajian mengenai al-Qur’an. Sekalipun seluruh isi lautan dijadikan tinta dan seluruh pohon dijadikan pena, tak akan pernah sanggup untuk menuliskan tuntas tafsir al-Qur’an. Allah berfirman:

 

Katakanlah, ‘Jika sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).'” (QS al-Kahfi: 109)

 

Sayang, ayat ini oleh sebagian kaum muslimin justru disikapi agak negatif. Mereka berfikir, jika al-Qur’an merupakan lautan ilmu yang tak terjangkau oleh pikiran manusia meskipun mereka telah menghabiskan lautan sebagai tintanya, maka untuk apa lagi memikirkannya. Akibat logika terbalik ini, maka mereka cenderung tidak mengggunakan akal fikirannya ketika membaca al-Qur’an. Bagi mereka, membaca saja sudah berpahala, kenapa harus repot-repot. Salah-salah malah keliru memahaminya.

 

Membaca Firman-firman-Nya

 

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah saw agar dijadikan pedoman dan petunjuk bagi manusia. Sebagai petunjuk, maka al-Qur’an hendaknya dipelajari, dipahami, dihayati, diamalkan, dan diteliti rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya.

 

Ayat-ayat Allah yang muhkamat tidak banyak membutuhkan daya nalar, sebab kalimat-kalimatnya jelas dan lugas. Allah sengaja memilih bahasa yang tidak mengandung arti ganda, sehingga memudahkan memahami sekaligus melaksanakannya.

Adapun ayat-ayat mutasyabihat memerlukan daya nalar yang cukup. Di dalamnya terkandung rahasia yang luar biasa banyaknya. Untuk menangkap maknanya, kadang daya nalar saja kurang memadai. Di sini diperlukan indra keenam, yang dalam bahasa Islam disebut dengan bashirah.

 

Walaupun penafsirannya sering bersifat subyektif, tapi sesungguhnya itulah kekayaan al-Qur’an.

Belum lagi ayat-ayat yang menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa alam. Allah sengaja memberi rangsangan kepada kita untuk memikirkannya, dengan menyinggung secara global, tidak mendetil. Yang demikian itu karena akal pikiran manusia dapat menjangkaunya, sekalipun lewat proses ratusan tahun.

 

Tetapi peristiwa-peristiwa sosial sering dijelaskan Allah secara lebih detil. Hal ini karena langsung bersinggungan dengan diri manusia itu sendiri. Biasanya untuk sesuatu yang menyangkut dirinya, daya pikir manusia lebih subyektif, kurang kritis. Ditambah lagi bahwa peristiwa sosial mempunyai time response yang panjang. Kesalahan dalam mendidik anak, misalnya, tidak langsung berpengaruh pada saat itu juga. Pengaruhnya baru dirasakan setelah puluhan tahun, ketika anak tersebut menginjak usia remaja atau setelah dewasa.

 

Pilihan Allah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an bukan sesuatu yang tanpa disengaja. Bukan semata-mata karena Rasulullah saw hidup dan besar di tanah Arab. Toh bagi Allah tidak masalah, Nabi-Nya mau dilahirkan di mana. Pemilihan bahasa ini karena bahasa Arab merupakan bahasa internasional yang paling mudah dipelajari dan dipahami. Aturan-aturannya jelas dan baku. Tidak terlalu ketat, tapi tidak bebas tak beraturan sehingga sulit dipahami. Bahasa Arab merupakan bahasa tengah-tengah, yang mudah dipahami oleh bangsa manapun juga.

 

Allah swt sengaja membuat susunan bahasa al-Qur’an semudah mungkin, sehingga semua orang dapat mempelajari dan memahaminya sesuai dengan tingkat berfikirnya. Orang awam mengerti, kalangan akademisi tidak merasa dibodohkan. Masing-masing dapat memperoleh makna dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Allah berfirman:

 

 “Sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an (bagi manusia) untuk dijadikan pelajaran. Adakah orang yang mengambil pelajaran daripadanya?” (QS al-Qamar: 17)

 

Kalimat ini diulang sampai empat kali dalam surat yang sama. Hal itu dimakudkan oleh Allah untuk memberi tekanan kepada ummat Islam agar lebih serius dan intens lagi dalam mempelajari al-Qur’an.

 

Al-Qur’an adalah sumber ilmu. Segala ilmu yang dibutuhkan manusia, baik untuk meniti kehidupannya di dunia maupun bekal hidupnya di akhirat dapat dicari dalam al-Qur’an. Asal kita mau sedikit menggunakan akal, ribuan ilmu dan hikmah bisa kita peroleh di sana.

 

Ayat Allah pada Diri Manusia

 

Kekuasaan Allah tidak hanya bisa digambarkan dengan jagad raya, tapi juga pada diri manusia sendiri. Jika kita mau mempelajari dan memahaminya, akan kita temukan kebesaran, kekuasaan, dan keesaan Allah swt.

 

Mulailah mengkaji manusia dari asal kejadiannya, bagaimana ia diciptakan. Manusia, siapapun orangnya berasal dari bahan baku yang sama, yaitu saripati tanah yang telah berubah menjadi sperma (air mani), lalu berubah menjadi nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah, lalu berubah menjadi muthghah. Saat itu Allah meniupkan ruh ke dalamnya. Sembilan bulan lebih berada dalam kandungan ibunya, kemudian lahir ke dunia sebagai bayi.

 

Ketika lahir, manusia hanya bisa telentang. Beberapa saat kemudian bisa bergerak-gerak, tengkurap, merangkak, kemudian bisa berdiri tegak dan berjalan. Untuk bisa berjalan saja dibutuhkan waktu yang amat panjang, kurang lebih setahun. Manusia berkembang terus, dari bayi, kanak-kanak, remaja, pemuda, dewasa, dan akhirnya tua. Di usia renta, manusia kembali menjadi lemah, yang pada akhirnya mengantarkannya kembali ke asal kejadiannya. Fisiknya yang berasal dari tanah, kembali menyatu dengan tanah, sedangkan ruh yang berasal dari Allah kembali kepada-Nya.

 

Sesederhana itukah kehidupan manusia? Tentu saja tidak. Jalan hidup itu, betapa mencengangkan. Bagaimana proses pertumbuhan dan peluruhan itu bisa terjadi? Mengapa seorang ibu bisa sepenuh hati membesarkan bayinya dengan risiko apapun? Itulah yang digugah Allah dengan pertanyaan-pertanyaan menggelitik seperti,

 “Tidakkah mereka memikirkan apa yang ada dalam diri mereka sendiri?” (QS ar-Ruum: 6)

 

“Pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikannya?” (QS adz-Dzariyaat: 21)

 

Ayat-ayat senada dapat kita temukan lebih banyak lagi dalam al-Qur’an. Intinya kita diperintahkan untuk lebih banyak memperhatikan diri kita sendiri. Berbagai pertanyaan seputar diri kita dapat kita ajukan, misalnya, dari mana kita didatangkan, untuk apa kita dilahirkan, bagaimana keberadaan kita di dunia ini, dan selanjutnya apakah ada kehidupan selain di dunia ini. Pertanyaan itu bisa jadi sangat sederhana, tapi untuk menjawabnya dibutuhkan pemikiran yang canggih.

 

Ribuan filsuf sejak zaman Yunani hingga kini, lahir sekadar untuk mencari jawaban seputar pertanyaan ini. Jawaban yang diupayakan sesempurna mungkin itu, tetap saja belum ada yang memuaskan. Manusia masih berupa misteri yang bisa dipelajari lagi oleh ahli-ahli di belakang nanti.

 

Membaca Alam Sekitar

 

Ayat-ayat tentang alam tersebar banyak dalam al-Qur’an. Allah mengajak kita untuk memikirkannya demi menemukan kekuasaan, kebesaran, dan keesaan-Nya. Allah berfirman:

 

“Nanti akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami di ufuk-ufuk (tepi langit) dan pada diri mereka sendiri, sehingga teranglah bagi mereka, bahwa al-Qur’an ini sebenarnya (dari sisi Allah).” (QS Fushshilat: 53)

 

Juga pada ayat lain, “Tidakkah mereka melihat langit di atas mereka, bagaimana Kami membangunnya dan menghiasinya, serta tiada mempunyai kerusakanpun; dan (tidakkah mereka melihat) bumi, bagaimana Kami membentangkannya dan menjadikan gunung-gunung di atas (sebagai pasak), dan Kami tumbuhkan di atasnya bermacam-macam (tumbuh-tumbuhan) yang indah, sebagai pemandangan dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (kepada Tuhannya). Kami turunkan air hujan dari langit yang penuh berkah (kemanfaatan), lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun dan biji (tanam-tanaman) yang akan ditunai. Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi, yang mempunyai mayang bersusun-susun sebagai rizki untuk hamba-hamba (Allah), dan Kami hidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang telah mati (kering), seperti itulah kamu keluar (dari dalam kubur).” (QS Qaaf: 6-11)

 

Selain itu, memikirkan alam sekitar akan mendatangkan manfaat lain, yaitu agar kita dapat mengetahui hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Dengan mengatahui hukum alam, maka kita dapat menundukkannya. Kita bisa mengolah dan memanfaatkannya secara baik dan benar. Dengan demikian kita bisa menjadi khalifah, pengemban amanat Allah di muka bumi. Semoga.·

 

 

 

Qur’an Surah An-Nisaa’: 9

Tentang warisan iman

 

“Hendaklah mereka takut kepada Allah jika meninggalkan generasi yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya. Karena itu hendaklah bertaqwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan baik.”

 

ASBABUN-NUZUL.

 

Suatu hari Rasulullah menjenguk Sa’ad bin Abi Waqash yang kala itu sedang sakit keras. Dalam kondisi seperti ini Sa’ad mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah, “Aku seorang yang kaya, yang tidak memiliki ahli waris kecuali anak perempuan. Bolehkah aku menyedekahkan dua pertiga dari kekayaanku?” “Tidak boleh,” jawab Rasulullah. Kata Sa’ad, “Bolehkah jika separuhnya?” “Tidak boleh,” jawab Rasulullah. Kata Sa’ad, “Bolehkan sepertiganya?” Kali ini Rasulullah menjawab, “Ya, sepertiga. Sepertiga itu sudah sangat banyak.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli waris dalam keadaan kaya (berkecukupan) adalah lebih baik daripada meninggalkan ahli waris yang miskin meminta-minta kepada ummat manusia.”

 

Sehubungan dengan sabda Rasulullah ini Allah set menurunkan ayat di atas yang dengan tegas memberikan keterangan, bahwa ummat Islam dilarang meninggalkan anak keturunan yang lemah, baik lemah ekonomi, lemah pendidkan dan akal, kesehatan dan kelemahan lainnya. Padahal untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi dibutuhkan sarana dan prasarana, berupa harta kekayaan.

 

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim di atas memberikan gambaran kepada kita agar meninggalkan anak keturunan dalam keadaan yang lebih siap. Jangan sampai anak keturunan ditinggal mati dalam keadaan belum memiliki kesiapan, utamanya dalam hal materi, sehingga dikhawatirkan menjadi terhina karena harus bergantung kepada uluran tangan orang lain.

 

Permata dunia

 

Dalam konsep Islam, anak keturunan adalah permata atau hiasan hidup di dunia. Setiap orang tua pasti mencintai anaknya sebgaimana ia juga mencintai permata dan perhiasan hidup lainnya. Segala sesuatu akan siap dikorbankan demi anak yang dicintainya.

 

Seorang ibu dengan suka rela mengandung anaknya selama sembilan bulan lebih, kemudian harus bertaruh nyawa ketika melahirkannya. Setelah anak lahir pengorbanan ibu masih lebih besar lagi. Ia harus merawatnya, menyusui, dan memberi makanan yang sehat dan bergizi.

Seorang ayah tanpa merasa lelah terus mencari nafkah demi keluarga tercintanya. Dengan penuh kesabaran kadang ia harus mengayuh becak, mengangkat barang-barang sebagai kuli, berada di kantor hingga larut malam, dan semua pekerjaan yang menyita waktu, tenaga, dan fikiran. Semua dilakukan oleh orang tua untuk anak-anaknya.

 

Sayang, ternyata tidak semua anak yang dicintai tersebut menjadi permata hati dan perhiasan dunia. Justru yang terbanyak menjadi duri dan racun keluarga. Mereka tidak sedap dipandang mata. Tak enak diajak bicara. Sungguh, pengorbanan orang tua menjadi sia-sia, bila anak yang seharusnya menjadi permata, ternyata menjadi musuh yang nyata. Allah melukiskan hal itu dalam firman-Nya:

 

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Karena itu, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan dan mengampuni mereka serta kamu berlapang dada, maka sesunguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Kasih.” (QS. At-Taghabun: 14)

 

Banyak orang tua yang lupa, bahwa seorang anak baru akan menjadi permata hati jika mereka berkepribadian Islam. Artinya, jika moralitas Islam ditanamkan sejak dini, maka akan lahir anak-anak yang menyejukkan pandangan. Orang tua akan merasa senang dan puas bersama anak-anaknya, karena sang anak sangat hormat dan cinta kepada orang tuanya.

 

Adalah kewajiban orang tua untuk mendidik dan merawat anaknya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Soal pendidikan anak ini, baik al-Qur’an maupun al-Hadits banyak membicarakannya, melalui pengajaran langsung maupun melalui ibrah dari berbagai teladan yang dilakonkan oleh para nabi maupun orang-orang bijak lainnya. Dalam sebuah ayat, Allah mengajarkan kepada kita:

 

Kami telah mengingatkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah-payah, dan melahirkannya dengan susah-payah pula. Mengandung dan kemudian menyapihnya sampai tiga puluh bulan, sehingga mencapai usia dewasa. Sewaktu usianya mencapai 40 tahun, ia menghadapkan munajatnya kepada Allah, ‘Rabbi, limpahkanlah kepadaku suatu sikap untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Kau berikan kepadaku dan kedua orang tuaku. Tetapkanlah hatiku supaya selalu dapat beramal shalih yang Engkau ridhai. Limpahkanlah kebaikan untukku dalam hal yang berkaitan dengan keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)

 

Dalam ayat ini Allah hendak memperlihatkan kepada kita betapa jerih-payah orang tua dalam mendidik dan merawat anak-anaknya tidak sia-sia. Anak yang dididik akan mencintai orang tuanya yang dimanifestasikan dalam sebuah doa bagi kedua orang tuanya. Demikian juga anak tersebut akan mendidik anak-anaknya secara baik pula sehingga menjadi anak yang shalih. Akhirnya orang tua, anak dan cucu sama-sama menjadi orang yang shalih.

 

Generasi lemah

 

Kesibukan sering menjadi si terdakwa, ketika orang tua tak lagi sempat merawat dan mendidik anaknya secara benar. Ayah sibuk bekerja, ibu juga ikut-ikutan menyibukkan diri. Sedang perawatan dan pendidikan anak diserahkan kepada pembantu, yang tidak punya ikatan apa-apa kecuali sekadar upah.

 

Memang, kebutuhan fisik anak tetap bisa terpenuhi semua. Soal sandang, papan, dan pangan tak ada masalah. Berbagai fasilitas pendidikan, termasuk alat-alat permaian semua tersedia. Namun yang satu, yaitu kebutuhan ruhani, apakah bisa terjawab begitu saja? Jalinan kasih sayang melalui pelukan manja, belaian tangan, ciuman, tatapan mata, senyum, dan kata-kata manis, menjadi barang mahal karena hanya bisa didapatkan dari sisa-sisa tenaga ayah ibu yang telah terkuras habis untuk bekerja.

 

Lebih sadis lagi jika seorang ibu rela menyapih anaknya yang belum genap usia 2 tahun hanya karena mengejar karir. Atau bahkan penyapihan itu dengan alasan yang tidak masuk akal: sekadar untuk menjaga kelangsingan tubuh ibu. Ia khawatir payudaranya mengendur jika terus-menerus disedot oleh bayinya.

 

Islam telah mengajarkan kepada para ibu untuk memberi ASI kepada bayinya hingga genap usia 2 tahun. Hal ini selain dimaksudkan untuk memberi makanan terbaik untuk kesehatan dan pertumbuhan bayi, juga untuk menjalin kasih sayang antara ibu dan anak. Kegiatan penuh sayang itu akan memproses jalinan batin sehingga terjadi keakraban, kasih sayang, cinta, dan perasaan-perasaan batiniyah yang lebih mendalam lainnya.

 

Anak yang kurang mendapatkan kasih sayang murni dari kedua orang tuanya akan mudah dimasuki anasir-anasir lain yang dapat menhancurkan aqidah dan akhlaqnya. Anak-anak semacam ini akan tumbuh menjadi generasi yang santai dan suka berhura-hura. Seluruh hidupnya bisa dihabiskan untuk mencari perhatian orang lain, walaupun harus dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang negatif. Itulah yang melanda generasi muda kita sekarang.

 

Mereka, walau tampak fisiknya kuat, sebenarnya sangat lemah. Pribadinya kropos. Ibarat pohon, tampak dari luar segar, bahkan daunnya masih rimbun. Akan tetapi betapa mengeejutkannya ketika ada hujan, pohon itu roboh. Ternyata setelah diteliti, batang pohonnya rapuh, dimakan rayap dari dalam.

 

Anak-anak muda sekarang, utamanya Anak Baru Gede (ABG) sangat mudah terperosok pada perangkap Iblis. Mereka habiskan waktunya untuk berhura-hura, mengejar kesenangan hidup belaka. Padahal usia mereka sangat potensial untuk mempersiapkan masa depannya. Bisa dikatakan, jika pada usia ini tidak ada persiapan yang matang, maka di kemudian hari dapat dipastikan nasibnya akan buruk.

 

Tampaknya ada pihak-pihak luar yang tahu persis kondisi ini. Mereka sengaja merasuki anak-anak muda dengan berbagai kegiatan yang melenakan. Mereka mencoba memberikan iming-iming kehidupan yang penuh hura-hura. Mereka penuhi kehausan mereka dengan barang-barang mewah. Pikiran generasi ini dihancurkan dengan minuman keras yang memabukkan. Pil ekstasi, koplo, candu, dan berbagai racun lainnya dengan berbagai nama telah menyihir jutaan anak muda.

Melalui rangkaian kegiatan yang terprogram, pikiran anak-anak mudah dibelokkan. Mereka diajak untuk berprinsip hidup bebas, cinta bebas, dan pada akhirnya seks secara bebas. Padahal itulah puncak dari segala puncak kerusakan manusia.

Orang tua harus merasa khawatir jika meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan lemah ekonominya, akan tetapi wajib lebih takut lagi jika anaknya menjadi generasi yang lemah imannya. Kelemahan yang terakhir ini justru lebih berbahaya.

 

Nabiyullah Ibrahim as memberi teladan kepada orang tua, bagaimana seharusnya mendidik anak-anak. Ia menempatkan anaknya pada suatu lingkungan yang kondusif bagi tumbuh-kembangnya iman sang anak. Tak lupa ia berdoa kepada Allah agar anak-anaknya dijauhkan dari menyembah berhala. Allah berfirman ketika mengisahkan doa Ibrahim itu di dalam al-Qur’an:

 

Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari perilaku penyembahan berhala. Rabbi! Sungguh berhala-berhala itu telah banyak menyesatkan manusia.” (QS. Ibrahim: 35-36)

 

Cucu Ibrahim, Ya’qub bin Ishaq, ketika menjelang ajalnya sempat memanggil anak-anaknya. Ia tak hendak membagikan harta warisan, tak juga menanyakan urusan duniawi. Ia justru bertanya tentang sesuatu yang lebih prinsipil, yaitu aqidah. Dialog akhir hayat ini direkam Allah dalam al-Qur’an:

 

Apakah yang kau sembah setelah aku (mati)?” Mereka serentak menjawab, kami pasti menyembah Tuhanmu dan Tuhan bapakmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yakni Tuhan Yang Maha Esa, dan kepada-Nya kami menyerahkan diri.” (QS. Al-Baqarah: 133)

 

Kini, adakah di antara kita yang ketika menjelang ajal tidak sibuk hanya mengurus pembagian harta benda?

 

 

 

QUR’AN SURAH AL-BAQARAH: 195

TENTANG SEMANGAT BEREKONOMI

 

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

 

ASBABUN-NUZUL. Abu Dawud, Tirmudzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, meriwayatkan sebuah hadits bahwa ketika Islam telah berkembang dengan pesat dan mengalami kejayaan, sementara pengikutnya semakin banyak, para sahabat Anshar berbisik-bisik di antara mereka dengan mengatakan, “Harta benda kita telah habis untuk mempertahankan dan memperjuangkan Islam. Allah swt pun telah memberikan kejayaan. Bagaimana kalau kita memperbaiki taraf hidup kita dengan mengadakan usaha (bekerja kembali)?”

 

Sehubungan dengan pemikiran sahabat Anshar tersebut, Allah swt menurunkan ayat di atas sebagai ketegasan bahwa orang Islam tidak dibenarkan hanya bertopang dagu, bermalas-malasan bekerja. Untuk itu mereka wajib mencari nafkah untuk keluarga dan anak-anaknya dengan berusaha. Jangan sampai mereka terjerumus ke jurang tahlukah (meninggalkan kewajiban).

 

Dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir disebutkan bahwa para sahabat Nabi saw pada waktu itu banyak yang mengikuti peperangan yang diadakan oleh Rasulullah saw dengan melupakan nafkah. Ada kalanya mereka melupakan keperluannya sendiri, dan kadang terlupakan soal nafkah keluarga. Oleh sebab itu Allah swt memerintahkan agar mereka menafkahkan harta kekayaannya untuk diri sendiri dan untuk keluarganya, jangan sampai terjerumus ke jurang kelalaian.

 

PRINSIP KESEIMBANGAN. Salah satu sebab tahlukah menurut ayat di atas adalah kurangnya perhatian ummat dalam mengurus nafkah, baik nafkah untuk diri pribadi maupun nafkah untuk keluarganya. Atau lebih tegas lagi bahwa salah satu penyebab kemunduran ummat Islam adalah karena mereka menelantarkan urusan ekonomi.

 

Pada masa-masa permulaan Islam, yang menjadi prioritas gerakan adalah menyebarkan dakwah seluas-luasnya. Pada masa ini yang dibutuhkan adalah semangat berkorban, baik jiwa dan raga, termasuk harta benda. Sebab masa-masa ini penuh dengan tantangan. Dan tantangan yang paling besar adalah permusuhan orang-orang kafir dalam bentuk makar.

 

Peperangan demi peperangan akhirnya tidak bisa dihindari. Pengorbanan ummat tidak sedikit. Kesempatan untuk bekerja, menghidupi keluarga dan sanak famili menjadi semakin sedikit, sebab waktu yang ada lebih banyak digunakan untuk perang itu sendiri.

 

Akan tetapi setelah kemenangan demi kemenangan diraih, kejayaan juga sudah mulai terasa, maka ummat Islam tidak boleh terlena karena keasyikan dengan peperangan itu sendiri. Ummat Islam harus segera membangun kehidupannya, utamanya dalam soal ekonomi.

 

Memang ada kecenderungan pada manusia untuk lebih memperhatikan satu sisi dan mengabaikan sisi yang lain. Sebagaimana para sahabat yang mendapatkan teguran dengan turunnya ayat ini, mereka lebih cenderung mengabaikan soal ekonomi karena lebih asyik membangun kekuatan militer.

 

Kecenderungan seperti ini tentu saja sangat membahayakan perjuangan itu sendiri. Dalam jangka panjang, ummat Islam bisa lumpuh, karena kekuatan pendukung, yaitu sokongan dana tidak diperoleh kecuali dari harta rampasan perang. Tentu saja dana itu tidak memadai, sebab mereka yang berperang juga memiliki anak dan istri yang juga harus dihidupi.

 

Ayat ini memberi ketegasan kepada ummat Islam agar kembali pada posisi yang seimbang. Ummat islam harus berada dalam mizan, timbangan yang adil dalam semua aspek kehidupan. Itulah prinsip Islam yang harus dipegang teguh oleh ummatnya dengan penuh kebijaksanaan.

 

Dalam kaitan ini kita perlu mengamati bagaimana Allah Rabbul ‘Alamin mengatur dan mentarbiyah jagat raya ini. Jika diamati, jagat raya ini telah memiliki keseimbangan yang sempurna, misalnya ada siang dan malam, gelap dan terang, panas dan dingin, laut dan daratan. Semua tertata secara rapi. Tidak mungkin satu dengan yang lain saling melampaui. Itulah keseimbangan yang telah diciptakan Tuhan. Karena keseimbangan itu pula matahari, bintang, bulan, dan gugusan tata surya lainnya tidak saling bertabrakan. Semua beredar pada garis edarnya masing-masing.

 

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran.” (QS. Al-Qamar: 49)

Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (QS. Al-Mulk: 3)

 

Tidak mungkin matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yaasiin: 40)

 

Begitulah cara Allah mentarbiyah alam raya ini, sebagaimana juga mendidik seluruh benda-benda hidup, termasuk manusia. Manusia dalam kapasitasnya sebagai benda material tunduk pada prinsip keseimbangan ini. Jika tidak, maka yang terjadi adalah kerusakan yang parah sekali.

 

Contoh sederhananya adalah dalam bernafas. Bernafas adalah gerakan keserasian antara penarikan atau pengambilan oksigen dan pengeluaran atau pembuangan karbondioksida. Jika seseorang melakukan pernafasan tidak seimbang, bisa berakibat fatal. Misalnya, penarikannya lebih sedikit dibanding pengeluarannya, atau sebaliknya.

 

Jika manusia dalam kapasitasnya sebagai benda material saja sudah harus mengikuti prinsip tawadzun atau keseimbangan, apalagi dalam kapasitasnya sebagai makhluq spritual. Di sini prinsip tawadzun dan ta’adul (keseimbangan dan keadilan) menjadi lebih penting lagi.

 

Salah satu contoh adalah dalam hal pemikiran dan perasaan. Bila kedua instrumen spiritual ini tidak seimbang, misalnya, pemikirannya saja yang maju, atau perasaannya saja yang menonjol, maka yang akan terjadi adalah berbagai penyakit jiwa. Terlalu menonjolnya perasaan misalnya, membuat orang jadi ke-kanak-kanakan. Sebaliknya jika daya pikirnya saja yang dikembangkan sementara perasaannya diendapkan, maka orang menjadi kacau. Ia tidak mempunyai keseimbangan emosional.

 

Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluq yang alamiah. Mereka terdiri dari segenggam tanah dan ruh Ilahiyah. Dalam diri manusia terdapat unsur duniawi yang tercermin dalam jasad, dan unsur samawi yang tercermin dari unsur ruh Ilahi. Allah berfirman,

Dan (Dialah) yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (penciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah: 7-9)

 

Dengan unsur jasadnya, manusia mampu memakmurkan dan mengelola bumi yang dianugerahkan Allah. Manusia mampu menundukkan bumi dengan izin-Nya untuk meningkatkan kualitas kehidupannya.

 

Sebaliknya, dengan unsur ruh, manusia sanggup menerawang jauh ke depan dengan idealisme. Mereka tidak saja berada di bumi tapi mengangkasa ke langit dengan segenap cita-cita dan budi sejati. Dengan unsur ini, manusia hidup bukan sekadar untuk hidup itu sendiri, tapi mereka hidup untuk sebuah pengabdian suci.

 

Dalam pandangan Islam, kehidupan di dunia ini bukan penjara, bukan pula beban yang berat. Kehidupan menurut Islam adalah suatu kenikmatan yang perlu disyukuri dan ladang bagi kehidupan lain yang lebih abadi.

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maa-idah: 87-88)

 

Allah swt sangat lugas dalam membimbing ummatnya agar mentaati azas keseimbangan ini. Ayat-ayat yang mengemukakan masalah ini cukup banyak dengan berbagai sasaran dan berbagai redaksi. Intinya sama, agar manusia tidak terjebak pada ekstrimitas dalam bidang-bidang tertentu. Simaklah firman Allah berikut,

Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu akan kenikmatan dunia serta berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)

 

AKIBAT MENELANTARKAN PEREKONOMIAN. Kecenderungan para sahabat yang lebih mementingkan urusan perang dari soal ekonomi itu segera mendapat sorotan al-Qur’an. Merekapun kemudian segera melakukan langkah-langkah perbaikan. Tetapi ternyata kini terjadi lagi hal yang sama. Misalnya di Indonesia, pada masa-masa awal kemerdekaan, tokoh Islam lebih memprioritaskan pada perjuangan politik, sehingga masalah pendidikan dan ekonomi banyak terabaikan. Jika pada masa sebelum kemerdekaan ada SDI yang cukup mampu menggerakkan ekonomi ummat, pada pasca-kemerdekaan justru terjadi sebaliknya. Dan puncaknya adalah yang ada sekarang ini.

 

Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi hampir di seluruh negara Islam. Tak salah jika negara-negara Islam dikelompokkan dalam negara yang sedang berkembang, jika tidak mau disebut sebagai negara terbelakang.

 

Allah telah menganugerahkan kekayaan yang luar biasa kepada ummat Islam. Negara-negara yang dihuni kaum muslimin rata-rata kaya kandungan alam. Akan tetapi kekayaan alam itu menjadi tidak berarti karena mereka tak sanggup mengelolanya dengan kemampuan teknologi. Akibatnya kekayaan alam itu dikeruk untuk kepentingan negara-negara yang sudah maju.

 

Jika diamati, lahan pertanian dunia Islam cukup menakjubkan, yakni tidak kurang dari 40 juta kilometer persegi. Akan tetapi luas lahan yang luar biasa itu baru bisa dimanfaatkan 11 persennya saja. Akibatnya masih banyak negara-negara Islam yang belum mampu berswasembada pangan.

 

Dalam sebuah statistik juga disebutkan bahwa dunia Islam memiliki lahan kering cukup luas, yaitu seperempat lahan kering dunia. Tapi hasil peternakannya hanya 10,8 persen saja. Demikian juga dalam penguasaan kawasan perairan, dunia Islam menguasai wilayah yang sangat luas sekali. Akan tetapi sumbangannya tidak lebih dari 6 persen produksi ikan dunia.

 

Dalam dunia perdagangan apalagi. Jumlah ummat Islam yang telah mencapai lebih 1 miliar –alias seperempat jumlah penduduk dunia– ternyata baru memiliki andil 1% dari hiruk-pikuk perdagangan dunia. Jangankan mencapai angka ideal 25$, sedang bertahan pada 1 persen itupun sulit.

 

Jika ditelusuri lebih dalam lagi, misalnya dalam dunia industri, maka dunia Islam jauh lebih tertinggal lagi. Tentu saja kondisi ini sangat memprihatinkan. Adalah tugas kita semua untuk bangkit kembali dalam mengurus ekonomi sebagaimana sahabat Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Dalam waktu yang sangat singkat mereka dapat merebut pasar Yahudi. Padahal Yahudi telah berabad-abad menguasai perekonomian warga Madinah. Dengan spirit Islam kedua sahabat itu berdagang, dan menang.



 

      Qur’an Surah Al-Maa-idah: 2

Tentang kolusi dan persekongkolan

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Mukaddimah. Potongan ayat ini sengaja diangkat dengan pertimbangan bahwa akhir-akhir ini di tengah-tengah ummat ditengarai telah menjamur praktek kolusi. Ummat awam hanya terkena dampaknya saja, tetapi tak tahu arti kolusi dan bagaimana awal mulanya. Sebagian ummat tahu istilah kolusi ini dari berita dan opini yang berkembang, baik melalui media cetak maupun elektornik. Akan tetapi mereka tetap kurang memahaminya. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi tambahan masukan, terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan referensi tentang masalah ini dari sudut pandang agama, kususnya al- Qur’an.

Dalam kamus bahasa Indonesia, kolusi diartikan sebagai kerjasma rahasia untuk maksud tidak terpuji. Bisa juga diartikan persekongkolan jahat antara oknum tertentu dengan orang lain.

Nampaknya praktek ini tidak hanya terjadi pada saat ini saja, akan tetapi sudah lama berkembang dan melembaga. Bahkan kolusi ini tidak hanya dilakukan antar manusia saja, tapi bisa juga antara manusia dan syetan atau jin.

Arti ta’awun. Salah satu wujud dari ukhuwwah (persaudaraan) adalah ta’awun, tolong-menolong atau kerjasama. Ta’awun ini merupakan kebutuhan dasar manusia, fitrah. Tidak seorangpun yang bisa mandiri tanpa pertolongan orang lain. Ada saling ketergantungan antara satu dengan yang lain.

Biasanya ta’awun ini bisa terjalin bila sebelumnya telah terjadi komunikasi yang intensif, diawali dengan ta’aruf (saling mengenal). Ta’aruf adalah kontak awal yang sangat menentukan. Ada yang cukup dengan saling kenal, tapi ada yang kemudian ingin melanjutkan lebih akrab lagi. Untuk memperbanyak saudara, ummat Islam dianjurkan untuk saling berkenalan.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujuraat: 13)

Interaksi yang dibangun melalui ta’aruf ini akan lebih baik lagi bila dilanjutkan dengan tahapan berikutnya, yaitu tafahum. Bila dalam ta’aruf, seseorang hanya dituntut untuk saling mengenal secara fisik dan dalam hal-hal yang nampak secara lahiriah saja, maka pada proses tafahum, saling memahami, seseorang dituntut untuk saling mengenal secara lebih mendalam.

Pada tahapan ini pengenalan tidak sebatas pada aspek jasadiyah semisal nama, tempat tinggal, serta sedikit latar belakangnya. Akan tetapi sudah sampai pada tataran ruhiyah. Sudah dimengerti sebagian aspek kejiwaannya, sifat dan karakternya, hoby dan kesukannya, serta hal-hal lain yang sifatnya lebih mempribadi. Tak terkecuali juga tentang kelebihan maupun kekurangannya masing-masing. Dengan begitu akan lahir sikap saling menghormati dan menghargai. Lebih jauh dari itu akan lahir sikap tolong-menolong dan kerjasama, ta’awun.

Ta’awun adalah suatu tahapan, di mana dua –atau lebih– orang mengadakan kerjasama untuk tujuan tertentu. Tujuan ini bisa berjangka pendek, bisa pula berjangka panjang. Misalnya, bila seseorang mengalami musibah maka temannya segera menolong dengan cara memberi santunan harta atau memberi pinjaman. Ini merupakan wujud ta’awun untuk mencapai tujuan jangka pendek.

Seseorang memberi beasiswa kepada keluarga yang tidak mampu adalah merupakan ta’awun jangka menengah. Diharapkan dengan bantuan beasiswa ini anak-anak mereka dapat melanjutkan sekolah. Harapan lebih jauh nasib mereka nantinya bisa berubah.

Dalam bidang mu’amalat juga demikian, dengan diberikan bantuan modal seorang pengusaha kecil diharapkan dapat mengembangkan usahanya. Dalam jangka panjang diharapkan pengusaha kecil ini bisa menjadi pengusaha besar juga, yang kemudian bisa membantu yang lain. Untuk selanjutnya tentu saja diharapkan kesejahteraan ummat dapat ditingkatkan.

Ta’awun tidak hanya terbatas pada bidang materi. Menjenguk orang sakit adalah contoh sederhana dari ta’awun ini. Mengingatkan orang yang lupa juga bisa digolongkan dalam ta’rif ta’awun.

Kolusi. Sama halnya dengan ta’awun, tapi kolusi ini bersifat negatif. Artinya dua atau lebih orang mengadakan persekongkolan untuk tujuan-tujuan jahat. Di antara mereka terjalin kerjasama yang kuat, tapi untuk hal-hal yang dilaknat Tuhan.

Persekongkolan ini tentu saja dilakukan secara sembunyi agar tidak diketahui orang lain. Mereka sangat merahasiakannya, bahkan sejauh mungkin menghindari semua tanda-tanda yang bisa dijadikan bukti. Persekongkolan ini digambarkan dalam al-Qur’an:

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak sembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu- Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisaa: 108)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa persekongkolan jahat mereka diadakan secara sangat sembunyi, di waktu malam lagi. Diambilnya setting waktu malam dalam ayat ini adalah untuk memberi kesan bahwa kolusi ini dilakukan benar-benar secara tersamar. Tidak boleh ada orang yang tahu kecuali yang terlibat secara langsung. Untuk waktu sekarang, rapat-rapat mereka tidak harus pada malam hari, sebab banyak tempat tersembunyi. Apalagi sambungan telepon dan alat komunikasi lain sudah demikian membudaya.

Bagi mereka yang mengadakan rapat gelap ini, Allah menginformasikan bahwa usaha mereka itu sia-sia saja. Mungkin mereka berhasil lepas dari intaian dan pengamatan manusia, tapi sesungguhnya mereka tidak pernah bisa lepas dari monitoring Allah. Allah selalu bersama mereka, di manapun mereka berada. Tidak ada tempat yang tersembunyi di sisi Allah. Bahkan lobang semutpun diketahui oleh-Nya.

Tentu saja peringatan ini baru berfungsi bila didengar orang-orang yang tidak lalai. Adapun bagi mereka yang melalaikan agama dan menuruti hawa nafsunya, maka ayat-ayat ini tidak lagi bisa menembus telinganya. Mereka tetap dengan rencana jahatnya, sekalipun mereka menyadari akibatnya.

Oleh karenanya ummat Islam harus waspada dan hati-hati terhadap mereka yang lalai. Tidak tertutup kemungkinan orang yang baik-baik bisa terjebak dalam jeratan mereka. Dengan daya tarik yang luar biasa mereka bisa menjerat siapa saja. Jangankan penguasa, pejabat, atau tokoh masyarakat, ulamapun bisa dijebak dalam persekongkolan ini.

Itulah sebabnya Allah mengingatkan kaum muslimin agar bersikap hati-hati. Tidak semua bantuan itu menguntungkan, sebab bisa jadi itu jeratan yang dipasang oleh oknum-oknum tertentu. Bila telah disadari, segeralah berpaling, jangan sampai diikuti.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Kolusi ini bisa dilakukan oleh penguasa dengan pengusaha dalam bidang ekonomi, misalnya penguasa memberi kemudahan- kemudahan tertentu atau fasilitas tertentu kepada pengusaha agar lebih mudah mengembangkan usahanya. Dengan fasilitas itu keuntungan bisa berlipat ganda. Keuntungan inilah yang kemudian dinikmati bersama. Perjanjian ini –baik tertulis maupun tidak, suka rela atau terpaksa– merupakan tindak kolusi.

Kolusi juga bisa dilakukan oleh terdakwa dan hakim, bahkan kadang juga melibatkan jaksa dan pengacara. Mereka berkomplot untuk memenangkan suatu perkara yang semestinya kalah. Komplotan ini sangat jahat dan zhalim. Allah mengingatkan:

“Dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Alah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” (QS. An-Nisaa: 105-107)

Merupakan perdebatan yang munkar bila orang yang benar disalahkan, sedang orang yang salah dibenarkan. Dan jelas semena-mena bila orang yang melanggar dibebaskan, yang tidak melakukan kesalahan dipenjarakan, atau pemilik sah atas harta yang menjadi perkara menderita karena hartanya disita, sedang yang tak berhak (karena bisa memberi imbalan sekeping rupiah) diberinya.

Kolusi bisa juga dilakukan oleh pimpinan dengan bawahannya. Untuk menggusur seseorang yang tidak disenangi, misalnya, seorang pimpinan bisa berkomplot dengan bawahannya untuk menghambat jenjang karirnya. Berbagai alasan bisa dicari, berbagai cara bisa ditempuh.

Untuk menambah pendapatan di luar yang resmi, seorang pimpinan perusahaan atau instansi tertentu melakukan pungutan liar. Agar operasinya bisa berjalan lancar, ia melibatkan anak buahnya. Mereka juga mendapatkan cipratan keuntungan. Yang demikian ini jelas merupakan tindak kolusi yang tidak diridhai Tuhan. Untuk itu sebaiknya disimak hadits Rasulullah yang cukup panjang berikut ini:

“Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra dari Nabi saw, sesungguhnya beliau bersabda kepada Ka’ab bin Ajrah, ‘Semoga Allah menjauhkan dirimu dari pemimpin yang tolol.’ Kemudian Ka’ab bertanya, ‘Siapakah pemimpin yang tolol itu, wahai Rasulullah?’ Jawab Rasulullah, ‘Yaitu pemimpin sesudahku yang tiada mau memberi petunjuk seperti petunjukku, dan tiada mau membuat peraturan seperti ajaranku. Maka barangsiapa yang membenarkan perilaku pemimpin tersebut dengan segala kebohongannya, serta menolong (berkolusi) segala penganiayaan yang dilakukannya, maka mereka itu bukan termasuk ummatmu dan aku tidak termasuk dalam golongannya. Mereka tidak akan minum di telagaku. Barangsiapa yang tidak percaya dengan segala kebohongan yang diperbuat oleh pemimpin itu dan tiada mau menolong dalam kezhaliman, maka mereka itu termasuk golongan ummatku dan akupun meridhainya serta mereka akan minum di telagaku.

Ya Ka’ab, puasa itu adalah pemisah api neraka, shadaqah adalah penghapus dosa, dan shalat itu adalah petunjuk. Wahai Ka’ab bin Ajrah, manusia itu terdiri dari dua macam, yaitu yang menjual dirinya (ke jalan Allah) maka dia selamat dari api neraka. Yang kedua adalah orang yang menjual dirinya (ke arah hawa nafsu) maka nerakalah tempat tinggal mereka.'” (HR. Ahmad)

 

 

 

Qur’an Surah Asy-Syuura: 38
Tentang musyawarah, demokrasi, dan wakil rakyat
Dan bagi orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Ayat di atas merupakan cuplikan dari sebuah kalimat panjang yang menjelaskan tentang sifat-sifat orang beriman. Di antaranya adalah mematuhi seruan Allah, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezekinya, dan bermusyawarah atas urusan mereka.

Yang menarik, kata syuura dalam cuplikan ayat ini ternyata dijadikan nama surat. Penamaan sebuah surat atau judul tentu bukan sekenanya, tapi atas pertimbangan dari berbagai segi. Bisa jadi judul itu merupakan pesan inti. Bisa juga merupakan konklusi. Yang jelas kata syuura dalam ayat ini memiliki bobot tersendiri.

Tulisan ini hanya akan mengupas makna sekitar syuura yang banyak dilupakan oleh kalangan ummat Islam. Mereka lebih suka mengambil konsep dari Barat dengan istilah demokrasi yang tidak lebih sempurna dari konsep Islam ini.

TEORI DAN PRAKTEK.

Syuura menurut bahasa aslinya mengandung makna ‘mengeluarkan madu dari sarang lebah’. Makna ini berkembang, apalagi ketika kata syuura dijadikan sebagai kata kunci dalam kehidupan bermasyarakat dan berkonstitusi.

Pemilihan kata ini sungguh tepat sekali. Kandungan maknanya luas dan dalam luar biasa. Seperti diketahui bahwa selamanya madu selalu dicari orang, sebab dalam madu itu terdapat saripati makanan yang menyehatkan. Al-Qur’an sendiri menegaskan khasiat madu ini. Allah berfirman:

Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam- macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 69)

Khasiat madu sudah dikenal sejak zaman dahulu. Masyarakat tradisonal maupun modern sangat menyukainya. Selain rasanya enak, juga menyehatkan. Tidak sedikit dokter yang menyarankan pasiennya memperbanyak minum madu agar kesehatannya pulih kembali. Bagi yang sehat, minuman madu juga sangat bermanfaat, khususnya untuk meningkatkan vitalitas dan daya tahan tubuh.

Musyawarah dalam Islam adalah suatu upaya untuk mendapatkan madu. Artinya upaya untuk memperoleh pemikiran, ide dan gagasan yang cemerlang, menyehatkan, sekaligus mengandung obat yang menyembuhkan.

Madu tidak mungkin dihasilkan oleh sembarang binatang. Hanya lebah yang mempunyai perilaku khusus saja yang bisa memproduksinya. Jika dikaitkan dengan musyawarah yang diselenggarakan manusia, maka peserta musyawarah mengambil peran yang sangat vital.

Ada beberapa perilaku lebah yang patut dicatat dalam tulisan ini:

Pertama, lebah itu mempunyai disiplin tinggi. Dalam soal makan, misalnya, ia tidak sembarangan. Hanya sari bunga saja yang dimakannya.
Kedua, kerjasamanya menonjol sekali. Lebah itu tidak egois, sehingga kepentingan bersama lebih diprioritaskan daripada kepentingan sendiri. Sifat tolong- menolongnya antar sesama, juga solidaritasnya sangat tinggi, sehingga bila ada salah satu diserang, mereka akan bersama- sama balik menyerang.
Ketiga, lebah tidak pernah mersak. Biarpun ia hinggap di atas dahan, ranting, bahkan di pucuk bunga sekalipun, tak akan merontokkan sesuatu. Sebaliknya kaki-kaki halusnya yang menginjak bunga itu justru bermanfaat untuk mengawinkan putik bunga dengan sarinya.

Satu lagi yang perlu dicatat, bahwa lebah tidak akan menyengat kecuali bila diganggu terlebih dahulu. Jika ada yang mengganggu, mereka siap menyerbu dengan sengatannya yang menyakitkan sekali. Namun demikian ternyata sengat lebah juga mengandung obat yang bisa menyembuhkan penyakit tertentu. Luar biasa.

Jika menginginkan musyawarah bisa menghasilkan madu, berupa pemikian ide dan gagasan yang cemerlang, maka hendaknya setiap peserta musyawarah mempunyai perilaku seperti lebah. Jika tidak, dikhawatirkan bukan madu yang diperoleh, tapi justru kotoran yang keluar dari belakang. Itulah sebanya Rasulullah pernah berpesan kepada Ali bin Abi Thalib:

Wahai Ali, jangan bermusyawarah dengan penakut, karena dia mempersempit jalan keluar. Jangan juga dengan yang kikir, karena dia menghambat engkau dari tujuanmu. Jangan juga dengan orang yang berambisi, sebab dia akan memperindah untukmu keburukan sesuatu. Ketahuilah wahai Ali, bahwa takut, kikir, dan ambisius merupakan bawaan yang sama, kesemuanya bermuara pada prasangka buruk terhadap Allah.

Pemilihan anggota permusayawaratan tentu saja harus selektif. Jangan semua orang diajak bermusyawarah, khawatir hasilnya bukan madu tapi malah racun. Ini sangat berbahaya. Contoh sederhananya adalah penjahat. Ketika mereka hendak menjalankan aksinya, terlebih dahulu mereka bermusyawarah. Hasilnya sudah dapat diduga, yaitu kejahatan yang lebih canggih dan lebih membahayakan.

Dalam sebuah negara demikian juga halnya. Anggota permusayawaratan hendaknya dipilih yang terbaik di antara yang akan diwakilinya. Minimal mereka tidak boleh memiliki tiga sifat yang disebutkan Nabi dalam pesannya kepada Ali. Syarat mereka adalah berani, lapang, dan tidak ambisius.

Harus ada keberanian pada tiap anggota permusyawaratan untuk menyampaikan pendapatnya, jika diyakini bahwa pendapatnya itu merupakan kebenaran. Ia tidak takut terhadap resiko, sebab segala resiko telah diperhitungkannya. Apalagi jika anggota majlis ini merupakan wakil ummat yang aspirasinya telah diamanahkan kepadanya, maka tidak ada kata lain kecuali memperjuangkannya. Kedua, orang yang bermusyawarah hendaknya bukan yang kikir, yang mengukur segala sesuatunya dengan untung rugi secara materi. Orang seperti itu hanya akan menghambat perjalanan menuju sukses di masa depan.

Yang tak kalah penting adalah menjauhi orang yang berambisi. Dalam pesan Nabi ini disebutkan bahwa orang yang berambisi hanya akan menghias keburukan sehingga nampak menjadi kebaikan. Seorang yang ambisius hanya akan menyampaikan pendapat atau usulan yang bisa menyenangkan atasan. Dengan begitu ia bisa mendapatkan simpati, dan seterusnya ambisinya akan tercapai. Seorang yang ambisius, kepada atasan akan membuat laporan ABS, sedang kepada bawahan ia akan menekan bahkan menginjak. Orang seperti ini tak pantas menjadi anggota majlis yang terhormat.

Bagaimana dalam kenyataannya sekarang? Musyawarah tidak lebih dari sekadar perang mulut, sedang yang diperbincangkan tidak lebih dari soal-soal perut. Idealisme, apalagi soal-soal nilai transenden, masih sangat jauh dari yang diharapkan.

OBYEK MUSYAWARAH.

Semua masalah yang berkaitan dengan urusan manusia bisa dimusyawarahkan. Perkara itu bisa kecil yang hanya melibatkan beberapa orang atau masalah besar yang berskala regional atau nasional.

Dalam urusan rumah tangga, misalnya soal menyusui anak, al- Qur’an menganjurkan kepada suami-istri untuk memusyawarahkan. Normalnya, ibu menyusui anaknya hingga dua tahun, tapi jika ada sesuatu yang menjadi hambatan, maka ibu dan bapak hendaknya bermusyawarah terlebih dahulu. Allah berfiman:

Apabila keduanya (suami istri) ingin menyapih anak mereka (sebelum dua tahun) atas dasar kerelaan dan permusyawaratan antar mereka, maka tidak ada dosa atas keduanya.” (QS. al- Baqarah: 233)

Jika dalam soal kecil yang mencakup hubungan suami-istri dan anak yang baru disusui saja harus dimusyawarahkan, apalagi dalam soal-soal yang lebih besar. Misalnya dalam hal pendidikan anak, masa depan rumah tangga, dan pola hubungan mertua dan orang tua, dan lain-lain. Atau juga urusan-urusan yang menyangkut hubungan antar individu dan masyarakat yang lebih luas. Itulah sebanya musyawarah menjadi sangat penting. Tanpa musyawarah seorang pemimpin bisa menjadi otoriter. Baik pemimpin rumah tangga, pemimpin organisasi, pemimpin masyarakat, maupun pemimpin negara.

Musyawarah merupakan cara yang efektif untuk membatasi kekuasaan eksekutif dan menutup celah bagi lahirnya penguasa diktator. Lapangan musyawarah itu luas sekali, menyangkut semua urusan duniawi. Adapun soal-soal agama yang sudah jelas nash dan ketentuannya, maka tak perlu lagi dimusyawarahkan. Sebagai muslim tidak ada pilihan kecuali menerima dan melaksanakan. Allah berfirman:

Tidaklah wajar bagi seorang mukmin atau mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu hukum, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. al-Ahzaab: 36)

Selain urusan ini, manusia berkewajiban untuk memusyawarahkan dengan sesamanya. Nabi Muhammad sendiri bermusyawarah dengan sahabatnya bila ingin memutuskan masalah yang menyangkut urusan dunia.

Pada saat menjelang perang Badar Rasulullah menetapkan tempat pertahanan bagi pasukan Islam. Salah seorang sahabat, Al-Khubbab bin al-Mundzir bertanya kepada Rasulullah sebelum mengajukan usulnya. Ia berkata, “Apakah pemilihan tempat ini merupakan petunjuk Allah, ataukah berdasar nalar, strategi perang dan tipu muslihat?” Setelah mendengar dari Rasulullah bahwa berdasar nalar dan merupakan strategi, Al-Khubbab kemudian mengusulkan agar Rasulullah memilih lokasi lain yang lebih dekat dengan sumber air. Ternyata usulan ini diterima oleh Rasulullah.

Akan tetapi dalam perjanjian Hudaibiyah, meskipun mayoritas sahabat berkeberatan menerima isi perjanjian itu, utamanya Umar bin Khaththab, tapi semua diam karena saat itu Nabi bersabda, “Aku adalah Rasul Allah.

Jika urusan itu datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, maka tidak perlu lagi dimusyawarahkan. Musyawarah dalam hal ini tidak bisa mengubah ketentuan, hukum dan ketetapan-Nya. Misalnya soal babi. Biarpun semua manusia berkumpul dalam alun-alun besar dan mereka bersepakat menghalalkan babi, maka hukum babi tetap haram. Musyawarah akbar itu tak dapat merubah sedikitpun ketentuan Allah. Adalah suatu kebodohan jika ada sejulah orang yang bermusyawarah untuk melegalkan perzinaan, baik dengan cara melindungi ataupun membuat lokalisasi. Selamanya zina itu dosa besar, dan pelakunya harus dihukum rajam. Ketentuan ini sudah pasti yang datangnya dari Tuhan. Tak ada yang perlu dimusawarahkan.

Adapun dalam soal-soal politik, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya, justru di situlah lapangan musyawarah hendaknya dibuka lebar-lebar. Jika tidak, maka akan timbul bisul-bisul, yang suatu ketika bisa meledak menjadi kerusuhan sosial.

 

 

QUR’AN SURAH AL-JIN: 1-2

TENTANG KELUARBIASAAN AL-QUR’AN

“Sesungguhnya Kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.”

 

ASBABUN-NUZUL. Dalam hadits riwayat Bukhari dan At-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu Abbas, dijelaskan bahwa Rasulullah tidak pernah membacakan al-Qur’an kepada jin, dan tidak pernah melihat mereka.

 

Suatu ketika Rasulullah bersama rombongan sahabatnya menuju pasar Ukkadh. Baru sampai di Tuhamah rombongan berhenti untuk shalat fajar. Hal ini menyebabkan berita-berita dari langit yang biasa dicuri syetan terhalang. Malah mereka mendapat lemparan bintang-bintang, sehingga terpaksa pulang kepada kaumnya. Setiba pada kaumnya, syetan itu ditanya, “Apa yang terjadi sehingga kalian kembali?”

 

Mereka menjawab, “Kami terhalang untuk mendapatkan berita langit, bahkan kami dikejar bintang-bintang.” Kaumnya berkata, “Antara kita dan berita langit tidak mungkin terhalang, kecuali ada sebabnya. Menyebarlah kalian ke timur dan barat dan carilah sebab penghalangnya.” Merekapun menyebar, sehingga sampailah sebagian mereka ke Tuhamah, tempat Rasulullah berhenti untuk shalat shubuh. Mereka mendengar bacaan Rasul serta memperhatikannya. Mereka berkata, “Demi Allah, inilah yang menghalangi kita dengan berita dari langit.” Merekapun pulang kepada kaumnya dan menyampaikan kejadian itu serta mengagumi al-Qur’an yang membawa mereka ke jalan petunjuk Allah sehingga mereka beriman. Maka turunlah ayat ini sebagai pemberitahuan kepada ummatnya tentang kejadian itu.

 

GOLONGAN JIN YANG BERIMAN. Tulisan berikut ini bukan ingin menjelaskan tentang perihal jin Islam dan jin kafir, tapi justru ingin menjelaskan betapa kehebatan al-Qur’an, sehingga bisa menembus dunia jin yang Nabi Muhammad sendiri tidak bersengaja berdakwah atau membacakan ayat kepada mereka.

 

Tidak seperti Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad tidak diberi kemampuan untuk berkomunikasi dengan semua makhluk hidup, baik itu jin maupun binatang. Akan tetapi karena Rasulullah diutus bukan sekadar untuk makhluq manusia tapi sebagai rahmat kepada seluruh alam, maka jinpun akhirnya merasakan manfaat dari kerasulannya.

 

Pertemuan Rasulullah dengan golongan jin tidak hanya sekali ini saja, tapi berlangsung beberapa kali, meskipun tidak intensif sebagaimana kepada manusia. Al-Qur’an juga memberi porsi perhatian yang cukup kepada makhluq yang satu ini. Bahkan salah satu surat al-Qur’an dinamai “Al- in”, yaitu surat ke-73.

 

Tidak banyak penjelasan berkenaan dengan dakwah Rasulullah kepada golongan jin, kecuali bahwa di antara mereka ada yang beriman dan sebagian mereka kafir. Jin yang kafir itulah yang disebut dengan syetan. Demikian halnya dengan manusia, ada juga yang menjadi syetan.”Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. An-Naas: 5-6)

Jin yang beriman tentu saja menanggung beban dan kewajiban sebagaimana yang dibebankan dan diwajibkan atas manusia beriman. Kepada mereka yang menjalankan kewajibannya dengan sempurna (beriman dan beramal shalih) disediakan surga, sebagaimana yang dijanjikan kepada makhluq manusia.

 

Tentang jin yang beriman ini, Ibnu Jauzi meriwayatkan dalam kitab Shufwatush-Shafwan, bahwa Sahl bin Abdillah pernah berada di bekas negara ‘Aad. Terlihat olehnya bekas sebuah kota yang di tengahnya terdapat sebuah gedung batu berukir yang dihuni jin. Ia pun masuk ke dalam gedung itu dan di dalamnya terdapat seorang kakek-kakek yang tinggi besar sedang shalat menghadap qiblat. Ia memakai jubah yang dibuat dari wool yang sangat indah. Ia mengagumi bentuk tubuhnya yang tinggi besar, tetapi ia lebih mengagumi keindahan jubahnya. Ia pun memberi salam kepadanya dan kakek itu menjawab salamnya dan berkata, “Hai Sahl! Sesungguhnya badan itu tidak merusak pakaian, tapi yang merusak pakaian itu adalah adalah bau dosa, dan makanan yang haram. Jubah yang kupakai ini berumur tujuh ratus tahun dan dalam jangka waktu itu aku bertemu dengan ‘Isa dan Muhammad saw. Aku beriman kepada keduanya.” Sahl berkata, “Siapakah tuan?” Kakek itu menjawab, “Aku termasuk di antara orang yang disebut dalam ayat 1 surat Al- Jin.”

 

MU’JIZAT YANG MENGAGUMKAN. Semua rasul Allah diberi mu’jizat. Bentuk dan khasiatnya bermacam-macam, sepadan dengan kaum yang dihadapinya. Nabi Musa diberi mu’jizat tongkat untuk mengalahkan Fir’aun. Nabi Nuh dengan kapalnya, sehingga ketika Allah menurunkan adzab berupa banjir bandang, ia dan orang-orang yang naik kapal bersamanya selamat. Nabi Sulaiman dengan kerajaan dan kemampuannya berkomunikasi dan mengendalikan semua makhluq seperti jin dan binatang bahkan juga angin. Nabi-nabi lain punya keistimewaan sendiri-sendiri.

 

Berbeda halnya dengan Nabi Muhammad. Mu’jizat seperti di atas ternyata tidak terlalu dominan, walaupun juga dipunyainya. Justru mu’jizat Muhammad saw yang esensial terletak pada wahyu yang turun kepadanya, yaitu al-Qur’an. Itulah kitab petunjuk sekaligus mu’jizat.

 

Ternyata mu’jizat ini lebih abadi. Jika mu’jizat yang diberikan kepada rasul-rasul sebelumnya tidak bisa berfungsi lagi setelah mereka meninggal dunia, maka mu’jizat al-Qur’an tetap berlaku, berkhasiat tinggi sampai akhir zaman. Biarpun Muhammad saw sudah wafat sejak 14 abad lampau, tapi mu’jizat al-Qur’an tetap bisa dirasakan oleh ummatnya. Bahkan sesuai dengan arti mu’jizat, jika dipakai ia bisa mengalahkan segenap musuh-musuh Islam.

 

Inilah warisan Rasulullah yang paling mahal. Rasulullah tidak mewariskan harta kepada ummatnya, bahkan kepada anak dan istrinya sekalipun. Rasulullah juga tidak meninggalkan gedung, istana, atau bangunan-bangunan yang menumental. Rasulullah juga tidak meninggalkan kerajaan, sebab bukan kekuasaan yang hendak dibangun olehnya.

 

Dalam kaitan ini Rasulullah bersabda dalam Hajjatul Wada’, “Sesungguhnya syetan telah putus asa untuk dapat disembah dalam negerimu ini, tetapi ia rela kalau ia ditaati selain dari itu dalam apa-apa yang yang kamu anggap remeh dalam amal perbuatanmu. Karena itu kamu harus waspada. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu sesuatu yang bila kamu berpegang kepadanya maka tak akan tersesat selamanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnatur-rasul (Hadits).” (HR. Al-Hakim)

Kaum muslimin yang berpegang kepada kedua warisan ini tentu tidak akan tersesat selamanya. Akan tetapi bila mereka sudah melenceng, mengikuti hawa nafsu dan pikirannya sendiri, maka kerusakan akan menyertainya. Bisa jadi orang yang tersesat ini membaca al-Qur’an dan hadits, tapi ketika hendak berbuat sesuatu ia lupa dan menggunakan akal pikirannya sendiri.

 

Abu Ya’la meriwayatkan hadits Rasulullah sebagai berikut, “Ummat ini kadangkala mengamalkan isi al-Qur’an dan kadangkala mengamalkan sunnah Rasulullah, kemudian mereka melupakan kedua-duanya dan melakukan perbuatan dengan pendapat-pendapat mereka sendiri. Dan bila mereka melakukannya (menurut pendapat dan akal pikiran mereka sendiri), maka mereka tersesat.”

 

Orang yang berpegang kepada a-Qur’an bukan saja terpelihara dari kesesatan, tapi mereka akan mendapatkan kemenangan. Rasulullah telah membuktikan hal ini, demikian juga para sahabat, dan para pendahulu kita. Mereka mampu mengalahkan semua musuh-musuhnya dengan al-Qur’an.

 

Yang demikian itu bisa terjadi karena al-Qur’an itu selamanya akan menjadi mu’jizat. Arti mu’jizat itu sendiri adalah mengalahkan. Karenanya orang yang berjuang dengan al- Qur’an pasti menang. Kemenangan itu bisa berupa kekuasaan, kekayaan, keharuman nama baik, kemuliaan, kehormatan, dan yang lebih tinggi dari semua itu adalah surga dan ridha Allah swt.

 

Nabi Muhammad memperoleh semuanya. Beliau mendapatkan kekuasaan, kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat, dan berupa surga serta ridha Allah swt.

Kini saatnya kita membuktikan kemu’jizatan al-Qur’an dengan cara bersungguh-sungguh mempelajari, memahaminya, mengamalkannya, dan memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan. Dengan cara seperti itu, Allah berkenan memberi hidayah dan kemenangan yang gilang-gemilang.

 

TAK PERNAH KERING. Berbeda dengan buku dan kitab apapun, al-Qur’an mengundang kekaguman yang luar biasa. Tidak ada satu kitabpun di dunia ini yang lebih banyak dibaca melebihi al-Qur’an. Belum pernah ada satu haripun yang terlewatkan dari bacaan al- Qur’an.

 

Bila dibanding dengan gubahan lagu yang paling monumental sekalipun, al-Qur’an jelas lebih unggul. Belum ada satu lagupun yang bertahan hingga 14 abad. Apalagi terus populer dan dinyanyikan tiada henti. Hanya al-Qur’an yang dibaca — kadang dilagukan– terus-menerus, tanpa rasa bosan. Sudah 14 abad usianya, tapi tetap populer, bahkan semakin nge-top.

 

Seorang ahli bahasa tentu akan tahu persis pernik-pernik di sana. Ia akan mengetahui bahwa bahasa al-Qur’an bukan sekadar bahasa manusia. Bahasa al-Qur’an lebih tinggi dari kesusastraan manapun juga.

 

Seorang pakar sejarah akan geleng-geleng kepala melihat bukti-bukti sejarah yang dikemukan al-Qur’an. Tak mungkin kreasi manusia bisa menghasilkan sebuah karya sejarah yang raksasa, yang berbicara mulai dari awal penciptaan alam hingga adanya manusia. Mulai dari adanya manusia pertama hingga ditulisnya al-Qur’an. Bahkan prediksi ke depan sudah pula dipaparkan.

Seorang psikolog, yang sehari-harinya mempelajari gejala- gejala jiwa manusia akan angkat tangan dengan berbagai informasi al-Qur’an tentang jiwa manusia. Al-Qur’an jelas jauh lebih maju dari temuan-temuan ilmu psikologi yang paling mutakhir sekalipun.

 

Para ulama, cendekiawan, mufassir telah melakukan kajian yang intensif sejak dulu hingga sekarang. Mereka selalu saja menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tidak diperoleh. Berkat kekuasaan Allah al-Qur’an tetap mampu memberikan apa yang mereka harapkan. Kandungan yang ada di dalamnya tidak pernah habis, meskipun penyerapnya semakin banyak. Cahaya al-Qur’an tetap terpancar walaupun zaman terus menjulur dan tahun semakin bertambah.

 

Untuk menggambarkan betapa menakjubkannya al-Qur’an ini, berikut dinukil pendapat Ali bin Abi Thalib dalam mengomentari al-Qyr’an. Ia berkata, “Ia adalah kitab Allah. Di dalamnya berisi kisah sebelummu dan pemberitahuan sesudahmu serta ketentuan hukum antara kamu. Ia merupakan penjelasan dan bukan kelakar. Barangsiapa yang sengaja meninggalkannya, maka Allah akan menimpakan petaka kepadanya. Barangsiapa yang mencari petunjuk pada selain al- Qur’an, ia akan disesatkan Allah. Ia adalah tali Allah yang kuat, peringatan yang bijaksana, jalan lurus, tidak bisa diselewengkan oleh nafsu, tidak bisa dicampuri oleh ucapan. Orang yang berilmu tidak akan pernah merasa kenyang. Keajaibannya tidak akan habis, dan jin-pun akan berhenti bila mendengarnya, lalu beriman. Barangsiapa mengucapkannya, ia menjadi benar.

Barangsiapa mengamalkannya, mendapat pahala. Barangsiapa berhukum kepadanya akan menjadi adil. Barangsiapa menyeru kepadanya akan dibimbing ke jalan yang lurus.”

 

 

 

Qur’an Surah At-Taubah: 79
Tentang ulah dan bahaya kaum munafiq


(Orang-orang munafiq) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan suka rela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang- orang munafiq itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.

ASBABUN-NUZUL. Dikisahkan oleh Imam Ahmad dari Aufi dari Ibnu Abbas, bahwa pada suatu waktu Rasulullah mendatangi kaum muslimin untuk mengumpulkan sedekah. Dan mereka segera memberikan sedekahnya. Pada giliran terakhir, datang seorang laki-laki dengan membawa satu shak (takar) tamar. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, terimalah ini satu shak tamar dariku. Semalam aku bekerja mengairi kebun orang. Aku mendapatkan ongkos dua shak, yang satu shak sebagai bekal makan keluarga.”

Ajakan sedekah yang disampaikan Rasulullah itu mendapatkan tanggapan positif dari kaum muslimin. Akan tetapi kaum munafiq ketika melihat orang-orang yang menyerahkan sedekah satu shak tamar, memincingkan mata seraya berkata, “Untuk apa sedekah satu shak? Allah dan Rasul-Nya tidak membutuhkan sedekahmu itu.”

Abadurrahman bin Auf kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, masih adakah orang yang akan menyerahkan sedekahnya?” Jawab Rasulullah, “Tidak, kecuali kamu.” Selanjutnya Abdurrahman bin Auf menyerahkan sedekah sambil berkata, “Aku menyerahkan sedekah seratus uqiyah emas.” Umar bin Khaththab yang hadir ketika itu berkomentar, “Sudahkah kamu gila, wahai Abdurrahman bin Auf?” Jawabnya, “Aku tidak gila. Bukankah apa yang akau lakukan ini juga kamu lakukan pula, wahai Umar?” Jawab Umar, “Ya, benar. Aku mempunyai delapan ribu uqiyah. Empat ribu aku serahkan kepada jalan Allah, dan yang empat ribu lainnya aku persiapkan untuk kecukupan keluarga.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah swt memberkati apa yang kamu simpan untuk kelarga, dan apa yang kamu serahkan kepada jalan Allah, wahai Umar bin Khaththab.”

Kaum munafiq tidak senang menyaksikan sedekah yang dikeluarkan Abdurrahman bin Auf. Mereka mengatakan, “Demi Allah, apa yang dilakukan Abdurrahman bin Auf tidak lebih hanyalah pamer, minta pujian orang lain.”

Pada dasarnya memang, kamu munafiq, kapanpun dan di manapun senantiasa berbuat kebohongan. Tidak pernah percaya terhadap amal orang lain yang semata-mata mencari ridha Allah. Sehubungan dengan itu, maka Allah swt menurunkan ayat 79 dari surah at-Taubah sebagai ketegasan ancaman bagi orang yang mencela dan menghina sedekah. Dan Allah tetap akan memberi balasan pahala kepada orang yang bersedekah karena Allah, sekalipun kecil.

INDIKASI MUNAFIQ. Ajaran Islam menaruh perhatian yang cukup besar kepada orang-orang munafiq, lengkap dengan ciri, sosok, kiprah, dan bahaya yang akan ditimbulkannya. Bahkan dalam al-Qur’an selain tersebart ayat-ayat tentang mereka juga ada satu surat yang khusus membicarakan tentang orang-orang munafiq, dinamai dengan Surah Al-Munafiquun.

Besarnya perhatian Islam terhadap orang-orang munafiq ini tentu sangat beralasan.

Pertama, karena ulah kaum munafiq ini sangat membahayakan keselamatan ummat Islam. Pengkhiatannya kepada Islam seringkali membawa bencana yang tidak kecil. Nabi Muhammad sendiri mengalami beberapa peristiwa yang diakibatkan dari ulah mereka. Perang Uhud merupakan peristiwa monumental yang mengukuhkan pengkhianatan kaum munafiq.

Kedua, persatuan dan kesatuan ummat Islam porak-poranda gara-gara fitnah mereka. Bibit-bibit perpecahan ummat yang mulai nampak pada pemerintahan Utsman dan akhirnya menggumpal pada pemerintahan Ali adalah karena fitnah kaum munafiq ini. Dalam tubuh ummat Islam, golongan munafiq tak ubahnya bagai duri dalam daging.

Ketiga, begitu mudahnya seseorang menjadi munafiq atau setidak-tidaknya berperilaku seperti orang munafiq. Ada tiga ciri yang apabila salah satunya ada pada diri seseorang maka muafiqlah ia. Rasulullah bersabda:

Tanda-tanda munafiq itu ada tiga. Jika berkata, berdusta. Jika berjanji, menyelisihi. Jika dipercaya, berkhianat.” (HR. Syaikhani)

Ketiga sifat yang merupakan ciri-ciri orang munafiq itu sangat populer di tengah masyarakat. Alangkah mudahnya seseorang terjebak pada perbuatan dusta. Baik yang disengaja atau tidak, baik untuk kepentingan-kepentingan tertentu atau sekadar iseng saja. Baik dalam keadaan bergurau atau sesungguhnya.

Alangkah mudahnya para penjual jasa mengobral janji kepada konsumennya, penjahit kepada pemesannya, pegawai percetakan kepada pelanggannya, pedagang kepada konsumennya, tukang kepada pemiliknya, dan seterusnya.

Yang lebih parah adalah pengkhianatan orang-orang yang mendapatkan amanah dan kepercayaan, baik berupa jabatan, penghormatan, atau kekuasaan. Korupsi, dan kolusi, serta bentuk-bentuk lain dari penyalahgunaan kekuasaan adalah merupakan contoh kongkret dari tindakan kaum munafiq. Bila gejala ini sudah merata, maka berarti masyarakat kita telah dipenuhi oleh manusia-manusia munafiq. Na’udzubillah.

Bila salah satu dari tanda-tanda kemunafikan ini ada pada diri kita adalah merupakan lampu kuning agar kita waspada. Tapi jika ketiga-tiga ciri tersebut ada pada diri kita, maka tidak diragukan lagi bahwa kita telah menjadi munafiq 24 karat. Tiada jalan lain kecuali bertaubat.

TINDAKAN MAKAR. Pada dasarnya orang munafiq itu sama dengan orang kafir, bahkan lebih berbahaya. Jika orang kafir terang-terangan menunjukkan kekafirannya, maka kaum munafiq menyembunyikannya. Isi hati kaum kafir dengan munafiq itu sama, keinginannya juga tak beda. Hanya saja tampilan luarnya yang lain.

Sebagaimana orang kafir mereka juga selalu merencanakan makar terhadap ummat Islam. Mereka tidak rela jika Islam berkembang, dan ummatnya memperoleh kenenangan. Itulah sebabnya segala tipu daya mereka terapkan.

Di antara tindakan makar yang pernah dilakukan pada zaman Nabi hingga berlanjut sampai kini adalah melemahkan mental juang kaum muslimin di medan perang. Pada jaman Rasulullah, orang-orang munafiq itu pura-pura masuk Islam, bahkan mereka aktif bersama kaum muslimin dalam berbagai kegiatan. Umar yang dikenal tegas dan paling tanggap terhadap lingkungan ternyata terkecoh juga.

Kedok mereka mulai tersingkap ketika seruan jihad mulai dikumandangkan oleh Nabi. Ketika kaum muslimin sudah siap ke medan perang, mereka justru santai-santai di rumah, ogah- ogahan bersama istri dan anaknya. Mereka sengaja mengulur- ulur waktu sampai akhirnya tidak pergi juga. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang pergi, itupun berbalik lagi di tengah perjalanan. Kelompok itu dipimpin oleh Abdullah bin Ubay.

Perang Uhud menjadi penyingkap kedok mereka ini. Kemunafikan mereka terkorek karena menghalang-halangi kaum muslimin yang hendak pergi perang. Adapun yang ikut perang terus menyebarkan fitnah dan isu yang menyesatkan.

Perbuatan kaum munafiq ini tidak saja terjadi pada perang Uhud, tapi juga berlanjut dalam berbagai event. Ketika kaum muslimin hendak menghadapi bangsa Romawi, mereka menyebarkan fitnah bahwa ummat Islam tak bakal mampu menghadapinya. Mereka berkata, “Rasulullah mengira bakal mampu mendobrak benteng pasukan Romawi. Mustahil.. pokoknya mustahil.” Yang lain berkata, “Apakah kalian mengira mampu menghadapi orang- orang kulit kuning yang bersekutu dengan orang Arab sendiri? Demi Tuhan, kukira besok kalian akan digantung dengan tali.”

Kedok kemunafikan mereka ini diungkap secara jelas oleh Allah dalam al-Qur’an:

“Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim.” (QS. At-Taubah: 47)

Menyebar fitnah adalah keahlian sekaligus hoby mereka. Jika terbuka sedikit saja kesempatan, mereka akan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyebarkan virus fitnah. Dengan virus ini mereka hendak memperdayai kaum muslimin.

Pada waktu meletusnya perang Banu Musthaliq, dua orang Islam berdebat di suatu mata air. Yang satu dari golongan Muhajirin, yang satu dari kaum Anshar. Yang pertama memanggil teman-temannya, wahai kaum Muhajirin. Yang lain memanggil, wahai kaum Anshar. Mendengar perdebatan ini, Abdullah bin Ubay tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung membidikkan fitnah. Dengan bisik-bisik ia sampaikan kepada kaum Anshar, “Ini semua salah kalian sendiri,” katanya. Mengapa kalian memberikan tanah kepada kaum Muhajirin? Mengapa kalian mau membagi harta dengan mereka? Demi Allah, andaikata kalian mau membatasi diri untuk berbelas-kasih terhadap mereka, tentu mereka akan pindah ke tempat lain. Demi Allah, andaikata sejak tadi kita pulang ke Madinah, tentu orang-orang yang terhormat (Anshar) ini dapat memisahkan diri dari orang-orang yang hina (Muhajirin). Selain fitnah yang terus mereka sebarkan, mereka juga terus mencoba mencari titik lemah Islam. Bila mereka menemukannya maka tak segan-segan mereka menggunakan segala cara untuk menyerang ajaran Islam atau tokoh-tokoh yang menjadi sasaran incaran.

Di zaman Rasulullah dikenal istilah Haditsul-Ifki (berita bohong). Yang menjadi sasaran fitnah adalah Ummul Mu’minin, ‘Aisyah, ra. Mereka mnyebarkan isu bahwa istri Rasulullah ini telah melakukan pekerjaan tak senonoh dengan lelaki lain. Kabar ini cepat menyebar, bagai kobaran api yang disiram bensin.

Sasaran fitnah ini jelas, yaitu ‘Aisyah yang menyandang predikat Ummul-Mukminin. Selain itu adalah bapaknya, Abu Bakar yang merupakan sahabat setia Rasul. Adapun sasaran intinya adalah Rasulullah sendiri. Jika fitnah ini berhasil itu berarti bahwa Rasulullah mengawini wanita yang tidak beres. Hal ini sama dengan tuduhan bahwa Rasulullah sendiri tidak beres.

Selain perbuatan makar dalam bentuk penyebaran isu dan fitnah, mereka juga membuat gerakan rahasia. Secara diam- diam Abu Amir Ar-Rahib, dedengkot kaum munafiq pergi menemui raja Romawi. Tujuannya, meminta dukungan untuk menghadapi pasukan Islam. Pada pertemuan ini disepakati bahwa Raja Romawi akan memobilisir kekuatan ke Madinah.

Sukses perundingan ini tentu saja menggembirakan Abu Amir, sehingga ia mengirim kabar kepada kaumnya bahwa sebentar lagi pasukan Romawi akan datang ke Madinah, untuk kemudian disusul dengan jumlah yang lebih besar lagi. Untuk itu ia minta supaya kaum munafiq Madinah menyiapkan tempat penyambutan khusus. Untuk mengelabuhi kaum muslimin, mereka membangun masjid.

Rencana rahasia ini dibongkar al-Qur’an. Allah berfirman:

Dan (di antara orang-orang munafiq itu) ada orang-oranf yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mikmin) dan karena kekafiran(nya), dan untuk memecah-belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul- Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. At-Taubah: 107)

Kejahatan lain kaum munafiq adalah uasahanya untuk menghalang-halangi orang bersedekah. Mereka sendiri bakhil, tapi juga tidak menyukai orang yang dermawan. Jika ada orang yang mau berderma, mereka berusaha untuk mencegah. Apalagi jika sedekah itu ditujukan untuk mengembangkan Islam. Allah berfirman:

Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), ‘Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).’ Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafiq itu tidak memahami.” (QS. Al-Munafiquun: 7)

 

 

Surah Az-Zuhruuf: 84

Dari mana datangnya kekuasaan?


“Dan Dialah Tuhan (yang berkuasa) di langit dan Tuhan (yang berkuasa) di bumi dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Pada wahyu yang diturunkan pertama, Allah Swt belum memperkenalkan diri-Nya, tapi yang dikenalkan adalah eksistensi-Nya. Bukan ada-Nya, tapi keberadaan-Nya.

Eksistensi yang diperkenalkan paling awal adalah bahwa Dia merupakan dzat yang telah menciptakan manusia. Penciptaan manusia dikemukakan di depan karena informasi al-Qur’an memang ditujukan untuk manusia, bukan makhluk lainnya.

Untuk kelangsungan hidup manusia, Allah terlebih dahulu menyiapkan tempatnya, yaitu planet bumi. Planet ini berisi bermacam-macam bahan yang dibutuhkan manusia untuk kelangsungan hidup. Di sana tersedia air yang melimpah, udara yang bisa diperoleh tanpa dipungut biaya, ada bahan tambang, dan lain-lain. Bahan-bahan di atas, ada yang bisa langsung dinikmati, tapi lebih banyak yang harus diolah kembali.

Pengolahan itu membutuhkan keterampilan di samping ilmu pengetahuan. Agar manusia dapat mengolah alam yang disediakan oleh-Nya, maka sejak Nabi Adam, sudah diajarkan ilmu pengetahuan. Allah berfirman:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya.” (QS al-Baqarah: 31)

Kemampuan manusia mengelola persediaan alam telah menjamin kelangsungan hidupnya. Tanpa kemampuan itu barangkali sudah sejak lama manusia punah, sebagaimana banyak makhluk lain yang saat ini tak ditemukan lagi tanda-tanda kehidupannya.

Dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia tidak hanya bisa bertahan, tapi berkembang. Dari suatu peradaban ke peradaban yang lebih tinggi, dan seterusnya. Bahkan dengan teknologi itu manusia merasa `menjadi berkuasa’.

Kekuasaan manusia di muka bumi ini tentu saja sangat terbatas, tapi manusia cenderung melampaui batas. Karena telah melampaui batas, banyak di antaranya tidak bisa lagi disebut sebagai khalifah di muka bumi. Mereka berkuasa bukan dalam rangka menyelenggarakan kekuasaan Allah, tapi demi untuk nafsunya sendiri.

Kekuasaan dapat diperoleh karena bermacam-macam sebab, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling canggih. Berikut ini akan dijelaskan beberapa sumber kekuasaan.

Legitimate Power

Legitimate power berarti kekuasaan yang diperoleh melalui pengangkatan. Seorang kepala cabang mempunyai kekuasaan karena telah diangkat secara sah oleh pimpinan pusatnya. Demikian pula kepala cabang bisa mengangkat seseorang menjadi stafnya, yang oleh karenanya staf tersebut berkuasa. Kekuasaan di sini tentu saja terbatas, sesuai dengan lingkup wewenang yang telah diberikan pada saat pengangkatannya.

Pengangkatan ini bisa diawali dari suatu pemilihan, misalnya kekuasaan presiden atau perdana menteri. Seorang presiden diangkat melalui pemilihan umum. Jika suara yang mendukung cukup signifikan, maka jadilah ia berkuasa. Demikian pula jabatan gubernur, bupati, atau jabatan-jabatan sipil dan swasta lainnya.

Ada kalanya pengangkatan itu tidak melalui pemilihan. Misalnya, karena situasi dan kondisi, untuk mengisi suatu jabatan komandan tidak perlu dilakukan pemilihan umum, tapi cukup dengan pengangkatan. Banyak jabatan sipil yang diperoleh dengan cara ini.

Antara pemilihan dan pengangkatan tentu saja ada perbedaan. Seseorang yang terpilih untuk menduduki jabatan tertentu disebut sebagai pemimpin, sedangkan jabatan-jabatan yang diperoleh melalui pengangkatan disebut kepala. Seorang pemimpin pasti bisa menjadi kepala, sedangkan seorang kepala belum tentu bisa menjadi pemimpin.

Coersive Power

Coersive berarti kekerasan. Coersive power berarti kekuasaan yang diperoleh melalui jalan kekerasan. Baik melalui kudeta atau perebutan kekuasaan dengan menggunakan kekuatan senjata.

Karena diperoleh melalui jalan pemaksaan, maka dikatagorikan inkonstitusional. Biasanya, setelah terjadi perebutan kekuasaan ini akan menyusul perubahan-perubahan yang besar dan mendasar. Undang-undangnya berubah, aturan pemerintahannya berubah, dan orang-orang yang menduduki jabatan juga berubah. Karena perubahannya sangat besar dan mendasar, maka disebut dengan revolusi.

Ada beberapa revolusi yang menjadi pusat perhatian dunia yang terjadi pada dekade 80-an, misalnya Revolusi Iran yang menjatuhkan kekuasaan Syah Reza Pahlevi oleh ulama kharismatis, Ayatullah Ruhullah Khomeini.

Selain itu ada revolusi yang menjatuhkan Presiden Nicolai Ceausescu di Rumania. Revolusi rakyat ini dimulai dengan gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengerahkan ratusan ribu hingga jutaan manusia, sampai pada akhirnya dapat menjatuhkan kekuasaan presiden.

Expert Power

Expert berarti keahlian. Expert power berarti kekuasaan yang diperoleh seseorang karena keahlian atau kemampuannya. Di negara-negara maju yang telah menerapkan merit system dalam semua jenjang jabatan, maka orang-orang yang mempunyai keahlian saja yang dapat menduduki jabatan tertentu. Dalam sistem ini yang diutamakan adalah `the right man on the right place‘ atau menempatkan orang yang tepat pada posisi yang pas.

Contoh sederhananya adalah dokter. Jika seorang dokter menggunakan wewenangnya sebagai ahli kesehatan, misalnya menulis resep dan mengobati pasien, maka kekuasaannya sesuai dengan keahliannya. Yang demikian itu disebut expert power.

Dalam kenyataannya banyak jabatan yang seharusnya ditempati orang-orang ahli ternyata telah diduduki oleh orang yang tidak tepat. Bisa jadi karena pengaruh pressure group (tekanan kelompok), atau karena KKN. Sehingga banyaklah dokter yang beralih menjadi politisi.

Reward Power

Reward berarti pemberian. Reward power berarti kekuasaan yang diperoleh seseorang melalui pemberian. Misalnya, orang yang kaya dapat memerintahkan kepada seseorang untuk berbuat ini dan itu, semata-mata karena yang diperintah itu mengharapkan pemberian, baik berupa gaji, upah, atau apapun namanya.

Menurut teori ini, sebuah kekuasaan dapat diperoleh jika seseorang kaya dan berduit. Tuan-tuan tanah dapat membayar centeng dan tukang pukul karena ia dapat membayar secara teratur. Hal ini tidak hanya berlaku di negara-negara berkembang, tapi juga di negara-negara yang sudah maju. Perhatikan bagaimana kaum jetset selalu menguasai dan mempengaruhi keadaan di semua negara.

Kekuasaan uang itu kadang sangat besar. Di pengadilan dikenal istilah mafia peradilan, yang dapat mengatur jalannya peradilan, menentukan kalah dan menang, melalui uang. Bahkan dalam pemilihan jabatan tertentu dikenal pula istilah money politics (politik uang). Seseorang bisa dibeli suaranya. Dengan cara seperti itu maka hanya orang-orang kaya dan berduit saja yang dapat berkuasa.

Selain yang telah disebutkan di atas masih banyak lagi sumber-sumber kekuasaan yang lain. Misalnya, daya tarik atau reverent power. Seseorang yang menarik penampilannya bisa mempengaruhi orang lain, yang karenanya ia bisa menggunakan pengaruhnya untuk berkuasa atau menguasai seseorang. Konon presiden Ronald Reagan terpilih dua kali jadi presiden AS karena daya tariknya. Demikian juga Bill Clinton. Sebelumnya ada John F Kennedy yang rupawan dan memanfaatkan kecantikan Madame Marilyn Monroe untuk memenangkan pemilihan umum.

Kekuasaan juga bisa bersumber dari informasi. Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia. Dalam dunia modern yang mengandalkan kecanggihan teknologi, informasi merupakan kebutuhan yang paling dasar. Itulah sebabnya raksasa-raksasa dunia sekarang ini berusaha sekuat daya untuk menguasai informasi.

Yang lain, kekuasaan dapat diperoleh melalui koneksi, connection power. Orang yang mempunyai banyak koneksi atau relasi tentu lebih mudah mendapatkan suatu pekerjaan, bahkan dengan amat mudahnya menduduki jabatan strategis dan menentukan. Kenaikan karir juga bisa berjalan mulus jika mempunyai koneksi. Hampir semua pekerjaan menjadi berhasil jika ada koneksi. Koneksi ini bisa negatif, tapi bisa juga positif. Tergantung pada penggunaannya.

Penutup

Setiap manusia pasti memiliki kekuasaan atau otoritas. Hanya skalanya saja yang membedakan satu dari yang lainnya. Ada yang memiliki kekuasaan dalam skala amat kecil, ada juga yang sangat besar. Untuk dapat memperoleh kekuasaan sekecil apapun harus diperjuangkan. Untuk mempertahankannya juga demikian.

Satu hal yang harus diperhatikan, bahwa kekuasaan itu, sekecil apapun harus diperoleh dengan cara yang halal dan dimanfaatkan pula dengan cara yang halal, serta diabdikan sepenuhnya kepada Allah Swt, sang Penguasa Alam. Jika kekuasaan itu diabdikan kepada Allah, berarti telah dijalankan fungsi sebagai khalifah. Jika tidak, maka seseorang itu sedang dikuasai oleh hawa nafsunya sendiri.

 

 

 

Tafsir Surat al-Fatihah

Abu huroiroh RA.meriwayatkan, rosululloh SAW. “Demi [Alloh] yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah Alloh menurunkan satu suratpun yang semisal dengan surat al-Fatihah, baik itu di Taurot, Injil maupun di al-Qur’an” 1

 

Surat al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat dan termasuk surat Makkiyyah, menurut pendapat Abdulloh bin ‘Abbas, Qotadah dan Abul ‘Aliyah.

 

Dinamakan al-Fatihah yang berarti ‘pembuka’, karena surat ini merupakan pembuka [permulaan] dari al-Qur’an secara tulisan. Dinamakan juga dengan Ummul Qur’an [induk al-Qur’an], karena seluruh al-Qur’an berkisar pada pokok-pokok yang dikandungnya.

 

Dinamakan juga dengan as-Sholah, karena ia merupakan rukun sholat. Sholat tidak sah tanpanya. Dinamakan dengan as-Syifaa’, yang berati obat, karena al-Fatihah bisa dijadikan obat untuk dua jenis penyakit; dhohir maupun batin, dan masih ada lagi beberapa nama lainnya untuk surat al-Fatihah ini.2

 

TAFSIR AYAT

 

Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazaa’iry, dalam Aisaru at-Tafaasir-nya menjelaskan makna ayat-ayat dari surat yang mulia ini. Beliau menulis, Alloh ‘azza wa jalla memberitahukan bahwa segala macam pujian, baik itu berupa sifat keagungan atau kesempurnaan hanyalah milik Alloh ‘azza wa jalla . Sebab, Dia-lah Robb dari segala sesuatu, Pencipta dan Pemiliknya. Kewajiban kita adalah memuji-Nya.

 

Kemudian Alloh ‘azza wa jalla mengagungkan diriNya sendiri, bahwa Dia-lah yang menguasai segala yang ada di hari kiamat. Pada hari itu, tidak seorang pun berkuasa atas orang lain. Dia [Allohk]-lah satu-satunya pemilik dan Penguasa.

 

Selanjutnya Alloh ‘azza wa jalla mengajarkan kepada kita, suatu cara agar permintaan dan doa kita diterima/dikabulkan. Dengan kata lain, Alloh ‘azza wa jalla berfirman, “Pujilah Alloh dan agungkanlah Ia, serta konsistenlah dengan hanya beribadah dan meminta pertolongan kepadaNya, bukan kepada yang lain”.

 

Lalu dengan pengajaran dari Alloh ‘azza wa jalla , seorang hamba akan meminta kepada Alloh ‘azza wa jalla untuk dirinya dan saudara-saudaranya, agar hidayah yang Alloh ‘azza wa jalla berikan kepada mereka dilanggengkan, sehingga tidak terputus. Akhirnya, setelah mereka meminta ditunjukkan kepada ‘jalan yang lurus’, Alloh ‘azza wa jalla menjelaskan, yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberi nikmat, yang itu merupakan manhaj [konsep] yang lurus, yang akan mengantarkan seorang hamba kepada keridhoan Alloh ‘azza wa jalla dan jannah-Nya. Jalan itu adalah Islam, yang tegak berdiri di atas pondasi iman, ilmu dan amal, disertai dengan menjauhi kemusyrikan dan kemaksiatan. Jalan itu bukanlah jalannya orang-orang yang dimurkai oleh Alloh ‘azza wa jalla dan bukan pula jalan mereka yang sesat.3

 

Ibnu Katsir Rhm. menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang diberi nikmat adalah orang-orang yang disebut oleh Alloh ‘azza wa jalla dalam surat an-Nisaa’ ayat ke-69. Mereka adalah para nabi, shiddiqien, syuhada dan sholihin.

 

Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang mendapatkan murka adalah orang-orang Yahudi. Mereka dimurkai, karena mereka tahu akan kebenaran, tetapi mereka berpaling darinya.

 

Adapun orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani. Mereka bodoh dan beribadah menurut kemauan mereka sendiri, tanpa ilmu. Sebenarnya, baik Yahudi maupun Nasrani, semuanya sama-sama mendapat murka dan tersesat. Hanya saja, sifat khusus ‘mendapatkan murka’ diperuntukkan bagi Yahudi, karena mereka tidak mau beramal, dan sifat khusus ‘tersesat’ disandangkan kepada orang-orang Nasrani, karena tidak mau berilmu. 4 Maka kalau kita tidak mau berilmu atau beramal, berarti sejenis dengan Nasrani atau Yahudi. Na’udzu billah…

 

KANDUNGAN AYAT

 

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah Rhm. menyatakan, bahwa surat al-Fatihah ini memuat pokok-pokok dienul Islam secara global tapi sempurna. Ada tiga hal pokok, yaitu:

 

1. Tauhid

 

Melalui surat ini, Alloh ‘azza wa jalla ‘mengenalkan diri‘ kepada makhluk-makhluk-Nya dengan lima nama, yaitu Alloh, ar-Robb, ar-Rohmaan, ar-Rohiim dan al-Malik.

 

a. Alloh

 

Nama ‘Alloh’ adalah nama yang mewakili seluruh al-Asmaa’ al-Husna [nama-nama baik yang berjumlah 99, yang Alloh ‘azza wa jalla sifatkan kepada diri-Nya sendiri] dan as-shifat al-ulya [sifat yang tinggi/mulia]. Nama ini menunjukkan Ilaahiyyah-Nya. Sifat Ilaahiyyah adalah sifat kesempurnaan yang jauh dari tasybih [penyerupaan], tamtsil [permisalan], kekurangan dan cacat. Seluruh asmaa’ al-husna adalaha perincian dari sifat ini. Nama ‘Alloh’ menunjukkan bahwa Alloh ‘azza wa jalla adalah al-Ma’luuh, yang diibadahi. Semua beribadah kepada-Nya dengan penuh ketundukan dan kecintaan dan pengagungan.5

 

ar-Robb:

 

ar-Robb artinya penguasa, yang mengatur segalanya.6. Secara khusus, semua sifat fi’il [perbuatan] dan qudroh [kekuasaan] dan segala yang berkenaan dengan kepengaturan alam berhubungan erat dengan nama ar-Robb. Alloh ‘azza wa jalla adalah Robb segala sesuatu. Penciptanya dan yang Maha Mampu untuk melakukan apa saja. Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari rububiyyah-Nya.7

 

ar-Rohmaan:

 

Nama ‘ar-Rohmaan’ adalah pecahan kata ‘rahmah’, untuk menunjukkan intensitas yang sangat. Selanjutnya, nama ‘ar-Rohmaan’ menunjukkan bahwa segala sifat ihsan, kasih, sayang, lembut, derma, pemurah dan baik, ada pada Alloh ‘azza wa jalla . Sifat ‘rohmaan’ Alloh ‘azza wa jalla yang dikandung oleh nama ‘ar-Rohmaan’ ini berlaku untuk semua makhluk, yang beriman maupun yang kafir. Rohmah di sini meliputi segala hal yang berkenaan dengan penghidupan/kelangsungan hidup.8

 

ar-Rohiim:

 

Seperti halnya ‘ar-Rohmaan’, ‘ar-Rohmaan’ adalah pecahan kata ‘rahmah’. Bedanya, sifat rahmah Alloh ‘azza wa jalla yang terkandung dalam nama ini dikhususkan untuk mereka yang beriman saja, di akhirat.9

Alloh ‘azza wa jalla berfirman, yang artinya:

Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. [QS. al-Ahzaab: 43].

 

al-Malik:

 

al-Malik artinya raja atau penguasa. Penguasa atas segalanya. Dikhususkannya hari pembalasan sebagai milik atau kekuasaan Alloh ‘azza wa jalla dalam surat ini, bukanlah berarti dunia tidak termasuk milik/kekuasaan Alloh ‘azza wa jalla . Sebenarnya Alloh ‘azza wa jalla yang menguasai hari dunia dan hari pembalasan. Adapun pengkhususan di sini, karena pada hari pembalasan nanti, tidak ada seorang pun yang akan mengaku-aku/mendakwakan diri sebagai pemilik/penguasanya. Juga, pada hari itu tidak ada seorang pun yang berbicara, kecuali telah mendapat izin dari-Nya.10

 

Seorang yang membaca dan memahami makna surat ini, mau tidak mau dia telah mengitsbatkan [menetapkan] tiga jenis tauhid; rububiyyah, uluhiyyah dan asma’ wa as-shifat. Ketika ia membaca berarti ia telah memuji Alloh ‘azza wa jalla . Pujian yang mencakup keagungan dan ketinggian sifat-sifat Alloh ‘azza wa jalla . Pujian yang berkenaan dengan asma’ wa as-shifat tanpa ta’wil, tamtsil dan takyif [menanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi]. Pun surat ini memuat beberapa asma’ yang semuanya menunjukkan sifat seperti tersebut di atas.11

 

Lalu seseorang yang memuji, pastilah seseorang yang mencintai dan ridho. Orang yang membaca ‘alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin’ secara tidak langsung menyatakan cinta dan keridhoannya kepada Alloh ‘azza wa jalla . Cinta adalah asas dibangunnya tauhid uluhiyyah. Juga ayat:

 

[Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iinu]

 

Seseorang yang membacanya sama saja telah berikrar, selalu akan berkonsisten dalam beribadah kepada-Nya ‘azza wa jalla dan akan minta pertolongan hanya kepada-Nya ‘azza wa jalla.12 Yang tersisa tinggallah perbuatan, yang akan membuktikan benar atau tidak pengakuan/ucapannya tersebut. Adapun tauhid rububiyyah, seseorang yang mengingkarinya tidak akan membaca surat ini, kecuali hanya sebatas batang lehernya saja.

 

2. Tentang hari akhir

 

Ayat ‘Maaliki yaumiddiini’ menunjukkan bahwa setelah berakhirnya kehidupan di dunia ini, akan ada pembalasan. Di sana, hanya Alloh-lah yang berkuasa dan akan menghakimi seluruh manusia dengan keputusan yang paling adil. Keputusan berkenaan dengan pembalasan atas segala amal yang telah diperbuat oleh manusia. Amal yang baik akan dibalas dengan kebaikan, dan perbuatan dosa akan dibalas dengan siksaan, kecuali bagi yang mendapatkan maghfiroh [ampunan] dari-Nya.13

 

3. Tentang kenabian

 

Surat al-Fatihah ini mengitsbatkankenabian dari berbagai arah,14 di antaranya:

  • Eksistensi Alloh ‘azza wa jalla sebagai Robbul ‘Aalamiin. Maka, tidaklah pantas bagi Alloh ‘azza wa jalla untuk membiarkan begitu saja hamba-hambaNya, tanpa memberitahu hal-hal yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat. Jika Alloh ‘azza wa jalla membiarkan mereka tanpa mengutus nabi, tentulah sifat rububiyyah tidak ada padaNya.

 

  • Alloh ‘azza wa jalla adalah al-Ma’luuh [yang diibadahi]. Hamba-hambaNya tidak akan pernah tahu bagaimana cara beribadah kepadaNya, kecuali melalui para rosulNya.

 

  • Disebutkannya keberadaan hari pembalasan atas amal. Tentunya Alloh ‘azza wa jalla tidak akan mengadzab seseorang pun jika belum menyampaikan hujjah melalui lisan para rosulNya.

 

  • Terklasifikasikannya hamba-hambaNya menjadi orang-orang yang diberi nikmat dan orang-orang yang sesat. Klasifikasi ini sangatlah berkaitan dengan tersampaikannya kebenaran. Sebagian hambaNya mau mendengar dan mengamalkannya, sebagian yang lain mendengar tetapi tidak mau mengamalkannya, dan sebagian lagi beramal semaunya, tanpa mau mendengar kebenaran. Yang pasti, kebenaran telah disampaikan oleh para rosul Alloh ‘azza wa jalla .

 

 

MEMBACA AAMIIN

 

Disunnahkan bagi orang yang membaca surat al-Fatihah —di dalam maupun di luar sholat—, untuk membaca ‘aamiin’, apabila telah menyelesaikannya. Kata ‘aamiin’ berati ‘Ya Alloh, kabulkanlah.15

nabduttawwab/fahmi

 

Referensi:

 

1. HR. Ahmad dan at-Tirmidzy

2. as-Syaukani, Fathu al-Qodir, I/14, Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Taysir al-’Aliy al-Qodir I/6 dan Tahdzib Madariju as-Saalikin I/75

3. Abu Bakar Jabir al-Jazaa’iri, Aysaru at-Tafaasir, I/13-17

4. Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Taysir al-Aliy al-Qodir, I/16

5. Tahdzib I/55-56

6. Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Taysir al-Aliy al-Qodir, I/12

7. Abdul Mun’im bin Sholih al-Aliy al-’Izz.Tahdzib Madarijus Salikin I/58

8. Taysir I/13 dan Tahdzib I/56

9. Taysir, I/13

10. Taysir, I/14

11. idem, I/47

12. idem, I/47

13. idem, I/29

14. idem, I/29-30

15. Taysirul aliy al-Qodir, I/18

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: