TASAWUF

MENGENALI RACUN HATI

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1).

 

Ketahuilah bahwa semua maksiat dalam bentuk apapun adalah merupakan racun bagi hati, penyebab sakitnya hati bahkan juga penyebab matinya hati. Berkata Abdullah Ibnu Mubarak: “Meninggalkan dosa dan maksiat dapat menjadikan hidupnya hati, dan sebaik-baik jiwa adalah yang mampu meniadakan perbuatan dosa dalam dirinya. Maka barangsiapa yang menginginkan hatinya menjadi hati yang selamat hendaklah membersihkan diri dari racun-racun hati, kemudian dengan menjaganya tatkala ada racun hati yang berusaha menghampirinya, dan apabila terkena sedikit dari racun hati bersegeralah untuk menghilangkannya dengan taubat dan istighfar.

Racun-racun hati itu banyak macamnya, di antaranya adalah berlebih-lebihan (banyak) bicara atau fudhulul kalam. Dikatakan bahwa belumlah bisa istiqamah iman seseorang sebelum istiqamah lisannya. Maka lurus dan istiqamahnya hati dalam memegang keimanan itu dimulai dari lisan yang istiqamah. Oleh karena itulah Islam mengajarkan kepada umatnya agar tidak banyak bicara tanpa disertai dzikir kepada Allah, karena akan mengakibatkan kerasnya hati.

Dalam salah satu hadits shahih Rasulullah ` pernah bicara kepada sahabat Mu’adz: “Apakah engkau mau aku tunjukkan yang menjadi landasan itu semua (ibadah-ibadah)?”, “Baik, ya Rasulullah“, jawab Mu’adz. Kemudian Rasulullah ` bersabda: “Cegahlah ini” (sambil mengisyaratkan dengan jarinya pada mulutnya), lalu mu’adz berkata: “Ya Rasulullah, apakah kita akan dimintai tanggung jawab dari apa yang kita ucapkan?” Kemudian Rasulullah ` bersabda: “Semobrono kamu wahai Mu’adz, tidaklah seseorang akan ditelungkupkan wajahnya dan punggungnya ke dalam Neraka melainkan karena hasil dari lisannya.” (Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi). “Ada dua lubang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka, yaitu mulut dan kemaluan.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan di-shahih-kannya).

Kemudian dalam riwayat lain Rasulullah ` bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki mengucapkan sepatah kata yang dianggap tidak apa-apa tetapi ternyata bisa menjerumuskannya ke dalam Neraka sampai tujuh puluh tahun.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Dan tatkala Uqban bin Amir bertanya kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, apakah sesuatu yang dapat menyelematkan kita?” Lalu dijawab oleh Nabi `: “Tahanlah olehmu lisanmu.

Lalu dalam kesempatan lain Rasulullah ` bersabda: “Barangsiapa yang dapat memberi jaminan kepadaku dari apa yang ada di antara jenggot dan kumisnya (lisan) dan kedua pahanya (kemaluan), maka aku jamin untuknya Surga.” (HR. Al-Bukhari).

Maksud dalam hadits ini, barangsiapa yang bisa memelihara apa yang ada di antara kedua bibirnya, yaitu mulut dari semua perkataan yang tidak bermanfaat dan bisa menjaga apa yang ada di antara kedua pahanya yaitu farji agar tidak diletakkan di tempat yang tidak dihalalkan Allah, maka jaminannya adalah Surga. Kemudian dalam hadits yang lain Rasulullah ` juga bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhirat, hendaklah berbicara yang baik atau agar ia diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalam sutau riwayat dari Abu Hurairah Rasulullah ` bersabda: “Sebagian dari tanda bagusnya Islam seseorang apabila ia bisa meninggalkan ucapan yang tidak berguna baginya.” Berkata Sahl: “Barangsiapa yang masih suka bicara yang tidak berguna maka ia tidak layak dikatakan shiddiq“. Apalagi bila ucapan seseorang sampai menyakiti orang lain maka belum bisa dijadikan jaminan iman yang dimilikinya, sebagaimana sabda Rasulullah `: “Demi Allah, tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman“, kemudian ditanyakan; siapakah gerangan yang engkau maksudkan wahai Rasulullah? Jawabnya, “orang yang menjadikan tetangganya merasa tidak aman lantaran kejahatannya.

Dengan demikian maka hendaklah seorang mukmin mencukupkan diri dari ucapan yang tidak berguna seperti; berdusta, suka mengadu domba, ucapan yang keji, ghibah, namimah, suka mencela, bernyanyi, menyakiti orang lain dan lain sebagainya. Itu semua merupakan racun-racun hati sehingga apabila seseorang banyak melakukan seperti ini maka hati akan teracuni dan bila hati sudah teracuni maka lambat laun, cepat atau lambat akan mengakibatkan sakitnya hati, semakin banyak racunnya akan semakin parah penyakit dalam hatinya, dan kalau tidak tertolong akan mengakibatkan mati hatinya.

Macam-macam hati
Hati merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Hati ini tidak akan terlepas dari tanggung jawab yang dilakukannya kelak di akhirat, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36).

Dalam tubuh manusia kedudukan hati dengan anggota yang lainnya adalah ibarat seorang raja dengan seluruh bala tentara dan rakyatnya, yang semuanya tunduk di bawah kekuasaan dan perintahnya, dan bekerja sesuai dengan apa yang dikehendakinya. “Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

1. Hati yang sehat
Yaitu hati yang terbebas dari berbagai penyakit hati. Firman Allah: “(Yaitu) di hari yang harta dan anak-anak tidak akan bermanfaat kecuali siapa yang datang mengharap Allah dengan membawa hati yang selamat.” (Asy-Syura: 88-89). Ayat ini sangatlah mengesankan, di sela-sela harta benda yang diburu dan dikejar-kejar orang, dan anak-anak laki-laki yang sukses dengan materinya dan sangat dibanggakan, ternyata itu semua tidak akan memberi manfaat kecuali siapa yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat. Yaitu selamat dari semua nafsu syahwat yang bertentangan dengan perintah Allah dan laranganNya, dan dari semua syubhat yang memalingkan dari kebenaran, selamat dari peribadatan dan penghambaan diri kepada selain Allah, selamat dari berhukum dengan hukum yang tidak diajarkan oleh Allah dan RasulNya, dan mengikhlaskan seluruh peribadatannya hanya karena Allah, iradahnya, kecintaannya, tawakkalnya, taubatnya, ibadah dalam bentuk sembelihannya, takutnya, raja’nya, diikhlaskannya semua amal hanya kepada Allah. Apabila ia mencintai maka cintanya karena Allah, apabila ia membenci maka bencinya karena Allah, apabila ia memberi maka memberinya karena Allah, apabila menolak maka menolaknya karena Allah. Dan tidak hanya cukup dengan ini, sampai ia berlepas diri dari semua bentuk keterikatan dan berhukum yang menyelisihi contoh dari Rasulullah. Maka hatinya sangat tertarik dengan ikatan yang kuat atas dasar mengikuti jejak langkah Rasulullah semata, dan tidak mendahulukan yang lainnya baik ucapan maupun perbuatannya. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1).

2. Hati yang mati
Yaitu kebalikan dari hati yang sehat, hati yang tidak mengenal dengan Rabbnya, tidak melakukan ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkanNya, dicitaiNya dan diridhaiNya. Bahkan selalu memperturutkan nafsu dan syahwatnya serta kenikmatan dan hingar bingarnya dunia, walaupun ia tahu bahwa itu amatlah dimurkai oleh Allah dan dibenciNya. Ia tidak pernah peduli tatkala memuaskan diri dengan nafsu syahwatnya itu diridhaiNya atau dimurkaiNya, dan ia menghambakan diri dalam segala bentuk kepada selain Allah. Apabila ia mencintai maka cintanya karena nafsunya, apabila ia membenci maka bencinya karena nafsunya, apabila ia memberi maka itu karena nafsunya, apabila ia menolak maka tolakannya atas dasar nafsunya, maka nafsunya sangat berperan dalam dirinya, dan lebih ia cintai daripada ridha Allah I.

Orang yang demikian menjadikan hawa nafsu sebagai imamnya, syahwat sebagai komandannya, kebodohan menjadi sopirnya, dan kelalaian sebagai tunggangan dan kendaraannya. Pikirannya hanya untuk mendapatkan dunia yang menipu ini dan dibuat mabuk oleh nafsu untuk mendapatkannya, ia tidak pernah meminta kepada Allah kecuali dari tempat yang jauh. Tidak membutuhkan nasihat-nasihat dan selalu mengikuti langkah-langkah syetan yang selalu merayu dan menggodanya. Maka bergaul dengan orang seperti ini akan mencelakakan kita, berkawan dengannya akan meracuni kita, dan duduk dengannya akan membinasakan kita.

3. Hati Yang Sakit
Yaitu hati yang hidup tapi ada penyakitnya, hati orang yang taat terhadap perintah-perintah Allah tetapi kadangkala juga berbuat maksiat, dan kadang-kadang salah satu di antara keduanya saling berusaha untuk mengalahkannya. Hati jenis ini, mencintai Allah, iman kepadaNya beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan tawakkal kepadaNya, itu semua selalu dilakukannya tetapi ia juga mencintai nafsu syahwat dan kadang-kadang sangat berperan dalam hatinya serta berusaha untuk mendapatkannya. Hasad, sombong (dalam beribadah kepada Allah), ujub, dan terombang-ambing antara dua keinginan yaitu keinginan terhadap kenikmatan kehidupan akhirat serta keinginan untuk mendapatkan gemerlapnya dunia.

Maka hati yang pertama hidup, tumbuh, khusyu’ dan yang kedua layu kemudian mati. Adapun yang ketiga dalam keadaan tidak menentu, apakah akan hidup ataukan akan mati. Kemudian banyak sekali orang yang hatinya sakit dan sakitnya bahkan semakin parah, tetapi tidak merasa kalau hatinya sakit, bahkan sekalipun telah mati hatinya tetapi tidak tahu kalau hatinya telah mati. Na’udzu billah min dzalik. (Agus Efendi).

Maraji’: Tazkiyatun Nafs, Ibnul Qayyim, bit tasharruf waz ziyadah.

 

 

MENANGIS KARENA ALLAH SWT

“Maka apakah kamu merasa heran dengan pemberitaan ini. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis” (QS.Annajum: 59 – 60)

 

 

Penjelasan
Manusia umumnya menangis karena sedih, dan kadangkala juga menangis karena bahagia seperti menyambut kedatangan orang yang dicintai, tapi kadangpula karena lapar seperti anak bayi. Ibnu Qoyyim, seorang ulama abad ke-7 Hijriyah, menyebutkan ada 10 macam menangis.

Namun menangis yang paling bermanfaat dan sehat adalah menangis karena Allah SWT. Karena itu, menangis karena Allah SWT itu dianjurkan oleh Al Qur`an dan dipraktekan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta para ulama terpercaya. Di dalam salah satu riwayat Ibnu Mas`ud menceritakan bahwa suatu saat Rasulullah SAW meminta kepadanya agar membacakan Al Qur`an. Ibnu Mas`ud pun menimpali, “Bagaimana aku membacakan Qur`an kepadamu ? padahal dia ( Al Qur`an ) diturunkan kepadamu “. Rasulullah SAW menjawab “Aku ingin mendengar dari orang lain”. Maka aku bacakan surat An Nisaa`, sampai pada ayat Maka bagaimanakah, apabila Kami datangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap ummat dan Kami mendatangkan kamu ( Muhammad ) sebagai saksi atas mereka itu “. (QS.AnNisaa`:41).

Rasulullah SAW bersabda,” Sekarang cukup bacaanmu”. maka aku menoleh kepadanya, ternyata kedua matanya meneteskan airmata “. (HR Bukhori Muslim )

Demikian pula dalam suatu kejadian, Rasulullah SAW berkhutbah, kata Anas r.a “Belum pernah aku dengar khutbah seperti itu”, “Kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”, maka para sahabat menutupi muka mereka pada menangis sampai terdengar suara rintihan“. (HR.Bukhori & Muslim )

Barangsiapa yang mudah menangis karena Allah SWT merupakan bukti bahwa orang tersebut lembut dan bersih hatinya. Dan orang yang susah menangis karena Allah SWT pertanda kaku dan kurang bersih hatinya, bisa jadi karena pengaruh maksiat dan dosa, maka hendaknya dia bertaubat kepada Allah SWT dan memperbanyak amal sholeh. Suatu hal yang menarik dialami oleh seorang ulama bernama Ibnul Jauzi bahwa beliau banyak belajar kepada para ulama, namun yang paling berpengaruh kepada dirinya adalah seorang ulama yang banyak menangis ketika mengajarnya. Contoh-contoh dari kehidupan para sahabat banyak sekali, terutama Abu Bakar As-Shidiq ketika menjadi imam beliau banyak menangis, demikian juga Umar bin Khattab, meskipun beliau tegar dan keras, tapi beliau banyak menangis sampai di pipinya tampak dua garis hitam dari aliran airmatanya. Demikian pula Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib serta sahabat-sahabat lainnya. Sudahkah kita termasuk orang yang banyak menangis karena Allah SWT ???

 

 

Kekecewaan Para Sekutu Iblis

Dikisahkan dalam suatu riwayat bahwa pada hari kiamat nanti ada suara yang menyeru: “Hadirkan Fir’aun ke mari. Tak lama kemudian Fir’aun datang. Topinya terbuat dari api neraka, pakaiannya baju gatharan atau tir, sedangkan tunggangannya seekor babi. Tiba-tiba ada seruan lagi: Mana orang-orang yang sombong dan takabur? Merekapun pada berdatangan, lantas berangkat ke neraka bersama-sama di bawah pimpinan Fir’aun.

Seruan kedua datang menyusul: Mana Qabil? Sekejap Qabil sudah dihadirkan. Setelah itu ada seruan untuk umum: Mana orang-orang yang pendengki? Berduyun-duyun mereka berdatangan. Mereka berkemas berangkat ke neraka bersama Qabil yang menjadi pemimpinnya.

Seruan ketiga tak kalah kerasnya: Mana Ka’ab bin Asyraf, pemuka ulama Yahudi? Ka’abpun segera dihadirkan. Kemudian menyusul seruan berikutnya: Mana orang-orang yang menyembunyikan kebenaran dan ilmu? Setelah berkumpul, para malaikat menggiring mereka ke neraka, sedangkan Ka’ab berada di depan sebagai pemimpinnya.

Seruan keempat bertiup keras lagi: Mana Abu Jahal? Tak terlalu lama Abu Jahal sudah hadir. Seperti sebelumnya, segera disusul seruan berikutnya: Mana orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya? Mereka berjalan menuju neraka dipimpin oleh Abu Jahal.

Seruan kelima pun terdengar lagi: Mana Walid bin Mughirah? Walid datang, disusul kemudian seruan lagi: Mana orang-orang yang selalu mengejek kaum muslimin yang fakir? Walid menjadi pemuka mereka menuju neraka.

Seruan keenam berdengung kembali: Mana Ajda, seorang yang celaka akibat kegandrungannya pada perbuatan liwath yang menjadi tradisi kaum Nabi Luth? Ajdapun datang, menyusul seruan berikutnya: Mana orang-orang yang melakukan liwath? Merekapun diseret ke neraka oleh para malaikat, dan Ajda menjadi pemimpinnya.

Untuk ketujuh kalinya seruan itu berkumandang lagi: Mana Umru’ul Qais? Seperti sulapan, iapun didatangkan dalam waktu sekejap saja. Kemudian disusul seruan berikutnya: Mana orang orang yang ahli sastra dan syi’ir yang berdusta? Segera mereka berkumpul, dan di bawah kepemimpinan Umru’ul Qais mereka berangkat menuju neraka.

Seruan kedelapan lagi-lagi berkumandang: Mana Musailamah Al-Kadzdzab? Diapun didatangkan, dan atas inisiatifnya sendiri ia memanggil orang-orang yang mendustakan al-Qur’an. Mereka berangkat ke neraka bersama-sama.

Kini terdengar seruan yang terakhir: Mana Iblis terkutuk? Tak lama Iblispun sudah berada di depan. Seperti sudah mengerti maksud pemanggilannya, iapun berkata: “Wahai Hakim Yang Maha Adil, datangkanlah kepadaku tentaraku, para mu’adzinku, para pembacaku, mereka yang sejalan denganku, para menteriku, para ahli fiqihku, para penjagaku, para pedagangku, dan para pemukul genderangku, serta para penghalauku”!

Iblis terkutuk dan terusir ditanya, siapakah para sekutumu itu? Dengan jujur iapun berkata: “Tentaraku adalah mereka yang mempunyai sifat rakus, para mu’adzinku adalah orang-orang yang salah bacaannya, sedangkan para pembacaku adalah mereka yang berprofesi sebagai penyanyi. Adapun orang-orang yang sejalan denganku adalah mereka yang mengiris muka dan tangannya kemudian diberi nilai serta siapa saja yang ingin diperlakukan demikian.

Para ahli fiqihku adalah mereka yang mengejek orang-orang yang mengusahakan barang halal. Sedangkan para penjagaku adalah mereka yang mendatangi lemari arak dan yang tidak mau membayarkan zakatnya. Adapun para pedagangku adalah mereka yang memperdagangkan barbathah (barang dan bunga terlarang), para pemukul genderangku adalah pemain musik, sedangkan para penghalauku adalah mereka yang menanam pohon-pohon anggur untuk dijadikan minuman memabukkan.”

Kemudian keluarlah seekor ular yang panjang lehernya sejauh tujuh puluh tahun perjalanan. Ular itu mengumpulkan mereka semua, lalu menggiringnya ke neraka. Situasi pada saatnya benar-benar kacau. Semua orang panik memikirkan nasibnya sendiri. Tidak ada yang hirau pada nasib orang lain. Semua ingin membebaskan dirinya dari nasib buruk yang menimpanya, sementara tak seorangpun di antara mereka yang tidak mengakui kesalahannya.

Karenanya, yang bisa dilakukan adalah mencari kambing hitam. Bahwa mereka melakukan berbagai pelanggaran di dunia akibat provokasi Iblis dan para pemimpin mereka. Itulah sebabnya, pada kesempatan ini mereka menghujat Iblis dan menuntut agar ia mau bertanggung jawab atas nasib mereka. Tuntutan mereka itu tertuang dalam al-Qur’an:

“Dan orang-orang kufur itu berkata (di hari kiamat), `Hai Tuhan kami, tunjukkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami, baik dari golongan jin maupun manusia, supaya kami jadikan mereka di bawah telapak-telapak kaki kami agar mereka jadi orang-orang yang rendah.” (QS Fush-shilat: 29)

Iblis dan syetan tentu saja tidak serta-merta mengaku bersalah. Bagi Iblis, adalah tugasnya untuk mempengaruhi dan mengajak manusia ke jalan yang telah dipilihnya. Bagi mereka yang mau mengikutinya, maka Iblis tak bertanggung jawab sama sekali. Jangankan bertanggung jawab kepada orang lain, sedangkan ia sendiri tak mampu memikul derita yang akan dialaminya.

Bagi Iblis dan syetan, mempengaruhi manusia merupakan perwujudan atas janjinya ketika ia tidak mau tunduk kepada Allah saat diperintah bersujud kepada Adam. Pada zaman sebelum manusia menghuni dunia itu ia telah bersumpah untuk mempengaruhi manusia dari segala arah, depan, belakang, kiri dan kanan. Hanya ada dua arah lagi bagi manusia untuk menghindarkan diri dari pengaruh syetan, yaitu arah bawah, yaitu dengan ruku’ dan sujud kepada-Nya, dan arah atas, yaitu dengan berdoa, meminta perlindungan kepada Allah swt.

Ketika Iblis didesak untuk mempertanggungjawabkan perbuatan menjerumuskan manusia, maka iapun menjawab, “Dan berkatalah syetan tatkala perkara hisab telah diselesaikan, `Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku mengingkarinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekadar mengajakmu lalu kamu turuti. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolong aku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kamu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.”

Atas jawaban Iblis dan syetan itu, orang-orang yang tersesat sangatlah kecewa. Tak disangkanya bahwa Iblis dan syetan tidak bertanggung jawab sebagaimana dahulu dijanjikannya. Itulah sebabnya kini mereka berpaling kepada para pemimpinnya semasa di dunia. Harapan mereka sama, selain untuk menghujat, memintakan kepada Allah agar para pemimpin yang menyesatkan itu disiksa dua kali lipat, dan yang lebih penting lagi meminta mereka agar bertanggung jawab.

Ternyata jawaban para pemimpin itu tidak lebih baik dari yang telah disampaikan syetan. Keduanya tidak bertanggung jawab, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an:

“Dan tatkala mereka berbantahan di neraka, yaitu orang-orang yang lemah (dipimpin) akan berkata kepada mereka yang sombong (pemimpin), `Sesungguhnya kami pengikut-pengikutmu, maka bisakah kamu hindarkan dari kami sebagian dari adzab neraka ini?’ (Mereka yang sombong itu berkata), `Kita semua berada di dalamnya, sesungguhnya Allah telah menjatuhkan hukum di antara hamba-hamba-Nya.” (QS al-Mu’min: 47-48)

Setelah tidak mendapatkan apa-apa dari tuntutannya, baik yang ditujukan kepada syetan maupun kepada para pemimpin penyesat, maka merekapun meminta kepada Allah agar diberi keringanan siksaan. Akan tetapi para malaikat segera menjawab:

“Dan orang-orang yang di neraka berkata kepada penjaga-penjaga Jahannam, `Mintakanlah kepada Tuhan kamu supaya Dia meringankan dari kami sehari saja dari adzab.’ Para malaikat menjawab, `Bukankah telah datang kepadamu rasul-rasul dengan membawa keterangan keterangan?’ Merekapun menjawab, `Ya.’ Para malaikat menimpali, `Kalau begitu, berdoalah kamu.’ Dan tidak ada doa orang-orang kafir itu melainkan dalam kesesatan.” (QS al-Mu’min: 49-50)

Atas jawab malaikat yang tegas dan keras ini, mereka sangat kecewa dan menyesal. Itulah sebabnya, mereka meminta agar dimatikan kembali dan disatukan dengan tanah. Peristiwa yang bakal trjadi itu telah direkam dengan baik dalam firman-Nya:

“Dan mereka memanggil, `Hai Malik, hendaklah Tuhanmu menghukum kematian atas kami.’ Ia menjawab, `Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).’” (QS az-Zuhruuf: 77)

 

 

KEMATIAN HATI

Hati dalam bahasa Arab adalah Qolb, yang kemudian di-Indonesiakan menjadi kalbu. Ada dua pendapat berkenaan dengan pengertian Qolb. Pertama, Qolb adalah suatu lintasan perasaan pada diri manusia tapi tak berwujud sebuah benda atau anggota tubuh. Ia adalah sesuatu yang abstrak, yang hanya bisa dirasakan.

Kedua, Qolb adalah suatu organ tubuh yang terletak didada manusia sebagai tempat bertarungnya pengaruh kebaikan dan kejahatan. Oleh karena itu Qolb selalu terbolak-balik dan mengharu biru bergejolak. Inilah pendapat yang lebih kuat karena didukung ayat 46 QS. Al Hajj. Sebagaimana organ tubuh yang lain, Qolb bisa sakit atau bahkan mati. Tak ada jaminan apapun bahwa seseorang akan selalu sehat hatinya. Oleh karena itu untuk mengantisipasi agar kita terhindar dari kematian hati, berikut ini sebagian dari tanda-tandanya :

1.       Suka mengikuti syahwat. Syahwat disini tidak terbatas kemaluan dan perut, lebih dari itu adalah syahwat pola pikir dan pendapat pribadi. Dan justru yang terakhir inilah yang paling berbahaya. Allah berfirman (artinya),’Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas‘.(Al Kahfi:28)

2.       Mementingkan dunia. Dunia adalah suatu istilah yang dalam hal ini adalah lawan akhirat. Maka segala hal yang menyebabkan akhirat menjadi tidak penting, adalah tergolong dunia. Bisa harta, karir, anak, organisasi dll. Rasulullah bersabda yang artinya,’ Akan terjadi fitnah yang dengan itu hati seseorang akan mati sebagaimana badannya mati, pagi hari ia menjadi mukmin dan sorenya ia menjadi kafir atau sebaliknya sore masih mukmin tapi pagi hari telah menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan sekerat dunia‘.(H.R.Ibnu Majah)

3.       Lalai. Ini sebetulnya akibat lanjutan dari mementingkan dunia. Sebab, seseorang yang mementingkan dunia, ia akan lalai degan akhirat. Untuk tidak lalai dari akhirat memang membutuhkan keseriusan dan kemantapan niat. Bagaimana tidak, akhirat merupakan persoalan ghaib sementara hal-hal yang nyata (dunia) dekat sekali didepan mata kita. Untuk selalu ingat dunia tidak perlu susah, tapi untuk bisa ingat akhirat mesti dengan perjuangan yang sungguh-sungguh. Syurga memang mahal. Allah berfirman yang artinya :’ Telah dekat kepada manusia hari perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam kelalaian lagi berpaling. Tidak datang kepada mereka satu ayatpun dari Tuhan mereka, kecuali mereka mendengarnya tapi mereka bermain-main. Hati mereka dalam keadaan lalai…‘ (QS.Al-Anbiya:1-3)

4.       Terjadi kegoncangan jiwa. Yakni timbulnya perasaan cemas, gelisah, marah dan segala kekalutan yang campur aduk laksana benang kusut. Bahkan kadangkala samapai stress. Hanya Allah yang mampu menolong mengurai benang kusut tersebut. Maka hanya kepada-Nya kita berserah diri.

( adaptasi dari al Qolb fi al Qur`an al Karim wa atsaruhu fi suluk al insan, Dr.Sayyid M.Sadati

 

 

TANGIS SAHABAT UMAR

Suatu hari sahabat Umar bin Khathab bertandang ke rumah Rasullullah. Ia mengelus dada ketika melihat Nabi panutan dan pemimpin ummat selama ini tidur berbaring di atas tikar kumuh. Tampak guratan tikar itu pada tubuhnya. Kemudian dilihatnya almari, umar hanya mendapati segantang gandum kasar, lain itu tidak.

Melihat penderitaan Rasulullah ini Umar menangis dihadapan Nabi.

“Apa yang menyebabkan engkau menangis hai Umar,” tanya Rasulullah.

“Aku melihat para Kaisar dan Kisra dan raja-raja lain ni’mat tidur atas ranjang mewah beralaskan kain sutera, tetapi disini aku melihat engkau tidur beralaskan tikar seperti ini.” jawabnya.

“Wahai Umar, tidakkah engkau sependapat denganku. Kita lebih suka memilih kebahagian akherat sedang mereka memilih dunia,” cuma itu jawaban Rasulullah.

Mendengar jawaban itu luluhlah hati Umar melihat kesederhanaan Nabi sebagai pemimpin dan panutan ummat.

 

 

NILAI KEIKHLASAN

 

“Berbahagialah orang-orang yang ikhlash dalam amalnya, yaitu mereka yang apabila nampak tidak dikenal dan jika absen tidak dicari orang. Mereka adalah pelita petunjuk yang menyapu bersih segala fitnah yang gelap.” (HR. Baihaqi)

 

Uasy Al-Qarny adalah salah seorang sahabat yang memenuhi kriteria seorang mukhlish sebagaima- na hadits di atas. Ia tidak cukup dikenal oleh saha- bat lainnya, tapi Nabi berpesan kepada Umar bin Khaththab, sahabat dekat beliau untuk menjumpainya. Untuk keperluan itu Rasulullah cukup memberikan ciri-ciri berikut asal daerahnya.

 

Setiap musim hajji Umar bin Khaththab selalu menghadangnya, menanyai tiap-tiap kafilah yang datang dari arah asal daerah Al-Qarny. Sampai pada suatu musim hajji, Umar berhasil menemukannya. Orang-orang serombongannya terheran-heran, kenapa Umar yang saat itu menjabat sebagai khalifah mencari Al-Qarny. Lebih-lebih lagi ternyata Umar minta dido’akan olehnya. Padahal Al-Qarny tidak cukup dikenal oleh mereka yang serombongan dengannya. Juga tidak dikenal oleh orang-orang se-daerahnya.

 

Melalui peristiwa ini barulah orang-orang melek bahwa Al-Qarny bukan orang sembarangan. Ia cukup dikenal Nabi karena kewaliannya. Ia adalah seorang yang mendapat julukan “Masyhuurun fiis-samaa’ wa majhuulun fiil ardl“, terkenal di antara penghuni langit, tapi tidak populer di antara penghuni bumi. Dalam kultur Jawa orang seperti ini disebut “rame ing gawe, sepi ing pamrih“. Dalam istilah al-Qur’an, disebut Ikhlash.

 

Ikhlash adalah amal perbuatan yang dilakukan oleh seseorang yang didorong oleh satu motivasi yang kuat untuk mencari ridha Allah semata-mata. Ia tidak mengharapkan balasan duniawi, seperti harta, tahta, pujian, atau tujuan-tujuan rendah lainnya. Ia berbuat bukan karena takut atau terpaksa.

 

Ajaran Islam memberi tekanan yang kuat terhadap keikhlashan ini. Amal yang baik belum tentu bernilai baik di sisi Allah sebelum diketahui secara jelas motivasinya. Niat merupakan pangkal segala amal. Sebaik apapun amalan seseorang bila tidak dilandasi oleh niat tulus semata-mata karena Allah, dianggap sepi, tak bernilai. Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya segala amal itu tergantung dari motovasi yang mendorongnya, dan bahwa tiap orang akan memperoleh ganjaran sesuai dengan motivasinya. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hjirahnya tercatat sebagai hijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhijrah untuk memperoleh keuntungan duniawi atau untuk menyunting seorang perempuan, maka hijrahnya tercatat sesuai dengan niat dan tujuannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Allah Yang Mahatahu segala yang tersembunyi dalam dada setiap manusia akan memberikan nilai setiap amal sesuai dengan niatnya. Apa yang nampak di luar belum menjadi jaminan diterima atau ditolaknya sebuah amalan. Baik buruk itu sangat ditentukan oleh motivasi dasarnya. Allah sangat teliti dalam masalah ini. Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh dan bentuk-bentukmu, tapi melihat isi hatimu.” (HR. Muslim)

Sama-sama berperang menghadapi musuh, sama-sama berani untuk mati, sama-sama meneriakkan “Allahu akbar”, tapi raportnya di sisi Allah bisa berbeda. salah seorang sahabat bertanya kepada rasulullah: Ya Rasulullah, seorang pria berperang dengan penuh keberanian, seorang berperang karena marah dan seorang berperang untuk mendapat pujian, manakah tiga sikap itu yang bisa digolongkan fii sabilillah? Rasulullah menjawab:

Barangsiapa berperang untuk mempertahankan kalimat Allah agar tetap di atas, dialah yang berada di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Tidak gampang memberikan penilaian kepada orang lain. Untuk itu jangan tergesa-gesa menilai orang itu baik atau buruk. Kita mesti menunggu sampai suatu waktu yang cukup untuk membuat penilaian. Apalagi dalam hal memilih seseorang menjadi wakil yang berkompeten untuk menyuarakan aspirasi ummat Islam. Kita tidak boleh sembarangan.

 

Mimbar diskusi, podium pidato, dan segala pagelaran yang ditampilkan manusia paling gampang dijadikan alat untuk menipu. Untuk itu jangan mudah kagum terhadap pikiran-pikiran oarng yang dipaparkan dalam diskusi. Jangan mudah terkecoh oleh slogan-slogan dan kata-kata manis yang disampaikan lewat podium. bahkan kita tidak boleh terheran-heran pada suatu karya besar, sekalipun. Dalam kaitan ini Rasulullah berpesan: “Jangan mengagumi amal perbuatan sampai ia menyelesaikan yang terakhir.” (HR. At-Tabrani dan Al-Bazzar)

 

Sebagai bagian terakhir dari tulisan ini, Rasulullah mengingatkan ummatnya agar tidak mudah terkecoh. terlalu banyak musang berbulu ayam. Terlalu banyak kemunafikan. Ada udang di balik batu. Ada ambisi di balik sesuatu. Awas jangan tertipu.

Seorang melakukan amalan-amalan ahli surga sebagaimana tampak bagi orang-orang tetapi sesungguhnya dia termasuk penghuni neraka. Dan seorang lagi melakukan amalan-amalan ahli neraka sebagaimana disaksikan orang tetapi sebenarnya ia tergolong penghuni surga.” (HR. Bukhari)

Pada saat seperti sekarang

ini kita rindu kehadiran sosok manusia seperti Uaisy Al-Qarny. Dunia ini akan damai, penuh cinta dan kasih sayang, aman dan tentram bila anggotanya terdiri dari sosok seperti ini.

 

Lidah dan Kunci Keselamatan

 

Imam Turmudzi meriwayatkan hadits yang cukup panjang, bahwa pada suatu hari Mu’adz bin Jabal ra bertanya, “Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku amal yang dapat memasukkan aku ke surga, dan menjauhkan dari neraka.” Jawab Nabi saw, “Anda telah menanyakan suatu yang besar –namun sebenarnya ringan bagi mereka yang diringankan oleh Allah– yaitu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun; mendirikan shalat; mengeluarkan zakat; puasa pada bulan Ramadhan; dan berhajji ke Baitullah.” Kemudian Nabi saw melanjutkan, “Sukakah Anda saya tunjukkan pintu-pintu (jalan-jalan) kebaikan? Puasa itu bagaikan perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Demikian juga shalat di tengah malam.” Kemudian Rasulullah membaca ayat 16 surat As-Sajadah, “Mereka merenggangkan pinggangnya dari tempat tidur karena berdoa kepada Tuhan dengan penuh ketakutan dan harapan, dan dari rezeki pemberian Kami mereka bersedekah. Maka tidak ada seorangpun yang menegetahui apa yang disembunyikan Allah dari pahala yang memuaskan pandangan mata, sebagai pembalasan atas segala amal perbuatan mereka.”

Kemudian Nabi saw bersabda, “Sukakah Anda saya beritahu pokok agama, tiangnya dan puncak punggungnya?” Mu’adz mengiuyakan. “Pokok agama adalah Islam (menyerah bulat kepada Allah), tiangnya adalah shalat, sedang puncaknya adalah jihad (perang atau berjuang menegakkan agama Allah).” Nabi saw melanjutkan lagi, “Sukakah Anda saya beritahu kunci dari semua itu?” Mu’adz mengiyakan lagi. Maka Nabi saw memegang lidahnya sambil bersabda, “Jagalah ini, jangan sampai membinasakanmu.” Mu’adz betanya, “Ya Rasulullah, apakah kami akan dituntut apa yang kami bicarakan?” Nabi menjawab, “Celaka kau, apakah kau kira orang akan masuk neraka karena mukanya? Tidak lain hanya hasil lidahnya.”

 

JIKA surga diibaratkan ruangan besar, maka untuk memasukinya kita harus melalui pintu. Hanya mereka yang memiliki kunci yang dapat membuka pintu tersebut. Menurut hadits di atas kunci surga adalah lisan. Siapa yang dapat menjaga lisannya, maka surga bakal menjadi miliknya. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mampu memanfaatkannya secara baik dan benar, maka neraka akan menjadi tempat tinggalnya.

 

Satu kata atau satu kalimat yang keluar dari lisan seseorang bisa jadi merupakan faktor penentu bagi keselamatannya, di dunia dan akhirat. Seseorang yang tidak mempedulikan akibat dari perkataannya bisa terjerumus ke dalam neraka jahannam. Rasulullah menyampaikan hal ini dalam sebuah sabdanya:

Sesungguhnya adakalanya seseorang mengatakan suatu kalimat yang tidak diperhatikannya, tiba-tiba ia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Lontaran kata yang sederhana bisa membawa akibat yang luar biasa. Sudah tak terhitung berapa banyak suami istri yang akhirnya berantakan rumah tangganya hanya gara-gara ucapan. Mungkin sang suami tanpa sengaja mengolok istrinya dengan maksud bergurau, tapi si istri justru tersinggung perasaannya. Akhirnya ia marah-marah, kemudian minta cerai dari suaminya.

 

Di Surabaya, seorang ibu yang terlilit utang sampai tega membunuh penagihnya. Suatu pagi, sesuai dengan janjinya, si penagih datang minta kembali hutangnya. Entah sudah berapa kali ia terpaksa minta maaf karena memang tidak punya uang. Sebelum pulang, si penagih mengeluarkan kata-kata makian dan umpatan, disertai pula dengan ancaman. Karena dongkol, marah, dan terluka perasaannya, sekelebat kilat wanita itu masuk ke rumah, mengambil sebilah pisau dan membabatkannya ke perut si pemberi utang. Tak cukup sekali, ia ulangi sampai keluar ususnya. Benarlah kata pepatah Arab, keselamatan manusia itu terletak pada lisannya.

 

Menjaga lisan dari kata-kata kasar, kotor dan keji memang tidak mudah, apalagi jika dalam keadaan emosi. Seorang yang biasanya pendiam, tiba-tiba bisa berapi-api kata-katanya. Bahkan seorang yang tak bisa berpidato sekalipun, bisa tampil di podium dengan meyakinkan sekali, hanya karena dorongan amarah.

 

Dalam keadaan emosi, ucapan kasar yang bernada cemooh meluncur begitu saja tanpa kendali. Akibatnya bisa diduga, orang lain bisa terluka hatinya. Mereka juga ikut marah. Bila marah ketemu dengan marah, maka pertengkaran tak bisa dihindari. Berawal dari perang lisan, berakhir menjadi perang fisik. Adu tinju dan adu jotos.

 

Kata-kata kadang lebih tajam dari pedang. Jika tak hati-hati, ia akan mengenai siapa saja yang di dekatnya. Tak peduali anak, istri, saudara, bahkan mungkin bapak ibunya sendiri.

Itulah sebabnya Al-Qur’an suci mengajarkan kepada umat untuk berhati-hati jika berkata dengan ayah dan ibu. Bahkan mengucapkan kata “ah” sudah dinilai sebagai pelecehan dan penghinaan. Apalagi membantah. Adapun mengeluarkan kata-kata kotor dan keji sudah termasuk “uququl walidain”, berani kepada orang tua, yang dosanya menempati urutan kedua setelah syirik kepada Allah swt.

Suatu kali ‘Aisyah kedatangan seorang tamu wanita. Orang tersebut dikenal baik sebagai penderma. Banyak di antaranya yang menilai wanita tersebut sebagai ahli surga. Akan tetapi Nabi saw justru membuat penilaian lain, orang tersebut adalah ahli neraka. Tentu saja para ‘Aisyah dan para sahabat lainnya bertanya-tanya. Setelah diselidiki ternyata wanita tersebut ‘panjang lidahnya’.

 

Apalah artinya sedekah jika dibarengi dengan kata-kata yang melukai perasaan? Berapapun besarnya sedekah yang dikeluarkan, jika dibarengi dengan kata yang menyakitkan akan terhapus tanpa sisa. Al-Qur’an menggambarkannya seperti debu di atas batu licin yang ditimpa hujan deras, maka batu itu kembali bersih tanpa menyisakan debu sedikitpun juga.

Allah telah berpesan agar kita tidak membatalkan sedekah dengan kata-kata kotor dengan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 264)

 

Alangkah ruginya jika sedekah sudah dikeluarkan, tapi ujung-ujungnya hanya berupa penyesalan. Bagaimana tidak menyesal, jika ternyata hasilnya adalah kehampaan? Bahkan bisa jadi kerugian atau kebangkrutan sebagaimana yang dialami oleh si penagih dalam kasus di atas.

 

Di satu sisi lisan bagi manusia adalah rahmat yang sangat besar, tapi di sisi lain ia merupakan bahaya yang tak kurang besarnya. Dengan kemampuan berbicara, seorang manusia bisa mengembangkan komunikasi hingga menembus batas-batas negara. Tugas kekhalifahan manusia tak mungkin bisa terlaksana dengan baik tanpa kemampuan bicara. Inilah alat canggih yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Biarpun kecil, tapi fungsinya luar biasa.

 

Sebagaimana barang canggih lainnya, bila salah mengoperasikan, maka risikonya juga besar sekali. Seorang pilot yang salah tekan tombol-tombol di kokpitnya, bisa mengancam keselamatan seluruh penumpangnya. Pesawatnya bisa melesat tanpa kendali, jatuh berkeping-keping ke bumi.

 

Rasulullah pernah menyampaikan berita ghaib kepada para sahabat, bahwa setiap pagi seluruh anggota badan manusia selalu mewanti-wanti kepada lisan. Mereka berpesan agar menjaga keselamatannya, sebab kesemalatan seluruh anggota tubuh itu sangat tergantung pada lisannya. Jika lisannya jujur, maka selamat. Jika lisannya bengkok, maka berarti bahaya.

 

Menjaga lisan bisa berarti berhati-hati dalam berbicara. Bahkan jika perlu diam. Perlu diketahui bahwa kadang diam itu emas. Seorang ulama yang memilih diam dalam menghadapi suatu kasus bukan berarti tidak bersikap. Justru diamnya itulah sikapnya. Itulah kebijaksanaan. Diam itu bijaksana, tapi sedikit yang melakukannya.” (HR. Ibnu Hibban)

 

Menjaga lisan juga berarti membiasakan berkata-kata baik dan menghindari kata-kata buruk. Dalam keadaan bagaimanapun hendaknya seseorang membiasakan diri berkata yang baik. Ada pelajaran berharga dari Nabi ‘Isa as. Suatu ketika ia berjalan berpapasan dengan seekor babi, maka ia berkata, “Silakan berjalan dengan aman.” Seorang sahabatnya menegurnya, “Engkau berkata begitu kepada babi?” Jawabnya, “Sungguh saya takut membiasakan liahku mengucap yang tidak sopan.”

 

“Sengsaranya Diperbudak Riya'”

KH. Abdullah Gymnastiar-Mesjid Al-Azhar Kby.Baru Jkt

 

Riya itu adalah penyakit hati yang akan mengikis habis segala amal yang

telah kita kerjakan

kalau hati kita tidak terjaga dengan baik. Ada amal yang sah menurut

syariat, tapi belum

tentu diterima Allah. Jadi tidak cukup kita harus tahu cara beramal tapi

juga harus peka

kepada setiap lintasan hati kita disetiap melakukan suatu amal.

Dan kita tahu hukum Riya’ itu : HARAM

Sedangkan Tujuan Riya itu sendiri terbagi :

1. Riya’ memamerkan ibadah utk tujuan maksiat

Yaitu orang yang menampakan ketaatannya, kesholehannya untuk menutupi

kemaksiatan

yang dia lakukan. Dia juga memperlihatkan kebaikannya untuk memperlancar

kemaksiatan.

Seperti contohnya dia rajin sholat, shaum supaya terpilih sebagai bendahara

tapi uang

itu dipergunakan untuk keperluan pribadi.

 

2. Beramal kebaikan untuk tujuan duniawi

Contohnya seorang pemuda mesjid yang memamerkan kesholehannya unutk meraih

simpati

calon mertua. Dan ini memang sulit dilakukan apalagi kita beribadah karena

ada seorang

yang punya kedudukan, atasan juga mertua. Bila jadi imam kita membaca surat

yang panjang

ayatnya, sedangkan kalau sholat sendiri kita cari bacaan yg paling pendek

seperti Al-Kautsar

karena tdk ada yg lebih pendek dari itu.

 

3. Memperlihatkan kesholehan karena takut dianggap tdk sholeh

Dia mengaku shaum padahal dia tidak shaum. Dan apabila akhirnya dia makan

juga diikuti

dengan perkataan ‘ah saya buka shaum karena menghormati yg mengajak’. Atau

sengaja

shaum pada saat ada acara (arisan misalnya) karena pada saat itu banyak

orang yang akan

tahu dia itu berpuasa…makin berbunga-bungalah hatinya.

 

Jenis Riya’ :

1. Memamerkan keimanan/kemarifatannya

2. Riya dengan amalan-amalan pokok/wajib

3. Riya dengan amalan sunnah

 

Ada yg melakukan shaum senin-kamis, namun niatnya untuk menguruskan badan.

Itu termasuk

riya’. Sedangkan menurut Imam Ghozali boleh niat itu bercampur tapi semua

tetap karena Allah.

Misalnya niat ikut pengajian/aktif di mesjid utk mencari jodoh..boleh.

Karena mencari jodoh

pun yang menyuruh juga Allah. Jadi semua baik dilakukan.

Beribadah/beramal dan dilihat orang lain belum tentu riya’, karena

Rasulullah juga memperlihatkan

untuk memebri contoh. Bedanya memberi contoh dan riya’ adalah ada atau

tidak orang lain

perbuatannya tetap sama. Ada orang lain melakukan shalat tahajud dan tidak

ada orang

pun tetap tahajud. Jangan meninggalkan amal karena takut riya’. Karena

meninggalkan amal

karena orang lain juga termasuk riya’.

 

Berjuang saja kita untuk membelokkan hati kita dari penyakit riya’ yaitu :

– Terlalu ingin untuk disanjung

– Takut dicela

Dan cara mengobatinya cuma satu :

–>> usahakan untuk tidak selera melihat pujian dan usahakan merubah yang

tadinya ingin

dihargai orang lain menjadi ingin dihargai Allah

 

Jadikan diri kita merdeka berbuat sekehendak hati kita. Jangan karena ingin

dilihat atasan

kita lama-lama shalatnya. Kita merdekakan diri kita secara proporsional.

Ikhlaskan saja perbuatan kita, semata-mata hanya karena Allah. Itu saja.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa membelokkan perasaan kita dari

riya’.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: